Literally a nous of my random thought.
Posts // About
// Twitter

July 15, 2018

Karena enggak ada yang enggak mungkin

Beberapa hari ini Indonesia sedang berbahagia karena salah satu atletnya, Lalu Muhammad Zohri memenangi kejuaraan sprint tingkat dunia. Yang tadinya tidak tau menahu siapa Zohri pun jadi mengenalnya. Seorang siswa SMA yatim piatu yang berasal dari keluarga sederhana di Nusa Tenggara Barat. Aku sempat membaca beberapa artikel dan thread di Twitter yang menceritakan bagaimana perjuangan Zohri hingga bisa menjadi juara dunia. Enggak gampang sudah pasti. Dengan segala keterbatasannya namun Zohri tetap mau berusaha keras. Demi membuat orangtua dan keluarganya bangga.

Indonesia pun bangga. Aku pun merasa sangat bangga pada Zohri dan anak muda lain yang juga mau berjuang keras layaknya Zohri. Padahal mereka tidak memiliki social privilege. Pernah dengar? Yaitu suatu keadaan yang cukup atau bahkan berlebih yang memang sudah pasti dimiliki secara cuma-cuma. Seperti misalnya ada anak yang bisa kuliah ke luar negeri. Ya wajar bisa karena dia memiliki social privilege itu. Orangtua kaya yang mampu membiayayai, atau kalaupun dengan beasiswa dia tidak harus berjuang sekuat tenaga karena memang pendidikannya selama ini difasilitasi dan didukung oleh sekolah yang baik, teman-teman yang suportif dan kompetitif, guru-guru yang berkualitas. Semuanya serba mendukung keberhasilan. Anak-anak yang memiliki social previlege secara tidak langsung dimudahkan untuk mencapai apa yang diinginkannya. 

Tapi sementara itu pasti kalian sering mendengar seperti ini juga, 

“Wajarlah dia lulus tes masuk universitas A, dari SD udah ikut bimbel. Bimbel mahal pula.” 

“Wajarlah dia bisa sukses bisnisnya. Bapaknya kan direktur A. Dimodalin dulu.” 

Hal ini sering dilontarkan untuk siapapun yang berhasil dan punya social privilege. Tidak perlu merasa diremehkan justru harus dibuktikan bahwa privilege yang dimiliki bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya. Seperti yang pernah aku baca:  your job is to be aware of your privilege. Use this particular privilege to do the best and achieve all the great things. Karena itu beruntunglah kalian yang diberkahi dengan kemudahan yang enggak dimiliki semua orang. Ini yang selalu ku ingatkan juga pada murid-muridku kalau mereka sedang menurun motivasi belajarnya. Aku ingatkan bahwa mereka hanya perlu belajar giat saja, kemudahan yang diberikan oleh orangtua jangan justru malah membuat bermalas-malasan. Setidaknya mereka tidak perlu memikirkan uang, mainan, makanan, liburan. Semuanya disediakan berlebih oleh orang tua tanpa kekurangan, sekolah bagus, bimbel bagus, pakaian layak. Sia-sia rasanya jika kemudahan ini tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya. 

Lalu bagaimana dengan anak yang memang tidak memiliki social privilege seperti halnya Zohri? Sudah dipastikan anak-anak seperti ini harus berusaha lebih-lebih keras lagi untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Mereka harus berjuang lebih kuat, lebih semangat, lebih persistent. Sesuatu yang harus lahir dari jiwanya sendiri karena mereka tidak mendapat dukungan dari luar. Memang rasanya sangat sulit dan tidak mungkin mengejar ketertinggalan dari mereka yang sudah memiliki privilege. Tapi lihatlah Zohri. Tidak ada yang tidak mungkin. Bahkan sudah banyak rasanya terlahir orang-orang sukses justru berasa dari keluarga pas-pasan. Cerita mereka menyentuh, tidak butuh setahun-dua tahun. Butuh proses. Butuh kerja keras. Apa yang dibutuhkan di awal? Keinginan, kekuatan, dan berani melakukan. Hingga jika akhirnya berhasil mendapatkan apa yang diinginkan, kepuasan dan kebanggaan akan lebih terasa. Lebih dihargai lebih dinikmati dan disyukuri dibandingkan dengan yang sudah memiliki privilege.

Dari cerita mengenai Zohri ini kita bisa belajar bahwa keterbatasan bukan halangan, adanya kemudahan harus dimanfaatkan. Betapa banyak anak Indonesia termasuk aku yang mungkin memiliki kemudahan hidup lebih dari apa yang dimiliki Zohri lalu apa yang sudah dilakukan? Sudahkah memberikan manfaat untuk orang lain? 

July 12, 2018

Living As A Teacher

Tahun 2018 ini Alhamdulillah sudah tiga tahun menjadi seorang guru. Enggak semuanya bikin bahagia, enggak juga semuanya bikin sedih. Namanya juga hidup kan ya. Tapi tetep terus dijalani karena inilah yang sudah dipilih. Seru enggak sih jadi guru? Kalau ditanya ini, aku langsung jawab: SERU. Ini beneran. Aku yang dulu enggak minat sama sekali jadi guru, masuk kuliah pendidikan aja karena disuruh mama, sekarang bisa jatuh cinta dengan profesi mengajar. 

Kenapa bisa jatuh cinta? Karena ternyata seseru ini loh jadi guru. Bertemu siswa-siswa yang menginspirasi. Bertemu mereka tiap hari dengan segala canda tawanya dan dengan segala kehidupan mereka yang membuatku banyak belajar. Belajar memahami, belajar menghargai, belajar ikhlas, belajar untuk selalu menjadi manusia paling bersemangat apapun kondisinya, dan yang paling terasah adalah belajar sabar. 

Begitu banyak hal yang berkembang dari diri ini setelah menjalani hari-hari sebagai guru. Selalu muluskah? Enggak juga. Banyak kok godaannya, banyak cobaannya. Awal-awal ngajar sering banget nangis pulang ngajar karena salah konsep pas ngajar, enggak bisa jawab soal (padahal soal level SMA doang), cobaan siswa-siswa di kelas yang sangat beranekaragam, cobaan orang tua siswa, belum lagi cobaan dari diri sendiri, males lah, capek lah. Makanya enggak sedikit teman-temanku yang akhirnya beralih profesi. Emang sesulit itu loh jadi guru. Jadi figur yang harus selalu baik di depan siswa. Hingga aku memanggil mereka netizen. Karena memang kadang mulut mereka udah kaya netizen. Mengomentari dandanan, pakaian, cara kita bicara, hingga medsos kita. Tapi yang paling sulit mungkin menerima kenyataan tentang gajinya ya. Dengan sekian banyak tanggung jawab intelektual dan moral yang diberikan untuk seorang guru tapi enggak diimbangi dengan gajinya. 

