Rosmalinda Nurhubaini's. Literally a nous of my random thought.
Posts // About
// Twitter // Tumblr

October 30, 2016

In the middle of self-demotivation

Meskipun harus mengetik panjang ditengah banyaknya tugas, namun saya memutuskan harus menulis post ini. Post ini sangat berharga bagi saya karena saya akan menceritakan pengalaman berharga yang sangat sayang jika hanya disimpan di otak dengan kapasitas sinapsis antar neuron yang suatu hari bisa saja berkurang. 

Hari Sabtu kemarin saya pergi ke salah satu sekolah menengah atas di daerah Parompong, Kabupaten Bandung Barat. Perginya saya ke sekolah itu karena tugas salah satu mata kuliah untuk mengobservasi pembelajaran berbasis STEM menggunakan local material. Tugas ini adalah tugas mandiri jadi saya harus pergi ke SMAN 1 Parompong sendirian dan menyiapkan instrumen sendiri. Kenapa saya pilih SMAN 1 Parompong yang sebenarnya jauh dari kosan? Kenapa enggak ke SMAN 3 Bandung saja? Hmmm ini sudah saya pertimbangkan. Saya memilih sekolah SMAN 1 Parompong karena saya kenal dengan salah satu guru biologi disana, beliau sangat menginspirasi saya. Namanya Pak Cece. Awalnya saya kenal beliau saat masih kerja praktik di SMAN 3 Bandung, lalu saat saya masuk Daniel ternyata Pak Cece juga guru biologi disana. Jadi yaa cukup kenal dekat lah dengan beliau. Dari awal kenal beliau, beliau sudah sangat menginspirasi (padahal dulu cuma dengar dari cerita-cerita orang-orang aja, dari siswa dan guru SMAN 3 dan Daniel, bahkan dari dosen kampus tempat saya dan Pak Cece kuliah). Pak Cece yang nilai UKG (Uji Kompetensi Guru) nya selalu tertinggi, Pak Cece yang juara guru berprestasi, Pak Cece yang jago ngajarnya, Pak Cece yang kreatif, Pak Cece yang gak pernah pelit untuk berbagi materi biologi dan semua cerita tentang kebaikan dan prestasinya. Bahkan sekarang Pak Cece sedang kuliah S2 dengan beasiswa LPDP namun tetap bisa all out di semua pekerjaan dan tanggungjawabnya sebagai guru, mahasiswa, dan tanggungjawab di keluarganya.

Beberapa minggu sebelumnya saya sempat mengobrol dengan Pak Cece tentang pembelajaran STEM yang dilakukan di sekolahnya tentang pewarnaan bunga sebagai aplikasi dari konsep transportasi zat. Pak Cece bilang juga bahwa STEM yang dilakukannya tersebut menggunakan local material karena daerah Parompong terkenal dengan daerah penghasil bunga-bunga yang beragam. Saat itu saya mendapat ide untuk mengobservasi pembelajaran yang dilakukan Pak Cece di sekolahnya. Meskipun awalnya saya sebenarnya lebih penasaran dengan bagaimana cara beliau mengajar. Sejak saya kenal beliau saya belum pernah melihat beliau mengajar! Hehe. Pak Cece pun tidak keberatan saat saya bilang ingin mengobservasi pembelajarannya. Akhirnya saya putuskan untuk pergi ke SMAN 1 Parompong. Butuh waktu 30 menit untuk sampai ke sekolah itu dari kosan saya (karena saya pakai gojek). Sekolahnya termasuk di pedesaan namun mengasyikan! Banyak pemandangan yang indah, bunga-bunga yang ditemukan sepanjang perjalanan, gurung-gunung, hutan pinus, yang enggak akan ditemukan oleh guru-guru yang mengajar di kota.

