Literally a nous of my random thought.
Posts // About
// Twitter

May 22, 2018

Literally a basic manner?

Kita tau kehidupan ini enggak akan bisa dilalui sendirian. Sekaya dan sepintar apapun kamu pasti selalu ada hal-hal yang enggak akan bisa kamu handle sendiri. Terutama di rush hours, kita enggak mungkin bisa ngerjain banyak pekerjaan satu waktu padahal semuanya harus selesai Kalau sudah begini? Pasti meminta bantuan orang lain. Well, aku mau cerita dikit, jujur, aku orangnya sangat enggak enakan. Bahkan untuk minta bantuan orang lain aja sangat enggak enakan. Kalo emang sekiranya masih bisa dikerjakan sendiri yaaa kerjakan sendiri dulu. Karena dengan begitu aku merasa bebas, enggak ada hutang budi kepada seseorang. 

Mungkin ini semua karena didikan yang orangtuaku berikan. Orangtuaku yang memang selalu hidup mandiri, jauh dari keluarga besar selepas mereka menikah otomatis bikin mereka lebih independent dibanding saudara-saudaranya yang lain. Inilah juga yang akhirnya terjadi padaku. Hingga akhirnya menjadikanku orang yang sangat sungkan untuk meminta tolong. Kalaupun memang terpaksa maka aku akan selalu ingat kebaikan orang yang sudah menolongku itu lalu aku akan berusaha untuk mengembalikan kebaikannya selagi kubisa. 

Mungkin semuanya bisa bilang, “Yahh santai aja sih, Ca.” No, buatku hal seperti meminta bantuan orang lain bukan hal yang bisa dibawa santai. Setidaknya dengan menolong kita, dia sudah kehilangan waktunya untuk hal lain. Dia sudah mengorbankan sesuatu yang kita sendiri tidak tau sebesar apa. Masih bisa kita bilang hal itu adalah hal biasa yang bisa dibawa santai, disaat kita sudah merepotkan? 

Tapi nyatanya enggak semua orang berpikiran seperti itu ya. Selalu aja ada orang-orang yang bahkan saat meminta bantuan pun enggak beretika. Itu kadang yang buatku berpikir, apa mereka selalu ada waktu dan selalu bisa menolong orang hingga mereka pun enggak sungkan dan menggampangkan meminta tolong? Ada juga beberapa yang cuma bilang “terimakasih” dengan dinginnya dan setelah itu seems nothing happen between you and me gitu, bahkan untuk urusan meminta tolong yang pakai uang sekalipun. Aku mikir lagi, apa dia juga selalu tanpa pamrih saat menolong orang lain dan enggak mementingkan ucapan terimakasih? Hingga akhirnya dia pun menyepelekan ucapan itu ke orang lain yang dimintai bantuannya. 

I felt so sorry kalo emang ternyata because you feel that other’s help is nothing. Sayang banget kalo ada yang mikir begini. Kalopun emang kamu merasa, "It is not a big deal kali! Santai aja lah kalo emang orang enggak bilang makasih juga, apalagi mereka juga temen kita", tapi kan yaa when you asked for some help, then at least you should say thank you politely. Tulus. Bahkan ke teman sekalipun. Karena sesungguhnya, mungkin dibalik kita yang meminta tolong, dan dia mengiyakan, kita enggak tau gimana perjuangan dia untuk bisa menolong kita. So, say thank you and give the best feed back anytime you can. Ini menurutku basic attitude yang harus dimiliki semua orang. Belajar menghargai segala apapun yang sudah orang lain berikan pada kita. Sekecil apapun itu. If you can’t give them a money or something fancy as a grant, at least give them a good words. Berbuat baik itu nggak perlu mementingkan yang kita rasa gimana, tapi pikir juga apa yang akan mereka rasa. 

Jadi, sebenarnya apakah cukup dengan berterimakasih? Cukup. Karena sebenarnya sekecil apapun itu kalau memang niatnya baik, setiap pertolongan pasti akan diganti Allah SWT. He doesn’t sleep for sure. Tapi coba pikir, semiskin itukah kamu sampai cuma bisa bilang terimakasih? Minta tolong orang lain, you take their time, or maybe they money, but you only said “thank you.”? Oh man, shame on you!

Ayo kita perbaiki kebiasaan ini. Ini basic banget lho sebenarnya. Simpel kan ya tapi kalau enggak dilatih ya bakal keterusan minta tolong seenaknya tanpa sadar kalo itu jadi kebiasaan buruk dan menyedihkan. Remember this,

Do good. And good will come to you.

P.s: jadi sebenarnya kenapa sih nulis tentang ini? Yaa sebagai reminder juga supaya enggak jadi orang nyebelin. Minta tolong seenaknya dan habis itu bilang terimakasih dengan seenaknya juga. Sadly, I felt this often lately. Awalnya aku juga biasa aja. Banyak teman yang minta tolong legalisasi ijazah, minta cepet lah, minta kirim lagi by one night service lah, but after that, they only say, “Thank you, Ca.” Mereka enggak tau apa, legalisasi ijazah itu pake uang, kirimnya juga pake uang, harus bolak balik kampus untuk nyimpen dan ambil hasilnya. Kalo boleh jujur it really takes time. Tapi ya begitu. Enggak semua orang punya pikiran yang sama. Mungkin bagi mereka minta tolong semacam ini enggak seberapa. Iya memang biaya untuk legalisasi dan ongkir itu enggak seberapa, tapi seenggaknya show your good attitude, ask politely, and say thank you nicely. Kantor aja pada di Jakarta tapi sekadar bayar legalisasi dan ongkir pada sungkan. Maunya gratisan mulu nih emang mental orang-orang Indonesia. Okey then just forget it. Then it would be their false. Seenggaknya, we learn from it. Jangan pernah remehkan sekecil apapun pertolongan orang lain. Hargai.

May 16, 2018

Donor Darah di Bandung

Rencana donor darah dari sebulan yang lalu akhirnya bisa terlaksana hari itu. Itupun hasil memaksa diri sehabis ngajar. Dari pagi sebenernya enggak diniatin tapi pas selesai ngajar yang emang jadwal hari Sabtu itu selalu pulang 2 jam lebih cepet jadi kepikiran ingin donor darah daripada ditunda-tunda nanti mager lagi. Ini aja udah telat sebulan dari jadwal normal untuk donor darah (3 bulan sekali). Akhirnya pulang ngajar pun pergi ke PMI Kota Bandung di Jalan Aceh. Ekspektasinya sih PMI Kota Bandung biasa aja, bakal sepi, dan enggak akan terlalu lama nunggu kayak pas donor darah pertama di PMI Rangkasbitung.

Pas nyampe sanaaaa, gila sih itu PMI Kota Bandung udah kaya rumah sakit. Gede banget haha. Terus pas masuk ke gedung donor darah udah banyak banget orang yang mau donor. Mungkin karena sore hari di hari Sabtu. Mikir deh tuh apa cancel aja ya soalnya pasti lama banget nunggunya. Tapi tanggung juga karena udah sampai PMI. Akhirnya registrasi dulu deh. Aku ditanya udah pernah donor apa belum, ku jawab udah jadi tinggal menunjukkan kartu donor aja untuk pendataan. Bagi kalian yang pertama kali donor tinggal bilang belum punya kartu donor nanti akan dibuatkan sekaligus dicek golongan darahnya (bagi yang belum tau golongan darah) selanjutnya seperti biasa harus ditimbang berat badan, bb-ku 49kg!! (otomatis lolos untuk donor darah karena bb minimalnya 45kg, kalo kurang dari itu mohon maaf enggak bisa ikut donor). Senang banget pas tau bb jadi 49kg. Itu artinya bb-ku turun. Alhamdulillaaah karena 4 bulan yang lalu bb masih 51kg saat ditimbang di PMI Rangkasbitung. Entah timbangan PMI Bandung atau PMI Rangkasbitung yang salah atau memang bb-ku turun 2kg. Cewek yaa, turun BB 2 kg aja seneng minta ampun! Hft.

