Rosmalinda Nurhubaini's. Literally a nous of my random thought.
Posts // About
// Twitter // Tumblr

June 22, 2014

"Gara-gara ambil PPL di 3 sih jadinya skripsi terbengkalai kan!"
Mama, 17 Juni 2014

gak mah, aku sama sekali gak menyalahkan tempat PPL-ku sebagai penghambat skripsi. semua memang pilihanku. meskipun memang saat PPL di 3 itu adalah salah satu masa-masa berat dalam menyelesaikan S1. aku bersyukur, aku bisa diterima PPL di 3. salah satu prestasi menurutku. aku gak menyesal sama sekali ambil kesempatan PPL di 3 mah! 

sekolah menengah atas terbaik se-Jabar itu memberikan saya banyak kesempatan untuk mencicipi menjadi guru dan belajar bersama dengan siswa-siswa hebatnya. mengajarkan saya banyak sekali pengalaman berkesan untuk bisa bersikap sebagai guru di depan siswa yang jauh lebih hebat dari hal finansial dan kepintaran bila dibandingkan saat saya seumuran mereka. serta membuka mata saya bahwa di dunia ini kita jangan hanya percaya terhadap sesuatu dengan hanya mendengar dari orang lain, pelajari oleh kita sendiri baru berkomentar. 

dan percaya atau tidak ternyata PPL di 3 ini adalah salah satu mimpi yang saya tulis saat saya masih duduk di semester 1. saya menuliskannya di buku agenda saya saat masih aktif berkuliah. tapi karena lembaran kosong buku agenda tersebut habis akhirnya buku agenda itu saya simpan dan tidak pernah dibuka lagi. lalu beberapa minggu yang lalu saat saya merapihkan kamar dan menemukan buku itu saya membaca beberapa list mimpi yang harus saya capai sebelum S1 saya selesai. salah satunya adalah PPL di SMAN 3 Bandung. dengan spesifiknya saya menulis begitu. alhamdulillah tercapai. 

meskipun pernah terlintas ngapain sih PPL di tempat bagus hah? ingin keliatan orang kalau lo orang pinter sampai bisa diterima PPL disana? ingin gaya PPL di 3? padahal coba aja kalau PPL-nya gak di 3, skripsi mungkin bisa selesai. ya itukan pilihan? mungkin kalau PPL di tempat yang selow skripsi saya selesai tapi mungkin saya tidak mendapatkan pengalaman PPL di sekolah nomor 1 secara gratis, bahkan saya dibayar untuk beberapa kesempatan. haruskah saya kecewa dengan keputusan yang saya ambil? haruskah saya menyalahkan semua yang sudah terjadi? haruskah saya kecewa bahwa dibalik gagalnya skripsi saya di semester 8 ini ternyata ini merupakan konsekuensi untuk mencapai salah satu mimpi S1 saya. ini sudah pilihan saya. setiap pilihan apapun yang diambil tentu selalu ada baik buruknya kan? 

feel so guilty :(

sore ini gak sengaja nemu tumblrnya Riri, pacarnya Obe (temen SD, SMP, dan SMA saya) plus pernah juga satu semester jadi temen satu SMA saya. di tumblrnya Riri, dia bilang bukannya mau egois ngejar sidang cepet (Agustus, dan ngeduluin temen-temennya) tapi dia punya tanggung jawab buat orangtuanya. dia gak mau bikin orangtuanya kecewa. gak mau bikin orangtuanya sedih setelah perjuangan mereka selama ini untuk Riri. speechless.

Riri dan Obe berhasil sidang bulan ini. hebat! saya akuin hebat. bagi kita yang anak UPI dimana skripsi harus berbarengan dengan PLP itu bukan hal yang gampang. tapi Riri berhasil melewati itu dengan lancar. alhamdulillah ikut sedang ada teman-teman saya yang sudah sukses S1 dan berhasil memanas-manasi saya untuk cepat menyelesaikan skripsi saya. ternyata terasa gamang dan galaunya mahasiswa tingkat akhir bukan hanya dalam menyelesaikan skripsinya saja, tapi justru karena semua ini tanggung jawab untuk orangtua lah yang membuat semuanya terasa berat jika dibuat santai.

