Rosmalinda Nurhubaini's. Literally a nous of my random thought.
Posts // About
// Twitter // Tumblr

December 25, 2015

It's been awhile since i posted something on my blogspot. I saw my latest post is on September, and now we're already in the end of December. Almost the end of 2016. So sorry i couldn't update any feeds lately. you know it was not so easy to have 2 role at the same time, a teacher while a student of college. i skipped to tell you how my first day for being a teacher and also being a student literally (again) was. But i promise to write it down someday.

Every year has their own storm, but i know very well that we always have our own strength to go over it. And for everything happened in this year, it shows me how amazing 2015! I couldn't even imagine, i through many ups and downs in this year with a bunch of drama moves (tetep ya). Graduated, officially a teacher and be a student (again), met so many new friends, having a challenging learning environment, and being single for the whole year should be an awesome experience, yes? HAHA

I know, the list of my dream still exist to be achieved, so let continue the hard work, say no to drama (please?), and stay positive. The year ahead should be much better, and you deserve it if you believe and strive for it. Again, ask to your self, are you happy enough? If the answer is not, maybe you're in a wrong way to enjoy the life.

September 16, 2015

#DAY19 Five items you lust after

Lust after: (v) something you have strongly desire about

  • Seperangkat alat lukis. Akhir-akhir ini entah mengapa rasa ingin tahu saya akan alat lukis, teknik melukis, lukisan sedang tinggi-tingginya. Sekarang kalau sedang bosan di kosan, dan sedang tidak ingin baca buku pasti langsung grab my sketch book, menggambar apapun itu sesuai dengan suasana hati. Lalu kadang saya upload di instagram. Kalau sudah menggambar bisa sampai lupa waktu. Itulah mengapa saya sangat suka kegiatan ini. Tapi ternyata modalnya juga enggak sedikit. Sketch book gak ada yang dibawah 20ribu, pensil warna pun sekarang sudah sampai di harga seratus ribu. Belum lagi lihat harga kanvas, color brush, cat-cat yang berbagai macam jenis. Dari yang mulai cat tahan air, cat minyak, cat yang bisa dipakai di kertas dll. Belum lagi alat-alat lukis canggih lainnya, yang katanya warnanya udah setingkat warna grafis. Dan sudah pasti harganya jutaan. Makanya dari sekarang sedang rajin menabung untuk satu per satu beli alat lukis. Kemarin baru beli A4 dan B5 sketch book, water color pencil 36 warna, dan classic color pencil 24 warna yang totalnya udah macem bayar kosan sebulan. Apalagi beli yang lainnya. Ayo kita menabung! 
  • Harry Potter books. My everlasting favorite story book. Sampai sekarang sudah baca bukunya hingga 2 kali balikan dan masih belum bosan. Tapi dulu bacanya masih pinjam sana sini dan terakhir baca di perpus SMA. Gak pernah sanggup beli. Akhirnya jadi janji diri sendiri kalau punya uang tabungan lebih mau beli buku Harpot semuanya! Agar nanti bisa diberikan ke anak-anak hehe biar mereka tahu bagaimana ibunya begitu menyukai ceritanya dan tokoh di dalamnya. Bahkan lucunya saya ada ide, apa buku ini saya jadikan list barang seserahan saat saya dilamar nanti? Hahaha. Jarang juga kan ada seserahan isinya buku. Dan bukunya nanti untuk anak-anak kami berdua. (mulai kemana-kemana ceritanya...next please...)
  • Makkah trip stuff. Should i tell you more? An exactly every muslim dream. Someday, insha Allah. Aamiin ya robbal alamin.
  • Personal bike. Ini keinginan di tahun ini, dulu sempat ingin minta ini ke orang tua sebagai hadiah wisuda. Tapi ternyata mama bilang, “Wisuda kan untuk diri kamu sendiri bukan untuk siapa-siapa, ko malah minta hadiah?” Duh malu sih ya. Akhirnya proposalnya enggak sampai ke bapak deh, langsung mundur setelah mama bilang begitu. Jadi mau enggak mau jadi list to buy juga. Dari kecil emang sudah suka sekali naik sepeda, dulu masih ingat saat SD kemana-mana naik sepeda. Disaat teman-teman lain ke sekolah atau ke rumah teman pakai kendaraan bermotor dengan orangtuanya, saya malah naik sepeda. Saat sepeda saya, kakak, dan bapak (hilang sekaligus) dicuri orang dari sejak itu enggak pernah ada sepeda lagi di rumah. Sedih berhari-hari. Tapi enggak berani juga minta orang tua karena saat itu jalan raya sudah semakin ramai dan mama pun enggak mengizinkan main sepeda ke jalan raya. Akhirnya dari sejak itu enggak pernah naik sepeda lagi. Rindu sampai sekarang dan bertekad harus punya sepeda sendiri!
  • Yang kelima, boleh enggak buku nikah aku dan kamu? Kamu yang sudah dipersiapkan Allah untuk jadi pendamping dan imam untuk kehidupanku juga ayah bagi anak-anakku (baper mode one). Tapi honestly, emang lagi di fase have strong desire on it sih. Yahaha begitulah kalau wanita sudah ada di quarter of life. Girls???
Well yeah, ini selingan dikala kepenatan browsing artikel penelitian pendidikan biologi tentang scientific creativity syalala dudududu

#DAY18 A problem that you have had

Setelah sekian lama not updating my feeds akhirnya hari ini bisa diupdate lagi. Maaf untuk semua yang (mungkin) sudah lama menunggu tulisan saya (haha mulai sok tenar). Jadi yuk sekarang kita lanjut lagi 30DaysChallenge-nya karena kemaren sempat berhenti di Day 17. Awalnya karena stuck sih dengan temanya. Tapi bukan tantangan kan namanya kalau enggak bisa bikin manusia stuck at the moment. Jadi karena 30DaysChallenge-nya sudah dimulai, mau tidak mau harus kita selesaikan!

Problem? No one is living without a problem, isn’t it? Bahkan manusiawi, semua hal yang terjadi di dunia ini sebenarnya bisa menjadi masalah. Begitupun saya, di usia saya yang sudah menginjak 23 tahun ini sudah banyak masalah yang saya alami. Masalah akademik, percintaan, jeleknya self-regulated, kesehatan, hingga hal terkecil sindiran orang pernah menjadi masalah untuk kehidupan saya. Semuanya itu ada yang dapat saya selesaikan dengan baik, kurang baik, atau bahkan heals by the time and Allah swt. Namun dari sekian juta masalah yang pernah saya alami itu, ada salah satu masalah yang mungkin jadi salah satu masalah terlama dihadapi hingga akhirnya saya temukan jawabannya.

Masalah ketika Allah memilihkan jalan hidup saya untuk menjadi seorang pendidik bukan dokter seperti yang dulu saya cita-citakan. Bertahun-tahun lamanya kehidupan saya dipenuhi dengan pertanyaan, apakah memang ini yang saya butuhkan? Apakah memang ini yang terbaik untuk saya? Apakah saya bisa untuk bisa menjadi pendidik? Saat saya belajar mata kuliah pedagogik atau keprofesian atau microteaching, sungguh saya sangat tidak percaya diri dengan kemampuan saya sendiri. Apalagi saat saya tahu bahwa teori mendidik yang saya pelajari sangat bertolak belakang dengan kenyataan para pendidik di lapangan yang secara langsung pernah saya rasakan. Semuanya kembali pada suatu line bahwa, “Mendidik itu memang tidak mudah.”

Hingga akhirnya saya memasuki dunia mengajar yang sebenarnya, mengajar siswa-siswa, saya lakukan yang terbaik dari yang saya bisa berikan. Banyak respon positif maupun negatif dari siswa-siswa saya. Saya banyak sekali belajar. Belajar untuk sesuatu yang ternyata memang saya sukai. Saat itulah semua pertanyaan di paragraf sebelumnya terjawab. Seiring berjalannya waktu, seiring saya mulai terjun di dunia yang sebenarnya, saya pun meyakini bahwa saya memang suka dengan profesi saya ini. Saya suka berbagi cerita dengan murid-murid. Saya suka mengajari biologi pada mereka, melihat wajah-wajah penuh takjub saat saya memberitahukan suatu fakta tentang tubuh manusia, hewan, bahkan tumbuhan. Saya suka saat mereka menceritakan rahasia-rahasia mereka hingga saya tertawa kecil dibuatnya. Saya suka saat mereka bertanya masalah apapun hingga kekepoannya akan kehidupan pribadi saya. Saya suka saat mereka memanggil saya dengan sebutan “Ibuu...”. Saya suka saat mereka dengan isengnya memberikan komentar di status saya atau bahkan chat hal-hal ringan tengah malam. Bahkan saat mereka melakukan hal yang saya tidak sukai, hal itu menjadi teguran kecil untuk diri saya sendiri bahwa dulu pun saya, saat seumuran mereka, mungkin pernah melakukannya. Saya suka semua yang mereka lakukan. Melihat mereka tumbuh dengan banyaknya cita-cita yang dimiliki, tentu mereka mengharapkan saya dapat membimbing untuk mencapai semua itu. 

Seketika itu saya tersadar bahwa memang ini yang saya butuhkan, saya senang jika saya dapat bermanfaat sebanyak-banyaknya untuk orang lain. 

Untuk sampai di tahap ini (tahap dimana saya tidak lagi menganggap bahwa berkecimpung di dunia pendidikan adalah suatu masalah) tidaklah mudah, butuh keyakinan pada diri sendiri bahwa memang ini yang terbaik. Saya sudah bulatkan tekad bahwa apapun pekerjaan saya nantinya, itu tidak akan keluar dari jalur saya sekarang, pendidikan. Berapapun gajinya bukan yang terpenting, yang terpenting adalah kenyamanan saat bekerja. Saat saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah pun, saat itu saya berdoa, “Kalau memang yang terbaik maka mudahkanlah...” dan saya pun ternyata diluluskan oleh Allah pada tes penerimaan. 

