Rosmalinda Nurhubaini's. Literally a nous of my random thought.
Posts // About
// Twitter // Tumblr

May 20, 2015

Some of Mom's Advice

"Kenapa coba Islam itu mengajarkan bahwa agama dan akhlaknya yang baik adalah kriteria utama untuk pasangan hidup? Karena kita gak akan pernah tau kehidupan seperti apa yang akan kita hadapi saat nanti berumah tangga, kita gak akan pernah tau cobaan apa yang akan diterima, perubahan apa yang nanti akan terjadi pada diri kita sendiri maupun pada pasangan, atau anak-anak seperti apa yang akan diamanahkan Allah. Banyak sekali masalah rumah tangga itu. Tapi kalo dari awal agama dan akhlaknya bagus itu bisa jadi pondasi sehingga kalian berdua bisa sama-sama mengatasi masalah kalian bersama bukan malah salah satu kabur dari masalah dengan perceraian, kdrt, atau parahnya melampiaskan pada anak. Naudzubillahimindzalik. Kalo agama dan akhlaknya baik, kalian bisa sama-sama punya satu tujuan untuk mencapai surga melalui keluarga yang kalian bina. Pernikahan itu setengah dari agama, perjalanannya adalah ibadah. Sayang kalau cuma dijalankan hanya untuk mempersatukan cinta 2 orang semata. Inget, kekayaan masih bisa dicari, fisik bisa hilang seiring bertambahnya umur, tapi akhlak dan iman itu akan terus melekat karena untuk mendapatkannya gak bisa secara tiba-tiba. Mereka bisa selalu ada kalau pondasinya kuat."

May 18, 2015

Ini tentang perasaan yang sangat mudah berbunga.
Padahal bukan tentang perbuatan yang ditunjukkan.
Hanya karena satu dua kata yang sebenarnya sangat mudah (pula) ia katakan pada orang lain.
Hingga akhirnya yang terlihat hanya satu pihak dengan rasa istimewa.
Mungkin ini hanya tipuan.
Mungkin ini hanya permainan.
Tapi tidakkah kamu berpikir bahwa permainan dan tipuan itu berbeda.
Satu pihak tidak akan merasa ditipu jika kau melakukan dalam permainan.
Namun jika benar kau sungguh-sungguh maka lakukan yang terbaik, jangan main-main.
Dan untukku, hanya permainan lah yang bertahan sebentar.
Jika dia sungguh-sungguh, dia tidak akan bermain-main.
Dia akan berusaha lebih giat.
.
Tidak ada yang salah.
Aku yang seharusnya lebih pintar membedakan.

May 16, 2015

Being at Home

Dulu saat masih SMA atau kuliah dimana sangat jarang bisa tinggal di rumah, being at home adalah suatu moment berharga yang enggak bisa dilewatkan. Tolak ukur being at home seketika menjadi momen untuk bersantai-santai dan menghabiskan waktu berkualitas untuk keluarga. Di rumah itu sama dengan liburan. Seperti itu. Tapi itu dulu. Sekarang tidak bisa lagi seperti itu. Being at home masih menjadi suatu kenikmatan sendiri sebenarnya, dikelilingi keluarga yang melindungi dan selalu ada untuk mendengarkan itu mengasyikan. Hanya saja, titel menghalangi 'keasyikan' itu. Sudah sarjana kok masih di rumah saja? Sekarang sibuk apa? Sudah kerja dimana? Pertanyaan seperti itu yang sungguh sangat mengganggu kenikmatan bisa berada di rumah dalam waktu yang lumayan lama.