Setelah registrasi, aku pun nunggu antrian. Beda banget sistemnya sama waktu di Rangkasbitung yang semuanya dikerjain sama 1 orang lol tapi kalo di PMI Bandung setiap step ada yang ngerjain dan dipanggil satu-satu. Di step satu aja (cek tensi darah) nunggu lumayan lama tuh. Seperti biasa hal yang bikin deg-degan kalo dicek tensi. Terus beberapa hari ini sering begadang plus udah lama enggak jogging yang pasti ngaruh ke tensi. Pas lagi nunggu panggilan cek tensi darah, lihat kanan kiri banyak banget yang volunter ada yang sambil pacaran, suami istri, sendirian. Eh jadi tambah deg degan tuh pas tau yang duduk samping aku (cowok dan cewek pacaran gitu) ternyata cuma cowoknya aja yang bisa donor karena Hb si cewek terlalu tinggi. Tapi bismillah aja deh, kalo enggak lolos karena tensi yaa tinggal pulang (langsung jogging wqwq). Setelah nunggu 15 menitan akhirnya dipanggil untuk cek tensi, diceknya sama dokter langsung. Kemudian dokternya bilang

“Bagus nih tensinya…”

“Berapa dok?”

“130/80”

“Bisa donor dok?”

“Bisa…” Dalam hati bingung kok tensi 130/80 dibilang bagus yaa? Padahal biasanya tensiku 120/80. Ini dokternya gak salah nih? Antara percaya enggak percaya sekaligus agak kecewa karena ngerasa tensi segitu termasuk tinggi (tinggi versiku sih meskipun dokternya bilang bagus). Curiga ini emang bener karena lately sering begadang dan enggak pernah jogging lagi ??

Abis cek tensi akhirnya cek Hb, sempet ngobrol sama bapak petugas cek Hb nya. Beliau nanya donor pertamaku dimana karena ternyata warna kartu donornya salah. Seharusnya kartu pendonor golongan darah O itu warna biru muda sedangkan yang diberi PMI Rangkasbitung itu kartu warna pink yang sebenarnya kartu untuk pendonor AB. Akhirnya kartuku harus diganti lagi plus dicek golongan darah ulang. Untuk meyakinkan bahwa ini memang hanya salah kartu bukan salah tulis golongan darah. Untuk tes Hb aku lolos, karena Hb ku 12,3 dan harus menunggu panggilan selanjutnya untuk langsung donor darah. Ternyata habis cek tensi sampai ke panggilan donor itu enggak lama. Cuma sekitar 5 menit karena ternyata kursi donor darahnya banyakkkkkk.

Ada satu hal yang beda, dulu waktu donor di PMI Rangkasbitung enggak disuruh cuci tangan dulu langsung aja donor. Entah ini boleh enggaknya SOP donor yang begitu. Tapi di PMI Bandung, sebelum donor kita disuruh cuci tangan dulu. Lalu setelah itu langsung deh donor darah. Karena udah pernah donor darah, jadi ya biasa aja tuh rasanya enggak kaya yang pertama tegang banget. Ini masih sempet buka IG, bikin instagram story (si anak pamer lol). Daaan akhirnya setelah 10 menitan selesai juga deh donor darahnya. Pas keluar dari ruang donor, kartu donorku udah diganti dengan warna biru muda tapi jadinya tanggal donor sebelumnya enggak ditulis sedihhhhh. Tapi isoke laaah, yang penting jadi tau donor darah di PMI Bandung yang sangaaaaaaat beda dengan PMI di kotaku. Dulu pas ke PMI Rangkasbitung sepi bangetttt, pelayanannya hanya oleh 1 orang dengan kondisi ruangan yang jauh dari kata steril. Saat petugas PMI-nya ku tanya ternyata penduduk Rangkasbitung sangat jarang donor, otomatis semua rumah sakit di Rangkasbitung meminta stok dari PMI kota lainnya. Keliatan banget ya mana kota terbelakang dan mana kota besar yang penduduknya udah mulai melek bahwa donor darah itu penting untuk menolong sesama. Jadi ingat saat aku lagi nunggu donor aja pun ada anak 8 tahunan penderita kanker sama orangtuanya untuk ambil stok darah. Merinding lihatnya. Meskipun darahku cuma alakadarnya tapi semoga bisa membantu kesembuhan untuk mereka yang lagi berjuang untuk sembuh.

Alhamdulillah hari ini sukses donor darah. Asli deh bikin ketagihan. Berasa achievement banget kalo berhasil donor darah karena artinya kita sehat. Dengan donor darah jadinya kita bisa kontrol minimal tekanan darah kita.

Pelajaran hari ini, ayo hidup sehat lagi. Jangan begadang, harus start jogging lagi, makan buah setiap hari, dan banyak minum. Tensi saat donor darah selanjutnya harus 120/80!

April 06, 2018

Literally a basic manner huh?

Sebagaimana yang kita tahu bahwa kehidupan ini enggak akan bisa dilalui sendirian. Sekaya dan sepintar apapun kamu pasti selalu ada hal-hal yang enggak akan bisa kamu handle sendiri. Kalau sudah begini? Pasti meminta bantuan orang lain. Well, aku mau cerita dikit, jujur, aku orangnya sangat enggak enakan. Bahkan untuk minta bantuan orang lain aja sangat enggak enakan. Kalo emang sekiranya masih bisa dikerjakan sendiri yaaa kerjakan sendiri. Karena dengan begitu aku merasa bebas, enggak ada hutang budi kepada seseorang. 

Mungkin ini semua karena didikan yang orangtuaku berikan. Mama bilang, "Di dunia ini enggak pernah ada yang gratis. Seenggaknya kamu harus bayar pake perasaan kan?" Orangtuaku yang memang selalu hidup mandiri, jauh dari keluarga besar selepas mereka menikah otomatis bikin mereka lebih independent dibanding saudara-saudara yang lain. Inilah juga yang akhirnya terjadi padaku. Hingga akhirnya menjadikanku orang yang sangat sungkan untuk meminta tolong. Kalaupun memang terpaksa maka aku akan selalu ingat kebaikan orang yang sudah menolongku itu lalu aku akan berusaha untuk mengembalikan kebaikannya selagi kubisa. 

Mungkin semuanya bisa bilang, “Yahh santai aja sih, Ca.” No, buatku hal seperti meminta bantuan orang lain bukan hal yang bisa dibawa santai. Setidaknya dengan menolong kita, dia sudah kehilangan waktunya untuk hal lain. Dia sudah mengorbankan sesuatu yang kita sendiri tidak tau sebesar apa. Masih bisa kita bilang hal itu adalah hal biasa yang bisa dibawa santai, disaat kita sudah merepotkan? 

Tapi nyatanya enggak semua orang berpikiran seperti itu ya. Selalu aja ada orang-orang yang bahkan saat meminta bantuan pun enggak beretika. Itu kadang yang buatku berpikir, apa mereka selalu ada waktu dan selalu bisa menolong orang hingga mereka pun enggak sungkan untuk meminta tolong? Ada juga beberapa yang cuma bilang “terimakasih” dengan dinginnya dan setelah itu seems nothing happen between you and me, bahkan untuk urusan meminta tolong yang pakai uang sekalipun. Aku mikir lagi, apa dia juga selalu tanpa pamrih saat menolong orang lain dan enggak mementingkan ucapan terimakasih? Hingga akhirnya dia pun menyepelekan ucapan itu ke orang lain yang dimintai bantuannya. 