Insha Allah saya akan fokus dan bekerja keras untuk bisa bertahan di dunia pendidikan. Anak-anak Indonesia membutuhkan saya. Saya yang secara langsung diberi amanah untuk mau mengabdi, untuk mau diberikan tanggung jawab cukup besar untuk mewarnai pendidikan Indonesia. Saya tahu sebenarnya keberadaan saya di dunia pendidikan ini pun adalah suatu masalah namun sekarang rasanya sudah berbeda. Ketika saya menikmatinya, saya akan ganti masalah ini menjadi suatu amanah yang harus dinikmati dan disyukuri juga ditekuni. Semoga saya bisa.

August 07, 2015

#DAY17 Something that you're proud of

I’m so proud of being an Indonesian! Dibalik semua carut marut pemerintahannya, korupsi yang kian bertebaran, infrastruktur yang masih belum merata, sumber daya alam yang banyak dieksploitasi, banyak manusianya yang masih mementingkan diri sendiri, dan sejuta masalah lainnya. Tapi percayalah, Indonesia itu insha Allah jadi negara teraman dan teramah di dunia. Dari semua warga negara asing yang pernah saya temui (saat saya masih aktif di organisasi X) semuanya mengatakan kalau orang Indonesia itu so lovable and very easy going, “Indonesia people is sooo kind, really a heartwarming!Some of their said. Well said, isn’t it?

Ditambah lagi sebagai seorang muslim, saya merasa sangat aman menjadi orang Indonesia dan tinggal di Indonesia, dimana bebas beribadah dimanapun, bebas berjilbab, makanan bersertifikat halal bertebaran dimana-mana, masjid bertebaran dimana-mana, dan toleransi antar umat beragama yang cukup baik. Jauh diluar kondisi saya sebagai muslim yang tinggal di negara mayoritas muslim, satu hal lain yang patut dibanggakan di Indonesia adalah beragam perbedaan yang ada didalamnya tidak menjadikan negara ini terpecah-pecah. Padahal secara geografis, Indonesia yang merupakan negara kepulauan sangat rentan akan hal tersebut. Belum lagi perbedaan budaya, bahasa, agama, suku, adat. Namun ternyata kekayaaan dalam keberagaman itu tidak jadi penghalang namun justru menjadikan pemersatu yang tidak dimiliki oleh negara lainnya. Feeling proud enough?
  
Berbicara tentang Indonesia, beberapa hari yang lalu saya pinjam satu buku dari seorang teman jurusan pendidikan sejarah yang berjudul A Bandung Connection karya Dr. H. Roeslan Abdulgani. Buku ini bercerita tentang perjuangan tokoh-tokoh pemerintahan Indonesia (khususnya Pak Roeslan sendiri) demi terselenggaranya Konperensi Asia Afrika dimana saat itu kondisi Indonesia baru 10 tahun berdiri sejak kemerdekaan. Saat itu Pak Roeslan sendiri sedang menjabat sebagai sekjen departemen luar negeri, yang jadi orang kepercayaan menlu Sunario, yang juga sudah dapat dipastikan memiliki peran yang sangat besar dalam penyelenggaraan KAA. Dari buku itu saya banyak banyak belajar bahwa betapa para pemuda dahulu begitu gigih memperjuangkan hak dan martabat Indonesia di mata dunia. Bukan hal yang mudah membuat suatu konferensi dimana 2 benua besar terlibat didalamnya, negara yang baru merdeka sebagai penyelenggaranya, dan ditambah kondisi internasional yang saat itu pun sedang dirundung beberapa masalah. Tapi ternyata orang-orang pemerintahan Indonesia bisa melakukannya. Bisa mengusung misi solidaritas antara negara Asia-Afrika untuk menjadi power baru sehingga bisa dipandang dunia, “Let a New Asia and a New Africa be born” begitu kata Soekarno dalam sambutannya pada pembukaan KAA yang berhasil membuktikan bahwa Indonesia bisa menjadi negara yang mendukung kesetiakawanan demi kemerdekaan dan keadilan negara-negara Asia-Afrika. 

Meskipun buku ini hanya menceritakan perjuangan KAA yang dimana mungkin hanya 0,sekian persen dari perjuangan bangsa Indonesia dalam meniti karirnya sebagai negara namun tak henti-hentinya betapa bangganya saya pada tokoh-tokoh perjuangan nasional Indonesia, yang sebagaimanapun pandangan orang lain terhadap Indonesia mereka tetap dengan kuat dan gigih memperjuangkan haknya. Betapa bangganya juga saya terhadap negara saya sendiri, bisa dilihat Indonesia tidak pernah menjajah negara manapun kan? Indonesia bebas dari titel imperialisme dan kolonialisme dan hal itu yang patut kita banggakan.

Lalu sekarang kita sebagai jiwa muda harus berbuat apa? Sudah berbuat apa? Silakan diresapi dan ditanyakan pada diri kita masing-masing.

Sejak membaca buku itu, ada satu hal yang saya renungkan bahwa Indonesia tidak seburuk yang kita bayangnya. Bolehlah kita berkeluh kesah dengan semua kondisi Indonesia saat ini tapi sudah sejauh mana pula kita menghargai kinerja para pendahulu kita, meyakini bahwa sedikitnya pasti masih ada orang bersih di pemerintahan kita, dan masih banyak hal yang dapat kita lakukan untuk bermanfaat di negeri dari sekadar kecewa terhadap keadaan yang sudah terjadi. Dan dari buku itu pula, saya jadi tertantang untuk baca buku sejarah lainnya, untuk tahu bagaimana keadaan di masa lalu, untuk belajar dari sikap dan cerita orang dulu, dan untuk tidak memahami suatu keadaan setengah-setengah. (Big thanks to Ibah untuk semua pengaruh buku-buku sejarahnya!)

Oh ya di buku itu ada kata pengantar yang dibuat oleh Pak Roeslan Abdulgani, yang isinya sungguh sangat sejuk dan menampar jiwa yang kering ini. Benar-benar pesan yang dibuat khusus untuk para pemuda penerusnya untuk meneruskan perjuangannya demi bangsa Indonesia.

Saya tidak mau menggurui generasi muda.
Tetapi harapan saya kepada generasi pendatang yang akan berkecimpung di abad ke-21, hendaknya siap-siap menghadapi tantangan-tantangannya yang tentu berbeda dengan abad ke-20. Yaitu abad saya, abad yang penuh gejolak, dimana seperti yang pernah saya kemukakan, bahwa siapa yang mendambakan kehidupan tenang, tidak berhak lahir pada abad ke-20.
Generasi muda kita dan generasi mendatang akan hidup di abad ke-21. Mereka harus pandai membaca pertanda zaman sekarang dan zaman mendatang. Mereka harus pandai menemukan cara-cara mengatasinya agar negara dan bangsa tetap jaya, dan rakyatnya mengalami peningkatan dalam ikhtiar mencapai masyarakat adil dan makmur. Jangan terperosok ke dalam kelengahan.
Lihatlah apa yang telah diperbuat oleh Bapak-bapak kalian dulu. Mereka tetap berpegang kepada sumber moral, yakni ajaran agama dan ajaran leluhur. Saya selalu bilang kepada generasi muda bahwa mereka tidak perlu dan tidak harus meniru kondisi kami di masa perjuangan, karena jauh berbeda. Tapi tirulah semangatnya.
Saya juga selalu ingat ucapan guru saya, Jan Ligthard, yang berkata:
Jadikanlah anak-anakmu berjiwa semerah matahari terbit
Ia harus berani hidup, berani menghadapi tantangan
Karena hidup ini perjuangan
Ada pasang, ada surut
Jangan takut pada kesulitan
-Dr. H. Roeslan Abdulgani, A Bandung Connection

July 23, 2015

#DAY16 Something you always think “What if...” about

Maybe it’s not something i always think about, but to think about it i used to be grateful all the time, for the time i spent, for the sacrifice i had, and for everything i have till now. Something be like....”Gimana kalau dulu gue sekolah di sekolah negeri biasa, enggak sekolah di islamic boarding school?

Pikiran itu tiba-tiba keluar saat saya menjadi pre-service teacher di salah satu SMA favorit di Kota Bandung. Saat itu saya melihat murid-murid saya sangat ceria bermain dan belajar di depan kelas mereka, di koridor sekolah, atau kantin, pulang sekolah berjalan bersama dengan teman laki-laki dan perempuan, tertawa-tawa saling mengejek, pergi bimbel bersama dan membuat janji setelahnya untuk pergi ke cafe ternama. Pemandangan yang sangat natural dilakukan bagi anak seusia mereka di sekolah. Beberapa ada pula yang memadu cinta berjalan berpegangan tangan sepulang sekolah atau sekadar makan siang bersama. Saat itu saya hanya bisa tersenyum. Begitu indah ya masa SMA mereka, bebas melakukan apapun. Saat itu timbul pikiran meracau, coba dulu saya pun bersekolah di sekolah negeri biasa... Pasti punya lebih banyak teman (you know, i only have 60 friends in my batch), bisa bermain selepas sekolah tanpa harus kembali ke kelas untuk kelas asrama, bisa mengeceng siapapun tanpa ada rasa takut ketahuan, atau mungkin bisa lebih menikmati masa SMA yang kata banyak orang masa yang paling menyenangkan (?)

Tapi ternyata dibalik apa yang tidak saya dapatkan, masih banyak nilai-nilai lain yang justru tidak akan saya dapatkan jika saya bersekolah di sekolah reguler. Kalau saya tidak bersekolah di boarding school entahlah bagaimana kemampuan membaca Al Quran saya, hafalan suratnya, ilmu-ilmu agama saya sekarang. Mungkin tidak akan ada peningkatkan dari level anak SMP. Lalu beranjak pada semua pengalaman tak terlupakan di sepanjang 3 tahun bersekolah di sekolah yang sangat menjunjung tinggi kedisiplinan, terbiasa dengan kerasnya kehidupan sehari-hari yang jauh dari rumah dan orangtua, self of belonging akan segala sesuatu yang dimiliki sendiri maupun yang dimiliki bersama, respecting to an old (secara dulu satu kamar dengan kakak kelas) and how to be a role model for juniors, menjadi mandiri, hemat, caring to others, being a multitasker, and have a passion of life. Belum lagi kewajiban berbahasa inggris dan arab untuk daily conversation di sekolah itu yang berhasil membuat saya kini tidak punya kesulitan berarti ketika berhadapan dengan bahasa-bahasa itu. Semuanya mengajarkan saya akan miniatur kehidupan yang sesungguhnya dan bagaimana seharusnya menjadi manusia yang seimbang antara intelektual, emosional, dan spiritual yang mungkin jika dijelaskan satu per satu disini tidak akan cukup.