Oke orang bilang bahwa menjadi guru itu pengabdian. Memang begitu adanya. Sadar enggak sadar semua guru-guru muda memang sedang mengabdi dengan gaji seadanya. Bahkan untuk saat ini gajiku sebagai guru enggak akan bisa mengimbangi gaji teman-teman semua yang bekerja di perusahaan. Belum lagi adanya social gap lain. Betapa merasa jadi orang yang roaming banget saat kumpul dengan teman-teman dengan karir lain, disaat kehidupanku isinya siswa lagi siswa lagi. Mereka udah mengobrol masalah perusahaan yang hanya dimengerti oleh orang-orang yang memang bekerja di perusahaan, bukan di sekolah. Disaat teman-temanku membicarakan bonus, askes berkelas, kpr rumah, beli mobil, investasi, meeting di hotel mewah, beli ini beli itu yang bermerk. Aku yang hanya sebagai guru hanya bisa senyum karena gajiku belum sampai segitunya, belum pernah dapat bonus, bahkan belum sampai bisa nabung untuk nyicil mobil.

Sampai sekarang aku masih harus pintar-pintar atur uang bulanan supaya semua bagian keinginan ada alokasinya. Makanya banyak teman-teman guru lain yang akhirnya menyerah dan memilih karir lain selain mengajar. Karena mengajar itu, lama kaya katanya. Aku pun berpikir seperti itu. Makanya kuusahakan cari tambahan uang lain, mengajar bimbel lah, privat, jualan gambar. Ini semuanya demi kehidupan yang lebih layak aja. Kecuali aku ngajar di sekolah internasional kota besar sebagai guru tetap, banyak proyek, plus punya jabatan penting juga di sekolah. Mungkin bisa juga aku ngajar di sekolah sebagai PNS, sudah sertifikasi, lalu sorenya ngajar bimbel, malamnya ngajar privat. Mungkin aja dapat gaji setara karyawan perusahaan, masih setara karyawan loh ya, harus usaha lagi kalau untuk setara manajer. Kalau hanya mengajar di satu atau dua tempat dalam masa kerja masih di bawah lima tahun ya pas-pasan. Social pressure pun akan terus terjadi. 

Tapi selama dua bulan libur ini pemikiran tentang social pressure itu akhirnya bisa mereda. Betapa waktu dua bulan ini aku gunakan untuk di rumah tanpa harus cuti, menemani orang tua yang memang sehari-hari hanya tinggal berdua karena aku bekerja di Bandung. Mungkin waktu seperti ini tidak akan dirasakan teman-teman yang bekerja sebagai karyawan. Belum lagi rasa kepuasaan dan kebahagiaan mengajar yang tidak akan bisa digantikan dengan uang. Betapa lingkungan mengajar yang dipenuhi oleh optimisme dan kebahagiaan siswa tidak bisa ditemukan di pekerjaan lainnya. Tidak akan ada yang bisa menggantikan rasa bersyukur dan bahagianya seorang guru saat melihat siswanya berhasil, berbahagia dengan pencapaiannya, lalu mengucap dengan mata berbinar bahagia, “Terimakasih banyak ya, Bu.” Honestly, we are nothing for them. We only support them. They did the best just because they are. And when they really thanks us, wholeheartedly, it can touch our heart, keep shining in our heart, and being an affection. Ini yang membuatku bersyukur dengan apa yang sudah kudapatkan hingga sekarang. 

Aku pun sadar. Hitungannya ya sama saja. Uang dari gaji dan bonus yang banyak itu karena memang teman-temanku bekerja hingga larut malam, kerja keras bagai kuda. Belum lagi tekanan dari atasan, while pekerjaan pun tidak berhenti datang karena target perusahaan. Untuk libur panjang pun harus dibatasi oleh waktu cuti. Jadi bisa dibilang, we can’t hold two things together, money and time. Yang gajinya selangit mungkin enggak banyak me time-nya, enggak banyak waktu untuk keluarganya, yaa meskipun pastinya mereka bahagia juga dengan pekerjaannya. Sementara jadi guru, meskipun gaji pas-pasan bisa punya lebih banyak waktu untuk diri sendiri dan keluarga.

Padahal sebenernya guru pun bisa-bisa aja banyak uang, pagi mengajar sekolah, sorenya mengajar bimbel, malam privat, weekend bisnis. Aku pernah merasakan hal ini, penasaran. Jujur uang yang didapatkan memang mencapai target yang kuinginkan tapi sungguh capek luar biasa. Hingga akhirnya aku berpikir jadi sebenarnya apa yang dicari? Ini yang menjadikan aku semakin banyak bersyukur dengan liburanku saat ini. Bersyukur masih bisa menghabiskan liburan dengan orangtua, menemani mereka di rumah, belajar banyak hal, bertemu banyak teman-teman. 

So it’s not only about how much your salary for a month. Karena semuanya ada bahagianya masing-masing. Ada porsinya masing-masing,   

June 25, 2018

Ada Yang Terlupakan

Suatu malam di bulan Ramadhan kemarin, setelah selesai tilawah, aku duduk di sofa ruang tengah dengan masih bermukena dan masih pegang Al Quran. Ada mama disitu lagi duduk juga. Rencananya mau baca terjemahan dari surat Al Fath yang emang baru aja selesai dibaca. Aku penasaran dengan terjemahan surat ini karena beberapa bulan yang lalu mama pernah bilang kalau ingin cepat naik haji bisa dengan menghafal surat Al Fath. Arti surat ini “kemenangan” dan setelah ku baca terjemahannya ternyata isinya ada mengenai perjanjian Hudaibiyah. Terus karena ada mama disitu aku pun tanya. “emang perjanjian Hudaibiyah itu tentang apa sih, Mah? Ini sampai ada di Al Quran.” Aku dulu sering dengar cerita tentang perjanjian Hudaibiyah ini apalagi saat SMA belajar sejarah Islam tapi itu delapan tahun lalu. Sekarang lupa. Dan Mama pun lupa. 

Akhirnya mama bawakan buku Sirah Nabawiyah. Aku disuruh baca. Agak lama karena cerita mengenai perjanjian Hudaibiyah ini lumayan panjang. Setelah ku baca ternyata perjanjian Hudaibiyah ini adalah perjanjian antara Rasulullah dengan Quraisy yang telah memegang Mekkah sehingga Rasulullah dan pengikutnya tidak bisa menunaikan ibadah haji karena dilarang memasuki Mekkah. Akhirnya Rasulullah pun bertekad untuk tetap menuju Mekkah untuk menunaikan ibadah haji namun ternyata Quraisy menganggap Rasulullah akan menyerang mereka dan mengajak perang. Akhirnya sebelum sampai di Mekkah, tepatnya di daerah Hudaibiyah, rombongan Rasulullah ditahan oleh utusan Quraisy. Disitu terjadi perjanjian bahwa tujuan Rasulullah bukan untuk perang namun murni untuk beribadah haji. Akhirnya utusan Quraisy mempercayai dengan syarat Rasulullah dan pengikutnya baru diizinkan untuk menunaikan ibadah haji tahun depan. Saat itu, Rasulullah setuju kecuali Umar RA. Umar RA merasa kecewa dan tidak sabar jika harus menunggu setahun lagi untuk bisa memasuki Mekkah. Hingga akhirnya Allah menurunkan wahyu kepada Rasulullah yaitu Surat Al Fath berupa janji Allah bahwa Rasulullah dan pengikutnya akan memeroleh kemenangannya dengan memasuki kota Mekkah dan dapat kembali menunaikan ibadah haji.  

