Rosmalinda Nurhubaini's. Literally a nous of my random thought.
Posts // About
// Twitter // Tumblr

August 07, 2015

#DAY17 Something that you're proud of

I’m so proud of being an Indonesian! Dibalik semua carut marut pemerintahannya, korupsi yang kian bertebaran, infrastruktur yang masih belum merata, sumber daya alam yang banyak dieksploitasi, banyak manusianya yang masih mementingkan diri sendiri, dan sejuta masalah lainnya. Tapi percayalah, Indonesia itu insha Allah jadi negara teraman dan teramah di dunia. Dari semua warga negara asing yang pernah saya temui (saat saya masih aktif di organisasi X) semuanya mengatakan kalau orang Indonesia itu so lovable and very easy going, “Indonesia people is sooo kind, really a heartwarming!Some of their said. Well said, isn’t it?

Ditambah lagi sebagai seorang muslim, saya merasa sangat aman menjadi orang Indonesia dan tinggal di Indonesia, dimana bebas beribadah dimanapun, bebas berjilbab, makanan bersertifikat halal bertebaran dimana-mana, masjid bertebaran dimana-mana, dan toleransi antar umat beragama yang cukup baik. Jauh diluar kondisi saya sebagai muslim yang tinggal di negara mayoritas muslim, satu hal lain yang patut dibanggakan di Indonesia adalah beragam perbedaan yang ada didalamnya tidak menjadikan negara ini terpecah-pecah. Padahal secara geografis, Indonesia yang merupakan negara kepulauan sangat rentan akan hal tersebut. Belum lagi perbedaan budaya, bahasa, agama, suku, adat. Namun ternyata kekayaaan dalam keberagaman itu tidak jadi penghalang namun justru menjadikan pemersatu yang tidak dimiliki oleh negara lainnya. Feeling proud enough?
  
Berbicara tentang Indonesia, beberapa hari yang lalu saya pinjam satu buku dari seorang teman jurusan pendidikan sejarah yang berjudul A Bandung Connection karya Dr. H. Roeslan Abdulgani. Buku ini bercerita tentang perjuangan tokoh-tokoh pemerintahan Indonesia (khususnya Pak Roeslan sendiri) demi terselenggaranya Konperensi Asia Afrika dimana saat itu kondisi Indonesia baru 10 tahun berdiri sejak kemerdekaan. Saat itu Pak Roeslan sendiri sedang menjabat sebagai sekjen departemen luar negeri, yang jadi orang kepercayaan menlu Sunario, yang juga sudah dapat dipastikan memiliki peran yang sangat besar dalam penyelenggaraan KAA. Dari buku itu saya banyak banyak belajar bahwa betapa para pemuda dahulu begitu gigih memperjuangkan hak dan martabat Indonesia di mata dunia. Bukan hal yang mudah membuat suatu konferensi dimana 2 benua besar terlibat didalamnya, negara yang baru merdeka sebagai penyelenggaranya, dan ditambah kondisi internasional yang saat itu pun sedang dirundung beberapa masalah. Tapi ternyata orang-orang pemerintahan Indonesia bisa melakukannya. Bisa mengusung misi solidaritas antara negara Asia-Afrika untuk menjadi power baru sehingga bisa dipandang dunia, “Let a New Asia and a New Africa be born” begitu kata Soekarno dalam sambutannya pada pembukaan KAA yang berhasil membuktikan bahwa Indonesia bisa menjadi negara yang mendukung kesetiakawanan demi kemerdekaan dan keadilan negara-negara Asia-Afrika. 

Meskipun buku ini hanya menceritakan perjuangan KAA yang dimana mungkin hanya 0,sekian persen dari perjuangan bangsa Indonesia dalam meniti karirnya sebagai negara namun tak henti-hentinya betapa bangganya saya pada tokoh-tokoh perjuangan nasional Indonesia, yang sebagaimanapun pandangan orang lain terhadap Indonesia mereka tetap dengan kuat dan gigih memperjuangkan haknya. Betapa bangganya juga saya terhadap negara saya sendiri, bisa dilihat Indonesia tidak pernah menjajah negara manapun kan? Indonesia bebas dari titel imperialisme dan kolonialisme dan hal itu yang patut kita banggakan.

Lalu sekarang kita sebagai jiwa muda harus berbuat apa? Sudah berbuat apa? Silakan diresapi dan ditanyakan pada diri kita masing-masing.

Sejak membaca buku itu, ada satu hal yang saya renungkan bahwa Indonesia tidak seburuk yang kita bayangnya. Bolehlah kita berkeluh kesah dengan semua kondisi Indonesia saat ini tapi sudah sejauh mana pula kita menghargai kinerja para pendahulu kita, meyakini bahwa sedikitnya pasti masih ada orang bersih di pemerintahan kita, dan masih banyak hal yang dapat kita lakukan untuk bermanfaat di negeri dari sekadar kecewa terhadap keadaan yang sudah terjadi. Dan dari buku itu pula, saya jadi tertantang untuk baca buku sejarah lainnya, untuk tahu bagaimana keadaan di masa lalu, untuk belajar dari sikap dan cerita orang dulu, dan untuk tidak memahami suatu keadaan setengah-setengah. (Big thanks to Ibah untuk semua pengaruh buku-buku sejarahnya!)

Oh ya di buku itu ada kata pengantar yang dibuat oleh Pak Roeslan Abdulgani, yang isinya sungguh sangat sejuk dan menampar jiwa yang kering ini. Benar-benar pesan yang dibuat khusus untuk para pemuda penerusnya untuk meneruskan perjuangannya demi bangsa Indonesia.

Saya tidak mau menggurui generasi muda.
Tetapi harapan saya kepada generasi pendatang yang akan berkecimpung di abad ke-21, hendaknya siap-siap menghadapi tantangan-tantangannya yang tentu berbeda dengan abad ke-20. Yaitu abad saya, abad yang penuh gejolak, dimana seperti yang pernah saya kemukakan, bahwa siapa yang mendambakan kehidupan tenang, tidak berhak lahir pada abad ke-20.
Generasi muda kita dan generasi mendatang akan hidup di abad ke-21. Mereka harus pandai membaca pertanda zaman sekarang dan zaman mendatang. Mereka harus pandai menemukan cara-cara mengatasinya agar negara dan bangsa tetap jaya, dan rakyatnya mengalami peningkatan dalam ikhtiar mencapai masyarakat adil dan makmur. Jangan terperosok ke dalam kelengahan.
Lihatlah apa yang telah diperbuat oleh Bapak-bapak kalian dulu. Mereka tetap berpegang kepada sumber moral, yakni ajaran agama dan ajaran leluhur. Saya selalu bilang kepada generasi muda bahwa mereka tidak perlu dan tidak harus meniru kondisi kami di masa perjuangan, karena jauh berbeda. Tapi tirulah semangatnya.
Saya juga selalu ingat ucapan guru saya, Jan Ligthard, yang berkata:
Jadikanlah anak-anakmu berjiwa semerah matahari terbit
Ia harus berani hidup, berani menghadapi tantangan
Karena hidup ini perjuangan
Ada pasang, ada surut
Jangan takut pada kesulitan
-Dr. H. Roeslan Abdulgani, A Bandung Connection