I felt so sorry kalo emang ternyata itu etikanya, because you feel that other’s help is nothing. Sayang banget kalo ada yang mikir begini. Kalau pun emang kamu merasa, it is not a big deal kali! Santai aja lah kalo emang orang enggak bilang makasih juga, apalagi mereka juga temen kita, but in other hand, let’s say, when you asked for some help, then you should say thank you politely. Tulus. Bahkan ke teman sekalipun. Karena sesungguhnya, mungkin dibalik kita yang meminta tolong, dan dia mengiyakan, kita enggak tau gimana perjuangan dia untuk bisa menolong kita. So, say thank you and give a feed back everytime you can. Ini menurutku basic attitude yang harus dimiliki semua orang. Belajar menghargai segala apapun yang sudah orang lain berikan pada kita. Sekecil apapun itu. Enggak ada yang gratis loh. If you can’t give them a money as a grant, at least give them a good words. Berbuat baik itu nggak perlu mementingkan yang kita rasa gimana, tapi pikir juga apa yang akan mereka rasa. 

Jadi, sebenarnya apakah cukup dengan berterimakasih? Cukup. Karena sebenarnya sekecil apapun itu kalau memang niatnya baik, setiap pertolongan pasti akan diganti Allah SWT. He doesn’t sleep for sure. Tapi coba pikir, semiskin itukah kamu sampai cuma bisa bilang terimakasih? Minta tolong orang lain, you take their time, or maybe they money, but you only said “thank you.”? Oh man, i think it is not a good one. 

Ayo kita perbaiki kebiasaan ini. Ini basic banget lho sebenarnya. Simpel kan ya tapi kalau enggak dilatih ya bakal keterusan minta tolong seenaknya tanpa sadar kalo itu jadi kebiasaan buruk dan sangat pathetic untuk dilihat. Remember this,

Do good. And good will come to you.

P.s: jadi sebenarnya kenapa sih nulis tentang ini? Yaa sebagai reminder juga supaya enggak jadi orang nyebelin. Minta tolong seenaknya dan habis itu bilang terimakasih dengan seenaknya juga. Sadly, I felt this often lately. Awalnya aku juga biasa aja. Banyak teman yang minta tolong legalisasi ijazah, minta cepet lah, minta kirim lagi by one night service lah, but after that, they only say, “Thank you ca.” Mereka enggak tau apa, legalisasi ijazah itu pake uang, kirimnya juga pake uang, harus bolak balik kampus untuk nyimpen dan ambil hasilnya. It really takes time. Tapi ya begitu. Enggak semua orang punya pikiran yang sama. Mungkin bagi mereka minta tolong semacam ini enggak seberapa. Iya memang biaya untuk legalisasi dan ongkir itu enggak seberapa, tapi seenggaknya show your good attitude, ask politely, and say thank you nicely. Kantor aja pada di Jakarta tapi sekadar bayar legalisasi dan ongkir pada sungkan. Si aku mulai emosi. Oke forget it. Then it would be their fault juga kan ya. Seenggaknya, we learn from it. Jangan pernah remehkan sekecil apapun pertolongan orang lain. Hargai.

November 24, 2017

Ups and Downs. That's life.

Jadi beberapa hari yang lalu ada seseorang di twitter bilang begini, “Instagram isinya orang kaya semua ya.” Ya begitu kan. Media sosial memang tujuannya untuk sharing kebahagiaan. Ibaratnya, ngapain juga sharing sedih, duka –at least you’re a public figure yang ditunggu-tunggu update kehidupannya oleh banyak orang apapun jenis beritanya. Jadi alasan itulah yang membuat beberapa temanku agak ogah main instagram lagi. Bikin panas hati katanya. Kok lihat kehidupan orang kaya lancar dan bahagia terus. Aku pun sempat berpikir begitu, malas ya main Instagram yang isinya orang pamer semua. Tapi ya mau gimana lagi, masih aja buka Instagram. Toh Instagram juga masih bermanfaat untuk dagang, lihat-lihat video lettering and others painting and watercolor technique related to my current bussiness. 

Tapi kita semua tahu bahwa kehidupan ini selalu berputar. Semuanya berdampingan. Yin and Yang, siang malam, gelap terang, baik buruk, sedih bahagia, untung rugi. Begitupun kehidupan mereka para pelakon kebahagiaan di Instagram. Aku yakin mereka enggak melulu bahagia. Kesuksesan selebgram tentu hasil usaha. Kesuksesan online shop tentu juga hasil kerja keras. Mungkin sebelumnya mereka pun sempat gagal, sakit hati, penipuan, banyaknya haters, patah hati. Intinya sama aja dengan kita kan? Kita sama sama manusia. Hanya saja hal dibalik foto kebahagiaan itu tidak kita tahu sepenuhnya. Oh bahkan sedikit pun kita tidak tahu. Jadi sebenarnya enggak perlu ada iri, dengki. Biarkan mereka merasa bahagia dengan caranya. Kita pun harus bahagia dengan cara kita.

Ya mungkin sulit ya untuk stick to “I’m busy enjoying my life, darlingphrase, gayanya @aMrazing tanpa membandingkan dengan kehidupan orang lain yang jelas-jelas (mungkin) lebih dari kehidupan sekarang kita sekarang, which is potentially bisa bikin kita enggak bersyukur dan beriri hati. Tapi seenggaknya kita harus yakin bahwa enggak perlu iri, gak perlu membanding-bandingkan. Setiap orang itu kehidupannya beda-beda, ujiannya beda-beda, bahagianya beda-beda.

Jadi ingat hasil riset kecil-kecilan dari kehidupan teman-teman sekitarku yang mungkin dipandang bahagia oleh orang-orang yang sekilas mengenal mereka.

Ada yang sekarang keliatan bahagia banget di kehidupannya, kuliahnya, pacarnya (yang katanya bakal jadi calon ibu anak-anaknya, cantik, lulusan S1 dan S2 universitas terbaik di Indonesia), kerjaannya pun udah settle banget. Tapi kalian gak tau kalau dia sempat jatuh sejatuh-jatuhnya karena diputusin mantannya back then. Kuliah S2-nya di Unpad sampai terhenti. Kehidupannya sempat kacau saat itu. 

Ada temanku cantiiik sekali dan sudah menikah dengan pria yang memang sangat dia kagumi. Heaven on earth kata banyak orang. She got what she really want. Kebahagiaan apa lagi yang dicari oleh wanita di dunia? Setelah menikah, mereka berdua ke Inggris karena temanku mendapat beasiswa untuk kuliah S2 disana, lalu temanku hamil but then life doesn't run as she want. It was broke my heart too setelah tau bahwa bayinya meninggal di Inggris. When she has to deal with the hardest part of her life, but her family wasn't there. Can you imagine?

Ada juga temanku yang juga S2 di luar negeri. Gak keren gimana? Tapi sebelumnya dia pernah cerita sampai nangis-nangis di kosanku, gimana rasanya dia tertindas dan sakit hati selama setahun oleh pertanyaan kepo sekitarnya “Kerja dimana?” karena faktanya dia masih nganggur meski sudah satu tahun lulus S1 demi mengejar LPDP yang juga belum pasti. Kita enggak tau gimana dia sebegitu hopeless-nya juga berulang kali tes IELTS (yang enggak murah) untuk hanya dapat skor minimal dari persyaratan. 

Temanku yang lain juga akhirnya lolos LPDP, setahun di Indo setahun di luar negeri. Pasti bangga dan bahagia. Tapi kalian enggak tau kalau sebelumnya dia sempat ditolak LPDP, dia rela berjuang di Pare, jauh dari orangtua, meyakinkan orangtuanya untuk membiayai segala persiapannya untuk LPDP, 2 round. Setelah pengumuman kedua dan dinyatakan lolos, ayahnya sakit. Plot twisted.