Kalau saja saya tidak bersekolah di sekolah boarding school itu saya tidak menjamin saya akan menjadi saya yang sekarang, yang alhamdulillah menjadi seseorang yang memang saya inginkan meski masih jauh dari kata sempurna. Gemblengan selama 3 tahun di sekolah itu membuat saya membuka pikiran bahwa menjadi orang pintar dan prestasi gemilang saya sia-sia tanpa akhlaqul karimah. Betapa kuantitas teman itu menjadi sangat tidak penting ketika justru teman seperjuangan dulu yang sedikit itulah yang paling berkesan dan memberikan banyak kenyamanan hingga sekarang. Dan hingga akhirnya sekarang berhasil membuat saya memiliki cita-cita, “Nanti kalau punya anak, laki-laki ataupun perempuan harus disekolahkan di sekolah islamic based, boarding atau hanya full day school.” Bukan untuk apa-apa tapi demi membekali tidak hanya ilmu dunia saja tapi juga ilmu akhirat untuk anak-anak saya. Saya sudah membuktikan bahwa sekolah islamic boarding itu banyak berperan tidak hanya untuk membentuk kecerdasan tapi juga membentuk karakter. Itu yang saya lihat dan rasakan sendiri. Melihat betapa teman-teman saat saya SMA sangat berbeda dengan teman-teman saya yang lainnya, mereka yang sangat mencintai dan menghormati orangtuanya, selalu berusaha sekuat tenaga untuk apapun yang sedang mereka jalani, selalu menjalin silaturahmi dengan cara yang sangat menyenangkan sejauh apapun tempatnya sesempit apapun waktunya, selalu membuat saya terkagum-kagum dengan pola pikir dan cita-cita besar mereka, dan yang selalu mengajarkan bahwa bagaimanapun hebatnya kita yang terpenting adalah sikap sederhananya. 

Lalu adakah alasan lain yang bisa membuat saya tidak bersyukur atas segala yang telah saya jalani selama ini? Memiliki masa SMA yang penuh perjuangan dan teman-teman yang lovable cukup membuat saya berpikir “Bagaimana jika seandainya saya tidak bersekolah di sekolah boarding school?” All the answer maybe were not that interesting and precious.

Tiba-tiba ingin attach foto Gunung Karang. Di sekolah mana coba gunung jadi background pemandangan dan ilalang bisa dilihat setiap harinya? Cuma di Cahaya Madani Banten Boarding School

July 06, 2015

#Day15 Your zodiac/horoscope and if you think it fits your personality

Well yeah,
Fortunately, i don't have any faith on zodiac or horoscope. So it couldn't ever been reasonable if it fits my personality or not. Do i need to elaborate more?
#hahahaha #cacabingungdengantopik #maugantitopiktapigakjadi #jadinyateteppaketopikhoroskop #dantulisannyajadisupersingkat #sakingbingungnya #padahaliniblog #bukanaskfm #jugabukantwitter #abaikanhashtag #semakinrandom #mendinglangsungkeday16 #let'sgo

July 04, 2015

#DAY14 What You (wear) Wore Today

Kayanya sih ya topik ini sebenarnya minta foto ala-ala ootd (outfit of the day) atau setidaknya mention what i wore today. Tapi karena hari ini saya tidak berencana pergi kemana-mana jadi enggak ada yang pantas untuk dijadikan outfit of the day. Jadi saya coba untuk mengembangkan topik ini kearah yang saya-sambung-sambungin-sendiri-yang-penting-nyambung hahaha tadinya sih mau ganti topik tapi ya masa mau ganti topik mulu (padahal karena ada niatan ganti topik untuk topik selanjutnya jadi masa topik ini mau diganti juga hihi)

What i actually want to say through this topic is....

Ada yang salah dengan pola pikir saya selama ini tentang what kind of ‘dress’ i have to wear everyday, in kinda woman dressing up rules. Dressing up disini bukan sebatas apa pakaian yang saya pakai, bagaimana saya berpenampilan tapi lebih kepada nilai apa yang harus saya pakai, harus saya junjung sebagai wanita sehingga menunjukkan bahwa we have our own crown and values to live the life independently. Saya ingat sekali saat ulangtahun Shani yang ke 22 tahun kemarin, (Shan, gue minjem cerita dan nama lo ya hehe), saat itu kami menghabiskan waktu bersama di angkringan malam depan kampus ITB (kampusnya Shani). As i told you, sejak SMA saya mengenal Shani adalah sosok perempuan yang kuat, dulu jarang lihat Shani berkelompok dengan cewek-cewek untuk sekadar bercanda-canda tidak penting. Dengan percaya diri Shani lakukan apapun sendiri, independently, dan cenderung acuh dengan apa kata orang lain. At that time, Shani was so popular as a fierce-forward-looking person hingga saya sempat berpikiran dia sangat apatis dengan lingkungannya, cuek, sebodo amat. Tapi saya berpikir lagi, setiap orang selalu punya alasannya masing-masing mengapa bersikap seperti itu. Dan (mungkin) alasannya, karena dengan bersikap seperti itu, Shani bisa membentuk dirinya menjadi seorang yang kuat, cerdas, punya idealisme dan keinginan yang kuat soal apapun, tidak mudah terpengaruh, open-minded, dan sangat mandiri. Tapi yang saya lihat justru adalah sosok Shani yang sangat mengintimidasi bahkan untuk saya sebagai teman perempuannya. Bagaimana pada teman-teman laki-lakinya? Padahal kodrat laki-laki itu tidak ingin terkalahkan dalam apapun. How does she overcomes this gender issue? Dan malam itu, dengan bodohnya saya bilang pada Shani,
Gue liat lo udah keren banget, Shan. Sebagai cewek, lo mandiri, cerdas, kuat, punya pikiran yang luas, tapi harus inget juga kodrat lo sebagai perempuan bahwa lo juga butuh laki-laki, jangan pernah mengintimidasi laki-laki dengan itu semua. Laki-laki gak terlalu suka dengan sifat perempuan yang mengintimidasinya.”
Saat itu Shani jawab dengan bijaksana, 
Karena sekarang gue cuma lagi membiasakan untuk menjadikan diri gue mandiri. Gue gak tau kan nanti kedepannya kehidupan rumah tangga gue bakal gimana. Kalo suami gue meninggal duluan, seenggaknya gue tetep bisa jadi perempuan yang kuat, meski sendirian.”
((kurang lebihnya seperti itu lah inti obrolan kita, tepatnya sudah lupa juga))

Setahun berlalu dari obrolan itu, tidak ada yang merubah pemikiran saya pada apa yang dimaksud oleh Shani. Dan hingga saatnya sekarang, saya baru tersadar akan apa yang Shani maksud adalah sesuatu yang justru jauh lebih berharga dan betapa omongan saya saat itu was soooooo petty-minded, so shallow. Dengan bodohnya saya bilang bahwa she has to lower her fiercely-strong-indepedent personalities just in case the man will feel much intimidated and (perhaps) afraid to approach her. But, those are the big mistake i’ve ever thought, i’ve ever said! Dulu saya berpikir bahwa tidak etis rasanya bagi perempuan untuk memiliki apa yang seharusnya lebih layak dimiliki laki-laki, kalau kita terlalu kuat, terlalu kaya, terlalu cerdas, terlalu mandiri nanti mana ada laki-laki yang mau. Tapi semuanya salah. Salah besar. Anggapan bahwa laki-laki senang dengan perempuan manja dan should dependent to them itu ternyata suatu kesalahan. Dan akhirnya yang saya pelajari sendiri adalah sudah saatnya perempuan itu punya value yang lebih dari sekadar penampilan, punya value yang sama besarnya dengan apa yang dimiliki para laki-laki. Perempuan itu harus cerdas, kuat, mandiri (finansial maupun mental), punya passion, tidak serta merta hanya parasit dan meminta seorang laki-laki kaya dan tampan untuk jadi suaminya kelak.

Konsep perempuan kuat yang Shani ajarkan itu berhasil membuat saya terhentak. Tidak perlu bertingkah layaknya perempuan manja, showing them our aegyo to attract the men. Gak perlu ngerasa takut mengintimidasi para lelaki ketika kita ingin mengembangkan potensi diri untuk menjadi superwoman. Toh segala kelebihan yang kita punya bukan untuk membuat laki-laki takluk tapi untuk membuat kita mandiri. Percayalah hanya laki-laki rendah yang merasa terintimidasi oleh perempuan yang matang segala-galanya. And you know, the real man obviously will always search for our kindness, our intelligence, and will never ever be intimidated by our strong-independent personality. So it doesn’t need lowering our personality just to attract the men, just be ourselves, sesungguhnya hanya laki-laki yang juga sama-sama memiliki those precious personalities yang tidak akan merasa terintimidasi dan justru akan berusaha untuk tinggal di dalam hati kita, dalam kehidupan kita karena semata-mata mereka sangat membutuhkan eksistensi kita untuk bisa berjalan beriringan dengan kehidupannya yang juga sama-sama kuat. 

Jadi wahai perempuan-perempuan muda, menjadi cantik itu memang keharusan (harus dijaga, harus dirawat, harus juga diperhatikan) karena percayalah laki-laki itu makhluk visual yang sangat mengagungkan kecantikan paras dan tubuhmu, penampilanmu, apa yang kamu pakai. Tapi untuk bisa bertahan denganmu pun, the real man needs more than that. Terlebih lagi kita enggak selamanya bakal jadi perempuan single. Akan tiba saatnya kita berhenti mencari dan bertahan. Ketika fase bertahan itu dijalani maka kekuatan fisik akan luntur perlahan dan terkalahkan eksistensinya dengan kekuatan lainnya. Kita akan jadi ibu, akan jadi istri. Banyak hal yang harus dikembangkan untuk menjadi 2 sosok luar biasa itu, harus cerdas agar gak bosen diajak diskusi dan jadi madrasah pertama untuk anak-anaknya, harus mandiri juga secara finansial dan mental agar enggak ketergantungan pada suami, harus kuat agar mampu melahirkan keturunan yang kuat juga disamping cukup mempercantik diri untuk memuaskan suami. Kalau kata Riri sih, percuma jadi cewek cantik kalau gak punya kelebihan selain jadi cantik.

