Literally a nous of my random thought.
Posts // About
// Twitter

November 09, 2017

Kreativitas

Things & Thought I Drew When I was Bored by Naela Ali
Sebulan yang aku kebetulan ke Gramedia dan untuk pertama kalinya beli art book. Kenapa kebetulan karena emang awalnya cuma niat untuk beli buku biologi (wtf ya ke Gramedia cari buku biologi serasa masih anak sekolah). Ternyata pas sampai Gramedia, tertarik untuk membuka art book milik Naela Ali. Ya, semua orang sudah tau dia, an artist, a creativepreneur. Tapi sebenarnya aku termasuk yang telat tahu tentang dia. Kalo enggak salah pertama kali tau Naela Ali karena dishare via DM instagram sama Ditha yang isinya tentang art book Naela Ali yang #storiesofrainydays. Lucu pikirku saat itu. Ada gambar-gambar watercolor yang dicetak dengan tulisan tulisan in english tipikal a sort story yang akan disukai oleh anak muda generasi millenial. Saat itu setelah beberapa menit stalking akun instagramnya Naela Ali, aku hanya kagum. Belum sampai ke tahap penasaran bagaimana isi art book nya, hingga sampai ke keinginan untuk membelinya.

Tapi saat di Gramedia kemaren tiba-tiba langsung ingin beli buku Naela Ali yang #Things&ThoughtIDrewWhenIWasBored. Cuma dengan lihat judulnya lalu buka bukunya beberapa halaman langsung ingin beli. Padahal harganya lumayan mahal. Bisalah sebenernya kebeli 2 novel. Isinya? Sebenernya semacam art book pada umumnya dan art book nya yang pertama. Ada gambar (seperti biasa, Naela Ali punya kekhasan di gambar ilustrasi) lalu tulisannya yang  all in english. Untuk art book Naela Ali yang ini, beda dengan yang buku pertama. Di buku pertama, judulnya aja udah #story jadi isinya semacam cerita. Di artbook yang ini tulisannya berupa quote. Quote nya agak random sih menurutku (ya dari judulnya aja kan emang yang Naela ciptakan saat bored) tapi lumayan inspiring karena aku jamin quote itu tercipta karena common situation based on a true story di kehidupan sehari hari. Otentik dan apa adanya.

Sebenernya fokus tulisanku saat ini bukan mau mereview konten dari art book Naela Ali. I'm not an artist nor the editor. Jadi agak enggak fair juga kalo aku review kontennya. Dari buku Naela Ali itu, aku sadar bahwa betapa creative industry sebegitu menariknya untuk ditekuni dan dikembangkan. When something you like to do is gonna be paid. Double happiness. Sungguh. Di industri kreatif, apapun yang kita buat (asalkan enggak ngasal) bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan uang. Seperti art booknya Naela Ali. Siapa yang kepikiran bikin art book yang isinya curhatan dengan quote motivational standar yang sebenernya kita sudah sering dengar dan tau maksudnya apa. Tapi itulah kreativitas. Kreatif untuk memanfaatkan kesempatan yang ada untuk bisa menghasilkan sesuatu yang bernilai. Itulah kenapa katanya orang yang kreatif akan lebih bisa bertahan hidup. Mereka memiliki keterampilan yang mungkin tidak terpikirkan oleh orang lain. Maka disitulah letak kreativitas begitu sangat berharga.

Mengapa akhirnya suatu karya seni bisa dijual begitu mahal. Mengapa para penulis dan pencipta lagu begitu ketat mengurus hak cipta dan menindak para plagirisme. Itu semua karena untuk menghargai kreativitas. Kita mungkin berpikir, "Halah cuma gambar dikasih quote aja kok mahal sih? Semuanya juga bisa bikin kali." Kalo memang semuanya bisa bikin, maka bukankah akan ada jutaan art book di Gramedia? Memang semua orang pasti bisa membuat art book seperti Naela Ali, alat gambar tersedia dimanapun. Tapi apakah semua orang bisa terpikirkan untuk membuat art book yang ia buat menggunakan watercolor dan handwritten font lalu diterbitkan di sebuah percetakan? I think no. Itulah kreativitas. Yang seharusnya lebih dihargai karena didalamnya terdapat banyak perjuangan berpikir dan kerja keras untuk menciptakannya. Seperti yang ditulis oleh Naela Ali di art book nya.
Even fools and blunt scissors can be useful in the hand of a clever person.
So, let's appreciate the skills not tools.

October 28, 2017

Sedikit Membuat Berharga

Banyak yang bilang serba kekurangan itu enggak enak. Kurang duit, kurang kasih sayang, kurang nilai. Kurang jadi hal yang ditakuti. Tapi sebenarnya enggak pernah loh ada kata kurang dalam kehidupan kita, yaa kecuali misalnya dibilang kurang 0,05 pas ngitung matematika, yang berhubungan dengan hitungan berdasarkan ilmu. Karena sebenarnya, berdasarkan ilmu Allah dan manusia, kurang itu enggak ada. Kurang itu adalah kata sifat yang sebenarnya dibentuk oleh manusia itu sendiri. Padahal ya kita tau sendiri, kurang itu bisa diartikan juga sedikit, seenggaknya we have it gitu. Enggak nol nol banget. Dan harus disyukuri seberapa pun itu. Karena disitulah letak rasa kurang akan menjadi rasa berkecukupan. Karena dibentuk oleh manusia, maka kurang itu enggak selamanya merugikan. Bahkan beberapa hari ini, aku punya pemikiran bahwa menjadi kurang itu enggak semuanya jelek. Kurang bisa jadi hal baik untuk diri kita.

Misalnya gini, mulai bulan aku sengaja cuma pasang paket internet untuk handphone dengan kapasitas hanya 1 GB untuk satu bulan (sebelumnya aku pasang 4GB). Iya emang enggak akan cukup untuk 24 jam selama 30 hari, tapi paket internet ini aku pakai hanya saat diluar kosan. Selebihnya ya pakai wifi kosan. Emang awalnya mikir ah pasti kurang, tapi itu cuma mindset aja. Selebihnya kita sendiri yang mencukupkan. Karena kuota sedikit, aku jadi lebih bijak menggunakannya. Waktu nunggu dan saat di angkot enggak aku pake lagi untuk scroll dan kepo kepo Instagram, tapi justru ku pakai untuk nulis draft blogspot, baca buku yang kubawa atau ebook yang sudah didownload lalu kusimpan di library Play Books, atau edit edit foto untuk bisnis @menulis.co. Kuota yang tadinya ku pakai untuk dengar Spotify, jadi kugunakan untuk mendengarkan murrotal yang sebelumnya sudah ku simpan di internal. Ternyata kurangnya kuota membuatku belajar betapa sudah terlalu banyak waktu yang terbuang for nothing. Mungkin buat kalian yang lagi berusaha mengurangi ketergantungan sama media sosial bisa dicoba untuk mengurangi kuota internet. Menghapus aplikasi enggak begitu membantu karena bisa kapan pun diinstal lagi. Awalnya kita mikir bahwa mungkin emang enggak akan cukup kuota 1 GB sebulan tapi keadaan itu yang akhirnya memaksa kita untuk hemat. See? Menjadi kurang justru menguntungkan yaa

Kalian juga pernah enggak sih ngerasain jadi semakin produktif ketika kita emang lagi banyak banget kerjaan dan kewajiban lain yang harus diselesaikan. Aku iya. Justru saat kita semakin banyak deadline disaat itulah kita akan lebih bijaksana juga mengatur waktu. Kita akan bikin time planning sebaik baiknya supaya semua deadline bisa selesai tepat waktu. Coba aja kalo kita enggak punya banyak kerjaan, kita akan nyantai, ibaratnya kaya you still you have time gitu. Iya gak? Karena waktu yang lowong.

