Rosmalinda Nurhubaini's. Literally a nous of my random thought.
Posts // About
// Twitter // Tumblr

January 28, 2016

Sabtu Bersama Vivi

Hari Sabtu kemarin berhasil jalan-jalan sama si anak super sibuk Siti Vivi Octaviany. Kita berdua udah 5 tahun di Bandung tapi baru 3 kali bertemu (di luar pertemuan di Rangkasbitung tentunya). Pertama saat Vivi wisuda di Sabuga, kedua saat saya stress skripsi lalu kabur main dengan Vivi sambil nonton bioskop hingga tengah malam lalu  menginap di kosan Vivi, dan yang kemarin akhirnya kita bisa main lagi. 

Sebenarnya rencana main ini sudah dari bulan November direncanakan, apalagi saat itu Vivi habis ulangtahun dan saya belum kasih kado. Tapi waktunya enggak pas terus. Akhirnya pending dan baru bisa minggu lalu. Excited sekali sih. Akhirnya bisa bertemu dan main sama Vivi lagi. Tanpa tujuan main yang jelas (niatnya sih ya ketemu, ngobrol sambil makan aja cukup). Tapi saya punya ide untuk main ke Taman Balai Kota lalu makan di Cingu (udah ngidam sejak lama). Vivi mengiyakan. Akhirnya karena tujuan awalnya Taman Balai Kota, kita janjian di Jogya Express Jalan Merdeka, jam 10 pagi. Dan seperti biasa kalau janjian di suatu tempat selalu saya yang datang lebih awal. Untungnya, Vivi datang gak lama setelah saya sampai di Jogya Express. Seneng luar biasa bisa melihat Vivi lagi, dia datang sambil senyum hingga mata sipitnya gak kelihatan dan memohon maaf dengan lebaynya. “Tenang aja,Vi. Udah nyiapin mental ko kalau-kalau harus nunggu Vivi.” Vivi ketawa lagi. Matanya lagi-lagi hilang. 

Lalu kami pun berjalan kaki ke Taman Balai Kota. Sebenarnya ide ke Taman Balai Kota ini hanya terlintas aja sih karena merasa enggak ada spesial, hanya ingin tahu aja dan kebetulan kita pun belum pernah kesana. Sesampainya di Taman Balai Kota sedikit amazed sih karena gak nyangka tamannya cukup oke untuk menghabiskan waktu weekend, terbuka untuk umum, dan free. Pak Ridwan Kamil emang the best! Pantas saja Happiness Index warga Bandung meningkat drastis. Kita disuguhi hiburan dan kenyamanan cuma-cuma. Di taman itu kita jalan-jalan lalu duduk di bangku taman sambil mengobrol. Masih seputar kerjaan saya, aktivitas Vivi dengan thesis-nya, hingga ke masalah make up karena tiba-tiba ada SPG dari Oriflame yang menawarkan barangnya. Terus saya bilang, “Sebenernya udah lama pengen ke taman ini, Vi. Tapi males kan kalo sendirian sementara ngajak temen kayanya gak akan ada yang mau main ke taman ginian doang. Ya mumpung ada Vivi akhirnya ngajak kesini.” Kata saya. Vivi pun setuju dengan alasan yang sama. Karena udah lama sahabatan (dari SMP) berasa gak malu meski beralay-alay main ke Taman Balkot haha yang penting  saya dan Vivi nyaman. Ah Vi, thats why i always looking forward to "beralay alay" with you haha. Gak lama sih di taman itu karena bosan juga, lalu Vivi mengusulkan kegiatan kita hari itu pergi ke taman-taman yang ada di Bandung. Saya setuju dengan cepat.  Tujuan selanjutnya Vivi ngajak ke Taman Cikapundung (taman terbaru yang grand openingnya baru sebulan yang lalu), saya langsung ok. Tapi sebelumnya kita ingin makan dulu ke Chingu (Korean food cafe) sebelum berpetualang ke taman-taman. 