Setelah membaca sirah nabawiyah tersebut aku pun tersadar mengapa mama bilang harus hafal surat Al Fath untuk bisa naik haji. Semuanya belajar dari sirah nabawi Rasulullah. Masya Allah. Lalu mama bilang, “Tuh kamu daripada baca novel tebel-tebel (beberapa hari kemarin aku memang lagi baca novel Kazuo Ishihiro) mending banyakin baca sirah. Ya enggak apa apa baca novel tapi sirah nabawiyah jangan dilupain.”

Ternyehak. Iya bener. Cerita Harry Potter seri 1-7 aja hafal, buku Dee Lestari, Pram juga tebel tebel dibaca. Kok ini kisah tentang Hudaibiyah aja enggak tau. Malu. Mari kita jadikan diri ini sebagai muslim yang selalu mengingat Allah dan Rasulullah. Banyakin baca lagi tentang Islam. Seperti kata ustadz di kajian @terangjakarta, Islam itu tentang pelajaran bukan pengalaman. Selalu upgrade Islam kita. Banyakin baca, pelajari Islam selalu hingga akhir hayat.  

June 05, 2018

We life, we learn

Tulisan ini terinspirasi dari what was happening to one of influencer, Gitasav, few days ago. At first I didn’t know anything till some of my friend on twitter blowed it up and even made a thread. So i was curious. I spent on everything related to those two. I read Gita’s post on blogspot, even I listened to her speaking on her ig story. And of course I wouldn’t forget to read what’s on Helmi’s. 

I guess you all know what happen ya so I won’t tell who is Helmi and even Tristan. 

After knowing what happened so I guess it was only the power of social media which makes everything worse. Saat tau masalah mereka, aku merasa “Wah bisa sejauh ini ya”. Both of them makes it more complicated juga sih. Oke I know, Gita is one of popular and powerful influencer who got a sexual harassment yang memang sangat tidak sopan untuk diucapkan. Gita tried to speak up, dia mengutarakan kebenaran bahwa sebagai perempuan jangan hanya diam saja saat dapat (even if only) a text that contains sexual harassment. Iya aku setuju. Sebagai perempuan kita memang ada kewajiban untuk mengingatkan mereka untuk menjaga mulut dan tulisan menjijikan mereka seakan akan wanita adalah objek kesenangan para pria. Tapi yang salah bahwa Gita mungkin khilaf bahwa dia memiliki ratusan ribu followers yang tentu akan turut serta di dalam masalahnya. Hal inilah yang menjadikan masalah makin besar. Mungkin maksud Gita ingin memberikan pelajaran pada si pemilik akun Tristan. Gita marah. Gita tidak mau sexual harassment ini jadi hal yang disepelekan makanya dia speaking up. Tapi ternyata akun Tristan itu palsu sehingga ada Helmi yang merasa dirugikan juga. Disaat seperti ini lagi-lagi medsos dan kepopuleran bikin suasana makin panas. Helmi yang juga kesal akhirnya menumpahkan kekecewaaannya pada Gita. Gita makin tersulut emosi karena Helmi membuat masalah semakin besar. Helmi merasa dirugikan reputasinya. Sampai akhirnya Helmi turut membagi masalahnya di Instagramnya yang jika dilihat memang menyudutkan Gita. 

Sampai sekarang aku enggak tau gimana drama mereka berdua berakhir. Semacam tidak mau mengikuti drama mereka sih karena tentunya akan ada banyak spekulasi. Di sisi Gita, banyak yang bilang bahwa Helmi cari sensasi biar naik panggung. Tapi di sisi Helmi, mereka bilang Gita terlalu lebay, tidak sopan, dan terlalu clumsy untuk membagikan masalahnya di medsos. Di home twitter-ku rata-rata membela Helmi. Hingga akhirnya Gita menutup akun twitternya (mungkin untuk sementara untuk away for a while gitu). Akhirnya tentu hal ini akan banyak spekulasi karena kita tidak tau masalah yang sebenarnya. Jadi takut juga kan kalau kita pro salah satu pihak eh ternyata itu salah. 

Disini aku belajar banyak banget dari kejadian antara Gita dan Helmi. Siapapun Helmi, siapapun Gita mungkin semuanya akan terlihat lebih wajar jika kedua pihak tidak terlalu membawa publik ke dalam masalahnya, enggak pakai emosi, enggak ada udang dibalik batu. Tindakan Gita memang sudah sangat benar dengan speaking up mengenai sexual harrasment yang dialaminya. Perempuan gak boleh diam. Tapi ternyata masih saja ada yang memanfaatkan situasinya? Padahal semua masalah dengan manusia bahwasanya bisa diselesaikan lewat komunikasi (ini masalah Gita - Helmi ya, kalau akun Tristan sih emang harus dibawa ke kantor polisi supaya diborgol mulutnya), tinggal kita yang settle how it goes seperti bicara baik-baik, sopan, dan ajak diskusi tanpa ada kemarahan.  Kita semua tau bahwa menyelesaikan masalah dengan marah justru akan memperburuk suasana. Pun di kehidupan ini akan selalu ada orang yang memanfaatkan situasi, jadi seharusnya kita perlu berhati-hati. Tidak semuanya satu frekuensi hati dan pikiran dengan kita. Kita yang harus belajar menyesuaikan karena kita enggak bisa menyuruh dan mengontrol apa yang di luar kita. Memang susah sekali, aku yakin, harus super sabar, kontrol emosi. Padahal toh kita manusia ya, selalu ada khilafnya. Seperti yang Gita bilang bahwa dia pun manusia bisa marah dan bisa memaki-maki. 

Jadi intinya kita semua belajar bahwa tidak semua orang akan memahami apa yang kita pahami. Tidak semua masalah harus dibagikan pada orang lain karena kita tidak tau orang-orang seperti apa yang akan kita hadapi. Kita harus siap akan adanya orang yang memperkeruh suasana. Jika ini terjadi sebisa mungkin harus sabar dan jangan jadi menyulitkan orang lain, maafkan. Sesimpel itu ya. Biarkan ada Allah yang menilai. Namanya juga manusia kan ya bisa berbuat salah. Kita bukan malaikat toh. Makanya gimanapun memang berbuat baik tidak akan selalu mudah. Jika mudah, surga tentu bisa dimiliki oleh semua orang. Bukan pemenang. 