Kita mungkin sering bilang, "Enak ya jadi dia, hidupnya udah enak, bahagia terus keliatannya." Ya  itu karena kita enggak tahu ada bagian kesusahan yang harus dia hadapi sebelumnya, ada usaha yang sudah dia lakukan lebih dari apa yang kita lakukan. Dan itu pasti enggak gampang. Percayalah, there’s no easy way out. Enggak ada kehidupan yang mulus. Enggak ada kehidupan yang bahagia terus. Semuanya gak akan remain the same. Enggak ada yang happy terus, atau sedih terus. Yang harus kita lakukan ya maintaining our own happiness, banyakin bersyukur karena semuanya juga akan melalui ujiannya masing-masing, akan bahagia masing-masing. Tinggal berdoa dan berusaha untuk melalui ujian itu, lalu getting up your life.
Yoona SNSD sebelumnya ditolak 200 casting, buku Harry Potter butuh 10 tahun untuk go publish, album pertamanya IU gagal total. Masih banyak. Masih banyak cerita lain dibalik kebahagiaan atau kesuksesan seseorang.
Everything happen through ups and downs. And that’s life.  

Ps. untuk teman-teman yang tidak kucantumkan namanya (yang mungkin someday membaca ini dan merasa ini adalah cerita kalian), terimakasih banyak untuk semua cerita inspirasinya. Aku izin berbagi cerita kehidupan kalian ya.

November 09, 2017

Thought I Write

Things & Thought I Drew When I was Bored by Naela Ali
Sebulan yang aku kebetulan ke Gramedia dan untuk pertama kalinya beli art book. Kenapa kebetulan karena emang awalnya cuma niat untuk beli buku biologi (wtf ya ke Gramedia cari buku biologi serasa masih anak sekolah). Ternyata pas sampai Gramedia, tertarik untuk membuka art book milik Naela Ali. Ya, semua orang sudah tau dia, an artist, a creativepreneur. Tapi sebenarnya aku termasuk yang telat tahu tentang dia. Kalo enggak salah pertama kali tau Naela Ali karena dishare via DM instagram sama Ditha yang isinya tentang art book Naela Ali yang #storiesofrainydays. Lucu pikirku saat itu. Ada gambar-gambar watercolor yang dicetak dengan tulisan tulisan in english tipikal a sort story yang akan disukai oleh anak muda generasi millenial. Saat itu setelah beberapa menit stalking akun instagramnya Naela Ali, aku hanya kagum. Belum sampai ke tahap penasaran bagaimana isi art book nya, hingga sampai ke keinginan untuk membelinya.

Tapi saat di Gramedia kemaren tiba-tiba langsung ingin beli buku Naela Ali yang #Things&ThoughtIDrewWhenIWasBored. Cuma dengan lihat judulnya lalu buka bukunya beberapa halaman langsung ingin beli. Padahal harganya lumayan mahal. Bisalah sebenernya kebeli 2 novel. Isinya? Sebenernya semacam art book pada umumnya dan art book nya yang pertama. Ada gambar (seperti biasa, Naela Ali punya kekhasan di gambar ilustrasi) lalu tulisannya yang  all in english. Untuk art book Naela Ali yang ini, beda dengan yang buku pertama. Di buku pertama, judulnya aja udah #story jadi isinya semacam cerita. Di artbook yang ini tulisannya berupa quote. Quote nya agak random sih menurutku (ya dari judulnya aja kan emang yang Naela ciptakan saat bored) tapi lumayan inspiring karena aku jamin quote itu tercipta karena common situation based on a true story di kehidupan sehari hari. Otentik dan apa adanya.

Sebenernya fokus tulisanku saat ini bukan mau mereview konten dari art book Naela Ali. I'm not an artist nor the editor. Jadi agak enggak fair juga kalo aku review kontennya. Dari buku Naela Ali itu, aku sadar bahwa betapa creative industry sebegitu menariknya untuk ditekuni dan dikembangkan. When something you like to do is gonna be paid. Double happiness. Sungguh. Di industri kreatif, apapun yang kita buat (asalkan enggak ngasal) bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan uang. Seperti art booknya Naela Ali. Siapa yang kepikiran bikin art book yang isinya curhatan dengan quote motivational standar yang sebenernya kita sudah sering dengar dan tau maksudnya apa. Tapi itulah kreativitas. Kreatif untuk memanfaatkan kesempatan yang ada untuk bisa menghasilkan sesuatu yang bernilai. Itulah kenapa katanya orang yang kreatif akan lebih bisa bertahan hidup. Mereka memiliki keterampilan yang mungkin tidak terpikirkan oleh orang lain. Maka disitulah letak kreativitas begitu sangat berharga.

Mengapa akhirnya suatu karya seni bisa dijual begitu mahal. Mengapa para penulis dan pencipta lagu begitu ketat mengurus hak cipta dan menindak para plagirisme. Itu semua karena untuk menghargai kreativitas. Kita mungkin berpikir, "Halah cuma gambar dikasih quote aja kok mahal sih? Semuanya juga bisa bikin kali." Kalo memang semuanya bisa bikin, maka bukankah akan ada jutaan art book di Gramedia? Memang semua orang pasti bisa membuat art book seperti Naela Ali, alat gambar tersedia dimanapun. Tapi apakah semua orang bisa terpikirkan untuk membuat art book yang ia buat menggunakan watercolor dan handwritten font lalu diterbitkan di sebuah percetakan? I think no. Itulah kreativitas. Yang seharusnya lebih dihargai karena didalamnya terdapat banyak perjuangan berpikir dan kerja keras untuk menciptakannya. Seperti yang ditulis oleh Naela Ali di art book nya.
Even fools and blunt scissors can be useful in the hand of a clever person.
So, let's appreciate the skills not tools.

October 28, 2017

Sedikit Membuat Berharga

Banyak yang bilang serba kekurangan itu enggak enak. Kurang duit, kurang kasih sayang, kurang nilai. Kurang jadi hal yang ditakuti. Tapi sebenarnya enggak pernah loh ada kata kurang dalam kehidupan kita, yaa kecuali misalnya dibilang kurang 0,05 pas ngitung matematika, yang berhubungan dengan hitungan berdasarkan ilmu. Karena sebenarnya, berdasarkan ilmu Allah dan manusia, kurang itu enggak ada. Kurang itu adalah kata sifat yang sebenarnya dibentuk oleh manusia itu sendiri. Padahal ya kita tau sendiri, kurang itu bisa diartikan juga sedikit, seenggaknya we have it gitu. Enggak nol nol banget. Dan harus disyukuri seberapa pun itu. Karena disitulah letak rasa kurang akan menjadi rasa berkecukupan. Karena dibentuk oleh manusia, maka kurang itu enggak selamanya merugikan. Bahkan beberapa hari ini, aku punya pemikiran bahwa menjadi kurang itu enggak semuanya jelek. Kurang bisa jadi hal baik untuk diri kita.