Itulah kenapa mulai sekarang tidak usah ragu untuk menjadi superwoman bukan untuk membuat laki-laki takluk tapi untuk eksistensi wanita kita kedepannya, keep it as your pride, your value. As my friend posted in her instagram,

Dear woman,
Sometimes, you will just be too much woman
Too smart, too beautiful, too strong, too independent. Too much of something
that makes a man feel like less of a man which will start making you feel like
you have to be less of woman.
And the biggest mistake you can make is removing jewels from your crown,
to make it easier for a man to carry. When it happens, i need you to understand.
You don’t need a smaller crown,
You just need a man with bigger hands.
"What you (always wear) wore today, it’s not about how to dress up beautifuly nor to spruce up oftenly. It should be more than that. It’s about how you feel confident for the value of being superwoman you had have and keep expanding and maintaining your great personalities."

#DAY13 Your opinion about your body and how comfortable you are with it

I just don't need to make any opinion about my body, because undoubtedly Allah will always had a good reasons behind every detail of His creating. So as long as i'm comfortable and being healthy, there's nothing i can do except i enjoy everything happens and learn that the cells has been created in the best way to form each part of our body so it works simultanously to fulfill our body needs. I could feel how the fresh air was passing by my nose then i could take a deep breath, feeling relieved. I could see every colours mixing in some beautiful painting and magnificent scenery. I could think rightly and do everything creatively based on my brain hemisphere ability. I could feel lots of emotion through the help of the brain and secreted hormones. Or simply having my joints and bones work together to walk in the small park and realized that our body is take an important role to make us feel that life can be randomly beautiful.
So actually, Allah doesn't need more. He only need us to keep being grateful, keep those healthy and stay fresh inside and outside as a solid gratitude for sort of kindness package from Him instead of looking for to another perfection. As He said, so which of the favors of your Lord would you deny? that taught us to stop being so pathetic and less of confident towards our body, we exactly have more stuffs to be grateful of.

July 01, 2015

#DAY12 What your thought today

Ini challenge kedua yang akhirnya saya putuskan untuk menggantinya dengan topik lain. Topik yang sebenarnya sih 5 Guys You Find Attractive haha tapi duh enggak dulu deh nulis yang beginian. Meskipun ini cuma tantangan, don't take it seriously gitu sebenernya, ya i mean gak harus juga nulis dengan jujur the real 5 guys i find attractive itu dan sangat bisa diisi tentang biodata dan why these guy -Harry, Zayn, Niall, Louis, dan Liam are attractive misalnya hahaha tapi kan sangat enggak lucu, ini bukan blog anak SMP anyway.

So jadinya berdasarkan hasil ngebajak salah satu topik yang Esthi bikin sendiri (haha belom bilang lagi ke orangnya), day 12 ini diganti dengan topik seperti judul diatas. Kenapa akhirnya milih topik itu karena lately, sejak masuk bulan Ramadhan sebenarnya, saya berpikir ada sesuatu yang salah dengan rutinitas saya kemarin-kemarin yang hingga akhirnya, sekarang, jadi sesuatu yang sedikit demi sedikit dicoba untuk ditinggalkan eh dikurangi kali ya. Sebenarnya the thought of this fucking lifestyle sudah lama jadi sesuatu yang bikin saya khawatir, hingga akhirnya sampai juga di titik jenuhnya.

Di kehidupan sekarang, semua orang sibuk dengan gadgetnya (being an autism), sibuk untuk saling mengabarkan pesan, atau sibuk mengabarkan segala yang terjadi pada dirinya di media sosial. Itu semua memang tidak salah, saya pun pernah mengalami fase seperti itu. Fase dimana chatting dengan teman di kamar lebih seru dibandingkan mengobrol dengan teman kost di ruang tengah kosan, saat dimana ada perasaan senang jika foto instagram dilike oleh puluhan orang, atau status line kita diperhatikan oleh teman-teman. Saat itu saya berpikir ya seru-seruan aja, biar enggak sepi. Tapi ternyata yang namanya dunia tidak nyata itu hanya membawa kesemuan, yang cepat atau lambat akan menampakkan kita pada titik kejenuhan. Dan saya sekarang sepertinya sedang berada di posisi itu. 

Berawal dari media sosial Path yang saya tinggalkan karena isinya hanya keseharian orang lain yang sungguh sangat tidak penting untuk diketahui, yang ujung-ujungnya sering membuat saya berpikir betapa sempurnanya kehidupan mereka dengan check in menyenangkannya. Yang membuat saya jadi kurang bersyukur dengan kehidupan saya sendiri. Setelah path, akhirnya sekarang instagram pun berlaku demikian. Akhirnya saya menguninstal Instagram dari gadget utama saya karena ko makin kesini saya juga berpikir bahwa instagram not gives that much useful stuff, dan sebenarnya hanya buang-buang waktu untuk keep us scrolled the timeline yang isinya, sama dengan Path, yang menunjukkan how socialistic they are! Yahaha iya saya tau kok namanya juga media sosial ya wajar untuk sebebas-bebasnya berekspresi, sebebas-bebasnya membentuk image diri. Maka jika saya tidak suka atau merasa risih, no sense untuk mengubah semuanya dengan cakupan area dengan luas tak terhingga itu, jadi yang bisa dilakukan hanya keluar dari zona. Giving up! Menyerah untuk tidak terlalu berlebihan dalam penggunaan media social, seperlunya saja, biasa aja. Berhenti kepo-kepo akun orang lain karena certainly they just gives you fucking of shit to meaning a life!, berhenti sok eksis dengan ngasih tau kita lagi apa, dengan siapa, dimana karena they totally don't care about it, and the most important stop wasting your time to keep being around your social media. Mending waktunya dipakai baca artikel di portal berita, atau tilawah di app Al Quran, atau nulis blog (hah pencitraan haha), atau kultwit yang bermanfaat, atau setidaknya sharing sesuatu yang memang sangat layak dilihat dan berguna untuk banyak orang. If your update makes no sense, i just say better you don't publish it. Be the genius one!

Saya bicara seperti ini hanya ingin berbagi, sudah saya katakan sebelumnya kan bahwa saya pun pernah di posisi kelebayan di media sosial tapi semuanya toh proses, meskipun sudah uninstall instagram di ponsel utama, saya masih nge-keep aplikasi ig dan path kok di tab, untuk kebutuhan info sekali-kali, enggak secara tiba-tiba bisa lepas gitu aja. Tapi satu hal yang pasti,, hingga suatu saat nanti, di suatu turning point yang sama, kalian semua akan juga merasakan apa yang saya rasakan. Bahwa media sosial akan lebih baik jika diperlakukan dengan tidak berlebihan dan diperuntukan untuk hal yang bermanfaat untuk banyak orang.

Bicara soal media sosial lainnya, dulu saya pun sangat asyik berchatting ria dengan teman-teman di whatsapp, atau line, atau bbm. Asyik membentuk atmosfer obrolan yang jika dipikir-pikir banyak tidak pentingnya. Padahal berapa jam yang kita habiskan untuk itu padahal mungkin saja di jam itu saya bisa mengerjakan hal yang lebih bermanfaat, berapa banyak orang yang kita abaikan hanya demi obrolan bayangan itu. Hahaha maaf ya untuk teman-teman yang banyak saya anggurin beberapa hari ini, balas chat yang super lama, karena lagi di tahap malas untuk sesuatu yang enggak penting. Saya sarankan kalau memang urusannya urgent dan penting, awali dengan text yang to the point, enggak usah sok-sok ngecek kita on enggaknya dengan cuma manggil nama atau ucapan salam, karena sesungguhnya yang serius akan serius juga untuk mengawali pembicaraan. Recipient pun akan tau apa yang harus dilakukan untuk merespon chat penting dan tidak penting, sesibuk atau sekosong apapun waktunya. Ya saya tau sih ini cuma lagi jenuh aja dengan segala chat group yang masuk tidak hentinya dan keisengan orang-orang, saya tidak menyalahkan siapapun disini. Seperti yang saya katakan sebelumnya, itu hak tiap individu untuk bertindak apapun, selama tidak merugikan orang lain, fine fine aja kok. Sekali lagi ini hanya pendapat saya aja. Saya yang sedang jenuh dan malas dengan semua hal di media sosial yang 'gitu-gitu' aja. Sah-sah aja aja kok sebagai social media user biar tahu perkembangan teknologi juga, yang penting kita bisa mengontrol segala feeds yang masuk aja agar semua hal yang berniat baik tidak disalahgunakan dan yang berniat buruk dijauhkan. Be a wise user intinya, gak usah berlebihan.

Sekarang saya paham kenapa orang dewasa itu sangat mengurangi aktivitasnya di social media (kecuali untuk orang-orang yang memang berkarir di bidang digital), karena orang yang dewasa sudah bisa berpikir apa hal tidak bermanfaat untuknya, dan meninggalkan apa membuat waktunya terbuang sia-sia, bertindak secukupnya. Saya juga paham kenapa orang dewasa jarang mengumbar kehidupannya di media sosial, karena saya pun mulai merasakan betapa berharganya setiap momen itu jika hanya kita dan partner kita yang tau, yang menghargai. It's more sweeter when it comes more personal, isn't it?

Semoga kita bisa belajar untuk menjadi orang-orang yang selalu bermanfaat dengan apapun yang kita lakukan, bisa menjadi orang-orang yang efektif dalam memanfaatkan waktu, dan menjadi orang-orang yang tidak berlebihan terhadap sesuatu. Amin.