Nb: Mohon maaf apabila ada yang merasa tersinggung dengan tulisan ini. Disini aku enggak mendukung siapapun tidak pula menyalahkan karena aku enggak tau masalahnya sama sekali. Disini aku hanya belajar dari masalah Gita dan Helmi dan mencoba menuliskan my point of view aja. Aku jadi berpikir bahwa enggak gampang ya jadi seorang influencer. Apapun yang dilakukan akan menjadi sorotan. Begitupun kita sebagai netizen biasa. Bersikaplah sepositive mungkin dimanapun kita berasa, berhati-hatilah menanggapi suatu masalah terutama masalah di medsos. Meskipun kita bukan siapa-siapa, belum bisa jadi influencer, seenggaknya kita tidak sembarangan menggunakan medsos sehingga tidak merugikan orang lain. Itu saja cukup. 

May 22, 2018

Literally a basic manner?

Kita tau kehidupan ini enggak akan bisa dilalui sendirian. Sekaya dan sepintar apapun kamu pasti selalu ada hal-hal yang enggak akan bisa kamu handle sendiri. Terutama di rush hours, kita enggak mungkin bisa ngerjain banyak pekerjaan satu waktu padahal semuanya harus selesai Kalau sudah begini? Pasti meminta bantuan orang lain. Well, aku mau cerita dikit, jujur, aku orangnya sangat enggak enakan. Bahkan untuk minta bantuan orang lain aja sangat enggak enakan. Kalo emang sekiranya masih bisa dikerjakan sendiri yaaa kerjakan sendiri dulu. Karena dengan begitu aku merasa bebas, enggak ada hutang budi kepada seseorang. 

Mungkin ini semua karena didikan yang orangtuaku berikan. Orangtuaku yang memang selalu hidup mandiri, jauh dari keluarga besar selepas mereka menikah otomatis bikin mereka lebih independent dibanding saudara-saudaranya yang lain. Inilah juga yang akhirnya terjadi padaku. Hingga akhirnya menjadikanku orang yang sangat sungkan untuk meminta tolong. Kalaupun memang terpaksa maka aku akan selalu ingat kebaikan orang yang sudah menolongku itu lalu aku akan berusaha untuk mengembalikan kebaikannya selagi kubisa. 

Mungkin semuanya bisa bilang, “Yahh santai aja sih, Ca.” No, buatku hal seperti meminta bantuan orang lain bukan hal yang bisa dibawa santai. Setidaknya dengan menolong kita, dia sudah kehilangan waktunya untuk hal lain. Dia sudah mengorbankan sesuatu yang kita sendiri tidak tau sebesar apa. Masih bisa kita bilang hal itu adalah hal biasa yang bisa dibawa santai, disaat kita sudah merepotkan? 

Tapi nyatanya enggak semua orang berpikiran seperti itu ya. Selalu aja ada orang-orang yang bahkan saat meminta bantuan pun enggak beretika. Itu kadang yang buatku berpikir, apa mereka selalu ada waktu dan selalu bisa menolong orang hingga mereka pun enggak sungkan dan menggampangkan meminta tolong? Ada juga beberapa yang cuma bilang “terimakasih” dengan dinginnya dan setelah itu seems nothing happen between you and me gitu, bahkan untuk urusan meminta tolong yang pakai uang sekalipun. Aku mikir lagi, apa dia juga selalu tanpa pamrih saat menolong orang lain dan enggak mementingkan ucapan terimakasih? Hingga akhirnya dia pun menyepelekan ucapan itu ke orang lain yang dimintai bantuannya. 

I felt so sorry kalo emang ternyata because you feel that other’s help is nothing. Sayang banget kalo ada yang mikir begini. Kalopun emang kamu merasa, "It is not a big deal kali! Santai aja lah kalo emang orang enggak bilang makasih juga, apalagi mereka juga temen kita", tapi kan yaa when you asked for some help, then at least you should say thank you politely. Tulus. Bahkan ke teman sekalipun. Karena sesungguhnya, mungkin dibalik kita yang meminta tolong, dan dia mengiyakan, kita enggak tau gimana perjuangan dia untuk bisa menolong kita. So, say thank you and give the best feed back anytime you can. Ini menurutku basic attitude yang harus dimiliki semua orang. Belajar menghargai segala apapun yang sudah orang lain berikan pada kita. Sekecil apapun itu. If you can’t give them a money or something fancy as a grant, at least give them a good words. Berbuat baik itu nggak perlu mementingkan yang kita rasa gimana, tapi pikir juga apa yang akan mereka rasa. 

Jadi, sebenarnya apakah cukup dengan berterimakasih? Cukup. Karena sebenarnya sekecil apapun itu kalau memang niatnya baik, setiap pertolongan pasti akan diganti Allah SWT. He doesn’t sleep for sure. Tapi coba pikir, semiskin itukah kamu sampai cuma bisa bilang terimakasih? Minta tolong orang lain, you take their time, or maybe they money, but you only said “thank you.”? Oh man, shame on you!

Ayo kita perbaiki kebiasaan ini. Ini basic banget lho sebenarnya. Simpel kan ya tapi kalau enggak dilatih ya bakal keterusan minta tolong seenaknya tanpa sadar kalo itu jadi kebiasaan buruk dan menyedihkan. Remember this,

Do good. And good will come to you.

P.s: jadi sebenarnya kenapa sih nulis tentang ini? Yaa sebagai reminder juga supaya enggak jadi orang nyebelin. Minta tolong seenaknya dan habis itu bilang terimakasih dengan seenaknya juga. Sadly, I felt this often lately. Awalnya aku juga biasa aja. Banyak teman yang minta tolong legalisasi ijazah, minta cepet lah, minta kirim lagi by one night service lah, but after that, they only say, “Thank you, Ca.” Mereka enggak tau apa, legalisasi ijazah itu pake uang, kirimnya juga pake uang, harus bolak balik kampus untuk nyimpen dan ambil hasilnya. Kalo boleh jujur it really takes time. Tapi ya begitu. Enggak semua orang punya pikiran yang sama. Mungkin bagi mereka minta tolong semacam ini enggak seberapa. Iya memang biaya untuk legalisasi dan ongkir itu enggak seberapa, tapi seenggaknya show your good attitude, ask politely, and say thank you nicely. Kantor aja pada di Jakarta tapi sekadar bayar legalisasi dan ongkir pada sungkan. Maunya gratisan mulu nih emang mental orang-orang Indonesia. Okey then just forget it. Then it would be their false. Seenggaknya, we learn from it. Jangan pernah remehkan sekecil apapun pertolongan orang lain. Hargai.