Saat pergi ke SMAN 1 Parompong itu saya mendapatkan banyak sekali pelajaran, bukan hanya sekadar tau bagaimana pembelajaran STEM berlangsung, tapi lebih dari itu. Saat pertama kali saya masuk ke sekolah itu, siswa langsung menyalami saya, dengan sopannya mereka memanggil "Bu" lalu mencium tangan saya padahal mereka tidak tau siapa saya, saya pun tidak kenal mereka. Impressed! Di sekolah kota jarang ada yang siswa yang seperti ini. Lalu akhirnya saya pun masuk kelas dan mengobservasi kelas Pak Cece. Saya perhatikan caranya mengajar, respon siswa di kelas, bahkan respon siswa diluar kelas saat Pak Cece lewat. Para siswa sangat menghormati beliau. Saat beliau lewat, para siswa semangat menanyakan tugas. Di kelas pun begitu, saat diberikan tugas, siswa langsung mengerjakan tanpa mengeluh, tanpa minta syarat seperti layaknya anak-anak kota yang cukup manja. Saat siswa sedang mengerjakan tugas saya dan Pak Cece berkeliling sekolah untuk melihat laboratorium. Untuk sekolah di desa, laboratorium sudah sangat terurus dan dimanfaatkan dengan baik untuk pembelajaran biologi, banyak hasil pembelajaran biologi yang dipajang dan ditempel di lab tersebut semakin membuat saya mengacungi jempol. Second time being impressed!

Sekitar pukul 09.30 pembelajaran pun selesai. Pembelajaran di kelas hari itu terlaksana dengan sangat baik. Tujuan dan seluruh langkah pembelajaran seperti yang tertulis di RPP tercapai. Di akhir pembelajaran pun siswa masih terlihat masih bersemangat. Pak Cece memang luar biasa! Setelah observasi tersebut, akhirnya saya kembali ke ruang guru bersama Pak Cece, mengobrol sebentar mengenai curiousity saya hehe. Saya diperlihatkan foto kegiatan-kegiatan Pak Cece selama mengajar menggunakan pendekatan STEM yang mengasyikan dan kreatif tanpa lepas dari hakikat pembelajaran biologi, tanpa membebani siswa. Tanpa ragu, Pak Cece memberikan saya RPP pembelajarannya, memberikan contoh LKS dan soal. Pak..... the third i'm was being impressed!

Sebelum saya izin pulang (karena saya harus pergi ngajar juga), saya sempat menanyakan kesulitan mengajar pembelajaran dengan STEM, creative learning karena siswa di kelas yang tidak sedikit dan siswa yang tidak biasa dengan sistem student centre
Pak Cece bilang, "Ngajar itu gampang, Bu, saya mah enggak ngerasa ada kesulitan apa-apa. Asal tau polanya. Pelajari pola yang baik untuk mengajar anak-anak. Pada dasarnya kan anak-anak itu kan sama aja. Kalau sudah tau polanya, ngajar juga jadi enak. Siswa dan kelas terkendali, kita enggak terlalu capek. Sama halnya dengan orang sukses kan, setiap orang yang sukses pasti udah punya pola hidupnya sendiri, pola baik yang selalu dia lakukan makanya dia bisa sukses."
Lalu Pak Cece menambahkan, "Makanya saya senang kalau dapat jadwal kelas X, saya bisa latih pola pembelajaran saya, karena anak-anak masih baru jadi mudah menyesuaikan. Kalau anak-anak sudah kenal dengan pola mengajar kita, sesananya akan mudah. Coba semua metode dan model pembelajaran, Bu. Harus kreatif karena kita tau siswa itu butuh apa, inginnya apa, supaya pembelajaran jadi seru. Jangan lupa foto setiap kegiatan pembelajaran biar nanti gampang ikut lomba ini itu, jadi gampang naik pangkat." Pak Cece dan saya ketawa.
Banyak hal yang bisa saya pelajari di hari itu. Pak Cece yang selalu baik dan menghormati siapapun tanpa melihat siapapun orangnya. Beliau bahkan menyiapkan makanan dan minuman untuk saya, memberikan RPP hari sebelum diminta padahal saya sudah sangat merepotkan di pagi itu. Pak Cece enggak pelit dengan apa yang dimilikinya, semua hasil RPP pembelajaran kreatifnya dibagikan di grup guru biologi. Saya belajar bahwa dengan berbagi ilmu, informasi, rezeki, enggak akan membuat kita miskin, enggak usah takut ide kita diambil, enggak usah takut orang lain yang justru mendapatkan keuntungan dari informasi yang kita berikan. Polanya: dengan berbagi kita akan semakin kaya. 