June 29, 2015

#DAY11 Your Family

Jadi sebetulnya harusnya kemarin nih buat postingan day 11 tapi berhubung ragu untuk tetap melanjutkan tema ini atau menggantinya (sama seperti challenge day 8) jadinya baru nulisnya hari ini. Kenapa harus ada pertimbangan, karena menurut saya challenge day 11 ini agak privasi sedangkan saya kurang biasa menceritakan kehidupan privasi --terutama keluarga. Tapi setelah dipikir, "Asal jangan yang terlalu privasi kayanya boleh deh, dibikin seru aja, kapan lagi nulis tentang keluarga sendiri." akhirnya saya menutuskan untuk take the challenge. Enjoy reading!

Keluarga saya itu keluarga Sunda tulen, benar-benar nyunda sejak beberapa keturuan di atas kakek dan nenek baik dari mama maupun bapak. Tapi semenjak bapak dipindahtugaskan ke Rangkasbitung lambat laun kebiasaan berbicara bahasa sunda sedikit hilang, faktor lingkungan rumah dan lingkungan kerja orangtua pun cukup berpengaruh. Meskipun kadang mama, bapak, dan kakak masih sering menggunakannya di rumah tapi tidak begitu dengan saya dan adik. Alhasil di umur yang sekarang ini saya masih sangat enggak pede untuk bicara bahasa sunda, bisanya hanya mengerti orang bicara tapi kikuk ketika membalasnya. Faktor saya dan adik yang sudah full dibesarkan di Rangkasbitung bisa jadi alasan kenapa bahasa sunda agak asing bagi kami. Sedih sih kok malah enggak bisa menjaga budaya ya, malah asyik terbawa lingkungan padahal medianya ada.

Selain sunda tulen, kedua orangtua saya berkarir di bidang pendidikan. Sejak awal dipindahtugaskan ke Rangkasbitung saat itu memang bapak adalah seorang guru. Dulu guru masih sangat pas-pasan. Makanya saat itu mama pun terpaksa putar otak untuk bisa membantu ekonomi keluarga, dari mulai ikut mengajar juga, hingga jualan kue-kue basah yang nantinya dititipkan di kantin sekolah bapak. Tapi sejak anak-anaknya pergi satu persatu dari rumah, kakak kuliah, dan saya harus tinggal di sekolah boarding akhirnya mama berhenti mengembangkan bisnis kecil-kecilannya. Mama fokus mengajar SMP sambil membangun yayasan madrasah diniyah untuk siswa sekolah dasar dan taman pendidikan Al Quran untuk siswa taman kanan-kanak. Karena terlalu capek dan ingin lebih fokus di pengembangan yayasan akhirnya mama memutuskan untuk keluar dari mengajar SMP dan hingga kini lebih memilih untuk mengembangkan yayasan. 

Sementara karir bapak pun alhamdulillah meningkat, yang tadinya guru kini bapak sudah jadi kepala sekolah. Satu hal yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya oleh saya, mungkin ini ya yang namanya berkah jadi guru, yang tanpa pamrih membagikan ilmu pada murid, rela mendidik anak orang lain. Gaji guru sebenarnya berapa sih? Jauh di bawah karyawan bank sekalipun tapi alhamdulillah 2 dari 3 anak bapak dan mama sudah sarjana tanpa ada kesulitan yang berarti. Saya sadari pula selama ini saya, kakak, dan adik benar-benar dimudahkan oleh fasilitas yang orang tua berikan meski tidak bergelimang. Disitulah saya bisa ambil pelajaran bahwa rezeki itu tidak harus banyak, yang penting berkah jadi kita merasa tercukupi lahir dan batin. Rezeki yang berkah itu tidak lain karena berasal dari usaha yang halal. Masih ingat saat bapak bicara seperti ini, 
Gak apa-apa kita hidupnya pas-pasan juga yang penting dihadapan Allah gak pas-pasan. Emang susah cari rezeki yang halal itu tapi harus diingat bahwa rezeki yang kita dapatkan itu untuk anak dan keluarga. Sedangkan anak dan keluarga itu aset masa depan dunia akhirat yang jadi tanggung jawab bapak.
Saat bapak bilang itu seketika saya ingin sekali punya suami seperti bapak yang tahu akan tanggung jawabnya sebagai imam keluarga, juga tanggung jawabnya sebagai laki-laki muslim yang harus senantiasa solat berjamaah di masjid. Salut untuk bapak yang enggak pernah skip solat subuh, magrib, dan isya di masjid dan berhasil jadi cambukan bagi saya untuk no excuse perihal solat tepat waktu di rumah. 

Bapak juga mengajarkan banyak hal, kerja keras salah satunya. Bisa terlihat oleh saya bahwa ada banyak sekali peningkatan kualitas hidup yang kami sekeluarga dapatkan yang semata-mata karena kerja keras bapak. Bapak juga yang selalu menasehati bahwa kita harus selalu melakukan kebaikan dan jadi orang yang baik pada siapapun. Karena semua kebaikan itu akan kembali pada kita, kalau yang kita tanam kebaikan maka kebaikan itu yang akan datang pada kita, berlaku juga sebaliknya. Ya bapak, bapak yang dibesarkan dari keluarga sederhana di sebuah desa ternyata sekarang bisa jadi imam keluarga yang begitu diidamkan oleh saya, yang membuat saya berpikir bahwa nanti ingin sekali rasanya memiliki suami yang punya kepemimpinan di keluarganya seperti bapak. Bapak yang selalu mengingatkan kita untuk jangan mudah menyerah, tidak perlu iri dengan rezeki yang orang lain terima karena semuanya sudah punya bagiannya masing-masing, harus mau usaha karena rezeki itu enggak ada yang datang tiba-tiba, dan yang terpenting harus banyak-banyak bersyukur agar kita selalu dicukupkan oleh Allah.

Mama pun seperti itu, banyak sekali yang sering jadi renungan kalau melihat keseharian mama. Mama termasuk orang yang kuat karena dulu mau untuk mendampingi bapak dari mulai masa sulit hingga sekarang, padahal saat itu pertama kalinya mama rela ikut bapak yang bertugas di Rangkasbitung (yang bahkan mama sendiri enggak tau tepatnya dimana) tempat dimana tidak ada sanak saudara satu orangpun. Otomatis yang hanya mama bisa lakukan ya stay strong. Itulah yang akhirnya membuat mama punya banyak keahlian, masak, buat kue, menjahit, bahkan membetulkan listrik pun mama bisa. Hingga akhirnya sekarang karena perjuangan mama juga alhamdulillah yayasan mama sudah sangat berkembang dengan ratusan murid dan beberapa guru, saya mengikuti bagaimana mama dulu berusaha untuk bisa memasukkan proposal ke departemen agama, cari dana kesana kemari, hingga mensosialisasikan yayasan yang ternyata tetap ada pro dan kontranya. Dan mama melakukannya sendiri. Mama sering bilang, "Jadi perempuan itu harus kuat, jangan cengeng biar anak-anaknya juga kuat. Dulu mama kalau bukan karena ingin mendidik anak-anak mama untuk kuat, mama pasti akan pulang lagi ke Bandung daripada harus tinggal pas-pasan di kota yang sama sekali gak mama kenal." Dari perjalanan hidupnya, mama  pun dengan tegas sering bilang, 
Jadi perempuan itu harus segala bisa, harus pinter, harus kreatif, jangan ketergantungan sama suami jadi meskipun nanti ditinggal (meninggal) duluan kita tetap bisa mandiri.

Noted that mam!
Mama memang inspirasi saya untuk mau belajar ini dan itu, bahkan untuk sekadar belajar menjahit. Mama pernah bilang gini, "Masa nanti masang logo osis anak harus ke tukang jahit sih kan gak lucu. Apa yang bisa dilakuin sendiri, lakuin sendiri." Mama juga yang selalu mengingatkan saya untuk berpakaian sopan sebagai muslimah yang bawa jati diri agama Islam, enggak ketat, biasakan pakai rok, meskipun pakai celana pun bajunya harus melebihi pantat, pakai kaos kaki. Mama jugalah yang menginspirasi saya untuk bisa dan bahkan jago masak, yang bikin saya rela menghabiskan waktu di dapur saat bulan Ramadhan tahun ini untuk belajar resep-resep masakan mama, "Nanti kamu harus bisa ngerasain gimana bahagianya saat anak kamu bilang, Kangen masakan mama, bahagianya tak terkira banget". Duh semoga bisa. Amin.  

Banyak sekali yang mama sudah dan sedang ajarkan, nasihat bahwa jangan pernah takut untuk membela agama Allah, untuk berjuang di jalan kebaikan, mama pernah cerita bagaimana dulu mama usaha mati-matian untuk mendirikan yayasan itu tanpa uang sepeserpun tapi ternyata ada Allah yang justru selalu memudahkan, jangan pernah ragu untuk menolong siapapun karena disitulah nanti Allah lah yang akan menolong kita, dan yang paling saya ingat dan terpatri dalam hati adalah bahwa hidup ini harus selalu dekat dengan Allah agar hidup kita dipermudah dunia dan akhirat. 

Selain orangtua, kakak laki-laki dan adik perempuan saya pun banyak juga mengajari banyak hal, kakak yang cenderung introvert mengajarkan bahwa the less you reveal, the more people can wonder (prinsipnya kakak sama kaya Emma Watson), hidup itu emang gak boleh sederhana yang sederhana itu harusnya sikap dan omongan kita. Gak usah banyak bacot hidup mah, orang juga bakal tau entarnya, gitu kata kakak. Kakak juga yang mengajarkan saya untuk tidak mengganggu privasi seseorang meskipun itu sama keluarga atau teman dekat kecuali dengan izin mereka masing-masing. Yang paling seru, kakak juga yang berhasil bikin saya sangat tertarik pada buku, menulis, musik, gitar, dan seni lukis hingga sekarang.

Meskipun kebersamaan saya dengan adik perempuan saya belum selama dengan ketiga orang yang sudah banyak mengajarkan sesuatu tapi kenyataannya, adik perempuan saya pun bisa menginspirasi. Opi yang punya teman sangaaaaaaat banyak, Opi yang enggak pernah ambil pusing apa kata orang kalau memang hal itu enggak berguna, dan Opi yang selalu bisa menahan rasa kesalnya agar tetap terlihat elegan di depan orang-orang (salut), dan Opi yang selalu bilang, "Jangan cepet baper teh..." selalu jadi jurus jitu untuk mengakhiri curhatan saya yang sangat enggak berguna. 