jujur, akhirnya saya menyerah untuk menyelesaikan skripsi saya di semester 8. itu artinya bapak masih harus bayar uang SPP satu semester lagi. sedih banget saat bilang harus bayar semesteran lagi. mama yang biasanya gak pernah ikut campur masalah perkuliahan akhirnya tanya begini, "Kenapa harus bayar lagi? skripsinya belum selesai?" lalu saya ceritakan semuanya. memberikan excuses yang seharusnya dan sebenarnya bisa saya hilangkan kalau saja saya punya semangat untuk menyelesaikan S1 ini mau-gak-mau dalam 8 semester. seperti yang Riri tekadkan bahwa orangtua tidak boleh dan tidak berhak merasakan kekecewaan lagi dan lagi.

tapi apa boleh buat, nasi sudah jadi bubur. skripsi saya tidak mungkin selesai di semester 8. bulan Juli ini draft bab 1, 2, dan 3 baru fiksasi. belum lagi penelitiannya, belum lagi finishing dan mengurus kelengkapan kelulusan lainnya selain skripsi. mental breakdown! jujur siapa sih anak yang mau membuat orangtuanya bersedih? siapa anak yang mau membuat orangtuanya kecewa? tidak ada. begitu pun dengan saya. saya tidak berniat sama sekali untuk melakukan itu tapi kalau takdirnya sudah seperti ini mau diapakan lagi? tidak ada niatan sama sekali untuk menunda sidang, niatan saya dari awal pertama kali masuk UPI ya kuliah 4 tahun dengan IPK diatas 3,5 itu. IPK bisa saya jamin bisa di atas 3,5 tapi kalau kuliah tepat 4 tahun sudah saya langgar.

PPL yang alami tidaklah mudah. sekolah yang saya pilih adalah sekolah nomor satu di Jawa Barat. lulusannya tembus 70% ITB dan sisanya universitas ternama. meskipun kami hanya pre-service teacher mereka tetap mengharapkan profesionalisme itu. dan hal itu bukan hal yang mudah untuk kami para guru amatir. jadwal bimbingan yang selalu bentrok dengan jadwal mengajar dan akhirnya mau tidak mau bimbingan yang harus di relakan daripada PPL diabaikan dan citra universitas yang dijelekkan. rasa lelah ketika sampai di kosan, dan banyaknya persiapan mengajar yang harus dilakukan berhasil mengalahkan skripsi. skripsi saya terbengkalai selama 3 bulan. belum lagi karena sekolah 'terfavorit' itu melarang praktikan PPL untuk melakukan penelitian di sekolah itu semakin membuat motivasi dan semangat untuk skripsi semakin turun. oke memang seharusnya saya tidak mudah menyerah. tapi memang saat itu kondisi saya sedang dalam krisis kepercayaan diri, tekanan dimana-mana. banyak yang harus saya pikirkan, banyak yang harus saya lakukan. sehingga akhirnya keputusan seperti inilah yang saya ambil. saya fokus untuk PPL, dan skripsi saya tangguhkan di semester 9.

kalau ada yang berbicara, yang lain bisa tuh PPL plus skripsi berbarengan. ya sama seperti Riri lakukan. iya saya katakan saya pun sebenarnya bisa melakukan itu. meskipun tidak ada izin dari 3 untuk penelitian disana saya bisa kan melakukannya di sekolah lain? tapi bukan itu saja masalahnya. banyak. terlalu panjang jika harus diceritakan disini. toh semuanya sudah terjadi. ini pilihan saya. saya yang menentukan untuk akhirnya mengontrak ulang skripsi di semester 9. saya sudah sadar dengan konsekuensinya. konsekuensi nanti saat sidang atau wisuda tidak berbarengan dengan teman-teman karena mereka sudah mendahului, konsekuensi hati yang panas melihat teman-teman sudah mulai memposting kelulusannya, konsekuensi saat teman-teman sudah bernafas lega di semester 9 sementara saya masih harus berjuang, konsekuensi dicerca dosbing karena 3 bulan menghilang, dan konsekuensi terbesar adalah membuat mamah, bapak, aa, dan Opi kecewa saat tau kuliah saya lebih lama dari normalnya.

sampai kapanpun mama dan bapak mungkin tidak akan menyadari betapi sakitnya konsekuensi yang saya rasakan itu. biarkan saja saya yang alami sendiri, jangan sampai mama dan bapak tau karena pecundang seperti saya ini tidak pantas menerima rasa bela dan kasihan dari orang-orang hebat berhati mulia seperti mama dan bapak. intinya selama ini saya berusaha untuk bisa menggenapkan kuliah saya selama 4 tahun, saya jalani seminar proposal tepat pada waktunya, mata kuliah tidak ada yang mengulang, nilai tidak ada yang D, saya kerahkan semua tenaga dan pikiran saya untuk itu semua. namun ternyata di tingkat akhir ini saya diuji. mungkin ini karena salah satu kesalahan saya dimasa lalu wallahualam. hanya Allah Yang Tahu.