Sama halnya saat dulu saat ku kecil, aku hanya punya sedikit mainan. Mainan yang hanya dibelikan orangtua saat ulangtahun dan bagi rapot. Dulu mau minta belikan mainan rasanya enggak enak banget. Jadinya mainan yang ada selalu ku jaga baik baik. Jangan sampai ada yang hilang. Mainan rusak sedikit saja sedihnya bukan main. Beda banget sekarang saat kulihat sepupuku yang kehidupan orangtuanya sudah lebih mapan dibanding kehidupan keluargaku dulu. Bayangin aja, kakaknya sudah punya 70an hotwheels padahal masih kelas 4 SD, adiknya pun punya puluhan barbie. Tapi justru kondisi bikin mereka melupakan tanggung jawab untuk menjaga mainannya, karena merasa punya banyak. Miris ya lihatnya.

Masih banyak... Banyak cerita lain yang bisa kita ambil hikmahnya dari kondisi yang kurang. Kurang membuat semuanya menjadi berharga. Kurang enggak selamanya buruk. Begitu pun berlebih. Banyak kok yang berlebih waktu, uang, dsb tapi tetap bermanfaat dan memaksimalkan kondisinya itu. Seenggaknya kondisi kekurangan mengajarkan kita untuk mencukupkan apa yang tersedia, mengajarkan kita untuk bersyukur saat kita berlebih. Semoga kita menjadi semakin bijaksana ya.

October 22, 2017

Mantan Terindah (?)

Edisi nulis malam minggu nih. Boleh ya agak nulis yang gemas gemas tapi nyesek juga. Jadi beberapa hari yang lalu, aku bertemu dengan mantan yang setelah sekian tahun enggak bertemu. Kita bertemu di acara nikahan teman, tanpa sengaja. Aku yang saat itu datang sendirian ya agak kaget dengan adanya dia karena setauku antara dia dan temenku yang punya hajat enggak ada hubungan apapun.

Awalnya seneng dong ya akhirnya liat dia lagi. Seenggaknya bisa nanya kabarnya. Yaa seseneng itu sih ketemu mantan yang literally mantan terindah. Blah. Maksudnya karena emang dulu putusnya juga sangat baik baik. Sedih parah sih tapi kerasa lega banget gitu pas akhirnya lepas dari status saling ketergantungan. Sejak putus dia bisa fokus sama masalahnya dan aku pun fokus juga dengan diriku sendiri. Sejak putus itu, enggak pernah kontak yang berarti. Kontakan cuma saling ngucapin ultah atau idul fitri. Daaan akhirnya bisa ngeliat dia lagi wajar kan bikin bahagia.

Tapi bahagianya enggak bertahan lama, ternyata dia kesana sudah bawa gandengan baru. Ku tahu ceweknya tapi enggak begitu dekat. Hahahahaha lalu tertawa sendiri dalam hati. Ya iyalah orang lain udah move on tuh. Setelah berpapasan, kemudian dia menghampiriku. Dia minta maaf karena jarang menghubungi. Ya ini aku tau hanya basa basi. Gak mungkin juga harus intens kan. Terus dia menanyakan kabarku, pekerjaanku, lalu kami sama sama bercerita mengenai kuliah kami, bisnisku juga. Ada beberapa scene kami tertawa lepas. Gila. Ko bikin happy sih. Tapi ku langsung sadar kalau enggak boleh baper. Saat itu, si pacar mantanku udah mulai gelisah melihat kami berdua kembali mengobrol. Ya mungkin dia juga tau kalau kami sempat ada sesuatu yang spesial. Suasana udah mulai enggak nyaman. Lalu untuk menyudahi obrolan yang bikin panas si pacar mantanku, akhinya ku tanya hubungan dia dan si cewek itu. Dia bilang tujuannya serius. Lemes sih dengernya. Iyalah, aku jujur kan. Bayangin aja disaat lo lagi single lalu mantan terindah lo ngabarin lagi serius sama cewek yg lo kenal. Terus aku cuma bilang, "Yaudah goodluck ya. Jalanin aja dulu. Kalo jodoh pasti ada jalan." Aku senyum kecil lalu dia pun bilang, "Kamu juga ya semoga nanti segera ada jodohnya. Lancar lancar. Jangan kaya kita dulu banyak cobaan." Lalu dia pun beranjak sambil tersenyum dan kembali ke pacarnya. Aku menghela nafas. Iya semoga enggak senyesek kita dulu.

Ternyata saat kami pulang, kami bertemu lagi. Tiba tiba dia mengajakku mengobrol lagi karena si pacarnya juga sedang mengobrol dengan temannya yang lain. Dia antusias menanyakan bisnis watercolor dan handlettering-ku. Aku cerita seadanya karena jarak antara aku dan pacarnya enggak terlalu jauh. Saat aku bercerita ternyata si pacarnya sudah selesai mengobrol lalu menghampiri kami. Dia pun bertanya kami sedang membicarakan apa. Lalu si mantanku refleksnya bilang, 
"Ini nih Caca hebat deh lagi bisnis gambar. Dia emang ada bakat. Jalan banget seninya. Keren yah."
Ini nih yang bikin emang gak usah ketemu ketemu lagi sama mantan. Kamu bisa tetep temenan tapi usahakan sebisa mungkin kurangi intensitas bertemu. Kecuali yaa enggak bisa dihindari kaya kejadianku. Karena semuanya bikin salah tingkah. Semua yang sebenernya biasa aja tapi karena terucap dari someone used to be our special one eh jadi berlebihan kan. Akhirnya jadi enggak enak juga sama pacar mantanku. Gini nih kalo putusnya baik baik dan si mantan yang juga terlalu baik. Yah good news in the way juga sih ya. Alhamdulillah komunikasi jadi bisa dilanjut sama dia. Dia kayanya enggak dendam, aku pun gitu. Mencoba sama sama memaafkan. Yang lalu yaa biarlah berlalu.

Everything has changed.
Manisnya dia enggak akan pernah sama dengan manisnya dia dulu.


Karena dia,
Cuma mantan.

Terus baru nyadar selama nulis ini lagu Terlalu Manis-nya Slank yang diplay. Kok bisa pas sih? Semesta mendukung banget ya Tuhan hahaha

October 16, 2017

Semanis Generasi 90s

Weekend kemarin ada acara yang super seru, Festival Mesin Waktu di Jakarta. Sayang banget enggak bisa ikutan padahal udah pengen dari sejak announcement ada konser ini. Dari namanya, festival yang khusus dibuat oleh Tim Generasi 90an berkolaborasi dengan Ismaya Live pasti untuk bernostalgia. Udah kebayang kan gimana serunya disana. Katanya disana ada beberapa zona untuk nostalgia masa 90an. Ada zona main yang isinya mainan-mainan ala anak 90an, zona musik yang bisa karaoke lagu-lagu 90an, zona nonton yang bisa dipake untuk nonton acara televisi, film, dan iklan era 90an, zona museum yang isinya banyak barang-barang yang mengingatkan masa 90an, dan yang paling seru ada konser band-band yang eksis di tahun 90an: Naif, Basejam, P-Project, Potret, dan Bening. Yang paling bikin ingin datang ke acara itu udah jelas Basejam! 

Karena aku enggak bisa datang ke acara nostalgia itu akhirnya cuma nonton live di official instagram @generasi90an. Pecah banget itu konsernya! Parah terharuuuu akhirnya liat Basejam manggung lagi. Aku yang Cuma nonton live nya aja bisa sampe nyanyi-nyanyi. Enggak kebayang kalau saat itu bisa ada di venue. Konser Mesin Waktu bisa seeksklusif itu. Kapan lagi coba konser yang isinya orang-orang seumuran? Dan kapan lagi konser yang penuh kebaperan yang cuma bisa dirasain oleh orang-orang usia 25-35 tahun?