May 16, 2018

Donor Darah di Bandung

Rencana donor darah dari sebulan yang lalu akhirnya bisa terlaksana hari itu. Itupun hasil memaksa diri sehabis ngajar. Dari pagi sebenernya enggak diniatin tapi pas selesai ngajar yang emang jadwal hari Sabtu itu selalu pulang 2 jam lebih cepet jadi kepikiran ingin donor darah daripada ditunda-tunda nanti mager lagi. Ini aja udah telat sebulan dari jadwal normal untuk donor darah (3 bulan sekali). Akhirnya pulang ngajar pun pergi ke PMI Kota Bandung di Jalan Aceh. Ekspektasinya sih PMI Kota Bandung biasa aja, bakal sepi, dan enggak akan terlalu lama nunggu kayak pas donor darah pertama di PMI Rangkasbitung.

Pas nyampe sanaaaa, gila sih itu PMI Kota Bandung udah kaya rumah sakit. Gede banget haha. Terus pas masuk ke gedung donor darah udah banyak banget orang yang mau donor. Mungkin karena sore hari di hari Sabtu. Mikir deh tuh apa cancel aja ya soalnya pasti lama banget nunggunya. Tapi tanggung juga karena udah sampai PMI. Akhirnya registrasi dulu deh. Aku ditanya udah pernah donor apa belum, ku jawab udah jadi tinggal menunjukkan kartu donor aja untuk pendataan. Bagi kalian yang pertama kali donor tinggal bilang belum punya kartu donor nanti akan dibuatkan sekaligus dicek golongan darahnya (bagi yang belum tau golongan darah) selanjutnya seperti biasa harus ditimbang berat badan, bb-ku 49kg!! (otomatis lolos untuk donor darah karena bb minimalnya 45kg, kalo kurang dari itu mohon maaf enggak bisa ikut donor). Senang banget pas tau bb jadi 49kg. Itu artinya bb-ku turun. Alhamdulillaaah karena 4 bulan yang lalu bb masih 51kg saat ditimbang di PMI Rangkasbitung. Entah timbangan PMI Bandung atau PMI Rangkasbitung yang salah atau memang bb-ku turun 2kg. Cewek yaa, turun BB 2 kg aja seneng minta ampun! Hft.

Setelah registrasi, aku pun nunggu antrian. Beda banget sistemnya sama waktu di Rangkasbitung yang semuanya dikerjain sama 1 orang lol tapi kalo di PMI Bandung setiap step ada yang ngerjain dan dipanggil satu-satu. Di step satu aja (cek tensi darah) nunggu lumayan lama tuh. Seperti biasa hal yang bikin deg-degan kalo dicek tensi. Terus beberapa hari ini sering begadang plus udah lama enggak jogging yang pasti ngaruh ke tensi. Pas lagi nunggu panggilan cek tensi darah, lihat kanan kiri banyak banget yang volunter ada yang sambil pacaran, suami istri, sendirian. Eh jadi tambah deg degan tuh pas tau yang duduk samping aku (cowok dan cewek pacaran gitu) ternyata cuma cowoknya aja yang bisa donor karena Hb si cewek terlalu tinggi. Tapi bismillah aja deh, kalo enggak lolos karena tensi yaa tinggal pulang (langsung jogging wqwq). Setelah nunggu 15 menitan akhirnya dipanggil untuk cek tensi, diceknya sama dokter langsung. Kemudian dokternya bilang

“Bagus nih tensinya…”

“Berapa dok?”

“130/80”

“Bisa donor dok?”

“Bisa…” Dalam hati bingung kok tensi 130/80 dibilang bagus yaa? Padahal biasanya tensiku 120/80. Ini dokternya gak salah nih? Antara percaya enggak percaya sekaligus agak kecewa karena ngerasa tensi segitu termasuk tinggi (tinggi versiku sih meskipun dokternya bilang bagus). Curiga ini emang bener karena lately sering begadang dan enggak pernah jogging lagi ??

Abis cek tensi akhirnya cek Hb, sempet ngobrol sama bapak petugas cek Hb nya. Beliau nanya donor pertamaku dimana karena ternyata warna kartu donornya salah. Seharusnya kartu pendonor golongan darah O itu warna biru muda sedangkan yang diberi PMI Rangkasbitung itu kartu warna pink yang sebenarnya kartu untuk pendonor AB. Akhirnya kartuku harus diganti lagi plus dicek golongan darah ulang. Untuk meyakinkan bahwa ini memang hanya salah kartu bukan salah tulis golongan darah. Untuk tes Hb aku lolos, karena Hb ku 12,3 dan harus menunggu panggilan selanjutnya untuk langsung donor darah. Ternyata habis cek tensi sampai ke panggilan donor itu enggak lama. Cuma sekitar 5 menit karena ternyata kursi donor darahnya banyakkkkkk.

Ada satu hal yang beda, dulu waktu donor di PMI Rangkasbitung enggak disuruh cuci tangan dulu langsung aja donor. Entah ini boleh enggaknya SOP donor yang begitu. Tapi di PMI Bandung, sebelum donor kita disuruh cuci tangan dulu. Lalu setelah itu langsung deh donor darah. Karena udah pernah donor darah, jadi ya biasa aja tuh rasanya enggak kaya yang pertama tegang banget. Ini masih sempet buka IG, bikin instagram story (si anak pamer lol). Daaan akhirnya setelah 10 menitan selesai juga deh donor darahnya. Pas keluar dari ruang donor, kartu donorku udah diganti dengan warna biru muda tapi jadinya tanggal donor sebelumnya enggak ditulis sedihhhhh. Tapi isoke laaah, yang penting jadi tau donor darah di PMI Bandung yang sangaaaaaaat beda dengan PMI di kotaku. Dulu pas ke PMI Rangkasbitung sepi bangetttt, pelayanannya hanya oleh 1 orang dengan kondisi ruangan yang jauh dari kata steril. Saat petugas PMI-nya ku tanya ternyata penduduk Rangkasbitung sangat jarang donor, otomatis semua rumah sakit di Rangkasbitung meminta stok dari PMI kota lainnya. Keliatan banget ya mana kota terbelakang dan mana kota besar yang penduduknya udah mulai melek bahwa donor darah itu penting untuk menolong sesama. Jadi ingat saat aku lagi nunggu donor aja pun ada anak 8 tahunan penderita kanker sama orangtuanya untuk ambil stok darah. Merinding lihatnya. Meskipun darahku cuma alakadarnya tapi semoga bisa membantu kesembuhan untuk mereka yang lagi berjuang untuk sembuh.

Alhamdulillah hari ini sukses donor darah. Asli deh bikin ketagihan. Berasa achievement banget kalo berhasil donor darah karena artinya kita sehat. Dengan donor darah jadinya kita bisa kontrol minimal tekanan darah kita.