Misalnya gini, mulai bulan aku sengaja cuma pasang paket internet untuk handphone dengan kapasitas hanya 1 GB untuk satu bulan (sebelumnya aku pasang 4GB). Iya emang enggak akan cukup untuk 24 jam selama 30 hari, tapi paket internet ini aku pakai hanya saat diluar kosan. Selebihnya ya pakai wifi kosan. Emang awalnya mikir ah pasti kurang, tapi itu cuma mindset aja. Selebihnya kita sendiri yang mencukupkan. Karena kuota sedikit, aku jadi lebih bijak menggunakannya. Waktu nunggu dan saat di angkot enggak aku pake lagi untuk scroll dan kepo kepo Instagram, tapi justru ku pakai untuk nulis draft blogspot, baca buku yang kubawa atau ebook yang sudah didownload lalu kusimpan di library Play Books, atau edit edit foto untuk bisnis @menulis.co. Kuota yang tadinya ku pakai untuk dengar Spotify, jadi kugunakan untuk mendengarkan murrotal yang sebelumnya sudah ku simpan di internal. Ternyata kurangnya kuota membuatku belajar betapa sudah terlalu banyak waktu yang terbuang for nothing. Mungkin buat kalian yang lagi berusaha mengurangi ketergantungan sama media sosial bisa dicoba untuk mengurangi kuota internet. Menghapus aplikasi enggak begitu membantu karena bisa kapan pun diinstal lagi. Awalnya kita mikir bahwa mungkin emang enggak akan cukup kuota 1 GB sebulan tapi keadaan itu yang akhirnya memaksa kita untuk hemat. See? Menjadi kurang justru menguntungkan yaa

Kalian juga pernah enggak sih ngerasain jadi semakin produktif ketika kita emang lagi banyak banget kerjaan dan kewajiban lain yang harus diselesaikan. Aku iya. Justru saat kita semakin banyak deadline disaat itulah kita akan lebih bijaksana juga mengatur waktu. Kita akan bikin time planning sebaik baiknya supaya semua deadline bisa selesai tepat waktu. Coba aja kalo kita enggak punya banyak kerjaan, kita akan nyantai, ibaratnya kaya you still you have time gitu. Iya gak? Karena waktu yang lowong.

Sama halnya saat dulu saat ku kecil, aku hanya punya sedikit mainan. Mainan yang hanya dibelikan orangtua saat ulangtahun dan bagi rapot. Dulu mau minta belikan mainan rasanya enggak enak banget. Jadinya mainan yang ada selalu ku jaga baik baik. Jangan sampai ada yang hilang. Mainan rusak sedikit saja sedihnya bukan main. Beda banget sekarang saat kulihat sepupuku yang kehidupan orangtuanya sudah lebih mapan dibanding kehidupan keluargaku dulu. Bayangin aja, kakaknya sudah punya 70an hotwheels padahal masih kelas 4 SD, adiknya pun punya puluhan barbie. Tapi justru kondisi bikin mereka melupakan tanggung jawab untuk menjaga mainannya, karena merasa punya banyak. Miris ya lihatnya.

Masih banyak... Banyak cerita lain yang bisa kita ambil hikmahnya dari kondisi yang kurang. Kurang membuat semuanya menjadi berharga. Kurang enggak selamanya buruk. Begitu pun berlebih. Banyak kok yang berlebih waktu, uang, dsb tapi tetap bermanfaat dan memaksimalkan kondisinya itu. Seenggaknya kondisi kekurangan mengajarkan kita untuk mencukupkan apa yang tersedia, mengajarkan kita untuk bersyukur saat kita berlebih. Semoga kita menjadi semakin bijaksana ya.

October 22, 2017

Mantan Terindah (?)

Edisi nulis malam minggu nih. Boleh ya agak nulis yang gemas gemas tapi nyesek juga. Jadi beberapa hari yang lalu, aku bertemu dengan mantan yang setelah sekian tahun enggak bertemu. Kita bertemu di acara nikahan teman, tanpa sengaja. Aku yang saat itu datang sendirian ya agak kaget dengan adanya dia karena setauku antara dia dan temenku yang punya hajat enggak ada hubungan apapun.

Awalnya seneng dong ya akhirnya liat dia lagi. Seenggaknya bisa nanya kabarnya. Yaa seseneng itu sih ketemu mantan yang literally mantan terindah. Blah. Maksudnya karena emang dulu putusnya juga sangat baik baik. Sedih parah sih tapi kerasa lega banget gitu pas akhirnya lepas dari status saling ketergantungan. Sejak putus dia bisa fokus sama masalahnya dan aku pun fokus juga dengan diriku sendiri. Sejak putus itu, enggak pernah kontak yang berarti. Kontakan cuma saling ngucapin ultah atau idul fitri. Daaan akhirnya bisa ngeliat dia lagi wajar kan bikin bahagia.

Tapi bahagianya enggak bertahan lama, ternyata dia kesana sudah bawa gandengan baru. Ku tahu ceweknya tapi enggak begitu dekat. Hahahahaha lalu tertawa sendiri dalam hati. Ya iyalah orang lain udah move on tuh. Setelah berpapasan, kemudian dia menghampiriku. Dia minta maaf karena jarang menghubungi. Ya ini aku tau hanya basa basi. Gak mungkin juga harus intens kan. Terus dia menanyakan kabarku, pekerjaanku, lalu kami sama sama bercerita mengenai kuliah kami, bisnisku juga. Ada beberapa scene kami tertawa lepas. Gila. Kok bikin happy sih? Tapi ku langsung sadar kalau enggak boleh baper. Saat itu, si pacar mantanku udah mulai gelisah melihat kami berdua kembali mengobrol. Ya mungkin dia juga tau kalau kami sempat ada sesuatu yang spesial. Suasana udah mulai enggak nyaman. Lalu untuk menyudahi obrolan yang bikin panas si pacar mantanku, akhirnya ku tanya hubungan dia dan si cewek itu. Dia bilang tujuannya serius. Lemes sih dengernya. Iyalah, aku jujur kan. Bayangin aja disaat lo lagi single lalu mantan terindah lo ngabarin lagi serius sama cewek yg lo kenal. Terus aku cuma bilang, "Yaudah good luck ya. Jalanin aja dulu. Kalo jodoh pasti ada jalan." Standard advice untuk pasangan baru. Aku senyum kecil lalu dia pun bilang, "Kamu juga ya semoga nanti segera ada jodohnya. Lancar lancar. Jangan kaya kita dulu banyak cobaan." Lalu dia pun beranjak sambil tersenyum dan kembali ke pacarnya. Aku menghela nafas. Iya semoga enggak senyesek kita dulu.

Ternyata saat kami pulang, kami bertemu lagi. Tiba tiba dia mengajakku mengobrol lagi karena si pacarnya juga sedang mengobrol dengan temannya yang lain. Dia antusias menanyakan bisnis watercolor dan handlettering-ku. Aku cerita seadanya karena jarak antara aku dan pacarnya enggak terlalu jauh. Saat aku bercerita ternyata si pacarnya sudah selesai mengobrol lalu menghampiri kami. Dia pun bertanya kami sedang membicarakan apa. Lalu si mantanku refleksnya bilang, 
"Ini nih Caca hebat deh lagi bisnis gambar. Dia emang ada bakat. Jalan banget seninya. Keren yah."
Ini nih yang bikin emang gak usah ketemu ketemu lagi sama mantan. Kamu bisa tetep temenan tapi usahakan sebisa mungkin kurangi intensitas bertemu. Kecuali yaa enggak bisa dihindari kaya kejadianku. Karena semuanya bikin salah tingkah. Semua yang sebenernya biasa aja tapi karena terucap dari someone used to be our special one eh jadi berlebihan kan. Akhirnya jadi enggak enak juga sama pacar mantanku. Gini nih kalo putusnya baik baik dan si mantan yang juga terlalu baik. Yah good news in the way juga sih ya. Alhamdulillah komunikasi jadi bisa dilanjut sama dia. Dia kayanya enggak dendam, aku pun gitu. Mencoba sama sama memaafkan. Yang lalu yaa biarlah berlalu.

Everything has changed.
Manisnya dia enggak akan pernah sama dengan manisnya dia dulu.

Karena dia,
Cuma mantan.