Selesai nonton live IG, aku masih senyum-senyum sendiri. Gila memang nostalgia bisa sebegini bikin bahagianya. Kenangan era 90an emang enggak bisa dilupakan. Semuanya mengasyikan. Meski dulu enggak semudah kehidupan sekarang tapi itu yang bikin sangat berkesan. Sekarang kalau dipikir, betapa beruntungnya aku lahir di tahun 90an sebelum era millennial dengan segala teknologi yang kadang membuat sesuatu cepat untuk dilupakan.

Bicara mengenai generasi 90an, aku pun enggak terlalu tahu maksudnya apa. Apakah generasi kelahiran 1990–1999 (aku masuk golongan ini) atau justru generasi yang sedang berkembang di tahun 90an which is para senior kelahiran 1980–1990 (aku enggak termasuk golongan ini). Di akhir generasi 90an, saat itu aku baru berusia 8 tahun. Seharusnya di usia itu aku belum terlalu memiliki kenangan yang berarti ya, belum ada cinta-cintaan yang membuat masa itu semakin berharga. So, let’s say it is my brother generation. Kakakku yang memang lahir di tahun 1988, lebih tua 4 tahun pasti lebih punya kenangan tersendiri yang lebih banyak dariku. Mungkin juga aku jadi ikut-ikutan baper generasi 90an karena dulu begitu banyak kenangan sederhana yang dilakukan bersama kakak. Kakak yang dulu mengenalkan lagu-lagu cinta milik Basejam, Sheila on 7, Dewa 19, Wayang, Padi. Kakak yang dulu sering mengumpulkan kliping chord-chord gitar dan membuatku penasaran juga ingin belajar gitar. Kakak yang dulu punya banyak kaset bajakan hasil merekam menggunakan radio tape dan ternyata pas aku dengar lagu rekamannya ciamik-ciamik. Kakak yang dulu sering ajak aku nonton MTv Ampuh di hari Sabtu. Kakak yang dulu sering belikanku majalah Bobo dan Gaul. Kakak yang membelikanku stiker-stiker untuk ditempel di lemari. Banyak… banyakkk sekali hal seru saat itu. 

Meskipun aku baru berumur sekitar 8-15 tahun, aku ingat betapa dulu lagu-lagu begitu berharga karena sulit didengar. Harus request di radio atau memutar balik kaset. Betapa dulu sulitnya mengeceng gebetan karena enggak ada smartphone, tapi justru hanya titip salam radio, tulisan diary, kolom salam di mading menjadi lebih manis dibanding like atau mention. Betapa dulu jarak begitu menyedihkan karena dibatasi oleh tarif telefon wartel murah hanya jika setelah jam 8 malam, tapi justru setiap detik yang dihabiskan untuk mengobrol dengan kakek dan nenek menjadi begitu menyenangkan. Betapa dulu hadiah kaset di hari ulang tahun begitu mewah. Betapa dulu jarak antara fans dan artisnya begitu dibatasi oleh series yang hanya seminggu sekali, tapi setelah hari itu datang, seluruh penantian menjadi manisnya sendiri. Betapa dulu seluruh keluarga sudah di tempat tidurnya masing-masing di pukul 9 malam karena sudah tidak ada tontonan lagi, tidak ada media sosial sebelum tidur. Tidur yang sungguh mendamaikan kehidupan. Betapa dulu biodata-biodata teman di diary adalah lambang persahabatan yang membuat kita semakin dekat dan berarti hanya karena kita mengingat ulang tahun dan no telefon teman. Betapa dulu bahagia sesederhana menemukan nama orangtua gebetan di buku Yellow Pages. Betapa dulu melihat bayangan foto kita di klise kamera begitu mengasyikan. Betapa dulu celengan adalah kunci kebahagiaan jajan. Betapa dulu keringat hasil bermain di lapangan bersama teman ada keringat yang sangat ditunggu-tunggu. Betapa dulu dengan segala kesederhanaannya namun tetap membuat semuanya manis... manis... 

Dengan segala kesederhanaan di masa 90an, itulah justru yang membuat kita menjadi manusia yang mensyukuri dan menikmati waktu. Ketika ketidakberadaan teknologi menjadikan kita generasi yang menggemaskan tanpa drama. Ketika semuanya tidak mudah didapatkan sehingga membuat kita lebih menghargai semua yang telah dijalani. 

Ketika sekarang, dengan semua kemudahan dan kemajuan yang ada, menjadikan kita tidak menghargai diri kita sendiri untuk berbahagia. Menjadikan kita lupa akan rasa syukur dan kesederhanaan hidup. Apa yang salah? 
Terimakasih atas semua kenangan di sepanjang tahun 90.
Aku beruntung menjadi bagian didalamnya.
Kosan, 22:48 WIB. 
Dengan gemericik hujan dan lagu Rindu (1997) Basejam di Spotify.

Aa disunat, Juni 1997. Generasi 90an!!

Salah satu kaset bajakan buatan Aa. Gemassssss


October 12, 2017

Angkot Bandung #part1

[Posted originally on May, 4th 2017]

Setelah sejak lama enggak menulis di disini akhirnya bisa menulis lagi di sela sela nunggu jam ngajar. Karena udah terlalu bosan nunggu ngajar sambil ngerjain soal atau bikin rangkuman, hari berniat untuk nulis aja. Sebenarnya ide tulisan ini sudah lama ada di draft pikiran tapi belum sempat ditulis terus. Akhirnya hari ini, setelah tadi malam juga baca timeline di twitter tentang #irememberhowitfeel nya orang-orang pengguna angkutan umum, jadilah aku makin gemas untuk ikut menulis tentang how i feel pakai angkutan umum juga di kota besar, Bandung.

Ide tulisannya berawal dari kejadian tanggal demo angkot di Bandung tanggal 9 Maret 2017, para supir angkot mogok untuk mendemo adanya angkutan online (grab, gojek, uber). Katanya sih gara-gara ada angkutan online, pendapatan mereka menurun. Jadinya di hari itu karena enggak ada angkot, aku gak bisa kemana mana termasuk enggak bisa ngajar. Pesan ojek online pun gak ada yang pick up karena ternyata mereka pun enggak ada yang beroperasi setelah banyak kejadian para supir angkutan online dicegat dan dipukuli oleh para supir angkot yang berkumpul. Bahkan dari beberapa media, aku baca ada juga mobil yang dicegat karena dicurigai adalah mobil online. Hari itu pertama kalinya aku sangat kecewa dengan tindakan kebodohan dan anarkis dari para supir angkot di Bandung karena menurut berita sampai ada korban jiwa. Gak masalah mereka demo dan mogok kerja, tapi kalau sampai ada tindakan anarkis, pertanyaannya: moral orang Indonesia memang belum semuanya baik!

Esoknya para supir angkot kembali bekerja, aku pun bisa pergi mengajar seperti biasa. Di angkot yang aku naiki itu hanya ada 3 orang sampai aku turun, si supir mengeluh, katanya ternyata enggak ada perbedaan setelah mereka demo. Dalam hati, yaiyalah emang dengan demo para supir angkot, orang-orang jadi berpindah ke angkot semua. Nope, justru sejak kejadian mogok kerja kemarin aku secara pribadi jadi semakin ilfeel dengan angkot. 