Seperti itulah yang saya bisa deskripsikan tentang sebagian kecil dari keluarga saya, tentang pelajaran berharga yang saya dapatkan dari setiap orang di dalamnya yang justru lebih berharga dibandingkan materi apapun.

June 27, 2015

#DAY10 Put your music player on shuffle and write the first ten songs that play

Eventhough soooo many fave songs listed on my smartphone and i really love them but the challenge just pushed me to write only 10 songs.... then here you go, the first 10 songs played on shuffle out of 66 songs on my mobile playlist!

Travis - Selfish Jean
Kings of Convenience - Mrs.Cold
Bunglon - Cerita Lalu (however an old song still have a special space inside my soul)
Justin Timberlake - Not A Bad Thing (my current most played song)
Frankie J - Don't Wanna Try
Bruno Mars - Treasure
Ohashi Trio - Natural Girl
The 1975 - Girls
Demi Lovato - Nightingale
Keira Knightley - A Step You Can't Take Back (OST.Begin Again)

#DAY9 How Important You Think Education is

Penting banget. Enggak kok bukan karena saya adalah sarjana pendidikan dan insya Allah akan berkarir di bidang pendidikan tapi memang seiring bertambahnya usia, saya jadi yakin bahwa being educated person itu penting banget. Banyak yang bilang belajar itu enggak harus di sekolah, bisa dimanapun. Iya saya pun setuju. Tapi kenyataannya pendidikan (disini konteksnya sekolah formal ya) itu bukan hanya mengajarkan ilmu saja tapi justru diluar itu semua yang membuat kenapa saya mengatakan bahwa pendidikan itu sangat penting. Seiring bertambahnya pengalaman bertemu dengan beratus-ratus orang, disitu saya membuat suatu kesimpulan bahwa ternyata ada perbedaan pola pikir antara orang yang memang bersekolah dengan yang tidak. Setidaknya dengan bersekolah, manusia akan bisa mengontrol kata-katanya dan memiliki tujuan dalam hidupnya. Tidak begitu saja mengikuti arus. Dengan bersekolah juga setidaknya tidak hanya ilmu dan pengetahuan yang didapat, tapi kita pun belajar bagaimana untuk bersosialisasi dengan berbagai macam sifat dan sikap manusia, bagaimana untuk menghadapi suatu masalah dengan melihat hal tersebut dari sisi yang lebih positif, bagaimana menghormati pendapat orang lain, bagaimana mengembangkan pemikiran yang kritis terhadap suatu hal yang masih diragukan, dan kemampuan lain yang mungkin tidak bisa kita dapatkan selain di sekolah.

Simpelnya, dengan bersekolah kita belajar bahwa dunia itu luas, dengan sekolah kita mengenal buku, mengenal teman-teman, yang membuat kita mengenal dunia di luar kehidupan kita sehari-hari. Hal ini yang bisa mengaktifkan energi potensial yang dimiliki setiap orang untuk memiliki suatu ambisi untuk mendapatkan sesuatu, mencapai sesuatu, memiliki cita dan harapan dalam hidup. Bukankah ini yang dinamakan memanusiakan manusia sesuai dengan tujuan pendidikan itu sendiri? Bagaimanapun itu, tidak pernah ada yang salah dengan konsep pendidikan itu sendiri. Jika pun memang selama ini ternyata pendidikan tidak menimbulkan banyak perubahan, yang salah adalah pada pihak yang memberikan atau mendapatkan pendidikan tersebut. Hakikatnya pendidikan itu untuk menjadikan kehidupan menjadi lebih baik.

Intinya saya termasuk orang yang akan menjunjung tinggi pendidikan seseorang, jangan pernah puas untuk belajar, dengan gelar yang pas-pasan, selagi masih bisa dikejar kenapa tidak. Meskipun memang tidak ada korelasinya sama sekali antara gelar dan kesuksesan seseorang, namun kalau orang berpendidikan saja masih banyak yang tidak sukses, tidak bermoral, lalu bagaimana dengan yang tidak berpendidikan sama sekali?

June 23, 2015

#DAY8 Your Opinion about Being Perfect and Being Better

And say hello to my 30dayschallenge! Hahahaha maaf nih ya sempet off main challenge kemarin-kemarin karena lagi memperbaiki pola ibadah di awal-awal puasa *pret* enggak sih sebenernya karena lagi enggak mood nulis dengan tema tertentu gitu (ya gini sih kalau anaknya bosenan) (padahal baru day 8). Tapi karena udah take a challenge ya mau gak mau harus diselesaikan. Oh ya sebenernya, day 8 itu challenge-nya What you ate today tapi menurutku agak kurang nantang. Jadi beberapa hari ke belakang itu aku bikin tweet untuk menyilakan teman-teman yang punya ide untuk mengganti challenge menulis day 8, yang mau nantang aku untuk nulis sesuatu. Dan akhirnya teman SMA-ku Esthi yang (the one and only) ngasih tantangan ini. Agak berat sih ya tantangannya –nantangin sih haha tapi ya akan kucoba.

Being perfect menurut saya adalah hal yang enggak mungkin terjadi pada siapapun karena kesempurnaan itu ya hanya Allah swt yang punya. Tapi mungkin being perfect disini lebih kepada tendensi setiap orang untuk menjadi perfect. Ya siapa sih yang enggak mau orang yang perfect? Tapi maaf aja nih saya sih termasuk yang enggak mau jadi orang perfect. Seperti yang pernah saya baca di salah satu artikel bahwa being perfect is an enemy of being good. Namanya manusia, kalau sudah sempurna pasti ada kecenderungan untuk enggak akan lagi mau usaha, enggak mau lagi mencoba, enggak mau lagi dengar apa kata orang lain, enggak mau berbuat baik lagi. Makanya disini Allah enggak mau menciptakan manusia yang sempurna. Toh Rasulallah juga punya kekurangan meski kekurangan itu selalu bisa Allah jaga. Egosentris yang mungkin akan dimiliki oleh being perfect inilah yang akhirnya membuat orang yang perfeksionis lebih dipandang negatif. Orang perfeksionis dianggap enggak fleksibel dan kadang menimbulkan ancaman pada suatu team. Untuk being perfectionist sendiri saya punya pendapat tersendiri, menjadi seorang perfeksionis sendiri bisa jadi hal yang baik dan buruk. Baiknya karena hampir semua urusannya akan dia kerjakan semaksimal mungkin, namun sedihnya jika hal terbaik yang ingin dia capai itu ternyata meleset dari rencana maka yang berbahaya, orang perfeksionis akan mengalami kesedihan yang cukup dalam. Belum lagi anggapan orang sekitar yang mengganggap orang perfeksionis itu adalah orang yang berlebihan. Padahal konteksnya, sudah jadi keharusan bagi siapapun untuk berusaha melakukan yang terbaik untuk apapun itu. Namun berusaha melakukan yang terbaik disini harus juga diikuti oleh tawakal atau berserah pada Sang Perencana. Do the best and let Allah do the rest, seperti yang sering kita dengar. Jadi intinya, benar seperti artikel yang saya baca bahwa being perfect is the enemy of being good. Proses untuk menjadi yang baik justru tidak dinikmati karena terlalu fokus pada pencapaian how to be a perfect one, padahal hakikatnya tidak ada manusia yang sempurna kan?

Jika memang enggak ada manusia yang sempurna maka yang bisa kita lakukan hanya being a better of ourselves. Being a better menunjukan bahwa kita mau berubah untuk jadi pribadi yang lebih baik, bisa belajar dari kesalahan sebelumnya, belajar dari apa yang sudah kita alami sebelumnya, take a lesson of everything and moving forward through life. Jika hal ini jadi pegangan hidup maka sudah selayaknya kehidupan kita akan terus menjadi baik dan lebih baik tidak hanya untuk memimpikan bagaimana untuk menjadi yang sempurna. Dari sini, maka terlihat bahwa being a better person is more reasonable to live in. Hanya saja yang harus jadi penekanan disini, being better itu patokannya ya diri kita sendiri, bukan diri orang lain. Karena jika patokannya itu orang lain, bukan kehidupan yang lebih baik yang didapat tapi justru bisa sebaliknya. 

Then, yawning. Already 12AM by the way

Haha oke deh itu aja mungkin pendapatku. Semoga kita bisa menjadi orang terus memperbaiki diri, dalam urusan apapun. Amin.

June 19, 2015

Dear Friend...

Chan, bagaimana disana? Semoga selalu dilapangkan, dilindungi, dan diterangi oleh Allah ya. Ini cuma masalah waktu aja, aku, teman-teman yang lain, siapa pun akan merasakan hal yang sama suatu saat nanti. Enggak kerasa banget udah 7 tahun, tapi aku baru sekali ke pusara kamu, tahun kemarin sama teman-teman der CG, saat mau Idul Fitri. Tapi meskipun gitu, insha Allah doa aku dan teman-teman akan selalu untukmu. Dan kamu enggak akan pernah kami lupakan sampai kapanpun.
Teruntuk: Alm. Ahmad Chandra Tri Nugraha (13 Januari 1993 - 19 Juni 2008)

....