Sampai di Jalan Eykman (tempat Chingu Cafe) ternyata kita gak nemu tempatnya. Terus Vivi nyeletuk, “Bukannya Chingu itu di deket Baltos ya, Ca?” Saya bingung. Setahu saya Chingu Cafe di Jalan Eykman. Tapi emang kenyataannya ternyata udah puter-puter Jalan Eykman gak nemu Chingu. Sampai kita harus searching di internet. Di internet masih ditulis kalau Chingu Cafe itu di Jalan Eykman. “Gimana dong, Vi?” Tanya saya pada Vivi. Terus Vivi dengan polosnya bilang, “Chingu tuh di Jalan Sawunggaling, Ca. Deket Baltos. Vivi udah kesana ko pas Desember kemarin.” Saya langsung ngakak. “VIVI KENAPA GAK BILAAAAAAANG.” Dengan polosnya, Vivi jawab, “Ya dikirain Chingu tuh ada di 2 tempat yaudah Vivi diem aja.” Ckck culun banget sih kita berdua tapi yasudahlah dibawa ketawa aja HAHAHA. Akhirnya kita naik angkot lagi menuju Jalan Sawunggaling. Di angkot kita gak berhenti ketawa-tawa. Ternyata awalnya, Chingu Cafe itu memang di Jalan Eykman terus pindah ke Jalan Sawunggaling. Niat awal langsung ke Chingu dipending dulu karena angkot yang naikin lewat Taman Cikapundung duluan. Meski ragu, tapi kita turun juga di Taman Cikapundung. Eh ternyataaaa, keraguan terbukti. Penonton kecewa. Tamannya belum terbuka untuk umum. Kalaupun mau masuk harus bayar 10ribu rupiah per orang. Hmm not that worth sih sebenarnya apalagi sebenernya kita udah bisa lihat dalam tamannya seperti apa dari luar (posisi taman lebih bawah daripada jalan raya) dan kenyataan kita sudah terlalu lapar. Akhirnya memutuskan untuk enggak masuk Taman Cikapundung (cukup lah bisa diliatin taman dari atas beberapa menit yang biasanya cuma bisa lihat sambil lewat pake motor atau angkot doang) dan langsung menuju Chingu. 

Sesampainya di Chingu ternyata waiting list. Luar biasaaaa. Banyak juga yang makan di kafe Korean Food itu. Tapi cuma nunggu sekitar 15 menit sih akhirnya kita bisa dapat tempat duduk. Lucu deh. Tempat duduknya semacam kita sedang di kereta Korea (Korail) terus semua interiornya Korea banget. Rute korail, halte bis, petunjuk jalan-jalan di Korea, poster-poster artis Korea, pohon harapan dan masih banyak lagi. Saya pesan ramyeon (mie khas Korea) dan Vivi pesan sejenis mie putih khas Korea pake tambahan dumpling (lupa namanya). Selain itu Vivi juga ingin pesan kimbap (sushi Korea) dan hotteok (roti Korea) dan saya ingin coba tteokboki (kue beras yang diberi bumbu, mirip cilok kalau di Indonesia). Tapi karena ragu karena ternyata porsi mie yang kita pesan pun cukup besar. Akhirnya kimbab, hotteok, dan tteokboki-nya dibungkus untuk dimakan di taman selanjutnya. “Anggap aja kita mau piknik ya, Ca.” Kata Vivi. Saat makan gak lupa dong makanannya di foto lalu saya kirim ke Lovita (sahabat kita berdua yang lagi di Pare). Lovita malah marah-marah, sebel karena kita pamer disaat dia gak bisa ikut gabung. Misi pamer pun berhasil haha. Komentar tentang makanannya? Gak ada yang mengecewakan, semuanya enak! Mantap. Pas bayar bill ternyata totalnya 130ribuan hahaha ketawa berdua karena kita pesan sebanyak itu. But let me treat Vivi for that day karena dulu saat saya stres skripsi pun Vivi bayarin saya nonton bioskop. Vivi merasa bersalah udah pesan banyak. Padahal saya biasa aja, senang malah akhirnya bisa gantian traktir Vivi. 

the pict that makes Lovita so envy haha second visit to Chingu? For sure! 

Annyeonghaseo!