Terus baru nyadar selama nulis ini lagu Terlalu Manis-nya Slank yang diplay. Kok bisa pas sih? Semesta mendukung banget ya Tuhan hahaha

October 16, 2017

Semanis Generasi 90s

Weekend kemarin ada acara yang super seru, Festival Mesin Waktu di Jakarta. Sayang banget enggak bisa ikutan padahal udah pengen dari sejak announcement ada konser ini. Dari namanya, festival yang khusus dibuat oleh Tim Generasi 90an berkolaborasi dengan Ismaya Live pasti untuk bernostalgia. Udah kebayang kan gimana serunya disana. Katanya disana ada beberapa zona untuk nostalgia masa 90an. Ada zona main yang isinya mainan-mainan ala anak 90an, zona musik yang bisa karaoke lagu-lagu 90an, zona nonton yang bisa dipake untuk nonton acara televisi, film, dan iklan era 90an, zona museum yang isinya banyak barang-barang yang mengingatkan masa 90an, dan yang paling seru ada konser band-band yang eksis di tahun 90an: Naif, Basejam, P-Project, Potret, dan Bening. Yang paling bikin ingin datang ke acara itu udah jelas Basejam! 

Karena aku enggak bisa datang ke acara nostalgia itu akhirnya cuma nonton live di official instagram @generasi90an. Pecah banget itu konsernya! Parah terharuuuu akhirnya liat Basejam manggung lagi. Aku yang Cuma nonton live nya aja bisa sampe nyanyi-nyanyi. Enggak kebayang kalau saat itu bisa ada di venue. Konser Mesin Waktu bisa seeksklusif itu. Kapan lagi coba konser yang isinya orang-orang seumuran? Dan kapan lagi konser yang penuh kebaperan yang cuma bisa dirasain oleh orang-orang usia 25-35 tahun?

Selesai nonton live IG, aku masih senyum-senyum sendiri. Gila memang nostalgia bisa sebegini bikin bahagianya. Kenangan era 90an emang enggak bisa dilupakan. Semuanya mengasyikan. Meski dulu enggak semudah kehidupan sekarang tapi itu yang bikin sangat berkesan. Sekarang kalau dipikir, betapa beruntungnya aku lahir di tahun 90an sebelum era millennial dengan segala teknologi yang kadang membuat sesuatu cepat untuk dilupakan.

Bicara mengenai generasi 90an, aku pun enggak terlalu tahu maksudnya apa. Apakah generasi kelahiran 1990–1999 (aku masuk golongan ini) atau justru generasi yang sedang berkembang di tahun 90an which is para senior kelahiran 1980–1990 (aku enggak termasuk golongan ini). Di akhir generasi 90an, saat itu aku baru berusia 8 tahun. Seharusnya di usia itu aku belum terlalu memiliki kenangan yang berarti ya, belum ada cinta-cintaan yang membuat masa itu semakin berharga. So, let’s say it is my brother generation. Kakakku yang memang lahir di tahun 1988, lebih tua 4 tahun pasti lebih punya kenangan tersendiri yang lebih banyak dariku. Mungkin juga aku jadi ikut-ikutan baper generasi 90an karena dulu begitu banyak kenangan sederhana yang dilakukan bersama kakak. Kakak yang dulu mengenalkan lagu-lagu cinta milik Basejam, Sheila on 7, Dewa 19, Wayang, Padi. Kakak yang dulu sering mengumpulkan kliping chord-chord gitar dan membuatku penasaran juga ingin belajar gitar. Kakak yang dulu punya banyak kaset bajakan hasil merekam menggunakan radio tape dan ternyata pas aku dengar lagu rekamannya ciamik-ciamik. Kakak yang dulu sering ajak aku nonton MTv Ampuh di hari Sabtu. Kakak yang dulu sering belikanku majalah Bobo dan Gaul. Kakak yang membelikanku stiker-stiker untuk ditempel di lemari. Banyak… banyakkk sekali hal seru saat itu. 

Meskipun aku baru berumur sekitar 8-15 tahun, aku ingat betapa dulu lagu-lagu begitu berharga karena sulit didengar. Harus request di radio atau memutar balik kaset. Betapa dulu sulitnya mengeceng gebetan karena enggak ada smartphone, tapi justru hanya titip salam radio, tulisan diary, kolom salam di mading menjadi lebih manis dibanding like atau mention. Betapa dulu jarak begitu menyedihkan karena dibatasi oleh tarif telefon wartel murah hanya jika setelah jam 8 malam, tapi justru setiap detik yang dihabiskan untuk mengobrol dengan kakek dan nenek menjadi begitu menyenangkan. Betapa dulu hadiah kaset di hari ulang tahun begitu mewah. Betapa dulu jarak antara fans dan artisnya begitu dibatasi oleh series yang hanya seminggu sekali, tapi setelah hari itu datang, seluruh penantian menjadi manisnya sendiri. Betapa dulu seluruh keluarga sudah di tempat tidurnya masing-masing di pukul 9 malam karena sudah tidak ada tontonan lagi, tidak ada media sosial sebelum tidur. Tidur yang sungguh mendamaikan kehidupan. Betapa dulu biodata-biodata teman di diary adalah lambang persahabatan yang membuat kita semakin dekat dan berarti hanya karena kita mengingat ulang tahun dan no telefon teman. Betapa dulu bahagia sesederhana menemukan nama orangtua gebetan di buku Yellow Pages. Betapa dulu melihat bayangan foto kita di klise kamera begitu mengasyikan. Betapa dulu celengan adalah kunci kebahagiaan jajan. Betapa dulu keringat hasil bermain di lapangan bersama teman ada keringat yang sangat ditunggu-tunggu. Betapa dulu dengan segala kesederhanaannya namun tetap membuat semuanya manis... manis... 

Dengan segala kesederhanaan di masa 90an, itulah justru yang membuat kita menjadi manusia yang mensyukuri dan menikmati waktu. Ketika ketidakberadaan teknologi menjadikan kita generasi yang menggemaskan tanpa drama. Ketika semuanya tidak mudah didapatkan sehingga membuat kita lebih menghargai semua yang telah dijalani. 

Ketika sekarang, dengan semua kemudahan dan kemajuan yang ada, menjadikan kita tidak menghargai diri kita sendiri untuk berbahagia. Menjadikan kita lupa akan rasa syukur dan kesederhanaan hidup. Apa yang salah? 
Terimakasih atas semua kenangan di sepanjang tahun 90.
Aku beruntung menjadi bagian didalamnya.
Kosan, 22:48 WIB. 
Dengan gemericik hujan dan lagu Rindu (1997) Basejam di Spotify.

Aa disunat, Juni 1997. Generasi 90an!!

Salah satu kaset bajakan buatan Aa. Gemassssss


October 12, 2017

Angkot Bandung #part1

Setelah sejak lama enggak menulis tentang opini. Akhirnya bisa menulis lagi di sela sela nunggu jam ngajar. Karena udah terlalu bosan nunggu ngajar sambil ngerjain soal atau bikin rangkuman, kali ini aku berniat untuk nulis aja. Sebenarnya ide tulisan ini sudah lama ada di draft hati dan pikiran #naon tapi belum sempat ditulis terus. Akhirnya hari ini, setelah tadi malam juga baca timeline di twitter tentang #irememberhowitfeel nya orang-orang pengguna angkutan umum, jadilah aku makin gemas untuk ikut menulis tentang how i feel pakai angkutan umum juga di kota besar, Bandung.

Ide tulisannya berawal dari kejadian tanggal demo angkot di Bandung tanggal 9 Maret 2017, para supir angkot mogok untuk mendemo adanya angkutan online (grab, gojek, uber). Katanya sih gara-gara ada angkutan online, pendapatan mereka menurun. Jadinya di hari itu karena enggak ada angkot, aku gak bisa kemana mana termasuk enggak bisa ngajar. Pesan ojek online pun gak ada yang pick up karena ternyata mereka pun enggak ada yang beroperasi setelah banyak kejadian para supir angkutan online dicegat dan dipukuli oleh para supir angkot yang berkumpul. Bahkan dari beberapa media, aku baca ada juga mobil yang dicegat karena dicurigai adalah mobil online. Hari itu pertama kalinya aku sangat kecewa dengan tindakan kebodohan dan anarkis dari para supir angkot di Bandung karena menurut berita sampai ada korban jiwa. Gak masalah mereka demo dan mogok kerja, tapi kalau sampai ada tindakan anarkis, pertanyaannya: moral orang Indonesia memang belum semuanya baik!