Pelajaran selanjutnya, Pak Cece bilang kalau beliau nyaman dengan sekolahnya yang sekarang (sebelumnya Pak Cece mengajar juga di SMAN 3 Bandung tapi akhirnya resign karena harus kuliah S2), guru-guru enggak ada acara 'menyenggol kanan kiri', semuanya mendukung apapun ide-ide guru untuk kebaikan sekolah, siswa dan orangtua murid pun enggak banyak protes dengan sekolah, "Enggak kaya di sekolah kota kan, Bu hahaha." Pak Cece dan saya ketawa-tawa karena kita merasakan bagaimana persaingan antar guru di sekolah yang bagus favorit itu. Intinya, enggak ada siswa yang bodoh, enggak ada sekolah yang jelek, enggak ada sekolah yang bagus, yang ada hanya guru yang semangat dan guru yang malas. Dimanapun kita mengajar, siapapun muridnya, seburuk apapun fasilitas sekolah, yang terpenting adalah bagaimana kita mengajar. Integritas mengajar kita yang akan mengubah segalanya. Belajarlah untuk jadi pribadi terbaik, guru yang terbaik dimanapun kita berada. 

Hal ini benar-benar menampar saya. Beberapa minggu kebelakang saya sedang jenuh dengan rutinitas mengajar dan kuliah. Tapi ternyata di hari Sabtu ini saya mendapat renungan yang sangat banyak. Selama ini saya berpikir hanya di tempat atau sekolah baguslah saya bisa mengembangkan kemampuan saya, namun ternyata dimanapun itu semuanya ada pada diri kita sendiri. Faktanya lingkungan sekitar hanya jadi faktor sekunder yang akan mempengaruhi. 

Untuk Pak Cece, terimakasih banyak ya Pa sudah mau berbagi semuanya. Terimakasih untuk kebaikan bapak selama ini. Semoga suatu hari nanti saya bisa membalasnya. Semoga Pak Cece selalu sehat, tetap menginspirasi, dan berprestasi. 

SMAN 1 Parompong. Literally a place for developing your self!

Creative and fun learning

Pak Cece with his lovely student. So nice to meet you all!

Student' excitement after finishing their work. Good job, kiddos!

Thank you so much, Pak Cece! ^^
(Maafin aku nya yang pendek bgt dan Pak Cece nya yang tinggi banget)

October 02, 2016

It's A Boy!

I almost forgot to introduce you that my family got a new member. Yeayyyyyy! I'm sooo teared up yet excited to know the baby. He was born officially on August 31. That day, my whole family was given such a bunch of blessing. He comes to the world. Hizam Ismail Rasyad really does. Alhamdulillahirabbilalamin....I'm now an aunty and my brother officially become a dad. It just beyond blessing, beyond happines all the time when i met him for the first time. I saw he was slept peacefully, then crying out when i have to go, back to Bandung. Kakak Izam, are you still miss me? hehehe. Now, even i can't stop looking to every picts of him that my bro send via whatsapp. Seeing him, even only a pict of his sleeping just makes me happy. Wondering how it can be like in the future when he could talk to me and call me "Ateu Cacaaaaa." 

So here's the A Aris junior. My beloved nephew, my current sweetness of life. 

Isn't he lovely?

Dear Kaka Izam, 
Within this post, in the first day of 1438 H, i'm sending you my best prayer for your future life. Kakak Izam harus jadi anak sholeh yaa, anak yang cerdas, anak yang membanggakan ayah bunda. I really can't wait to know you more hehe. Please grow up healthily, my love. Aunty will help you to see the goods of this world.

Sayang Kakak Izam,
Ateu Caca

Your job shapes you

Bandung, 02 Oktober 2016
12.53
Hujan cukup deras.

Tidak terasa genap di bulan Oktober ini, satu sudah satu tahun menjalani pekerjaan sebagai guru. Dengan segala perjuangan di dalamnya yang memaksa saya menjalani pekerjaan yang ternyata sangat tidak mudah. Beberapa kali saya menangis (serius) karena suatu kejadian di kelas yang benar-benar membuat saya sempat berpikir bahwa saya tidak berbakat untuk memiliki karir seperti sekarang. Kejadian tersebut membuat percaya diri saya langsung drop. Namun akhirnya, berkat 2 orang teman terdekat saya yang selalu mendorong dan mewajarkan atas kesalahan yang saya buat, saya pun mencoba tenang. Memaafkan diri sendiri. 