Selesai dari Chingu kita pun berencana ke Taman Kandaga Puspa. Karena taman itu letaknya di Jalan Citarum diantara Taman Lansia, Pet Park, dan Taman Cibeunying akhirnya sekalian aja kita explore taman-taman yang lainnya juga. Kita pun turun di depan Taman Lansia tapi ternyata tamannya sedang dipugar dan sangat gak nyaman untuk masuk. Kita pun memutuskan untuk ke Taman Kandaga Puspa aja, katanya Taman Kandaga Puspa itu terkenal karena ada bunga Amarilis yang pernah dipost di IG Pak Ridwan Kamil. Tapi ternyata pas masuk ke dalam tamannya jauh dari ekspektasi, bunga Amarilis yang tinggal sedikit, pohon-pohon besar yang kurang terawat, juga rumput-rumput liar yang sangat tidak tertata. Padahal penataan tamannya sudah baik, ada kursi-kursi, ada jembatan, dan banyak bunga anggrek yang tergantung di setiap pohon, semoga kedepannya pengelolaan taman ini semakin baik layaknya taman-taman yang lain. 

Selesai dari Taman Kandaga Puspa, kita terus jalan untuk cari Pet Park. Tapi ternyata enggak nemu dan malah sampai di Taman Cibeunying. Akhirnya karena lumayan capek, dan berhasil tertarik untuk bisa duduk di tempat duduk taman yang lucu, saya dan Vivi pun memutuskan untuk membuka bekal di Taman Cibeunying, di depan sebuah Robot Gundam raksasa. Seru sekali piknik kita kali itu. Vivi pun beli kincir angin yang bikin suasana piknik di taman semakin terasa. Anak-anak kecil yang berlarian, tukang balon, pasangan yang ber-selfie, dan saya dan Vivi yang tenggelam dalam obrolan mengasyikan. Sebelumnya kita pun video call ke Lovita. Niatnya sih pamer lagi karena kita lagi piknik di taman. Tapi sayangnya gak terdengar suara apa-apa, video call pun terpaksa terputus. Akhirnya cuma send pict aja. Kita pun melanjutkan cerita masing-masing, curhat kegalauan perempuan, kegalauan saya kemarin, hingga tujuan hidup kedepannya sambil makan bekal dari Cingu dan selfie sesekali. Saat resolusi 2016 saya ingin move on dari perasaan yang serba gak enak karena suatu hal, Vivi bilang dengan polosnya, “Resolusi Vivi simpel sebenernya, pengen istiqomah solat fardu tepat waktu dan mulai pakai kerudung yang tebel.” Seketika itu saya langsung terhenyak. Pertama kalinya saya dengar resolusi sederhana namun penuh tanggung jawab di dalamnya. Sore yang sejuk itu benar-benar menyegarkan hati dan pikiran saya. Vivi memberikan banyak energi positif.

Vivi, tteokboki, and Gundam Cibeuying lol

Tidak lama dari obrolan itu, tak terasa akhirnya sudah jam 4 sore. Karena belum solat asar akhirnya kita pun beranjak ke Masjid Pusdai untuk solat. Di tengah perjalanan kaki menuju Masjid Pusdai, Vivi bilang “Udah ya, Ca. Gak usah berharap lagi ke manusia. Kalo laki-laki itu belum sampe serius bilang mau main ke rumah ketemu orangtua jangan pernah dianggap serius. Makanya harus dibantu pakai doa. Doanya gini...” Terus langsung saya potong, “Kalau memang jodoh, dekatkanlah. Kalau memang bukan jodoh, jauhkanlah. Gitu?”

Bukan... Ya Allah kalau memang dia jodohku, jadikanlah dia berani bicara, berani mengungkapkan keseriusannya, dan berani untuk datang ke rumah bertemu orangtuaku. Gitu, Ca.” 

Speechless. Vivi yang ku kenal hari itu sungguh sangat berbeda. Vivi ku semakin dewasa. 