Pelajaran hari ini, ayo hidup sehat lagi. Jangan begadang, harus start jogging lagi, makan buah setiap hari, dan banyak minum. Tensi saat donor darah selanjutnya harus 120/80!

November 24, 2017

Ups and Downs. That's life.

Jadi beberapa hari yang lalu ada seseorang di twitter bilang begini, “Instagram isinya orang kaya semua ya.” Ya begitu kan. Media sosial memang tujuannya untuk sharing kebahagiaan. Ibaratnya, ngapain juga sharing sedih, duka –at least you’re a public figure yang ditunggu-tunggu update kehidupannya oleh banyak orang apapun jenis beritanya. Jadi alasan itulah yang membuat beberapa temanku agak ogah main instagram lagi. Bikin panas hati katanya. Kok lihat kehidupan orang kaya lancar dan bahagia terus. Aku pun sempat berpikir begitu, malas ya main Instagram yang isinya orang pamer semua. Tapi ya mau gimana lagi, masih aja buka Instagram. Toh Instagram juga masih bermanfaat untuk dagang, lihat-lihat video lettering and others painting and watercolor technique related to my current bussiness. 

Tapi kita semua tahu bahwa kehidupan ini selalu berputar. Semuanya berdampingan. Yin and Yang, siang malam, gelap terang, baik buruk, sedih bahagia, untung rugi. Begitupun kehidupan mereka para pelakon kebahagiaan di Instagram. Aku yakin mereka enggak melulu bahagia. Kesuksesan selebgram tentu hasil usaha. Kesuksesan online shop tentu juga hasil kerja keras. Mungkin sebelumnya mereka pun sempat gagal, sakit hati, penipuan, banyaknya haters, patah hati. Intinya sama aja dengan kita kan? Kita sama sama manusia. Hanya saja hal dibalik foto kebahagiaan itu tidak kita tahu sepenuhnya. Oh bahkan sedikit pun kita tidak tahu. Jadi sebenarnya enggak perlu ada iri, dengki. Biarkan mereka merasa bahagia dengan caranya. Kita pun harus bahagia dengan cara kita.

Ya mungkin sulit ya untuk stick to “I’m busy enjoying my life, darlingphrase, gayanya @aMrazing tanpa membandingkan dengan kehidupan orang lain yang jelas-jelas (mungkin) lebih dari kehidupan sekarang kita sekarang, which is potentially bisa bikin kita enggak bersyukur dan beriri hati. Tapi seenggaknya kita harus yakin bahwa enggak perlu iri, gak perlu membanding-bandingkan. Setiap orang itu kehidupannya beda-beda, ujiannya beda-beda, bahagianya beda-beda.

Jadi ingat hasil riset kecil-kecilan dari kehidupan teman-teman sekitarku yang mungkin dipandang bahagia oleh orang-orang yang sekilas mengenal mereka.

Ada yang sekarang keliatan bahagia banget di kehidupannya, kuliahnya, pacarnya (yang katanya bakal jadi calon ibu anak-anaknya, cantik, lulusan S1 dan S2 universitas terbaik di Indonesia), kerjaannya pun udah settle banget. Tapi kalian gak tau kalau dia sempat jatuh sejatuh-jatuhnya karena diputusin mantannya back then. Kuliah S2-nya di Unpad sampai terhenti. Kehidupannya sempat kacau saat itu. 

Ada temanku cantiiik sekali dan sudah menikah dengan pria yang memang sangat dia kagumi. Heaven on earth kata banyak orang. She got what she really want. Kebahagiaan apa lagi yang dicari oleh wanita di dunia? Setelah menikah, mereka berdua ke Inggris karena temanku mendapat beasiswa untuk kuliah S2 disana, lalu temanku hamil but then life doesn't run as she want. It was broke my heart too setelah tau bahwa bayinya meninggal di Inggris. When she has to deal with the hardest part of her life, but her family wasn't there. Can you imagine?

Ada juga temanku yang juga S2 di luar negeri. Gak keren gimana? Tapi sebelumnya dia pernah cerita sampai nangis-nangis di kosanku, gimana rasanya dia tertindas dan sakit hati selama setahun oleh pertanyaan kepo sekitarnya “Kerja dimana?” karena faktanya dia masih nganggur meski sudah satu tahun lulus S1 demi mengejar LPDP yang juga belum pasti. Kita enggak tau gimana dia sebegitu hopeless-nya juga berulang kali tes IELTS (yang enggak murah) untuk hanya dapat skor minimal dari persyaratan. 

Temanku yang lain juga akhirnya lolos LPDP, setahun di Indo setahun di luar negeri. Pasti bangga dan bahagia. Tapi kalian enggak tau kalau sebelumnya dia sempat ditolak LPDP, dia rela berjuang di Pare, jauh dari orangtua, meyakinkan orangtuanya untuk membiayai segala persiapannya untuk LPDP, 2 round. Setelah pengumuman kedua dan dinyatakan lolos, ayahnya sakit. Plot twisted.

Kita mungkin sering bilang, "Enak ya jadi dia, hidupnya udah enak, bahagia terus keliatannya." Ya  itu karena kita enggak tahu ada bagian kesusahan yang harus dia hadapi sebelumnya, ada usaha yang sudah dia lakukan lebih dari apa yang kita lakukan. Dan itu pasti enggak gampang. Percayalah, there’s no easy way out. Enggak ada kehidupan yang mulus. Enggak ada kehidupan yang bahagia terus. Semuanya gak akan remain the same. Enggak ada yang happy terus, atau sedih terus. Yang harus kita lakukan ya maintaining our own happiness, banyakin bersyukur karena semuanya juga akan melalui ujiannya masing-masing, akan bahagia masing-masing. Tinggal berdoa dan berusaha untuk melalui ujian itu, lalu getting up your life.
Yoona SNSD sebelumnya ditolak 200 casting, buku Harry Potter butuh 10 tahun untuk go publish, album pertamanya IU gagal total. Masih banyak. Masih banyak cerita lain dibalik kebahagiaan atau kesuksesan seseorang.
Everything happen through ups and downs. And that’s life.  

Ps. untuk teman-teman yang tidak kucantumkan namanya (yang mungkin someday membaca ini dan merasa ini adalah cerita kalian), terimakasih banyak untuk semua cerita inspirasinya. Aku izin berbagi cerita kehidupan kalian ya.