Esoknya para supir angkot kembali bekerja, aku pun bisa pergi mengajar seperti biasa. Di angkot yang aku naiki itu hanya ada 3 orang sampai aku turun, si supir mengeluh, katanya ternyata enggak ada perbedaan setelah mereka demo. Dalam hati, yaiyalah emang dengan demo para supir angkot, orang-orang jadi berpindah ke angkot semua. Nope, justru sejak kejadian mogok kerja kemarin aku secara pribadi jadi semakin ilfeel dengan angkot. 

Bagiku yang sejak TK sudah berani naik angkot, angkot memang jadi transportasi yang selalu kunaiki kemanapun sebelum adanya ojek online. Hampir semua kejadian di perjalanan saat naik angkot yang diceritakan orang-orang dalam #irememberhowitfeel itu aku pernah rasakan. Misalnya, diturunin ngasalah di jalan karena angkot sepi, dimarahin pengamen karena enggak ngasih receh, dimarahin supir karena uang kurang padahal si supirnya yang rakus ingin dibayar lebih mahal dari biasanya, pindah angkot karena ngetem kelamaan, naik angkot yang supirnya ugal-ugalan, desek-desekan di angkot karena supir maksa masukin penumpang sebanyak banyaknya, sampai pernah dicolek colek pengamen supaya ngasih uang, this is the most disgusting! Tapi sampai sekarang aku masih setia menggunakan angkot, kecuali saat in a rush. Disaat buru-buru, angkot sungguh menyebalkan, ngetem lah, jalan lambat karena sambil cari penumpang. Dan akhirnya, saat ada penawaran ojek online, orang-orang pasti lebih memilih itu. Solusi yang sangat tepat bukan? Biaya murah (karena banyak promo dan diskon), nyaman dan aman tanpa copet dan pengamen, bisa nego dengan supir (minta cepat), dan gak ada acara tipu tipu rute kaya yang sering supir angkot lakuin. So jangan salahkan para pengguna angkutan saat kita mencari transportasi yang memang lebih menguntungkan. Inilah yang tidak dipahami oleh para supir angkot. Mereka tidak paham bahwa kualitas adalah yang utama. Kita pun akan nyaman naik angkot kalau memang angkot nyaman dan aman. Lah ini, di angkot rawan copet, pengamen yang sangat mengganggu, ugal-ugalan, ngetem yg kelamaan.

Lalu beberapa hari setelah kejadian mogok kerja para supir angkot di Bandung itu, aku naik ojek online. Di perjalanan aku mengobrol dengan driver-nya, aku tanya dampak demo angkot. Dan amazingly, driver gojek bilang sejak ada demo itu orderan gojek makin banyak. Aku pun kaget.

“Wah ko bisa ya pa?” Tanyaku.

Driver gojeknya bilang, “Orang-orang kayanya jadi makin males sama angkot mbak, apalagi udah diliatin tingkah laku supir angkot ternyata pada brutal. Orang Bandung mah udah pada berpendidikan kan mbak, jadi tetep aja lebih milih transportasi yang aman dan nyaman.”

Waaah salut sih sama kesimpulannya driver gojek itu. Bener juga. Makin yakin kalo emang supir angkot itu kurang edukasi. Mereka ketakutan untuk bersaing padahal rezeki udah ada yang mengatur. Justru seharusnya kalau memang gak mau kalah dalam persaingan yaa harus cari solusi gimana caranya biar orang orang kembali pakai angkot. Ini ko malah demo anarkis. Miris. Meskipun aku tau beberapa supir angkot itu ikutan demo cuma ikut ikutan aja karena kalau gak ikut bisa habis sama preman angkot. Aku tau juga gak semuanya supir angkot itu jahat, ada kok supir angkot yang baik. Yang ngerelain penumpang (gak mikir) yang akhirnya gak bayar ongkos karena bayar pake duit seratus ribu, yang ngerelain seribu rupiah saat gak ada uang kembalian seribu (akhirnya supirnya ngasih kembalian 2 ribu), yang gak nurunin kita di jalan sebelum sampe tujuan meskipun penumpang sepi, yang enggak ngetem dan ugal ugalan, dan yang selalu bilang makasih saat kita bayar ongkosnya. Banyak kok masih banyak supir yang baik hati, yang memang cari rezeki halal untuk keluarganya tanpa merugikan orang lain.

Tapi emang masalahnya serba salah. Angkot yang enggak bisa ngikutin perkembangan zaman dan akhirnya bikin pemerintah ambil jalan singkat: larangan kendaraan online dan katanya harga setiap angkutan online dibuat sama, jangan ada promo promo lagi. Pengguna protes. Kita yang udah merasakan betapa terbantunya dengan motor atau mobil online, merasa kok peraturan pemerintah enggak adil. Disaat negara sedang memanfaatkan teknologi untuk setiap kegiatannya di Indonesia malah akan dihapuskan. Memang setiap keputusan selalu ada untung ruginya. Sebagai pemakai angkutan umum aku kadang kesal sama yang pakai kendaraan pribadi, kalau aja mereka naik kendaraan umum jalanan Bandung gak akan semacet sekarang tapi yaa ternyata wajar aja mereka enggak mau naik angkutan umum. Angkutan umumnya sungguh menyedihkan.

Masih ingat sekali dulu pas jaman masih nge-project di organisasi "itu" sama bule bule, salah satu bule asal Belanda, Charlotta ngobrol denganku hingga tengah malam. Dia cerita banyak tentang Belanda dan perbedaannya dengan Indonesia, terutama di transportasinya. Selama 2 minggu Charlotta di Indonesia, dia ngerasa ‘ampun’ dengan transportasi Indonesia. Dia cerita kalo orang-orang Belanda terbiasa jalan kaki, kalau jarak tempat tujuan masih sekitaran 5 km mereka pasti jalan kaki atau kalau jauh naik tram. Jarang banget orang yang pakai mobil pribadi. Jadinya gak bikin jalanan macet. Terus aku bilang ya wajar aja mereka pada pakai angkutan umum karena angkutan umumnya emang nyaman, enggak seperti di Indonesia. Charlotta pun setuju. Dia bilang emang sistem angkutan umum di Indonesia buruk banget. Dia juga cerita pas dia pergi ke Jogya pake kereta dari Bandung, selama 8 jam itu dia gak bisa ngapa ngapain di kereta (padahal dia udah bawa laptop untuk ngerjain kerjaannya) karena jalan kereta yang enggak mulus. Jalan kaki di Bandung aja enggak nyaman karena trotoar disalahfungsikan. Dia bilang, yaa wajar juga sebenernya kalau orang Indonesia jadi malas jalan kaki, jadi malas pakai angkutan umum. Bahkan untuk bule bule yang baru beberapa hari di Indonesia mereka sangat merasa gak nyaman bepergian di Indonesia, let’s say in Bandung. 

Aku pun gak tau harus memperbaiki sistem ini darimana, semuanya udah serba salah. Masalahnya bisa muncul dari mana mana. Sekali ada peraturan baru yang dirubah pasti ada yang senang ada yang sedih. Intinya sih gini, biar semuanya nyaman harus ada disiplin berkendara. Katanya Bandung is a smart city tapi kok sedih persaingan transportasinya gak cerdas gini.