Selesai solat, Vivi minta saya untuk mengantarnya ke satu factory outlet di daerah Dago, katanya mau beli baju. Bajunya yang sekarang sudah enggak cocok lagi dipakai. Vivi sudah ingin berpakaian yang lebih dewasa katanya. Lalu saya mengiyakan tapi sebelumnya saya bilang ingin beli es krim McD. Seketika Vivi juga bilang ingin beli juga. Akhirnya kita gak jadi factory outlet dan malah pergi ke BIP hanya untuk beli eskrim McD. Sebelumnya, karena kita turun di Dukomsel dan sisanya jalan kaki menuju BIP, kita mampir dulu ke Super Indo Dago. Gara-gara saya keceplosan bilang ke Vivi belum pernah belanja di Super Indo. Vivi pun ngajak ke Super Indo dulu. Padahal cuma untuk beli air mineral. Hahaha kealayan selanjutnya. Terus sampai di BIP kita langsung ke McD. Penuuuuh banget karena emang malam minggu. Udah ngantrinya lumayan lama, dan kita cuma pesan 2 McFlurry. Kealayan ketiga. Terus ngobrol lagi di McD sambil nunggu adzan magrib. Kali ini Vivi yang lebih banyak cerita, dia cerita kepenatannya mengerjakan tesis, keluarganya, dan rencana masa depannya juga. Dan di akhir ceritanya Vivi bilang, “Ca sadar gak dari tadi Vivi pegang kincir angin ini? Duh malu, Caaa...” Tiba-tiba Vivi baru tersadar eksistensi kincir angin yang dibelinya di Taman Cibeunying. “Hahahaha gak apa apa, Vi. Maklum aja anak AE-Aeronautika (jurusan kuliah Vivi di ITB) namanya juga.” Saya dan Vivi ketawa ngakak. And i know you still have your own childish, Vi

Setelah itu, karena sudah malam. Kita pun pisah untuk pulang ke kosan masing-masing. Vivi ke Dago dan saya ke Setiabudhi. Berbeda arah. “Nanti kita piknik lagi ya, Ca. Enaknya jalan sama sahabat tuh gini deh gak perlu malu mau gimana dan mau ngapain aja.”

Vi, enggak harus diajak lagi pun kedepannya kayanya aku bakal ngajak piknik Vivi lagi. Hehehe terimakasih untuk sehariannya. Terimakasih sudah jadi pendengar yang baik. Terimakasih sudah jadi pengingat. Terimakasih sudah menjadi Vivi yang dewasa hehe

see you in another picnic, Vi!


January 22, 2016

January 16

Oh yeah i know that date already passed a week.

Beberapa orang mungkin menyukai hari ulang tahun

The day which you feel you’re not alone when many people, old friends, from whenever they are, showed up greet you a happy birthday and pray for you, even from someone who you didn’t even expect. All really made your day, didn't it? And thats happened on January 16 too. 

Sebenarnya saya tipe orang yang tidak pernah sama sekali merayakan ulang tahun. Ulang tahun bagi saya hanya untuk mengenang bahwa di tanggal itu Mama dengan susah payah dan perjuangannya sudah melahirkan dan menyelamatkan saya, memberikan saya kesempatan untuk bisa merasakan kehidupan di dunia. Seharusnya hari ulang tahun setiap anak itu justru ditujukan untuk Ibu-nya, rasa terimakasih tak terhingga untuk Ibu yang dibarengi dengan rasa syukur pada Allah untuk semua kesempatan yang sudah diberikan hingga detik ini.

Semuanya sudah salah persepsi ya? Mungkin bagi kami ulang tahun adalah momen terbahagia padahal sebaliknya, disaat itu umur kita untuk bisa melakukan kewajiban ibadah di dunia semakin sedikit, semakin berkurang. Jadi tepat di ulang tahun kemarin, saya sudah (mulai) melupakan haha-hihi momen ulang tahun. I didn’t have so much expectation what will happened in my birthday. Saya tahu bukan lagi waktunya mengharapkan surprise dari orangtua atau pun teman dekat. Mereka mengingat hari penting dalam hidup saya pun sudah cukup senang. But then reality told the other way. Ternyata saya masih berharap. Dan ketika harapan itu tidak terjadi, hati lah yang menjadi taruhannya. Sedih, lalu melupakan kebahagiaan yang sebenarnya lebih besar dan lebih tampak dari rasa kecewa itu. Lagi-lagi saya terjebak dalam dangkalnya pikiran manusiawi. Sudah seharusnya saya tidak perlu lagi mempertaruhkan kebahagiaan saya pada harapan terhadap seseorang terhadap apapun yang belum terjadi. 