Bagiku yang sejak TK sudah berani naik angkot, angkot memang jadi transportasi yang selalu kunaiki kemanapun sebelum adanya ojek online. Hampir semua kejadian di perjalanan saat naik angkot yang diceritakan orang-orang dalam #irememberhowitfeel itu aku pernah rasakan. Misalnya, diturunin ngasalah di jalan karena angkot sepi, dimarahin pengamen karena enggak ngasih receh, dimarahin supir karena uang kurang padahal si supirnya yang rakus ingin dibayar lebih mahal dari biasanya, pindah angkot karena ngetem kelamaan, naik angkot yang supirnya ugal-ugalan, desek-desekan di angkot karena supir maksa masukin penumpang sebanyak banyaknya, sampai pernah dicolek colek pengamen supaya ngasih uang, this is the most disgusting! Tapi sampai sekarang aku masih setia menggunakan angkot, kecuali saat in a rush. Disaat buru-buru, angkot sungguh menyebalkan, ngetem lah, jalan lambat karena sambil cari penumpang. Dan akhirnya, saat ada penawaran ojek online, orang-orang pasti lebih memilih itu. Solusi yang sangat tepat bukan? Biaya murah (karena banyak promo dan diskon), nyaman dan aman tanpa copet dan pengamen, bisa nego dengan supir (minta cepat), dan gak ada acara tipu tipu rute kaya yang sering supir angkot lakuin. So jangan salahkan para pengguna angkutan saat kita mencari transportasi yang memang lebih menguntungkan. Inilah yang tidak dipahami oleh para supir angkot. Mereka tidak paham bahwa kualitas adalah yang utama. Kita pun akan nyaman naik angkot kalau memang angkot nyaman dan aman. Lah ini, di angkot rawan copet, pengamen yang sangat mengganggu, ugal-ugalan, ngetem yg kelamaan.

Beberapa hari setelah kejadian mogok kerja para supir angkot di Bandung, aku naik ojek online. Di perjalanan aku mengobrol dengan drivernya, aku tanya dampak demo angkot. Dan amazingly, driver gojek bilang sejak ada demo itu orderan gojek makin banyak. Aku pun kaget.

“Wah ko bisa ya pa?” Tanyaku.

Driver gojeknya bilang, “Orang-orang kayanya jadi makin males sama angkot mba, apalagi udah diliatin tingkah laku supir angkot ternyata pada brutal. Orang Bandung mah udah pada berpendidikan kan mba, jadi tetep aja lebih milih transportasi yang aman dan nyaman.”

Waaah salut sih sama kesimpulannya driver gojek itu. Bener juga. Makin yakin kalo emang supir angkot itu kurang edukasi. Mereka ketakutan untuk bersaing padahal rezeki udah ada yang mengatur. Justru seharusnya kalau memang gak mau kalah dalam persaingan yaa harus cari solusi gimana caranya biar orang orang kembali pakai angkot. Ini ko malah demo anarkis. Miris. Meskipun aku tau beberapa supir angkot itu ikutan demo cuma ikut ikutan aja karena kalau gak ikut bisa habis sama preman angkot. Aku tau juga gak semuanya supir angkot itu jahat, ada ko supir angkot yang baik. Yang ngerelain penumpang (gak mikir) yang akhirnya gak bayar ongkos karena bayar pake duit seratus ribu, yang ngerelain seribu rupiah saat gak ada uang kembalian seribu (akhirnya supirnya ngasih kembalian 2 ribu), yang gak nurunin kita di jalan sebelum sampe tujuan meskipun penumpang sepi, yang enggak ngetem dan ugal ugalan, dan yang selalu bilang makasih saat kita bayar ongkosnya. Banyak ko masih banyak supir yang baik hati, yang memang cari rezeki halal untuk keluarganya tanpa merugikan orang lain.

Tapi emang masalahnya serba salah. Angkot yang enggak bisa ngikutin perkembangan zaman dan akhirnya bikin pemerintah ambil jalan singkat: larangan kendaraan online dan katanya harga setiap angkutan online dibuat sama, jangan ada promo promo lagi. Pengguna protes. Kita yang udah merasakan betapa terbantunya dengan motor atau mobil online, merasa ko peraturan pemerintah enggak adil. Disaat negara sedang memanfaatkan teknologi untuk setiap kegiatannya di Indonesia malah akan dihapuskan. Memang setiap keputusan selalu ada untung ruginya. Sebagai pemakai angkutan umum aku kadang kesal sama yang pakai kendaraan pribadi, kalau aja mereka naik kendaraan umum jalanan Bandung gak akan semacet sekarang tapi yaa ternyata wajar aja mereka enggak mau naik angkutan umum. Angkutan umumnya sungguh menyedihkan.

Masih ingat banget dulu pas jaman masih ngeproject sama bule bule, salah satu bule asal Belanda, Charlotta ngobrol denganku hingga tengah malam. Dia cerita banyak tentang Belanda dan perbedaannya dengan Indonesia. Terutama di transportasinya karena selama 2 minggu dia di Indonesia, dia ngerasa ‘ampun’ dengan transportasi Indonesia. Dia cerita kalo orang-orang Belanda terbiasa jalan kaki, kalau jarak tempat tujuan masih dibawah 5 km mereka pasti jalan kaki atau kalau jauh naik tram. Jarang banget orang yang pakai mobil pribadi jadinya gak bikin jalanan macet. Terus aku bilang ya wajar aja mereka pada pakai angkutan umum karena angkutan umumnya emang nyaman, enggak seperti di Indonesia. Charlotta pun setuju. Dia bilang emang sistem angkutan umum di Indonesia buruk banget. Dia juga cerita pas dia pergi ke Jogya pake kereta dari Bandung, selama 8 jam itu dia gak ngapa ngapain di kereta karena jalan kereta yang enggak mulus, jalan kaki di Bandung aja enggak nyaman karena trotoar disalahfungsikan. Dia bilang, yaa wajar juga sebenernya kalau orang Indonesia jadi malas jalan kaki, jadi malas pakai angkutan umum. Bahkan untuk bule bule yang baru beberapa hari di Indonesia mereka sangat merasa gak nyaman bepergian di Indonesia, let’s say in Bandung. 

Aku pun gak tau harus memperbaiki sistem ini darimana, semuanya udah serba salah. Masalahnya bisa muncul dari mana mana. Sekali ada peraturan baru yang dirubah pasti ada yang senang ada yang sedih. Intinya sih gini, biar semuanya nyaman harus ada disiplin berkendara. Katanya Bandung is a smart city tapi ko sedih persaingan transportasinya gak cerdas gini.

Angkot Bandung #part2

Even after 6 months, i still remember how i felt so much disappointed about public transportation. And now it's happening again. Too much.

So lewat tulisan ini aku ingin mencurahkan segala pemikiran aku dua minggu belakang ini. Kalian semua tahu kalau sekarang (untuk sementara) aku memang tinggal di Bandung. Iya. Siapa sih yang enggak kenal dengan kota besar yang satu ini, yang bahkan jadi salah satu destinasi liburan akhir pekan favorit semua orang. Enggak ada yang enggak suka dengan kota ini. Makanannya, udaranya, suasananya, tempat hitsnya, kampusnya, mahasiswanya, walikotanya, kecuali... macetnya.

Sedikit cerita, aku mulai tinggal di Bandung sejak 2010 hingga sekarang. Sudah tujuh tahun. Dulu pas awal awal kuliah masih sanggup main pas weekend. Sekarang? I'm giving up karena Bandung jadi super macet di akhir pekan. Kemajuan teknologi bikin Bandung makin terkenal, apalagi pak walikota yang aktif banget sharing serunya kota Bandung. Sejak itu makin banyak orang yang ingin main ke Bandung. Kemajuan teknologi ini pun dimanfaatkan oleh perusahaan transportasi berbasis aplikasi untuk bisa memasuki Bandung. Warga Bandung yang memang hedonis, kreatif, dan aktif menyambut baik kehadiran salah satu jenis transportasi ini. Mempercepat perjalanan tanpa macet, harga yang lebih murah, banyak promo, dan yang penting lainnya adalah memudahkan untuk berpergian ke tempat hits yang umumnya sulit dijangkau oleh angkot.

Tapi ternyata, kabar baik ini tidak menguntungkan bagi para supir angkot Bandung. Katanya, penghasilan mereka menurun hampir 100% setelah ada transportasi online. Bagiku yang sangat ketergantungan dengan angkutan umum, menyadari fakta angkot tersebut. Bandung yang semakin hari semakin macet membuat orang akan lebih memilih ojek online. Ojek online begitu membantu saat harus pergi tempat jauh untuk waktu yang sedikit. Kalau pakai angkot sudah pasti enggak akan keburu. Belum lagi pesan makanan, anak kosan sepertiku yang kadang malas keluar untuk beli makan, adanya gofood membawa kebahagiaan.