November 09, 2017

Thought I Write

Things & Thought I Drew When I was Bored by Naela Ali
Sebulan yang aku kebetulan ke Gramedia dan untuk pertama kalinya beli art book. Kenapa kebetulan karena emang awalnya cuma niat untuk beli buku biologi (wtf ya ke Gramedia cari buku biologi serasa masih anak sekolah). Ternyata pas sampai Gramedia, tertarik untuk membuka art book milik Naela Ali. Ya, semua orang sudah tau dia, an artist, a creativepreneur. Tapi sebenarnya aku termasuk yang telat tahu tentang dia. Kalo enggak salah pertama kali tau Naela Ali karena dishare via DM instagram sama Ditha yang isinya tentang art book Naela Ali yang #storiesofrainydays. Lucu pikirku saat itu. Ada gambar-gambar watercolor yang dicetak dengan tulisan tulisan in english tipikal a sort story yang akan disukai oleh anak muda generasi millenial. Saat itu setelah beberapa menit stalking akun instagramnya Naela Ali, aku hanya kagum. Belum sampai ke tahap penasaran bagaimana isi art book nya, hingga sampai ke keinginan untuk membelinya.

Tapi saat di Gramedia kemaren tiba-tiba langsung ingin beli buku Naela Ali yang #Things&ThoughtIDrewWhenIWasBored. Cuma dengan lihat judulnya lalu buka bukunya beberapa halaman langsung ingin beli. Padahal harganya lumayan mahal. Bisalah sebenernya kebeli 2 novel. Isinya? Sebenernya semacam art book pada umumnya dan art book nya yang pertama. Ada gambar (seperti biasa, Naela Ali punya kekhasan di gambar ilustrasi) lalu tulisannya yang  all in english. Untuk art book Naela Ali yang ini, beda dengan yang buku pertama. Di buku pertama, judulnya aja udah #story jadi isinya semacam cerita. Di artbook yang ini tulisannya berupa quote. Quote nya agak random sih menurutku (ya dari judulnya aja kan emang yang Naela ciptakan saat bored) tapi lumayan inspiring karena aku jamin quote itu tercipta karena common situation based on a true story di kehidupan sehari hari. Otentik dan apa adanya.

Sebenernya fokus tulisanku saat ini bukan mau mereview konten dari art book Naela Ali. I'm not an artist nor the editor. Jadi agak enggak fair juga kalo aku review kontennya. Dari buku Naela Ali itu, aku sadar bahwa betapa creative industry sebegitu menariknya untuk ditekuni dan dikembangkan. When something you like to do is gonna be paid. Double happiness. Sungguh. Di industri kreatif, apapun yang kita buat (asalkan enggak ngasal) bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan uang. Seperti art booknya Naela Ali. Siapa yang kepikiran bikin art book yang isinya curhatan dengan quote motivational standar yang sebenernya kita sudah sering dengar dan tau maksudnya apa. Tapi itulah kreativitas. Kreatif untuk memanfaatkan kesempatan yang ada untuk bisa menghasilkan sesuatu yang bernilai. Itulah kenapa katanya orang yang kreatif akan lebih bisa bertahan hidup. Mereka memiliki keterampilan yang mungkin tidak terpikirkan oleh orang lain. Maka disitulah letak kreativitas begitu sangat berharga.

Mengapa akhirnya suatu karya seni bisa dijual begitu mahal. Mengapa para penulis dan pencipta lagu begitu ketat mengurus hak cipta dan menindak para plagirisme. Itu semua karena untuk menghargai kreativitas. Kita mungkin berpikir, "Halah cuma gambar dikasih quote aja kok mahal sih? Semuanya juga bisa bikin kali." Kalo memang semuanya bisa bikin, maka bukankah akan ada jutaan art book di Gramedia? Memang semua orang pasti bisa membuat art book seperti Naela Ali, alat gambar tersedia dimanapun. Tapi apakah semua orang bisa terpikirkan untuk membuat art book yang ia buat menggunakan watercolor dan handwritten font lalu diterbitkan di sebuah percetakan? I think no. Itulah kreativitas. Yang seharusnya lebih dihargai karena didalamnya terdapat banyak perjuangan berpikir dan kerja keras untuk menciptakannya. Seperti yang ditulis oleh Naela Ali di art book nya.
Even fools and blunt scissors can be useful in the hand of a clever person.
So, let's appreciate the skills not tools.

October 28, 2017

Sedikit Membuat Berharga

Banyak yang bilang serba kekurangan itu enggak enak. Kurang duit, kurang kasih sayang, kurang nilai. Kurang jadi hal yang ditakuti. Tapi sebenarnya enggak pernah loh ada kata kurang dalam kehidupan kita, yaa kecuali misalnya dibilang kurang 0,05 pas ngitung matematika, yang berhubungan dengan hitungan berdasarkan ilmu. Karena sebenarnya, berdasarkan ilmu Allah dan manusia, kurang itu enggak ada. Kurang itu adalah kata sifat yang sebenarnya dibentuk oleh manusia itu sendiri. Padahal ya kita tau sendiri, kurang itu bisa diartikan juga sedikit, seenggaknya we have it gitu. Enggak nol nol banget. Dan harus disyukuri seberapa pun itu. Karena disitulah letak rasa kurang akan menjadi rasa berkecukupan. Karena dibentuk oleh manusia, maka kurang itu enggak selamanya merugikan. Bahkan beberapa hari ini, aku punya pemikiran bahwa menjadi kurang itu enggak semuanya jelek. Kurang bisa jadi hal baik untuk diri kita.

Misalnya gini, mulai bulan aku sengaja cuma pasang paket internet untuk handphone dengan kapasitas hanya 1 GB untuk satu bulan (sebelumnya aku pasang 4GB). Iya emang enggak akan cukup untuk 24 jam selama 30 hari, tapi paket internet ini aku pakai hanya saat diluar kosan. Selebihnya ya pakai wifi kosan. Emang awalnya mikir ah pasti kurang, tapi itu cuma mindset aja. Selebihnya kita sendiri yang mencukupkan. Karena kuota sedikit, aku jadi lebih bijak menggunakannya. Waktu nunggu dan saat di angkot enggak aku pake lagi untuk scroll dan kepo kepo Instagram, tapi justru ku pakai untuk nulis draft blogspot, baca buku yang kubawa atau ebook yang sudah didownload lalu kusimpan di library Play Books, atau edit edit foto untuk bisnis @menulis.co. Kuota yang tadinya ku pakai untuk dengar Spotify, jadi kugunakan untuk mendengarkan murrotal yang sebelumnya sudah ku simpan di internal. Ternyata kurangnya kuota membuatku belajar betapa sudah terlalu banyak waktu yang terbuang for nothing. Mungkin buat kalian yang lagi berusaha mengurangi ketergantungan sama media sosial bisa dicoba untuk mengurangi kuota internet. Menghapus aplikasi enggak begitu membantu karena bisa kapan pun diinstal lagi. Awalnya kita mikir bahwa mungkin emang enggak akan cukup kuota 1 GB sebulan tapi keadaan itu yang akhirnya memaksa kita untuk hemat. See? Menjadi kurang justru menguntungkan yaa

Kalian juga pernah enggak sih ngerasain jadi semakin produktif ketika kita emang lagi banyak banget kerjaan dan kewajiban lain yang harus diselesaikan. Aku iya. Justru saat kita semakin banyak deadline disaat itulah kita akan lebih bijaksana juga mengatur waktu. Kita akan bikin time planning sebaik baiknya supaya semua deadline bisa selesai tepat waktu. Coba aja kalo kita enggak punya banyak kerjaan, kita akan nyantai, ibaratnya kaya you still you have time gitu. Iya gak? Karena waktu yang lowong.

