Rosmalinda Nurhubaini's. Literally a nous of my random thought.
Posts // About
// Twitter // Tumblr

September 16, 2015

#DAY19 Five items you lust after

Lust after: (v) something you have strongly desire about

  • Seperangkat alat lukis. Akhir-akhir ini entah mengapa rasa ingin tahu saya akan alat lukis, teknik melukis, lukisan sedang tinggi-tingginya. Sekarang kalau sedang bosan di kosan, dan sedang tidak ingin baca buku pasti langsung grab my sketch book, menggambar apapun itu sesuai dengan suasana hati. Lalu kadang saya upload di instagram. Kalau sudah menggambar bisa sampai lupa waktu. Itulah mengapa saya sangat suka kegiatan ini. Tapi ternyata modalnya juga enggak sedikit. Sketch book gak ada yang dibawah 20ribu, pensil warna pun sekarang sudah sampai di harga seratus ribu. Belum lagi lihat harga kanvas, color brush, cat-cat yang berbagai macam jenis. Dari yang mulai cat tahan air, cat minyak, cat yang bisa dipakai di kertas dll. Belum lagi alat-alat lukis canggih lainnya, yang katanya warnanya udah setingkat warna grafis. Dan sudah pasti harganya jutaan. Makanya dari sekarang sedang rajin menabung untuk satu per satu beli alat lukis. Kemarin baru beli A4 dan B5 sketch book, water color pencil 36 warna, dan classic color pencil 24 warna yang totalnya udah macem bayar kosan sebulan. Apalagi beli yang lainnya. Ayo kita menabung! 
  • Harry Potter books. My everlasting favorite story book. Sampai sekarang sudah baca bukunya hingga 2 kali balikan dan masih belum bosan. Tapi dulu bacanya masih pinjam sana sini dan terakhir baca di perpus SMA. Gak pernah sanggup beli. Akhirnya jadi janji diri sendiri kalau punya uang tabungan lebih mau beli buku Harpot semuanya! Agar nanti bisa diberikan ke anak-anak hehe biar mereka tahu bagaimana ibunya begitu menyukai ceritanya dan tokoh di dalamnya. Bahkan lucunya saya ada ide, apa buku ini saya jadikan list barang seserahan saat saya dilamar nanti? Hahaha. Jarang juga kan ada seserahan isinya buku. Dan bukunya nanti untuk anak-anak kami berdua. (mulai kemana-kemana ceritanya...next please...)
  • Makkah trip stuff. Should i tell you more? An exactly every muslim dream. Someday, insha Allah. Aamiin ya robbal alamin.
  • Personal bike. Ini keinginan di tahun ini, dulu sempat ingin minta ini ke orang tua sebagai hadiah wisuda. Tapi ternyata mama bilang, “Wisuda kan untuk diri kamu sendiri bukan untuk siapa-siapa, ko malah minta hadiah?” Duh malu sih ya. Akhirnya proposalnya enggak sampai ke bapak deh, langsung mundur setelah mama bilang begitu. Jadi mau enggak mau jadi list to buy juga. Dari kecil emang sudah suka sekali naik sepeda, dulu masih ingat saat SD kemana-mana naik sepeda. Disaat teman-teman lain ke sekolah atau ke rumah teman pakai kendaraan bermotor dengan orangtuanya, saya malah naik sepeda. Saat sepeda saya, kakak, dan bapak (hilang sekaligus) dicuri orang dari sejak itu enggak pernah ada sepeda lagi di rumah. Sedih berhari-hari. Tapi enggak berani juga minta orang tua karena saat itu jalan raya sudah semakin ramai dan mama pun enggak mengizinkan main sepeda ke jalan raya. Akhirnya dari sejak itu enggak pernah naik sepeda lagi. Rindu sampai sekarang dan bertekad harus punya sepeda sendiri!
  • Yang kelima, boleh enggak buku nikah aku dan kamu? Kamu yang sudah dipersiapkan Allah untuk jadi pendamping dan imam untuk kehidupanku juga ayah bagi anak-anakku (baper mode one). Tapi honestly, emang lagi di fase have strong desire on it sih. Yahaha begitulah kalau wanita sudah ada di quarter of life. Girls???
Well yeah, ini selingan dikala kepenatan browsing artikel penelitian pendidikan biologi tentang scientific creativity syalala dudududu

#DAY18 A problem that you have had

Setelah sekian lama not updating my feeds akhirnya hari ini bisa diupdate lagi. Maaf untuk semua yang (mungkin) sudah lama menunggu tulisan saya (haha mulai sok tenar). Jadi yuk sekarang kita lanjut lagi 30DaysChallenge-nya karena kemaren sempat berhenti di Day 17. Awalnya karena stuck sih dengan temanya. Tapi bukan tantangan kan namanya kalau enggak bisa bikin manusia stuck at the moment. Jadi karena 30DaysChallenge-nya sudah dimulai, mau tidak mau harus kita selesaikan!