Kemudahan dan kenyamanan yang ditawarkan oleh transportasi online akhirnya membuat masyarakat Bandung memiliki variasi jenis transportasi. Tentu akhirnya para warga memilih transportasi yang banyak menguntungkan, yang tidak ditemukan di angkot. Tapi para supir angkot tidak mengerti hal ini. Akhirnya minggu lalu sempat ada isu akan ada pemogokan angkot di seluruh kota Bandung agar gubernur mencabut PP yang mengatur keberadaan transportasi berbasis online. Mereka merasa dirugikan dengan adanya transportasi online.

Sejak keluarnya isu itu ada teman yang tidak pernah menggunakan angkot bilang, "Ya bagus lah enggak ada angkot, mending mogok aja terus, jalanan jadi sepi." Agak kesal yaa dengarnya. Gimana dengan nasib para pengguna angkutan umum? Aku membela bukan hanya karena aku pengguna angkot tapi karena kenyataannya jumlah kendaraan pribadi lah yang menjadi pemicu kemacetan di Bandung. Ko seakan-akan angkot yang salah. Mungkin sekarang lebih banyak kendaraan pribadi karena memang kendaraan umum memprihatinkan, sangat tidak nyaman. Kalau sudah begini, memutus keberadaan angkot sebenarnya bukan solusi untuk mengurangi kemacetan Bandung. Yang harus dikurangi justru penggunaan kendaraan pribadinya. Back to topic, di hari rencana pelaksaaan mogok masal angkot itu ternyata pemprov Jawa Barat berhasil memediasi para supir angkot sehingga mogok masal tidak terjadi. Tapi masalahnya enggak sampai situ. Ternyata para supir angkot ini mencabut mogok masalnya dengan syarat yaitu tidak adanya ojek/mobil online yang beroperasi lagi di Bandung.  Aku yang awalnya masih membela angkot akhirnya kesal juga. Para supir angkot dengan seenaknya mengatur kebebasan warga untuk memilih transportasi. Kenapa akhirnya warga memilih ojol dibanding angkot yaa karena ojol bisa tanpa macet, tanpa ngetem, pelayanan yang sopan, dan yang paling enak bisa door to door. Ojek online pun menang. Sayangnya, para supir angkot tidak sadar akan hal hal kenapa ojol bisa menang. Mereka hanya memaksa warga naik angkot tanpa konpensasi dan jaminan yang berarti terutama dari segi keamanan dan kenyamanan. Kalo saja dari dulu angkot enggak dzalim (ugal ugalan, ngasal masang tarif, jalan seenaknya enggak sesuai rute karena alasan macet, ngetem yang super lama) pada penumpang, mungkin nasib angkot akan jauh bisa bertahan.

Aku yang sekarang jadi pengguna dua jenis transportasi tau bahwa tidak semua angkot berkonotasi negatif. Aku cenderung pro dengan keberadaan angkot karena banyak supir angkot baik yang tujuannya mencari nafkah dengan keberkahan. Kalau sedang enggak buru-buru aku pun pasti akan lebih milih naik angkot karena emang hitungannya lebih murah dan ingin berbagi rezeki pada supir angkot yang sering kosong penumpang. Begitupun dengan pakai ojol, aku gunakan pada kondisi tertentu, misalnya buru-buru, atau mau ke tempat yang tidak dilewati angkot. Keduanya sangat bermanfaat, ini tergantung untuk kebutuhan apa kan.

Jadi agak sedih kalau sampai misalnya transportasi online sampai dihilangkan dari Bandung, sementara enggak ada perbaikan dari kinerja sopir dan keadaan angkot. Macet pun makin menjadi jadi karena angkutan pribadi pasti akan bertambah. Ingin rasanya bilang pada supir angkot, biarkan warga memilih transportasinya sendiri. Warga berhak memilih transportasi yang aman dan nyaman. Kalo memang angkot ingin terpakai oleh warga, perbaiki kualitas! Bukan hanya justru mencekal transportasi lainnya. Zaman sekarang sudah era modern, kehidupan akan kalah jika kita tidak mengenal pasar. Tapi yaa kita pun enggak bisa menyalahkan sikap para supir angkot yang begitu. Mereka yang rerata hanya lulusan SD/SMP memang tidak mengerti dengan masalah begini. Yang mereka tau hanya bagaimana mereka bisa mendapatkan uang. Miris.

Pada akhirnya, masalah ini memang tidak sederhana sesederhana kita bisa mengajukan protes pada walikota dan gubernur via sosial media. Dari masalah ini, aku semakin yakin bahwa kualitas kehidupan yang rendah disebabkan oleh pendidikan yang rendah. Kalau saja para supir angkot bisa bertindak dan berpikir lebih "matang", masalah pencekalan seperti ini mungkin tidak  terjadi lagi. 

Ingat, rezeki sudah ada yang mengatur juga.

Jalan Cipaganti, Bandung 
Kamis, 19.21 WIB
Tulisan ini dibuat saat perjalanan pulang kerja pakai angkot. Padahal sudah satu jam tapi belum juga sampai kosan karena jalanan yang sungguh macet dan angkot yang tiba-tiba kehabisan bensin. Kesel yaa tapi pas lihat pak supir yang usaha jalan kaki untuk cari bensin untuk penumpang yang hanya 3 orang, tiba-tiba membuat terharu. Life is tough. Sesusah ini cari pekerjaan di era millenial. Akhirnya orang orang dengan ekonomi menengah ke bawah yang harus menerima dampak yang mungkin paling menyedihkan.

Serba salah.

October 04, 2017

A Deep Question

[Posted originally on December, 17th 2016]
Ca, sketchnya bagus. Kreatif banget. Dulu kenapa enggak kuliah di seni rupa?
Sering. Sering banget dapat pertanyaan begitu. Bahkan diri sendiri pun sering nanya sendiri. Kenapa dulu enggak kuliah di seni rupa aja. Kalau dulu kuliah di seni rupa, mungkin sekarang bisa lebih jago gambarnya, punya banyak alat lukis, punya banyak ilmu lukis (enggak melulu doodle atau sketch seadanya), atau bahkan bisa dapat penghasilan dari gambar sendiri. Kebahagiaan banget sih! Hobi yang dibayar. Sering. Sering banget kepikiran itu. Yang ujungnya jadi sok tau akan kehidupan dan enggak bersyukur.

Kalau boleh cerita, pas zaman SMA emang enggak ada keinginan sama sekali kuliah di seni rupa. Dari kecil aku emang suka menggambar. Sering ikut lomba menggambar meskipun cuma tingkat SD, RT, RW. Bapak juga bilang kalau gambarku bagus-bagus sampe bilang “Nanti kuliahnya bisa di FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Desain di ITB)” Tapi enggak kepikiran sama sekali untuk kuliah di seni rupa dan jadi painter, creative designer, atau illustrator. Yaa namanya anak kecil, dulu mah boro-boro kepikiran kuliah sespesifik itu. PR bahasa inggris gak bisa aja masih nangis. Dulu sih mikirnya yang penting menggambar itu seru. Lebih seru dibanding tugas mata pelajaran lain.

Pas SMA pun enggak ada keinginan sama sekali untuk kuliah di FSRD atau jurusan seni rupa. Padahal pas SMA makin suka gambar, gabung di tim kreatif mading, gabung jadi anak dekor setiap kepanitiaan. Dulu itu malah inginnya masuk arsitektur. Kenapa? Karena dulu ingin dapet suami arsitek haha jadi ya harus kenal dulu sama kehidupan arsitek kan? (sungguh alasan yang enggak logis!) yang akhirnya bikin orangtua terutama mama enggak ngizinin untuk kuliah di arsitektur dengan banyak pertimbangan lainnya juga (aku pernah bercerita masalah ini sebuah post tahun 2009). Saat itu juga aku langsung nyerah aja karena mikir motivasinya enggak masuk akal. Kalau pun emang suka menggambar kan bisa dijadiin hobi aja, enggak perlu jadi profesi.