Sama halnya saat dulu saat ku kecil, aku hanya punya sedikit mainan. Mainan yang hanya dibelikan orangtua saat ulangtahun dan bagi rapot. Dulu mau minta belikan mainan rasanya enggak enak banget. Jadinya mainan yang ada selalu ku jaga baik baik. Jangan sampai ada yang hilang. Mainan rusak sedikit saja sedihnya bukan main. Beda banget sekarang saat kulihat sepupuku yang kehidupan orangtuanya sudah lebih mapan dibanding kehidupan keluargaku dulu. Bayangin aja, kakaknya sudah punya 70an hotwheels padahal masih kelas 4 SD, adiknya pun punya puluhan barbie. Tapi justru kondisi bikin mereka melupakan tanggung jawab untuk menjaga mainannya, karena merasa punya banyak. Miris ya lihatnya.

Masih banyak... Banyak cerita lain yang bisa kita ambil hikmahnya dari kondisi yang kurang. Kurang membuat semuanya menjadi berharga. Kurang enggak selamanya buruk. Begitu pun berlebih. Banyak kok yang berlebih waktu, uang, dsb tapi tetap bermanfaat dan memaksimalkan kondisinya itu. Seenggaknya kondisi kekurangan mengajarkan kita untuk mencukupkan apa yang tersedia, mengajarkan kita untuk bersyukur saat kita berlebih. Semoga kita menjadi semakin bijaksana ya.

October 22, 2017

Mantan Terindah (?)

Edisi nulis malam minggu nih. Boleh ya agak nulis yang gemas gemas tapi nyesek juga. Jadi beberapa hari yang lalu, aku bertemu dengan mantan yang setelah sekian tahun enggak bertemu. Kita bertemu di acara nikahan teman, tanpa sengaja. Aku yang saat itu datang sendirian ya agak kaget dengan adanya dia karena setauku antara dia dan temenku yang punya hajat enggak ada hubungan apapun.

Awalnya seneng dong ya akhirnya liat dia lagi. Seenggaknya bisa nanya kabarnya. Yaa seseneng itu sih ketemu mantan yang literally mantan terindah. Blah. Maksudnya karena emang dulu putusnya juga sangat baik baik. Sedih parah sih tapi kerasa lega banget gitu pas akhirnya lepas dari status saling ketergantungan. Sejak putus dia bisa fokus sama masalahnya dan aku pun fokus juga dengan diriku sendiri. Sejak putus itu, enggak pernah kontak yang berarti. Kontakan cuma saling ngucapin ultah atau idul fitri. Daaan akhirnya bisa ngeliat dia lagi wajar kan bikin bahagia.

Tapi bahagianya enggak bertahan lama, ternyata dia kesana sudah bawa gandengan baru. Ku tahu ceweknya tapi enggak begitu dekat. Hahahahaha lalu tertawa sendiri dalam hati. Ya iyalah orang lain udah move on tuh. Setelah berpapasan, kemudian dia menghampiriku. Dia minta maaf karena jarang menghubungi. Ya ini aku tau hanya basa basi. Gak mungkin juga harus intens kan. Terus dia menanyakan kabarku, pekerjaanku, lalu kami sama sama bercerita mengenai kuliah kami, bisnisku juga. Ada beberapa scene kami tertawa lepas. Gila. Kok bikin happy sih? Tapi ku langsung sadar kalau enggak boleh baper. Saat itu, si pacar mantanku udah mulai gelisah melihat kami berdua kembali mengobrol. Ya mungkin dia juga tau kalau kami sempat ada sesuatu yang spesial. Suasana udah mulai enggak nyaman. Lalu untuk menyudahi obrolan yang bikin panas si pacar mantanku, akhirnya ku tanya hubungan dia dan si cewek itu. Dia bilang tujuannya serius. Lemes sih dengernya. Iyalah, aku jujur kan. Bayangin aja disaat lo lagi single lalu mantan terindah lo ngabarin lagi serius sama cewek yg lo kenal. Terus aku cuma bilang, "Yaudah good luck ya. Jalanin aja dulu. Kalo jodoh pasti ada jalan." Standard advice untuk pasangan baru. Aku senyum kecil lalu dia pun bilang, "Kamu juga ya semoga nanti segera ada jodohnya. Lancar lancar. Jangan kaya kita dulu banyak cobaan." Lalu dia pun beranjak sambil tersenyum dan kembali ke pacarnya. Aku menghela nafas. Iya semoga enggak senyesek kita dulu.

Ternyata saat kami pulang, kami bertemu lagi. Tiba tiba dia mengajakku mengobrol lagi karena si pacarnya juga sedang mengobrol dengan temannya yang lain. Dia antusias menanyakan bisnis watercolor dan handlettering-ku. Aku cerita seadanya karena jarak antara aku dan pacarnya enggak terlalu jauh. Saat aku bercerita ternyata si pacarnya sudah selesai mengobrol lalu menghampiri kami. Dia pun bertanya kami sedang membicarakan apa. Lalu si mantanku refleksnya bilang, 
"Ini nih Caca hebat deh lagi bisnis gambar. Dia emang ada bakat. Jalan banget seninya. Keren yah."
Ini nih yang bikin emang gak usah ketemu ketemu lagi sama mantan. Kamu bisa tetep temenan tapi usahakan sebisa mungkin kurangi intensitas bertemu. Kecuali yaa enggak bisa dihindari kaya kejadianku. Karena semuanya bikin salah tingkah. Semua yang sebenernya biasa aja tapi karena terucap dari someone used to be our special one eh jadi berlebihan kan. Akhirnya jadi enggak enak juga sama pacar mantanku. Gini nih kalo putusnya baik baik dan si mantan yang juga terlalu baik. Yah good news in the way juga sih ya. Alhamdulillah komunikasi jadi bisa dilanjut sama dia. Dia kayanya enggak dendam, aku pun gitu. Mencoba sama sama memaafkan. Yang lalu yaa biarlah berlalu.

Everything has changed.
Manisnya dia enggak akan pernah sama dengan manisnya dia dulu.

Karena dia,
Cuma mantan.

Terus baru nyadar selama nulis ini lagu Terlalu Manis-nya Slank yang diplay. Kok bisa pas sih? Semesta mendukung banget ya Tuhan hahaha