Pertama kali kenal deket sama Chandra itu kelas 2 SMP karena kita sekelas di kelas 2A. Sebelumnya cuma tahu nama dan wajah aja karena dia anak pinter dan sering ikut lomba sana sini. Pas di kelas 2A, kebetulan Chandra duduk sama Obe yang emang udah kenal deket dari sejak SD denganku. Singkat cerita namanya juga anak SMP jadi deket juga deh sama Chandra. Ditambah lagi gara-gara Obe sering cerita masalah kecengannya, Didit (sebut nama haha), eh Chandra juga jadi ikut-ikutan ceritain gebetannya anak SMP sebelah bahkan sering juga ceritain cewek-cewek yang ngejar-ngejar dia. You absolutely have your own charm, Chan! Tapi tetep kesan pertama kenal Chandra tuh, gilaaaaaa nih anak gak ada urat malunya, ancuuur, sarap, edan. Di kelas enggak ada Chandra sepi banget jadinya. Dia tuh lucu banget sumpah. Apalagi kan dia punya muka cina gitu, nambah lagi lucunya. Tapi dibalik kegilaannya dia, dia sungguh pinter banget, wawasannya luas. Lo nanya apa aja sama dia pasti dia tau, nyambung. Asik banget jadinya diajak ngobrol. Paket komplit, diajak ngobrol serius bisa, diajak becanda apalagi. Bahasa inggrisnya juga jago. Dulu inget banget jadi termotivasi belajar english karena Chandra (gak mau kalah gitu ceritanya), padahal kalo ditanya dia belajar english cuma karena sering main game. Terus dia anak band juga, jago gitar, gimana enggak nambah multitalented nya tuh anak kan? Super. Pokoknya dulu Chandra jadi sosok i used to adore, kagum-kagum temen gimana gitu. Kok ada gitu ya sosok anak Rangkasbitung yang pinter, lucu, jago musik, baik sama semua orang, tapi tetep sederhana, percaya apa enggak dulu Chandra ke sekolah jalan kaki meskipun aku tau dia sangat bisa naik angkot atau bahkan bawa kendaraan sendiri kaya anak sok gaul lainnya. Singkat cerita meski baru kenal kita jadi cepet deket, karena sering ngobrol, sering sekelompok, sering contek-contekan bahasa inggris, the fact ternyata Chandra kenal Aa karena pernah sekamar bareng pas mereka sama-sama ikut lomba siswa berprestasi SMP dan SMA tingkat provinsi sebagai perwakilan Lebak. Dan ditambah ternyata gebetannya Chandra (si anak SMP sebelah itu) adalah sahabatnya sahabatku, Lovita. Tambah deh kita sering ngobrol, Chandra sering kepo soal gebetannya itu, dan beberapa kali aku dijadiin tumbal pergi ke SMP sebelah atau rumah gebetannya cuma untuk nemenin dia ngeceng-ngeceng alay ala anak SMP.

Sedihnya ternyata pas kelas 3 kita pisah kelas, Chandra tetap sekelas sama Obe sama Faizal juga di 3A, sementara aku di 3H. Dari situ agak enggak begitu deket sama Chandra. Cuma, karena enggak-tau-kenapa antara 3A dan 3H itu punya chemistry tersendiri jadinya beda kelas berasa enggak kepisah. Enggak canggung kalo anak H main ke kelas A atau sebaliknya (faktor karena sebenernya orang di kelas 3H dan 3A itu ya itu-itu aja dari kelas 1. Cuma diputer-puter aja, biar enggak bosen), enggak canggung juga kalau teriak-teriak manggil namaku kalo ketemu di kantin atau di jalan pulang sekolah (kerjaannya Chandra sama Obe dulu nih). Sejak kelas 3 itu, Obe, Chandra, Faizal kemana-mana bertiga, ke WC aja bertiga. Udah jadi trio. Mana punya charmnya masing-masing tuh orang bertiga. Uyuhan ya enggak bikin melting dan naksir hahahaha. Sampai akhirnya kita berjuang bareng-bareng tuh untuk bisa masuk CMBBS. Inget banget dulu Chandra yang punya inisiatif ikut tes CM. Terus dia ngajakin kita-kita, dia nantangin gitu. Semangat banget. Pas pengumuman tes akademik aja, dia sama Obe dan Faizal beli koran pagi-pagi abis kelas mereka olahraga dan loncat-loncat di depan kelasku cuma untuk ngasih tau kalau beberapa nama anak kelas 3H tercantum lulus. Hingga akhirnya aku dan 3 orang itu bisa masuk CM tapi dengan kelas yang beda.

Di SMA karena kelasnya beda, ngerasa jadi enggak deket banget. Tapi tetep aura ngocolnya dia selalu terdengar sampai kelasku, gayanya yang sok cool sempat jadi maskot angkatan di acara SDC. Hingga akhirnya sampai di suatu hari di semester 2, Chandra mulai jarang keliatan di sekolah. Katanya sakit. Tapi saat itu, aku sekadar cukup tau. Saat teman-teman sekelasnya punya rencana menjenguk saya pun sekadar cukup tau. 2 bulan lamanya enggak pernah bertemu Chandra di sekolah. Tapi suatu hari, malam hari pekan persiapan UAS kita bertemu di perpustakaan. Dia sedang pilih-pilih buku di rak yang sama denganku. Ragu banget untuk nyapa, apalagi saat itu lagi Arabic week dan masih enggak pede ngomong arab. Tapi ternyata Chandra yang nyapa duluan dan pake bahasa Indonesia hahaha “Cari buku apa, Ca?” Itu seingetku yang Chandra tanyain. Aku malah enggak jawab dan malah bilang “Chan, kamu apa kabar? Kemana aja. Sok sibuk banget sih.” sambil bisik-bisik takut kedengeran kakak tingkat kalau kita ngomong Indonesia. Chandra cuma senyum. Pucet banget sumpah pas itu. Bodohnya aku malah nyapa begitu, enggak nanya gimana kondisinya dia, sakit apa, udah sembuh apa belum, atau minta maaf karena enggak jenguk dia pas sakit kemarin-kemarin. Terus malah nanya balik dia cari buku apa. Chandra pun nunjukin bukunya, judulnya Rahasia Alam Kubur. Enggak ada firasat apapun saat itu, karena aku tahu dia anaknya emang suka penasaran akan sesuatu gitu. Saat itu aku malah becandain dia, “Ih Chan apaan sih bacanya begituan. Orang lain baca buku pelajaran buat ulangan ini malah baca gituan.” Chandra enggak bicara apa-apa lagi dan langsung pergi gitu aja.

Beberapa hari dari itu enggak ketemu Chandra lagi, apalagi saat itu katanya Chandra emang makin sering pulang pergi ke rumahnya karena alasan sakit. Sampai akhirnya suatu hari di hari Jumat (kita pakai baju pramuka soalnya), sebelum aku masuk kelas untuk ulangan sosiologi, aku lihat Chandra lari-lari dari asrama putra sambil baca buku sosiologi menuju Hall A. Percaya apa enggak itu terakhir kalinya aku ngeliat Chandra hingga saat UAS berakhir kami semua dapat kabar bahwa Chandra meninggal, pergi selama-lamanya dari sekeliling kita. Barulah tersadar kalau mungkin saat dia nunjukin buku tentang alam kubur beberapa hari sebelumnya itu sebenernya tanda-tanda menjelang kepergiannya? Wallahualam.
Dibalik misteri sakitnya Chandra, dibalik banyak cerita pilu dari Obe, Faizal, Rizal dan teman-teman yang saat itu satu kamar tentang kondisi Chandra di hari-hari terakhirnya di asrama, dibalik segala penyesalan perlakuan kami pada Chandra sebagai teman di saat-saat terakhir kebersamaan. Takdirnya memang sudah seperti ini, Chandra harus pergi. Meski Chandra enggak akan mungkin bisa baca tulisanku ini tapi satu hal yang pasti ada pelajaran dari cerita kepergian Chandra, jangan pernah menyepelekan kesempatan bertemu, menyapa, atau menolong selagi kita bisa pada siapapun itu karena kita enggak pernah tau umur kita maupun umur mereka bertahan sampai kapan.

Chan...baik-baik ya disana! Terimakasih sudah mewarnai masa SMP dan SMA-ku dengan segala tawa dan pelajaran akan persahabatan.

June 14, 2015

75 months

Hari ini resmi mengganti my blogspot header title from Senandung Bisu to Hello Caca!. Saya lakukan juga penambahan page About serta (terpaksa) meremove link tumblr karena alasan tertentu. Hahaha sebenarnya enggak ada maksud apa-apa sih hanya ingin sesuatu yang fresh saja supaya visual blog saya ini enggak monoton. Akhirnya karena mengganti beberapa elemen layout di blog ini, mau tidak mau mereset previous customize-nya. Terus iseng-iseng baca draft yang (akhirnya) tidak jadi dipost karena dirasa tidak layak dibaca khalayak ramai. Saya pun memutuskan untuk menghapusnya saja daripada memenuhi draft tanpa ada yang membacanya. Lalu mengintip archives box dari Maret 2009. Semuanya 518 post. Banyak juga ya hihihi hobi banget sih ca ngegalau di blog? Tersadarlah berarti sudah hampir 7 tahun punya blog dan alhamdulillah enggak pernah berhenti nulis dan enggak pernah ada yang dihapus apapun bentuk postingannya (kecuali yang akhirnya direverse jadi draft lagi dan kali ini ujung-ujungnya dihapus juga). Sejak 2009 itu, bisa terlihat sekali bagaimana perjalanan hidup saya dari sejak SMA, kuliah, hingga sekarang. Dari mulai galau akademik, galau cinta, hingga sekarang galau karir dan rumah tangga.

Spesial di edisi 75 bulan ini (berasa pacaran), saya ingin bercerita tentang blog ini ya hehe ini karena lagi gabut nih malam-malam. Challenge udah dipost, tapi ternyata belum mengantuk. Oke jadi begini, awal saya membuat blog ini itu sekitar Maret 2009. Saat saya kelas XI SMA. Kenapa bikin blog? Pada dasarnya saya memang suka menulis (ya i mean ngetik yang menghasilkan suatu bacaan gitu), terus dulu sering merasa kesepian di asrama sementara enggak punya waktu untuk nulis-nulis diary. Alhasil karena termotivasi oleh teman-teman di Bandung dimana mereka punya blog pribadi akhirnya punya inisiatif bikin juga deh. Bodo amat saat itu enggak ada temen sekolah yang sama-sama punya blog juga. Yang penting punya media untuk curhat kehidupan super menyesakkan di sekolah asrama. 