Problem? No one is living without a problem, isn’t it? Bahkan manusiawi, semua hal yang terjadi di dunia ini sebenarnya bisa menjadi masalah. Begitupun saya, di usia saya yang sudah menginjak 23 tahun ini sudah banyak masalah yang saya alami. Masalah akademik, percintaan, jeleknya self-regulated, kesehatan, hingga hal terkecil sindiran orang pernah menjadi masalah untuk kehidupan saya. Semuanya itu ada yang dapat saya selesaikan dengan baik, kurang baik, atau bahkan heals by the time and Allah swt. Namun dari sekian juta masalah yang pernah saya alami itu, ada salah satu masalah yang mungkin jadi salah satu masalah terlama dihadapi hingga akhirnya saya temukan jawabannya.

Masalah ketika Allah memilihkan jalan hidup saya untuk menjadi seorang pendidik bukan dokter seperti yang dulu saya cita-citakan. Bertahun-tahun lamanya kehidupan saya dipenuhi dengan pertanyaan, apakah memang ini yang saya butuhkan? Apakah memang ini yang terbaik untuk saya? Apakah saya bisa untuk bisa menjadi pendidik? Saat saya belajar mata kuliah pedagogik atau keprofesian atau microteaching, sungguh saya sangat tidak percaya diri dengan kemampuan saya sendiri. Apalagi saat saya tahu bahwa teori mendidik yang saya pelajari sangat bertolak belakang dengan kenyataan para pendidik di lapangan yang secara langsung pernah saya rasakan. Semuanya kembali pada suatu line bahwa, “Mendidik itu memang tidak mudah.”

Hingga akhirnya saya memasuki dunia mengajar yang sebenarnya, mengajar siswa-siswa, saya lakukan yang terbaik dari yang saya bisa berikan. Banyak respon positif maupun negatif dari siswa-siswa saya. Saya banyak sekali belajar. Belajar untuk sesuatu yang ternyata memang saya sukai. Saat itulah semua pertanyaan di paragraf sebelumnya terjawab. Seiring berjalannya waktu, seiring saya mulai terjun di dunia yang sebenarnya, saya pun meyakini bahwa saya memang suka dengan profesi saya ini. Saya suka berbagi cerita dengan murid-murid. Saya suka mengajari biologi pada mereka, melihat wajah-wajah penuh takjub saat saya memberitahukan suatu fakta tentang tubuh manusia, hewan, bahkan tumbuhan. Saya suka saat mereka menceritakan rahasia-rahasia mereka hingga saya tertawa kecil dibuatnya. Saya suka saat mereka bertanya masalah apapun hingga kekepoannya akan kehidupan pribadi saya. Saya suka saat mereka memanggil saya dengan sebutan “Ibuu...”. Saya suka saat mereka dengan isengnya memberikan komentar di status saya atau bahkan chat hal-hal ringan tengah malam. Bahkan saat mereka melakukan hal yang saya tidak sukai, hal itu menjadi teguran kecil untuk diri saya sendiri bahwa dulu pun saya, saat seumuran mereka, mungkin pernah melakukannya. Saya suka semua yang mereka lakukan. Melihat mereka tumbuh dengan banyaknya cita-cita yang dimiliki, tentu mereka mengharapkan saya dapat membimbing untuk mencapai semua itu. 

Seketika itu saya tersadar bahwa memang ini yang saya butuhkan, saya senang jika saya dapat bermanfaat sebanyak-banyaknya untuk orang lain. 

Untuk sampai di tahap ini (tahap dimana saya tidak lagi menganggap bahwa berkecimpung di dunia pendidikan adalah suatu masalah) tidaklah mudah, butuh keyakinan pada diri sendiri bahwa memang ini yang terbaik. Saya sudah bulatkan tekad bahwa apapun pekerjaan saya nantinya, itu tidak akan keluar dari jalur saya sekarang, pendidikan. Berapapun gajinya bukan yang terpenting, yang terpenting adalah kenyamanan saat bekerja. Saat saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah pun, saat itu saya berdoa, “Kalau memang yang terbaik maka mudahkanlah...” dan saya pun ternyata diluluskan oleh Allah pada tes penerimaan. 

Insha Allah saya akan fokus dan bekerja keras untuk bisa bertahan di dunia pendidikan. Anak-anak Indonesia membutuhkan saya. Saya yang secara langsung diberi amanah untuk mau mengabdi, untuk mau diberikan tanggung jawab cukup besar untuk mewarnai pendidikan Indonesia. Saya tahu sebenarnya keberadaan saya di dunia pendidikan ini pun adalah suatu masalah namun sekarang rasanya sudah berbeda. Ketika saya menikmatinya, saya akan ganti masalah ini menjadi suatu amanah yang harus dinikmati dan disyukuri juga ditekuni. Semoga saya bisa.