Alasan lainnya kenapa enggak kuliah di seni rupa karena kalau aku ambil jurusan seni rupa, nanti aku hanya punya kemampuan yang sama, gambar aja. Kalau nanti tiba-tiba jenuh gimana? Jadi akhirnya decided untuk enggak mendalami gambar dan lebih milih profesi lain. Alhamdulillah, minat gambarku sangat terasah di jurusan biologi. Saat kuliah S1 dulu beberapa mata kuliah sangat menuntut kemampuan menggambar, botani dan struktur hewan. Disaat teman-teman banyak mengeluh, aku enjoy sekali. Disaat teman-teman lain hanya beli pensil warna ukuran kecil 12 warna, aku sengaja beli pensil warna 24 warna. Lalu sekarang saat mengajar, pelajaran biologi sangat menuntut banyaknya gambar di papan tulis. Aku justru senaaaaaang! Sampai siswa banyak yang bilang "Bu gambarnya bagus." Intinya, sekarang disamping aku bisa mengembangkan skil menggambarku, aku pun bisa punya kemampuan lain di bidang pendidikan dan biologi. Kalau sedang jenuh mengajar dan belajar biologi, aku pasti menghabiskan malam harinya dengan menggambar. Besoknya, mood kembali dan mengajar seperti biasa lagi.

Meskipun dulu pas kuliah biologi, kalau capek praktikum, tugas laporan dimana-mana, ujian yang susah, suka mikir pasti enak banget kalau ambil kuliah seni. Tugasnya cuma gambar-gambar yang memang ku minati (meskipun kata temanku yang ambil seni rupa, teori seni rupa enggak segampang praktiknya atau sebaliknya). Sekarang udah masuk dunia kerja, kadang ada juga sedikit rasa menyesal kenapa dulu enggak kuliah seni rupa aja, atau ngambil pendidikan seni rupa gitu misalnya. Pasti sekarang enak, hasil gambarku bisa dibayar, dan ngajar pun enggak usah ribet-ribet karena bukan mata pelajaran ujian nasional. Apalagi kalau ngerasa capek ngajar biologi dan belajar biologi molekuler yang enggak ngerti-ngerti. Udah nyesel aja kenapa enggak kepikiran kuliah di seni rupa.

Tapi yaa mungkin jalannya sudah begini. Bakat menggambarku masih bisa berkembang ko, hasil gambarku pun sebenarnya bisa dibayar (kalau aku berani mulai menawarkan jasa menggambar misalnya). Positifnya, dengan hobi dan profesi yang berbeda, akhirnya aku bisa merasakan bahwa hiburan dan waktu luang itu sebenarnya adalah ketika kita pindah dari kegiatan 1 kegiatan lainnya. Sehingga kejenuhan bisa diatasi. Alhamdulillah aku senang dengan perbedaan kegiatan-kegiatan yang kumiliki sekarang.

October 03, 2017

Does it matter?

[Originally posted on December 5th 2016]

Mungkin kita semua sering mendapatkan pertanyaan yang sebenarnya sangat enggak penting tapi sering ditanyakan oleh orang-orang sekitar. Terutama pertanyaan yang menyangkut kehidupan pribadi, a super sensitive question. Aku tahu pertanyaan itu hanya sekadar basa-basi. Tapi apakah basa basi dilakukan dengan sebegitu dangkalnya? Hingga membuat orang yang ditanya agak risih dan enggan untuk memperpanjang obrolan.

Pertanyaan dari mulai, 
"Sekarang sibuk apa?"
"Kerja dimana?" 
"Skripsi/tesis udah sampai mana?"
"Kapan nikah?"
"Gimana udah ada calon belum?"
"Calonnya kerja apa?"
"Udah ngisi belum?"

Oh God! Does it matter for you? Dari beberapa orang yang pernah menanyakan pertanyaan itu kepadaku, aku sempat bertanya apa tujuannya? Mayoritas jawab karena enggak kepikiran pertanyaan lain and they think it is better than no asking. Hmm… enggak kepikiran pertanyaan lain! Ini konyol sih ya. Jadi selama ini sekolah 16 tahun enggak bisa bikin pertanyaan yang bikin orang merasa senang menjawabnya? Ada apa dengan mental orang-orang ini? Hal ini membuatku berpikir bahwa pertanyaan basa-basi enggak penting itu sudah jadi common sense di kalangan masyarakat Indonesia, katanya… daripada enggak nyapa, daripada enggak nanya. Tapi kalau bolehku bilang, daripada pertanyaannya enggak penting dan justru membuat orang yang ditanya jadi malas berbicara, ada baiknya kalau kita diam aja, biarkan mereka bertanya duluan, atau buat pertanyaan yang berkualitas yang enggak hanya menanyakan status seseorang!

Aku pernah membaca suatu artikel inc.com tentang 3 easy ways to make a good quality conversation. Salah satu point yang sangat kusuka adalah “Make yourself interesting and memorable” Bagaimana caranya? Jadi seperti yang ditulis artikel tersebut, ada perbedaan antara obrolan orang-orang sukses dan orang yang membuang-buang waktu. Ketika orang sukses mengobrol santai atau bertemu seseorang mereka tidak pernah membicarakan pekerjaan atau kehidupan pribadi mereka. Mereka akan cenderung membicarakan obrolan lain diluar kehidupan sehari-harinya. Supaya apa? Supaya mereka mendapatkan sesuatu yang lebih penting dibanding tentang kehidupannya. Dengan cerdiknya mereka mencari obrolan dan pertanyaan yang akan mengarah pada sesuatu hal baru atau informasi yang akan mereka dapatkan. So, in the last of article, the writer wrote: 

Think of how you can expand your knowledge and areas of interest to make yourself much more memorable when people meet you. Ask something matter and valuable.
Jadi ingat, suatu hari aku pernah bertemu dengan teman sedari SD yang sudah lama tak jumpa. Kebetulan kami bertemu di rumah sakit tempat dia bekerja saat aku mengantarkan teman mengurus surat keterangan sehat. Sontak dia langsung menanyakan aku bekerja apa, dimana, sibuk apa saja, kapan menyusul dia menikah dan punya anak. Ku jawab seadanya. Setelahnya kucoba untuk mencari obrolan yang lebih berkelas dari sekadar membicarakan kesibukanku. Ku langsung menanyakan kabarnya, menanyakan bagaimana kabar anaknya, dan kesannya bekerja di lab rumah sakit. Seketika dia langsung menceritakan semuanya. Suasana yang tadinya awkward langsung cair. Ahh i see. A meaningful question which out of the common question could bring up the good atmosphere.

Aku berusaha untuk keluar dari stereotype pertanyaan basa basi tersebut, agak susah memang karena hal tersebut sudah menjadi kebiasaan. Terkadang karena orang lain menanyakan hal “enggak penting” itu terlebih dahulu, kita pun jadi ikut-ikutan menanyakan hal yang sama. Tapi kembali lagi ke tujuan awal, apakah kita ingin menjadikan setiap pertemuan itu berkesan? Jika iya maka mulainya dengan pertanyaan yang berkesan pula.

Before you ask someone, ask yourself first, does it matter? Does it necessary? Does it could make a good quality conversation? and does it make you memorable? 