nasi sudah menjadi bubur, tapi kalau kita menambahkan kecap, sambal, kacang, dll akan terasa lebih enak bukan? sejujurnya tidak ada di dunia ini yang buruk. semuanya akan menjadi indah jika kita memperbaikinya dan mengambil hikmah dari itu semua lalu bersyukur. semuanya harus diperbaiki. semuanya harus dikejar kembali. semuanya akan baik-baik saja. don't blame yourself too much instead of get up and keep fighting! masih ada waktu untuk bisa lulus di 2014 ini, Ca!!!

SEMANGAT!!!
nothing worth having comes easy 

June 19, 2014

proved #2

hari Kamis sampai Jumat (12-13 Juni 2014) kemarin akhirnya bisa naik Gunung Jayagiri lagi -oh jangan sebut gunung sih lebih tepatnya Bukit Jayagiri, bukit sekitar Gunung Tangkuban Perahu yang cocok untuk para pendaki pemula. sebenernya tema acaranya perpisahan PPL, tapi sedihnya cuma 70% yang ikut. padahal kalau ikut semua pasti akan seru sekali. seperti biasa, main dengan teman-teman PPL selalu ditunggu-tunggu. super excited apalagi ini perpisahan anti-mainstream yaitu Hiking-Camping to Jayagiri. meskipun saya sudah pernah 3 kali bolak-balik Jayagiri (gara-gara kuliah ekologi umum) tapi karena momennya beda jadi ya tetep aja excited.

just as my expectation, hiking-camping dengan teman PPL bener-bener seru bahkan out of expectation in the best way. meskipun malamnya hujan, tenda bocor, tapi semuanya tergantikan dengan kebersamaan saya dan teman-teman PPL bersama alam Jayagiri. sampai ke rumah gak berhenti-henti ngeslide-show foto-foto di Jayagiri. baguus semua both the model and the background of nature hahaha. gini ya ternyata alam bikin manusia ketagihan untuk terus bermain bersamanya. dulu inget banget paling males diajak kaya beginian. males bercapek-capek, keringetan, kotor-kotoran, bersusah-susah ke air dan tidur. tapi semenjak kuliah di biologi dan ikut banyak sekali perjalanan ternyata bermain dengan alam jauh lebih asyik dibanding check in path sedang di hotel atau di restoran mahal. jadi tau kenapa banyak orang bilang, naik gunung itu bikin ketagihan and it proved!

tapi masih aja kalau diajak ke pantai masih berpikir 2 kali, hahaha kalau main ke pantai belum nemu sensasinya layaknya main ke gunung. emang sih baru Gunung Jayagiri aja yang pernah dinaikin tapi bener deh kalau suatu hari ini nanti ada yang ajak saya naik gunung lagi atau camping dimanapun, bakal usahain ikut. selagi bumi Indonesia masih bagus, selagi masih ada tenaga dan waktu, selagi masih ada keinginan.



June 17, 2014

sesimpel ini loh, malem ini pertama kalinya curhat di medsos gara-gara perjalanan menuju S.Pd 2014 yang bikin stres dan sungguh gak gampang! malu sebenernya curhat begitu apalagi akun line sudah berteman banyak dengan murid dan teman-teman non college. tapi justru itu tujuannya, ingin aja disemangatin sama murid-murid, teman-teman juga. butuh pengakuan bahwa i'm not alone through this way. masih banyak yang menunggu kesuksesan kita. masih ada yang perhatian dengan kita.

murah banget emang butuh semangat dari eksternal yang jauh lebih kecil valuenya dibanding dengan semangat internal. tapi kalau memang yang saat ini kita butuhkan adalah motivasi dari eksternal bolehkan begitu?

boleh kan?

salah siapa?