Salah itu biasa, Ca. Guru yang sekarang udah senior juga pasti pernah salah. 

Iya. Kalau enggak pernah salah, kita enggak akan pernah belajar kan? SNSD aja pernah jatuh pas lagi nyanyi di atas panggung 

Ya seperti itu, sejak kejadian itu saya selalu berhati-hati dalam apapun yang saya ucapkan di kelas. Salah sedikit bisa jadi miskonsepsi dan mispersepsi untuk siswa yang akan lebih sulit diperbaiki. Apalagi mata pelajaran yang saya ajarkan adalah mata pelajaran dengan teori yang sangat luas dan sangat berkaitan antara satu materi dengan materi lainnya. Sejak saat itu, saya berusaha untuk mempersiapkan segala materi sebaik mungkin sebelum saya mengajar, saya membaca buku lebih dari 1 sumber lalu saya buat rangkumannya. Ada pepatah yang bilang, the more you sweat in training, the less you bleed in battle. Setidaknya saya ingin mengurangi kemungkinan berdarah (lagi).

Pekerjaan ini memang tidak mudah. Apalagi yang saya lakukan ini sebenarnya adalah sebuah jasa untuk mengubah dan menjadikan seseorang menjadi lebih baik lagi, baik dari segi pengetahuannya maupun dari segi karakternya. Meskipun saya akui sampai saat ini saya belum bisa menjadi guru yang mampu mengubah karakter seorang siswa (Saya rasa, saya masih jauh untuk sampai pada target tersebut). Let's say, pekerjaan ini adalah sebuah jasa. Jasa yang memfasilitasi siswa untuk belajar, salah satunya belajar mengenai kehidupan. Dari dulu saya tahu bahwa pekerjaan pelayanan jasa adalah pekerjaan yang luar biasa. Begitu pun yang saya rasakan sekarang. Jasa yang saya tawarkan ini sangat mempengaruhi kehidupan banyak orang, terutama kehidupan masa depannya.

Meskipun tidak mudah untuk menjalani pekerjaan mulia ini, namun saya memilih untuk tidak lagi melihat segala tuntutan dan kesulitannya. Saya mencoba untuk melihat pekerjaan saat ini adalah pekerjaan yang memiliki kekuatan untuk mengubah saya menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Dengan pekerjaan yang dapat dibilang selalu dinamis dan sensitif ini, saya banyak belajar. Terutama belajar bagaimana bersikap. Bersikap sepositif mungkin di depan puluhan siswa di kelas bagaimanapun kondisi saya diluar kelas. Siswa tidak perlu tahu kalau saya sedang banyak tugas kuliah, siswa tidak perlu tahu kalau saya sedang stres karena masalah tertentu, yang harus siswa tahu adalah kesan pembelajaran yang saya berikan hari itu. Itu yang akan siswa ingat seumur hidupnya. Saya belajar bagaimana untuk menjadi orang seceria mungkin di depan siswa, mencoba untuk masuk ke kehidupan mereka yang 'sudah bukan zaman saya lagi', mencoba untuk memahami mereka, dan mencoba untuk menjadi teman dan orangtua mereka. Menjadi teman sekaligus orangtua berhasil membuat saya memberanikan diri untuk menjadi orang ekstrovert, seceria mungkin, tersenyum sebanyak mungkin, yang sangat berlainan dengan saya versi sebelum mengajar. Yang menjadikan kesulitan tersendiri di awal-awal mengajar bagi saya. 

Saya bersyukur dengan pekerjaan ini. Pekerjaan yang membentuk saya versi yang memang saya inginkan, yang seharusnya. Pekerjaan yang membuat hari-hari saya penuh dengan semua hal positif, siswa dengan segala impiannya, siswa dengan semangat belajarnya, siswa dengan candaan garingnya, siswa dengan hati penuh cinta, dan siswa yang selalu optimis. Literally, membuat saya bahagia.

"The happiest persons, don't have the best of everything. They just make the best of everything"