Angkot Bandung #part2

Even after 6 months, i still remember how i felt so much disappointed about public transportation. And now it's happening again. Too much.

So lewat tulisan ini aku ingin mencurahkan segala pemikiran aku dua minggu belakang ini. Kalian semua tahu kalau sekarang (untuk sementara) aku memang tinggal di Bandung. Iya. Siapa sih yang enggak kenal dengan kota besar yang satu ini, yang bahkan jadi salah satu destinasi liburan akhir pekan favorit semua orang. Enggak ada yang enggak suka dengan kota ini. Makanannya, udaranya, suasananya, tempat hitsnya, kampusnya, mahasiswanya, walikotanya, kecuali... macetnya.

Sedikit cerita, aku mulai tinggal di Bandung sejak 2010 hingga sekarang. Sudah tujuh tahun. Dulu pas awal awal kuliah masih sanggup main pas weekend. Sekarang? I'm giving up karena Bandung jadi super macet di akhir pekan. Kemajuan teknologi bikin Bandung makin terkenal, apalagi pak walikota yang aktif banget sharing serunya kota Bandung. Sejak itu makin banyak orang yang ingin main ke Bandung. Kemajuan teknologi ini pun dimanfaatkan oleh perusahaan transportasi berbasis aplikasi untuk bisa memasuki Bandung. Warga Bandung yang memang hedonis, kreatif, dan aktif menyambut baik kehadiran salah satu jenis transportasi ini. Mempercepat perjalanan tanpa macet, harga yang lebih murah, banyak promo, dan yang penting lainnya adalah memudahkan untuk berpergian ke tempat hits yang umumnya sulit dijangkau oleh angkot.

Tapi ternyata, kabar baik ini tidak menguntungkan bagi para supir angkot Bandung. Katanya, penghasilan mereka menurun hampir 100% setelah ada transportasi online. Bagiku yang sangat ketergantungan dengan angkutan umum, menyadari fakta angkot tersebut. Bandung yang semakin hari semakin macet membuat orang akan lebih memilih ojek online. Ojek online begitu membantu saat harus pergi tempat jauh untuk waktu yang sedikit. Kalau pakai angkot sudah pasti enggak akan keburu. Belum lagi pesan makanan, anak kosan sepertiku yang kadang malas keluar untuk beli makan, adanya gofood membawa kebahagiaan.

Kemudahan dan kenyamanan yang ditawarkan oleh transportasi online akhirnya membuat masyarakat Bandung memiliki variasi jenis transportasi. Tentu akhirnya para warga memilih transportasi yang banyak menguntungkan, yang tidak ditemukan di angkot. Tapi para supir angkot tidak mengerti hal ini. Akhirnya minggu lalu sempat ada isu akan ada pemogokan angkot di seluruh kota Bandung agar gubernur mencabut PP yang mengatur keberadaan transportasi berbasis online. Mereka merasa dirugikan dengan adanya transportasi online.

Sejak keluarnya isu itu ada teman yang tidak pernah menggunakan angkot bilang, "Ya bagus lah enggak ada angkot, mending mogok aja terus, jalanan jadi sepi." Agak kesal yaa dengarnya. Gimana dengan nasib para pengguna angkutan umum? Aku membela bukan hanya karena aku pengguna angkot tapi karena kenyataannya jumlah kendaraan pribadi lah yang menjadi pemicu kemacetan di Bandung. Ko seakan-akan angkot yang salah. Mungkin sekarang lebih banyak kendaraan pribadi karena memang kendaraan umum memprihatinkan, sangat tidak nyaman. Kalau sudah begini, memutus keberadaan angkot sebenarnya bukan solusi untuk mengurangi kemacetan Bandung. Yang harus dikurangi justru penggunaan kendaraan pribadinya. Back to topic, di hari rencana pelaksaaan mogok masal angkot itu ternyata pemprov Jawa Barat berhasil memediasi para supir angkot sehingga mogok masal tidak terjadi. Tapi masalahnya enggak sampai situ. Ternyata para supir angkot ini mencabut mogok masalnya dengan syarat yaitu tidak adanya ojek/mobil online yang beroperasi lagi di Bandung.  Aku yang awalnya masih membela angkot akhirnya kesal juga. Para supir angkot dengan seenaknya mengatur kebebasan warga untuk memilih transportasi. Kenapa akhirnya warga memilih ojol dibanding angkot yaa karena ojol bisa tanpa macet, tanpa ngetem, pelayanan yang sopan, dan yang paling enak bisa door to door. Ojek online pun menang. Sayangnya, para supir angkot tidak sadar akan hal hal kenapa ojol bisa menang. Mereka hanya memaksa warga naik angkot tanpa konpensasi dan jaminan yang berarti terutama dari segi keamanan dan kenyamanan. Kalo saja dari dulu angkot enggak dzalim (ugal ugalan, ngasal masang tarif, jalan seenaknya enggak sesuai rute karena alasan macet, ngetem yang super lama) pada penumpang, mungkin nasib angkot akan jauh bisa bertahan.

Aku yang sekarang jadi pengguna dua jenis transportasi tau bahwa tidak semua angkot berkonotasi negatif. Aku cenderung pro dengan keberadaan angkot karena banyak supir angkot baik yang tujuannya mencari nafkah dengan keberkahan. Kalau sedang enggak buru-buru aku pun pasti akan lebih milih naik angkot karena emang hitungannya lebih murah dan ingin berbagi rezeki pada supir angkot yang sering kosong penumpang. Begitupun dengan pakai ojol, aku gunakan pada kondisi tertentu, misalnya buru-buru, atau mau ke tempat yang tidak dilewati angkot. Keduanya sangat bermanfaat, ini tergantung untuk kebutuhan apa kan.

Jadi agak sedih kalau sampai misalnya transportasi online sampai dihilangkan dari Bandung, sementara enggak ada perbaikan dari kinerja sopir dan keadaan angkot. Macet pun makin menjadi jadi karena angkutan pribadi pasti akan bertambah. Ingin rasanya bilang pada supir angkot, biarkan warga memilih transportasinya sendiri. Warga berhak memilih transportasi yang aman dan nyaman. Kalo memang angkot ingin terpakai oleh warga, perbaiki kualitas! Bukan hanya justru mencekal transportasi lainnya. Zaman sekarang sudah era modern, kehidupan akan kalah jika kita tidak mengenal pasar. Tapi yaa kita pun enggak bisa menyalahkan sikap para supir angkot yang begitu. Mereka yang rerata hanya lulusan SD/SMP memang tidak mengerti dengan masalah begini. Yang mereka tau hanya bagaimana mereka bisa mendapatkan uang. Miris.

Pada akhirnya, masalah ini memang tidak sederhana sesederhana kita bisa mengajukan protes pada walikota dan gubernur via sosial media. Dari masalah ini, aku semakin yakin bahwa kualitas kehidupan yang rendah disebabkan oleh pendidikan yang rendah. Kalau saja para supir angkot bisa bertindak dan berpikir lebih "matang", masalah pencekalan seperti ini mungkin tidak  terjadi lagi. 

Ingat, rezeki sudah ada yang mengatur juga.

Jalan Cipaganti, Bandung 
Kamis, 19.21 WIB
Tulisan ini dibuat saat perjalanan pulang kerja pakai angkot. Padahal sudah satu jam tapi belum juga sampai kosan karena jalanan yang sungguh macet dan angkot yang tiba-tiba kehabisan bensin. Kesel yaa tapi pas lihat pak supir yang usaha jalan kaki untuk cari bensin untuk penumpang yang hanya 3 orang, tiba-tiba membuat terharu. Life is tough. Sesusah ini cari pekerjaan di era millenial. Akhirnya orang orang dengan ekonomi menengah ke bawah yang harus menerima dampak yang mungkin paling menyedihkan.

Serba salah.