bukan salah siapa-siapa saat stres datang cuma karena denger temen mau sidang sedangkan kita belum ngapa-ngapaian untuk skripsi.
bukan salah siapa-siapa saat jenuh datang karena temen udah bisa bersenang-senang euforia kelulusan sedangkan kita masih ngejar-ngejar dosen
bukan salah siapa-siapa saat rasa bersalah datang karena orangtua masih harus bayarin semesteran
bukan salah siapa-siapa saat seharusnya udah bisa nemenin mama di rumah ini malah masih ngurusin S1
bukan salah siapa-siapa saat nanti pas sidang atau wisuda sedikit temen yang datang karena mereka udah pada lulus duluan

bukan salah siapa-siapa
tapi salah dirimu sendiri

June 14, 2014

proved

haloo blogspot apa kabar? sudah lama tidak berbagi cerita ya karena sebulan kebelakang sibuk menyelesaikan administrasi kerja praktik. dengan resmi PPL selesai. Allohuakbar! yang tadinya bikin stres, bikin jarang main, bikin cape, bikin makan hati sampe ngeluh dimana-mana dan ingin segera diakhirnya akhirnya selesai juga dengan hasil yang memuaskan. sedih sih sedih banget. terlanjur dekat dengan murid-murid dan nyaman dengan teman-teman PPL tapi yasudahlah hidup memang seperti ini bukan? ada awal dan akhir selalu begitu.

dulu masih inget sekali mama sering cerita kalau habis ngajar, cerita muridnya yang lucu, nakal, dll. aku denger semaunya aja. maksud mama apaan sih cerita gituan gak menarik banget, itu yang dulu aku bilang ke mama. terus mama bilang, ngajar itu seru lho bahagia setiap hari bikin awet muda. meskipun banyak stresnya tapi serunya justru lebih banyak. dan it proved! saya alami sendiri pas PPL. ternyata ngajar itu seru sekali. bikin ketagihan. berbagi ke murid, ngobrol sana-sini sama murid, dan yang paling membahagiakan itu kita bisa jadi bagian dari langkah kehidupan mereka. gak memungkiri kalau dipikir-pikir mulia sekali tugas guru itu, cape untuk ngurusin anak orang lain, dibuat pusing untuk anak orang lain. tapi ya justru disitu ladang pahalanya.

dulu juga masih inget malu banget masuk UPI ya dibanding temen-temen yang lain pada masuk UI, ITB, UGM, STAN kan. terus mikir apa sih kerennya jadi guru, guru cuma dateng ke sekolah, ngajar, pake pakaian ibu-ibu, semuanya juga bisa. bapak, mama, kakek, tante, om juga banyak yang guru, gak bosen apa sama segala sesuatunya tentang guru. sedangkan yang lain bakal bisa kerja di perusahaan gitu, di lab jadi scientist, atau jadi reporter, atau konsultan keuangan, atau di rumah sakit dll yang literally the-jobs-that-everyone-could-envy-of. dan itu gak terjadi sama profesi guru. seperti yang dulu saya pikirkan tentang profesi guru. iya emang gak ada yang bisa dibuat envy dari profesi guru. kerjanya aja sama anak-anak, bukan sama orang-orang hebat semacem di perusahaan, gajinya biasa aja, sebagus-bagusnya sekolahan gak akan lebih bagus dari perusahaan internasional juga kan.

tapi jujur semua pikiran itu langsung hilang saat PPL, saat benar-benar terjun ke lapangan. ke sekolah dan bertemu dengan murid-murid. semuanya terasa bahagia, menyenangkan untuk dinikmati dan disyukuri. gak usah mandang pekerjaan orang lain kaya gimana dan dibanding-bandingkan dengan pekerjaan guru, biarkan juga orang mau ngeremehin pekerjaan guru kaya gimana karena mereka belum merasakan gimana bahagianya berbagi ilmu dengan orang lain, bahagianya disambut oleh murid-murid, bahagianya ditunggu untuk belajar bersama, bahkan simply dapet chat line isinya kata-kata semangat dari murid-murid. semuanya indah. biarkan aja sama orang-orang lebih bangga dengan pekerjaannya sekarang, biarkan juga saya bangga dengan profesi saya ini. jadi ingat perkataan seorang teman:

"saya tidak mencari yang istimewa. saya tidak mencari yang, secara teori, terbaik. saya lebih suka mencari yang biasa-biasa saja, lalu saya temukan sendiri istimewanya. biar keistimewaan itu cuma untuk saya saja, cuma saya yang tahu. biar cuma saya yang menghargai."

pengalaman PPL kemarin tidak akan pernah saya lupa. pengalaman yang berhasil membuat saya mencintai profesi saya nantinya, membuat saya sangat bersyukur bisa menjadi salah satu bagian dari pendidik, membuat saya menyadari bahwa tidak ada yang pantas disesali untuk menjadi seorang guru. terimakasih semuanya! alhamdulillahirabbilalamin.

being teacher is not even a fault!