Beberapa hari setelahnya, seorang teman dekat saya memberi kabar bahwa dia berhasil menyelesaikan studinya dan akan wisuda April 2016. Sungguh senang mendengarkannya, namun ternyata tepat satu hari sebelum dia sidang skripsi itu, ayahnya meninggal dunia, tiba-tiba, karena serangan jantung. Padahal saya tahu Ibu-nya pun sudah tidak ada. Meninggal beberapa tahun yang lalu karena penyakit diabetes. Sehingga tepat di hari ia mendapat gelar sarjana, teman saya itu menjadi yatim piatu. Semua hasil perjuangan kuliahnya tidak bisa dilihat orangtuanya. Bisa dibayangkan betapa sedihnya? Oh man. Malu rasanya. It just slapped back to back. Disaat saya tidak kurang satu apapun, disaat saya masih diberikan kebahagiaan, kesehatan, keluarga dan teman-teman yang masih utuh dan menyayangi saya, saya masih bersedih, meminta sesuatu yang berlebihan. Sedangkan diluar sana, teman saya sendiri sedang merasakan kesedihan yang luar biasa besar.  

Seperti yang pernah Regina tulis di tumblrnya, don’t be so miserable yet so happy untuk apapun yang terjadi pada diri kita. Kenyataanya bahwa di bawah kesedihan ada kesedihan lain, di atas kebahagiaan ada kebahagiaan lain. Jadi dewasalah menyikapi sesuatu, jangan berlebihan mengharapkan sesuatu juga jangan bersikap berlebihan terhadap apapun itu. Itulah kunci kebahagiaan hidup yang sebenarnya. Kita tahu bahwa semua hal terjadi di dunia ini selalu bersifat sementara dan semuanya akan selalu datang silih berganti. Cyclical life, cyclical universe, we say.

Hari itu benar-benar menjadi penyadaran yang luar biasa pada saya. Coba lihat, masih ada Allah, masih ada orangtua yang akan selalu mendoakan, masih ada keluarga yang akan selalu mendukung, masih banyak teman-teman dan sahabat lain yang lebih menghargai, dan masih ada dirimu sendiri yang seharusnya kau bahagiakan, kau cintai. You already know that Allah determines who walks into your life. It’s up to you to decide who you let walk away, who you let stay, and let everything be itselfs and makes happiness to your life. Stop being so pathetic, Ca! Your own happiness that matters.

Again,
Thank you for everything happened on January 16, which opened my eyes that i am so blessed. Truly blessed.

Some of my should-i-say-it-as birthday bash.

So whats favor of your Lord would you deny? Alhamdulillah.

January 21, 2016

#DAY20 Your Fear

Masih ingat rasanya saat Hafdzy mengupdate status line-nya (Jong, izin share ya) karena bapaknya baru saja memiliki akun BBM. And he just saw her dad display pict then said “I just realized that my biggest fear has appeared, my parents are getting old.” Persis sama dengan apa yang saya rasakan. Sejak mama dan bapak punya akun whatsapp, komunikasi kita jadi tidak pernah berhenti bahkan hanya sekadar say hi, bertukar kabar, atau mama yang dengan randomnya mengirim foto selfie. Sama halnya dengan malam ini, mama mengirim foto selfienya, sama dengan yang Hafdzy alami. Saya perhatikan wajah mama di foto itu, sudah penuh kerutan, sudah jauh dari kata kencang. Wajah mama semakin menua. Rasa sedih pun langsung meluap. Dan ya, Hafdzy benar, ketakutan itu muncul. 