October 02, 2017

Konser Musik 2016

[Posted originally in December 4th, 2016]

A thing to remember, this event is what i've been looking for this couple of month -FK UNPAD FAIR 2016. After waiting around 2 months, finally i could watch the biggest binually event of Padjadjaran medical student that genuinely become so gorgeous. So, beyond happy talking about last night, it has been a long time since i wrote something about music concert, here i come with some of words. Hmm but maybe we should call it, a short review? Hehe

Jadi setelah dapat broadcast acara FKUNPAD FAIR 2016 di grup alumni SMA dari salah satu alumni yang sekarang kuliah di FK Unpad langsung niat ingin pergi ke acara konser musiknya. Gila meen ada Kahitna, Mocca, Tulus, Naif, The SIGIT dengan harga seratus ribu untuk yang regular (saat tau ada konser itu, tiket VVIP dan VIP udah sold out, what the…). Sebenernya sih karena aku ingin nonton Mocca dan Kahitna nya aja karena Tulus dan Naif udah pernah nonton di konser lain. Akhirnya pesen tiketnya via web dan ternyata available bank transfer-nya cuma untuk Mandiri aja sementara aku hanya ada BCA BNI hmm kadang suka males gak sih transfer antar bank tuh? Aku pun gitu dan memutuskan untuk enggak pesan tiket via web. Setelah dengar bahwa ternyata bisa beli offline tiket di beberapa cafe di Bandung akhirnya pikir ya lebih baik langsung beli di cafe aja, cash, gak ribet. Tapi ternyata enggak ada waktu! Setiap habis pulang ngajar bawaannya capek, boro-boro mau ke cafe. Dan waktu makin deket 3 Desember, tapi tiket belum ditangan, harga pre-sale udah naik jadi 120.000. Eh taunya adikku bilang kalau temannya ada yang bisa beliin tiket harga miring karena dia punya temen panitia eventnya. Waah tawaran menarik sih! Akhirnya aku jadi beli via si temennya Opi dengan harga cuma 65.000. Gak ngerti lagi kenapa bisa semurah itu!

Hari H, kebetulan aku berangkat bareng Zahra (temen kos) dan Opi, kita udah rencain untuk nonton Mocca yang di rundown bakal manggung jam 15.30. Tapi ternyata udah jam 15.30, si temennya Opi belum bisa ditemuin sementara tiketnya belum dikasih ke kita. Kita cuma duduk sedih depan Sabuga padahal di dalam Mocca udah mulai nyanyi. Kesel sih ya karena ternyata ada miskomunikasi juga sama si temennya Opi yang bikin kita jadi lama nunggu. Ngerasa sedih juga kalau sampai Mocca kelewat padahal niat awalnya ingin nonton Mocca. Tapi berusaha bikin hati enakan “Toh tiketnya cuma 65.000. Gak rugi-rugi amat.” Dan akhirnya setelah 20 menit Mocca tampil, ketinggal sekitar 3 lagu kita pun bisa masuk ke Sabuga. Lari-lari supaya sempat lihat Mocca dan akhirnya masih sempat nonton Mocca! Meskipun enggak dapat tempat depan banget tapi yaa seenggaknya masih bisa lihat Ka Arina CS dengan cukup jelas. Duuuuuuh Mocca emang everlasting! Dari zaman aku SD sampai sekarang kayanya enggak pernah mengecewakan, suara Ka Arina tetep bagus, performance-nya tetep adorable dan lagunya tetep bikin happy. Pas kita masuk Mocca lagi perform I Love You, Anyway. Lalu lanjut dengan lagu Do What You Wanna Do, Happy, Changing Fate, Secret Admirer, I Remember, Mars Persib (Ka Arina bilang karena mereka sedang di Bandung), dan terakhir ditutup dengan Me and My Boyfriend, the legend song since my elementary. Lumayan puas dengan Mocca yang ini meskipun telat! Seenggaknya mereka nyanyi lebih banyak dibanding Banda Neira saat FKUNPADFAIR2014. Mocca really melted all swinging friends. Bahkan cowok cowok disebelahku –yang sebenernya mereka nunggu The Sigit ikut nyanyi-nyanyi dan berulang kali memuji Ka Arina. See you again, Mocca! I definitely would join another your concert, for sure! Segini doang enggak puasss!!!

Next to the second band, The Sigit. Meskipun enggak tau sama sekali dengan salah satu band rock terbaik ini tapi performance 5 rocker ini emang keren banget. Shaf paling depan mulai dijajah para cowok tepat setelah Mocca selesai tampil. Si cowok pun teriak histeris saat The Sigit muncul, sama aja ternyata layaknya cewek teriak histeris saat Tulus muncul. Disaat para cowok jingkrak-jingkrak dan ikut nyanyi sambil teriak di sepanjang The Sigit tampil, aku cuma bisa nganga doang, lagunya enggak ada satu pun yang tau tapi berhasil dibuat amazed dengan kemampuan main gitar para personilnya. Kesanku: mereka pantas dibilang band rock terbaik Indonesia. Gak heran mereka udah go international.

Setelah The Sigit, ternyata harus diselingi dulu sama performance dari anak-anak FK Unpad, Tribute to Freddie Mercury. Tapi menurutku ini agak bikin bosen juga. Kita cuma nonton choir, modern dance, dan band anak-anak FK Unpad dengan lagu-lagu Freddie Mercury. Lebih menarik Tribute to Stevie Wonders saat FK UNPAD Fair 2014 sih. Durasinya terlalu lama dan jeda dari The Sigit juga super lama karena ada masalah sound. Jadinya penonton sebelah dan belakangku banyak yang caci maki performance anak-anak FK Unpad itu. Sedih sih dengernya. Tapi yaa kalau boleh jujur emang bosen banget, sampai Opi bilang, “Kayanya kita bakal lebih amazed kalau liat mereka ngobatin orang ya teh?” Hahahaha. Sorry it’s too offensive. Tapi salut juga sih mereka masih bisa nyiapin performance selama itu di tengah perkuliahan kedokteran yang enggak selow.

Daaaaan akhirnya jam setengah 8, Kahitna pun muncul. Pegel-pegel karena berdiri sejak jam 4 sore pun langsung hilang. Paraaaaaaah terharu banget! Akhirnya bisa lihat Mas Hedi Yunus, Mario, Carlo, dan Mas Yovie. Kebaperan di malam minggu langsung meningkat eksponensial. Enggak ada kekurangan sama sekaliiii! Cewek-cewek langsung teriak histeris termasuk aku. Secara ya emang tujuan nonton acara ini karena ingin lihat Kahitna. Mereka nyanyi lagu banyak bangetttt dan semuanya bikin seluruh Sabuga nyanyi bersama. Keren banget! Dari mulai Soulmate, Rahasia Hatiku, Cantik, Setahun Kemarin, Tak Sebebas Merpati, Menanti, Katakan Saja, Takkan Terganti (sampai hafal semuanya). Enggak kebayang lagi kalau nanti nonton konser khusus Kahitna doang. Baper maksimal kayanya.

Setelah Kahitna, next performance: Tulus dan Naif. Agak enggak excited sih ya karena udah pernah nonton konser mereka sebelumnya. Jadi akhirnya aku mundur dari venue festival di tengah Sabuga dan lebih milih duduk di kursi reguler karena udah super pegel dan mulai desek-desekan. Akhirnya 2 penampilan terakhir cuma nonton dari kursi penonton. Tapi tetep kerasa feelnya. Bisa lihat seluruh isi Sabuga nyanyi bareng di lagu-lagu Tulus yang enggak pernah bosan. Bikin baper juga pas Teman Hidup, Sewindu, dan Jangan Cintai Aku Apa Adanya dinyanyiin Tulus dengan tender voice-nya. As usual, Bang Tulus selalu sopan menyapa kita semua, so humble, dari awal tampil sampai terakhir semua kata-katanya sopan banget bikin betah nonton. Pokoknya meskipun udah pernah nonton Tulus sebelumnya tapi tetep seruuuuu.