Seiring berjalannya waktu, lama-lama akhirnya teman-teman sekolah tau kalau saya punya blog, dan entah ilham darimana beberapa teman-teman saya itupun akhirnya ikut-ikutan bikin blog. Alhasil blog jadi sesuatu yang tren di sekolah hahaha hampir semuanya bikin akun blogspot, rajin blogwalking, saling follow, hingga sempat-sempatnya meninggalkan komen gak jelas di post seseorang. Lucunya dulu ada apps di blog yang namanya Cbox. Jadi itu tuh apps chat yang bisa dipakai kalau kita malas leave comment sehabis blogwalking. Lucunya lagi kadang kita suka sok-sokan anonim untuk ngasih apresiasi atau kritik yang jadinya bikin user blog penasaran sendiri. Sadly, ketenaran blogspot enggak lama. Sejak kelas XII, dimana kesibukan bertambah, sibuk persiapan UN dan tes PTN pun akhirnya membuat hanya beberapa orang dari teman saja yang masih aktif blogging. Blog lama-kelamaan jadi enggak seru. Ditambah lagi dengan adanya twitter dan facebook dan keseruan didalamnya, membuat blogspot makin enggak dilirik dan ditinggalkan. Saat itu, saya pun merasa agak bosan dengan blogspot dan cukup teralihkan pada facebook, twitter, juga tumblr. Namun saat itu, saya tetap mempertahankan untuk aktif blogging karena memang suka dan tau kalau ada teman-teman yang ternyata masih menjadi jadi silent reader blog saya (smirk).

Memasuki era kuliah, facebook and twitter still in the top of highlighted social media. Tapi bagi saya yang sangat suka curhat, kenyataannya blogspot memang tidak tergantikan. Curhat di tumblr atau fb atau twitter sangat mudah diakses dengan makin bertambahnya follower yang enggak bisa kita cegah. Sementara itu, blogspot (dengan kejadulannya) tetap memiliki daya tarik tersendiri sebagai tempat sebuah cerita yang out of nowhere, out of mainstream. Akhirnya sepanjang kuliah saya tetap menjaga blogspot ini sebagai tempat ternyaman untuk menumpahkan segala rasa, pengalaman hidup, dan ide-ide. 

Dari tahun ke tahun banyak perubahan yang saya lakukan di blog ini, namun satu hal yang tidak pernah berubah sejak 2009 itu adalah alamat url-nya. Tetap sepotongcokelat.blogspot.com, if you search my very first post there was a reason why i used to named it that way. Dibalik beberapa perubahan dari layout, konten, post, alamat url saya pertahankan agar blog ini tetap eksis sejak 2009 hingga tak terhingga, hingga saatnya (mungkin) saya memutuskan untuk deactivation (i wish i would not). Semoga blog ini tetap bisa aktif hingga bisa menjadi suatu dokumentasi perjalanan hidup saya yang mungkin suatu hari nanti bisa bermanfaat untuk siapapun yang membacanya. Kita enggak ada yang pernah tau era digital ini bisa bertahan berapa lama lagi. Namun yang pasti bagaimanapun kondisi era ke depan, semoga dengan adanya bentuk dokumentasi digital seperti ini semua pengalaman hidup seseorang dapat tersimpan dengan rapi dan menjadi hal berharga untuk dikenang. 

Untuk semua orang dan cerita yang sudah, sedang, bahkan akan saya tulis di blog ini, terimakasih atas semuanya ya. Yakin suatu saat nanti cerita kita akan indah untuk dibaca kembali. 

Selamat 75 bulan, sepotongcokelat.blogspot.com-ku!

#DAY7 Five Pet Peeves

Ini ya awalnya gak ngerti maksudnya pet peeves tuh apa. Pet artinya hewan peliharaan, terus peeves tuh menjengkelkan. Kalau disatuin berarti hewan peliharaan yang menjengkelkan. Tapi kok asa teu kudu gitu bikin challenge begitu. Eh pas searching enggak taunya pet peeves tuh idiom yang artinya something annoys you meskipun mungkin bagi orang lain hal itu biasa aja. Intinya annoying sih.
  1. Pelayan kafe, toko, pelayanan administrasi sekolah, kampus, kantor yang jutek. Ini ya sumpah nyebelin banget, misalnya mereka melayani enggak pake senyum, semaunya gitu, terus gak bilang makasih. Maunya apa kan orang begitu? Padahal harusnya tau konsekuensi dong kerjaannya sebagai pelayan publik ya berarti harus bisa melayani dengan baik. Pembeli juga gak akan semena-mena kalo memang pelayanan kafe atau tokonya baik. Kita pun yang butuh jasa mereka akan sopan kalo merekanya pun ramah. Meski mungkin kondis Kenyataanya urusan kerjaan gak bisa dihubungkan dengan mood, pms, atau masalah pribadi lain.
  2. Pelayan toko yang suka ngebuntutin calon pembeli. Awalnya mereka nanya, “Mau cari apa mbak?” Kita jawab, “Mau liat-liat aja dulu mbak.” Abis itu mereka langsung ngikutin kemanapun kaki kita melangkah di toko itu. Oke mungkin ini salah satu tugas mereka untuk siap siaga kalau pembeli sewaktu-waktu butuh bantuan. Tapi menurutku enggak harus seintense itu juga. Jadinya malah gak bebas dan risih. Mending sih kalau mereka ngebuntutinnya sopan dan ramah banget. Nah ini ada lho yang ngebuntutin jutek pula. Bikin gak betah lama-lama di toko kan jadinya atau bahkan gak jadi beli barang apapun.
  3. Smoker! Terus ngerokoknya di angkot. Ah sukses bikin bete. Ya intinya sih smoker siapapun itu dan dimanapun selalu bikin kesel. Merokok tuh bagi saya gak ada bagus-bagusnya, sedikitpun. Buat apa bisa nenangin pikiran tapi justru ngabisin duit, ngerusak kesehatan, dan bikin gak nyaman sekitar? Ya ini emang udah kecanduan, tapi udah tau merokok itu bikin nagih kenapa dicoba? Gak habis pikir sama cowok atau cewek yang perokok. Ko mereka nyaman gitu dengan asap rokok yang justru bagi saya sering bikin kepala pusing.
  4. Pemuda nongkrong pinggir jalan yang suka goda-godain perempuan lewat. Ini ya hari gini pemuda masih nongkrong-nongkrong pinggir jalan? Ya Tuhan mau jadi apa Indonesia ke depannya? Miris banget liatnya. Apalagi sambil ngegoda-godain pejalan kaki. Nyebelin gak sih? Kalo udah kaya gitu kan malah bikin mereka dianggap rendahan aja. Kenyataan mungkin mereka enggak ada tempat untuk berkreasi, gak ada orang yang mengingatkan, atau bahkan simply karena mereka gak punya self-motivating untuk maju karena rendahnya kualitas pendidikan yang mereka terima. Kalau udah bicara kaya gitu, makin kompleks. Gak ada yang mau tanggung jawab dan populasi anak-anak nongkrong gadag pun akhinya makin lama makin bertambah.
  5. Buang sampah sembarangan. Duh ini juga gak kalah nyebelin. Apa susahnya sih ya sampahnya di simpan dulu gitu di tas atau dipegang dulu sampai nemu tempat sampah. Jangan seenaknya dibuang. Oke mungkin kita gak akan kena dampaknya langsung dari sekadar buang 1 atau 2 sampah tapi it will grow up as your habit gitu yang bakal bikin hancur lingkungan ke depannya kalo enggak dibiasakan untuk disiplin. Kalo lingkungan kita udah banjir, atau wabah penyakit dimana-mana baru deh pada protes, padahal kan kita sendiri yang seenaknya sama lingkungan. Ngeselin ya?
Yaa sebenernya masih banyak sih pet peeves lainnya, yang sebenernya sepele tapi sering bikin mood rusak juga. Tapi intinya disini, kalo kita ngerasa annoyed by them jangan pernah ngelakuin hal itu ke orang lain (meskipun mungkin bagi orang itu enggak annoying sama sekali pun) atau jangan pernah ngelakuin hal itu aja. Kalau enggak dimulai dari diri kita sendiri gimana mau mulai untuk orang lain?

June 10, 2015

#DAY6 Your Views on Mainstream Music

--Oke just forget my mellow feeling tonight ya (regarding to my so-fishy-silly in previous post). Better we do Day 6 Challenge. Ini sumpah sebenernya lagi gak mood nulis karena lagi super random dari kemaren, faktor me-on-period juga sih kayanya. Tapi semoga gak ngebosenin ya postingannya. Sengaja dibikin pendek biar tetep in line dan enggak ngecapruk.

Mainstream music? Sebenarnya menurut saya gak pernah ada karya seni yang mainstream. Semuanya selalu memiliki keindahan dan kenikmatan tersendiri bagi yang memang menyukainya. Mungkin saat saya bilang bahwa musik band A mainstream namun bagi beberapa orang lain mungkin hal itu tidak mainsteam sama sekali. Bagi saya musik atau lagu itu gak bisa dinilai dengan mainstream tidaknya. Ini cuma masalah selera aja. Kalaupun memang ada musik atau lagu yang mainstream dari segi musikalisasinya, dari lirik atau melodinya maka yang harus dikembangkan disini adalah pengetahuan musik dari si pencipta musik/lagu itu. Contohnya sama aja kaya gini, kita pengen bisa nulis dengan baik, tapi kalo kita enggak membiasakan banyak membaca buku kita gak akan pernah tau bagaimana cara untuk bisa menulis dengan baik. Setelah kita bisa nulis suatu genre, supaya enggak monoton akhirnya mau tidak mau kita harus membaca juga buku dengan genre lainnya. Jadi sebenarnya gak ada yang namanya mainstream music kan? Yang ada itu adalah pencipta musik yang kurang kreativitas aja karena kurangnya pengalaman atau pengetahuan.

Ya intinya disini saya gak akan menyebutkan musik atau lagu yang menurut saya mainstream karena ya balik lagi ke selera dan kualitas pencipta musik itu sendiri. Dalam hal ini gak etis juga kalau sampai menyebutkan suatu nama karena disini posisi saya bukan pekerja di industri musik atau pengamat musik atau lulusan seni yang seenggaknya mengetahui atau punya basic dalam bermusik itu seperti apa. Toh selama ini saya hanya penikmatnya saja, belum bisa menciptakan musik atau lagu apapun. Sekian dan terimakasih. Haha.