Seiring berjalannya waktu, seiring kita pun bertambah dewasa, bertambah usia, satu hal yang juga mengikuti adalah orangtua kita pun bertambah usianya. Seketika pikiran teraduk, sedih dan ketakutan menyeruak. Tersadar bahwa semuanya ini cepat akan terjadi. Keegoisan diri sendiri yang menutupi sebuah kenyataan bahwa orangtua kita tidak sama seperti sebelumnya. Daya ingat, kesehatan, tenaga yang mulai menurun sudah pasti terjadi. Lalu apa yang kita lakukan? Kita sibuk dengan diri kita sendiri bukan? Kita kadang lupa bahwa waktu kita dengan orangtua semakin sedikit padahal di usia tuanya, orangtua mungkin sangat merasa kesepian. Itu yang saya lihat saat mama dan bapak sudah tinggal berdua di rumah. Kakak yang sudah menikah, saya dan Opi yang kuliah di Bandung, kami bertiga mulai jarang bisa pulang ke rumah. Meskipun orangtua tidak pernah mengeluh dengan semua keadaan ini karena kembali pada satu prinsip, “Kebahagiaan dan kesuksesan anak adalah segalanya.” membuat orangtua selalu mendukung apapun yang anak-anaknya lakukan, mendukung kesuksesan anak-anaknya, hingga mengenyampingkan keiinginan mereka untuk ditemani di rumah. 

Saya sadar hal ini sungguh dilematis. Di sisi lain sebagai anak, semuanya ingin membuat orangtua bangga untuk tidak lagi bergantung, memiliki penghasilan sendiri yang bahkan bisa membantu keuangan keluarga. Orangtua pun pasti bangga dengan anaknya yang sudah bisa mandiri, sukses karena kerja keras mereka. Namun, timbul pertanyaan apakah itu yang benar-benar diinginkan oleh orangtua kita? Sibuknya waktu bekerja kadang membuat kita lupa untuk menyapa dan menanyakan kabar mereka, untuk meluangkan waktu mengobrol dengan mereka, atau untuk menyisipkan doa setelah solat-solat kita. Inilah yang menjadi ketakutan yang sebenarnya. Saat kita mulai lupa bahwa ada orangtua yang akan selalu merindukan kita. Mereka yang sangat membutuhkan doa-doa kita selayaknya kita yang selalu menginginkan doa-doa mereka.

Saat orangtua semakin tua, saya sendiri harus sadar semuanya tidak seperti dulu lagi. Saat saya sibuk untuk diri saya sendiri. Meskipun sedang meniti karir dan pendidikan setidaknya jangan sibuk sendiri. Luangkan waktu untuk mengobrol dengan orangtua, menyapa mereka, luangkan untuk pulang ke rumah sesering yang kita bisa lakukan. Ingat bahwa kerja keras kita untuk orangtua, kita harus (setidaknya) dapat menjamin kehidupan hari tua mereka selayaknya mereka selalu menjamin kehidupan kita hingga kita bisa menjadi seperti sekarang. Seperti yang pernah saya baca di salah satu blog seseorang, your family is in your hand. Daddy needs a rest and mommy deserves a good life. Ya, memang seperti itu seharusnya. 

Ketakutan akan bertambah tuanya orangtua yang kita rasakan mari kita direnungkan, jadikan hal tersebut sebagai motivasi untuk selalu bekerja keras dan. Jangan pernah menyia-nyiakan waktu bersama mereka. Luangkan lebih banyak waktu untuk mereka selagi kita masih bisa. Dan semoga kita bisa menjadi anak-anak sholeh dan sholehah yang bisa mengantarkan orangtua kita pada kebahagiaan dunia dan akhirat. Aamiin ya robbal alamin.

Mah, Pak, as you're getting older, sudah seharusnya aku tidak menuntut apapun dari kalian lagi. Aku janji enggak akan membiarkan masa tua mama dan bapak kesepian dan kesusahan. Tetap sehat ya, Mah, Pak. Iringi selalu hari-hariku untuk mencapai mimpi-mimpi dengan doa kalian. Semoga aku bisa mengantarkan Mama dan Bapak pada surga-Nya, menghadiahkan seseorang yang kelak menjadi suamiku yang bisa menghormati dan menyayangi kalian sebagaimana aku menyayangi Mama dan Bapak, seseorang yang bertanggung jawab untuk membuat Mama dan Bapak percaya untuk melepas anak perempuannya. Aamiin.

Doaku akan selalu menyertai kehidupan Mama dan Bapak. 