And the last, si band yang selalu bikin pecah di acara apapun itu: NAIF! Parah sih parah band ini enggak ada duanyaaaa. Aku yang tadinya duduk di kursi penonton akhirnya ikut turun ke festival karena too bad banyak banget penonton festival yang langsung pergi setelah Tulus tampil (mereka enggak tau kali ya kalau Naif bakal lebih pecah?). Karena banyak penonton yang pulang, festival pun jadi agak lengang dan bisa puas loncat-loncat saat Bang David cs muncul. Seperti bisa jawaranya Naif: Jikalau, Benci untuk Mencinta, Cuma Satu bikin aku baperrr. Seperti biasa juga lagu Air dan Api, Mobil Balap, Dia adalah Pustaka… (terlalu panjang wk), dan Posesif berhasil menutup acara FKUNPADFAIR2016 in fantastic and hilarious way. Pecah bangettttttt! Aku sampai enggak kontrol ikut loncat-loncar bareng anak-anak cowok Unpad dan ITB yang kenalan saat itu haha (penting banget dikasih tau). Naif emang enggak pernah mengecewakan!

Daan malam itupun akhirnya berlalu dengan kepuasan. Rindu nonton konser pun terobati. Kadang suka mikir mumpung masih belum berkeluarga yaa puas-puasin nonton beginian. Karena ada rekan di tempat mengajar yang udah beli tiket reguler dan bahkan VIP tapi batal nonton karena alasan anak dan istri. Duh… Tapi sempet mupeng juga sih lihat ada pasangan suami-istri nonton berdua di kursi VVIP terus istrinya nyender di bahu suami sambil dengerin Tulus nyanyi Teman Hidup, perrrr baperrrr.

Yaa pokoknya semoga nanti bisa nonton acara konser musik lagi, disaat teman-temanku di Jakarta pada berburu tiket Coldplay Singapore, apalah aku yang bisa dateng ke acara ini aja udah seneng luar biasa. Hmm bahagia sederhana, bukan?


 



October 01, 2017

Proyek Sky-Walk Cihampelas

[Originally posted on November 20, 2016]

Sejak tanggal 6 November 2016, di beberapa grup whatsapp sudah banyak info mengenai penutupan Jalan Cihampelas karena ada proyek pembangunan Sky-Walk (bagi yang penasaran apa itu Sky-walk silakan browsing aja ya). Bagiku si pengguna angkot yang setiap hari harus pulang pergi melewati Jalan Cihampelas maka adanya proyek jalan ini dan itu kadang bikin kesal juga karena pasti rute angkot berubah yang berujung pada kemacetan.

Sudah dapat dibayangkan kan bagaimana macetnya Jalan Cihampelas semenjak pembangunan Sky-Walk ini. Sejak itu aku sangat menghindari lewat Jalan Cihampelas. Alhamdulillah untuk berangkat ke tempatku mengajar masih bisa dilalui tanpa lewat jalan ini tapi saat pulangnya enggak ada jalan lain, mau enggak mau harus lewat Jalan Cihampelas dan kemacetannya. Tapi hari Sabtu kemarin, aku dan temanku Vivi berencana untuk nonton Fantastic Beast di BEC Mall. Karena janjian jam 11 siang akhirnya aku pergi dari kosan sekitar jam 10an dan akhirnya mau-gak-mau harus lewat Jalan Cihampelas karena angkot yang lewat BEC (angkot Kalapa) rutenya pasti lewat Jalan Cihampelas, Ah enggak apa-apa deh toh masih pagi Jalan Cihampelas pasti enggak akan macet pikirku saat memutuskan naik angkot Kalapa padahal sebenernya bisa aja menghindari Jalan Cihampelas (naik angkot Margahayu) meskipun nanti harus jalan sedikit dari perempatan Purnawarman ke BEC Mall.

Ternyata dugaanku salah, Cihampelas macet banget. Butuh waktu setengah jam untuk bergerak sekitar 500 meter aja. Mungkin karena hari Sabtu juga sih ya. Saat itu angkot yang kunaiki enggak terlalu penuh, cuma ada 4 orang dengan supir seorang kakek-kakek kurus. Sambil nunggu macet, panas, dan bising klakson, kakek supir tetap diam enggak mengeluh. Bawa mobilnya juga enak, enggak terobos-terobos ngasal. Seketika jadi empati sama supirnya, kebayang enggak sih capeknya nyetir Kalapa-Ledeng karena kakeknya udah tua, harus lewat Jalan Cihampelas yang selalu macet all the time, bensin yang pasti butuh lebih banyak tapi justru penumpang yang seadanya. Jadi mikir apa kakek ini dapat untung yang cukup dari pekerjaannya?

Disaat lagi empati sama si kakeknya, tiba-tiba ada 2 orang ibu dan anak perempuannya naik angkot. Mereka naik di depan R.S Advent dan sepertinya mau ke Ciwalk. Jarak Advent-Ciwalk yang sangat enggak jauh emang sebenarnya bisa dilewati cuma 1 menitan dan cukup dengan ongkos 2 ribu rupiah/orangnya. Tapi siang itu perjalanan yang seharusnya cuma 1 menit menjadi setengah jam. Sedihnya, saat ibu dan anak itu turun di Ciwalk mereka bayar 5 ribu dan si Ibu minta kembalian. Padahal dengan lihat kondisi jalanan Cihampelas yang super macet, enggak akan rugi kalau kita kasih uang lebih ke supir. Terus ternyata kakek supirnya bilang enggak ada seribuan. Si ibu enggak bilang apa-apa, malah tetep nunggu kakeknya ngasih uang seribu, akhirnya karena emang enggak ada uang seribu, si kakek tanpa nego dan ikhlas ngasih kembalian 2000 ke si Ibu. Setelahnya pun si kakek enggak ngedumel. Jadi si ibu dan anaknya itu cuma bayar 3000 aja berdua untuk perjalanan setengah jam itu. Sedih. Sedih banget lihatnya. Kok ada ya orang yang setega itu, enggak mau ngelebihin rezeki ke orang yang mungkin kelihatannya lebih butuh dibanding kita. Uang seribu enggak akan bikin kita jadi miskin kan, pikirku.

Aku emang bisa jadi super sensitif kalau masalah lihat orang tua yang masih harus bekerja keras banting tulang dengan pekerjaan yang enggak seberapa. Dan terbukti dengan kejadian siang itu, berhasil buatku jadi kesal dengan ibu dan anaknya itu, padahal mereka terlihat seperti orang yang sangat berada. Tapi mungkin ini memang urusan kepekaan ya, enggak semua orang punya empati yang sama meskipun mereka diberikan kelebihan rezeki. Begitupun mungkin si kakek, mungkin si kakek percaya kalau rezeki sudah ada yang mengatur, jadi enggak masalah untuk urusan ongkos yang dibayar oleh penumpangnya.

Dari cerita perjalananku melewati proyek Sky Walk Cihampelas itu ada hikmahnya. Memang kepekaan itu harus dibentuk. Hablumminnas itu harus dibiasakan. Di keluargaku mama dan bapak selalu mengajari bahwa jangan sampai bayar ongkos angkot kurang, enggak apa-apa lebih daripada kurang karena kalau kurang bisa jadi dzalim. Aku sering lihat mama atau bapak beli makanan atau barang yang dijual oleh kakek-kakek atau nenek-nenek yang keliling komplek rumah. Padahal mama enggak terlalu butuh barangnya atau enggak terlalu mau makanannya, tapi mama bilang, enggak apa-apa kita kan ada rezeki lebih, kalau kita beli dagangan mereka, mereka pasti makin semangat cari rezekinya. Dan aku yakin kenapa aku bisa sangat begitu kesal dengan kejadian si ibu dan anaknya pada kakek supir angkot itu.

Sejak itu aku merasa sangat beruntung menjadi salah satu anak yang dibentuk dengan kebiasaan yang baik oleh mama dan bapak. Bahwa rezeki itu harus dibagi untuk yang membutuhkan, bahwa rezeki yang dibagi itu enggak akan pernah berkurang, bahwa kemudahan akan datang jika kita memudahkan orang lain. Akhirnya, aku berjanji untuk membiasakan hal yang sama untuk anak-anakku nanti. Saling berbagi.