January 08, 2016

2016

Kadang kalau baca lagi post yang sebelumnya ingin tertawa. Bisa ya seseorang jadi semelow itu. Jadi pertanyaan besar berarti para pujangga itu kebanyakan galau kali ya makanya tulisannya oke-oke? Haha pertanyaan apa banget. Ya intinya jadi semacam rindu menulis random lagi. Lately susah sekali cari waktu luang untuk menulis disini, giliran ada waktu luang malah dipakai istirahat. Padahal kemarin-kemarin minat dan kesempatan baca lagi tinggi-tingginya, banyak buku yang berhasil selesai dibaca, dan sebanyak itu pula memberikan kontribusi kebaperan saya (maaf saya emang gampang baper kalau sudah baca buku). Seharusnya kalau sering baca buku, ide-ide berkeliaran untuk bisa dibagi tapi ini kok enggak. Banyak sih idenya tapi ujung-ujungnya malah tidak tertuliskan.

Lihat saja arsip 2015 blog ini hanya 30an, menurun drastis dari arsip-arsip tahun sebelumnya. Saya sadar sekali minat menulis saya sedang menurun. Padahal begitu banyak kejadian dan pengalaman 2015 yang sangat bisa saya bagikan, saya tulis dalam bentuk apapun itu agar bisa dikenang kembali. Tapi yasudahlah. Mungkin saya terlalu terlena dengan perjalanan 2015 hingga saya tak sempat untuk berhenti sambil menikmati (re:menulis). Belum lagi #30DaysChallenge yang kemarin stuck di DAY19 (10 days to go!), cuma bisa nyengir kuda. Tapi saya janji, saya akan tetap melanjutkan tantangannya.

Gak tau kenapa ingin mengisi 2016 dengan menekuni hobi menulis dan gambar, entah itu belajar melukis pakai watercolor, belajar doodling lagi, atau bahkan belajar typography. Terus ingin juga belajar fingering gitar, minimal lagunya Keane yang Everybody' Changing bisa lah (cupu). Terus ingin juga bikin place should be visit' list juga biar sering piknik dan enggak mudah galau haha. Terus harus bisa mempertahankan kebiasaan baik jogging 2 kali seminggu dan baca 3 buku per bulan juga (Bismillah!) Intinya banyak banyak sekali yang ingin dicapai di 2016 terutama masalah perbaikan dan eksplorasi diri. Semoga di 2016 ini, ibadah saya bisa ada perbaikan bahkan peningkatan, semakin banyak bermanfaat untuk siapapun itu, perbaiki niat kuliah dan bekerja supaya semuanya dilalui dengan bahagia, minat menulis saya juga semakin meningkat, semakin lebih bermanfaat dalam pemilihan kata-kata maupun kontennya. Semoga bisa konsisten dan disiplin untuk semua kebaikan ya dan juga selalu mensyukuri apapun yang terjadi. Aamiin.


Gila men tahun ini officially 24. Masa mau gini gini aja nih hidup?

My butterfly flies

Friends of mine just texted me after they read my previous post (my so-not-kinda-23yo-woman'-post) 

"Ca...are you ok?" 

"Lo drama abis sih, Ca. Kata-katanya kaya dialog sinetron labil tau gak."

Smiled bitterly. I pretend to be okay. I told them that i could make everything goes so well, i feel so fine, nothing makes me swayed, and sure i'll move forward, run, and leave all behind. But huh, are you sure? Well actually i worry to myself too, i really sure that i'm not okey at all. Pathetic. I showed them that i'm okey but deeply in my heart wasn't going on that way. Those feeling of being safe and warm was replaced by a guilty feeling. Sad enough, is it?

But now, i'm in the middle of thinking about all of them. Let me make everything clear now. I know those kind of circumstance will happen to everyone life, including to my life. The circumstance of being dissapointed and so much regret after some of your worse experiences. Somehow in a melancholic thought, i blame myself for being an unconsistent person that i can't even hold this feeling out. But then, in the egde of my thought, i realize (after a long call duration and chatting with someone-i-believe including my mom) that what i've done just such a dumb, shallow in many ways. Yeah my life is too precious to think about him about love over over and over. 

As my bestfriend said, "Urusin hidupmu dulu sendiri lah," really slapped my face while i realized what kind of woman i would be if i still in this kind of super annoying feeling that i can't even bear for it. My friend was right. Forget about what' makes my life more complicated. Just focus to my self. I were alive before i met him, yes? 

Now i already know what i've to do. I let my butterfly flies and makes myself stop waiting so many things to be told for what and how. If something are meant to be that's going to find a way. I tried to, i try, and i'm trying to understand the situation, to understand myself better, and even to understand my butterfly. Knows that my butterfly is going to fly somewhere, it may never come back. But the things i know as well, if the butterfly really wants beside me, it will come back no matter what or... it changes with another butterfly who knows that there's something of mine that worth to have. 

Till someday, i able to feel the butterfly flies inside my tummy (again). How much? Million of it :)

So let's move to another story, a brand new day, a new you and me!

Just got this super dialog anyway. Yes this is just feelings.

January 02, 2016

Favorite Mistake

Sudah tiba di 2016 ya. Benar-benar waktu selalu bisa membunuh setiap penggunanya dengan perlahan, hingga tidak pernah ada yang tersadar. Apalagi mereka selalu memberikan kebebasan untuk kita. Kebebasan untuk memilih dengan siapa dan untuk apa kita menghabiskannya, menikmatinya.

Saya tahu bahwa konsepsi waktu itu hanya dibuat oleh manusia. Tidak ada teori Tuhan yang bicara soal waktu berakhir dan dimulai, kapan waktu berganti. Dalam hitungan-Nya hanya ada waktu lahir dan waktu meninggalkan dunia saja bukan? Namun tidak demikian dengan manusia, perpindahan hari, bulan, tahun, dan umur selalu memiliki esensinya tersendiri. Pemaknaan yang didasari berdasarkan semua hal yang sudah dilakukan. Begitupun dengan perjalanan 366 hari ke belakang. Saat tahun berganti 2015 menjadi 2016.

Kalau saya diminta untuk mengungkapkan kesan 2015, maka saya akan mengatakan 2015 adalah kamu. Banyak sekali yang sudah saya lalui di 2015, rasa syukur untuk semua pencapaian, kesehatan, nikmat iman, dan rezeki yang tidak henti-hentinya diberikan semuanya beriringan dengan munculnya satu kesalahan. Kesalahan yang bahkan tidak saya sadari. Kesalahan perasaan yang sudah terlalu memuncak lalu enggan untuk turun. Kesalahan itu akhirnya berkumpul di posisi yang sama, sepanjang tahun, hingga akhirnya terasa jenuh, dan mau tidak mau memaksa untuk diperbaiki. Dari situlah kesadaran bermula, saat tidak ada lagi yang bisa dilakukan kecuali mengakui kesalahan lalu berdamai dengan diri sendiri. 

Butuh waktu yang tidak sebentar untuk dapat berdamai dan meyakinkan hati bahwa kesalahan tersebut adalah kesalahan yang seharusnya tidak pernah terjadi. Itulah cara Allah mengajari hamba-Nya, penuh dengan ketegasan dan keromantisan yang dibalut dengan a meaningful discovery way. Semuanya karena Allah ingin kita belajar, Allah ingin kita menyadarinya sendiri. 

Saya tidak menyalahkan siapapun dalam kesalahan ini, tidak menyalahkannya, tidak juga menjadikan kesalahan ini menjadi kesimpulan untuk tahun 2015. Saya bersyukur, dengan saya mengenalnya, melalui semuanya, saya menjadi tahu akan kesalahan ini. Hingga akhirnya saya mengakui bahwa semua ini terjadi karena adanya perasaan naif untuk mengakuinya sebagai kesalahan. Saya terlalu nyaman dengan semua perasaan bias ini.  

Namun begitulah, semua yang sudah terjadi ini begitu berharga untuk dilupakan. Ini akan menjadi pengalaman dan pelajaran istimewa bukan? Maka dari itu, terimakasih untuk semua yang sudah terjadi. Tak terhingga. Hingga saya hanya bisa menyelipkan kata maaf di setiap ruang yang kau biarkan tersisa saja. Dibalik semua hitam putihnya kesalahan, semuanya sungguh sangat berkesan untuk menjadi anagram kehidupan dalam proses menuju pendewasaan ini. 

and for you,
you might've been my favorite mistake

thank you, 

love.