Bagi saya pertanyaan itu sangat mengganggu, setidaknya sebagai anak ada keinginan kan untuk mandiri dan tidak bergantung lagi pada orangtuanya. Meskipun disisi lain orangtua saya tidak berkeberatan jika sampai saat ini saya hanya di rumah sementara teman-teman saya yang lain mungkin sudah mulai mengajar. Namun satu hal yang pasti sebenarnya di dunia ini tidak pernah ada kegiatan yang sia-sia jika kita menggunakannya dengan sungguh-sungguh even it just being at home. Banyak hal yang menurut saya sama pentingnya berada di rumah dibanding saat ini saya sibuk mencari uang. Ini bukan sama sekali excuse saya karena belum mencoba apply pekerjaan, ini hanya berpendapat bahwa semuanya itu indah jika kita pandai bersyukur. Kenyataannya ini sudah H-1 bulan pasca wisuda tapi status saya masih 'pengangguran', itu ya harus dinikmati. Ini sudah jalan yang saya ambil bahwa memutuskan untuk kuliah lagi dan menunda bekerja untuk menyesuaikan waktu dan tempat S2 terlebih dahulu. Oleh karena itu hingga paling lambat 1 bulan ke depan (hingga pengumuman penerimaan S2) insya Allah saya stay di rumah.

Being at home saat ini bagi saya yang sejak 8 tahun lalu bersekolah di luar kota, -yang jika ditakdirkan untuk bersekolah lagi maka genap 10 tahun, menjadikan suatu keasingan tersendiri. Di usia cukup matang untuk berkeluarga ini tidak bisa being at home saya jadikan suatu liburan. Mama sudah semakin tua, tenaganya sudah berkurang, begitu pun bapak. Tidak bisa terus-menerus saya yang mengharapkan pelayanan mereka, justru sekarang sebaliknya. Saya yang harus sebisa mungkin meringankan beban mereka, jika belum bisa meringankan dengan materi maka dengan waktu dan tenaga pun bisa dilakukan. Mama pernah bicara seperti ini,  
"Sikap dewasa itu intinya peka, sensitif dengan segala sesuatu yang harus dilakukan disekitar. Jangan cuma nunggu untuk disuruh. Nah kedewasaan itu gak bisa datang dengan sendirinya. Gak bisa kamu dapetin dengan sekolah formal. Mau sekolah setinggi-tingginya gak jamin bakal dewasa secara sikap. Sikap dewasa itu didapatin dari belajar di rumah sendiri. Mama gak akan bangga kalau anak mama sekolah tinggi, nilainya bagus tapi gak becus ngurus rumah. Malu entar mama sama mertua kamu." 
Jleb momen. Saat SMA dan kuliah kurang apa lagi untuk bisa merasakan perjuangan akademik, perjuangan organisasi, bisa main sepuasnya tanpa ada yang melarang, bisa bebas mengerjakan apapun yang kita mau. Seketika tersadar bahwa being at home untuk perempuan adalah sesuatu precious moment. Tidak bisa digantikan dan ditemukan dengan tempat manapun. Bagi saya yang jarang ada di rumah sekaranglah justru waktunya saya belajar banyak hal bagaimana mengurus rumah, masak, mencuci dengan baik, dan belajar efisiensi waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya. Sisa waktu yang lain saya gunakan untuk belajar mengembangkan skill saya yang lain. Meningkatkan kemampuan english saya, kejar nilai ielts dan ibt yang diharapkan, belajar psikotes, banyak baca buku, belajar nyetir, mengembangkan skill nulis dan lain lain. See? Masih mau bertanya seorang perempuan seumuran saya mengerjakan apa selama di rumah? Masih banyak hal yang belum saya benahi, masih banyak pekerjaan rumah tangga yang belum bisa saya lakukan secara efisien. Intinya saya masih harus banyak belajar untuk bisa 'bekerja' di rumah. Kalau bukan sekarang kapan lagi waktunya? Alhamdulillah masih diberi kesempatan dan dukungan orangtua untuk dibekali dasar-dasar kemampuan bekerja di rumah oleh mama. Setidaknya modal awalnya sudah pernah dipelajari jadi kedepannya sudah ada pondasi yang cukup kuat. Insha Allah. 

Mama benar, kemampuan 'bekerja' di rumah itu enggak akan saya dapat dimanapun. Realnya ya harus dikerjakan di rumah. Kosan? Gak jamin. Meskipun secara otomatis tinggal jauh dari orangtua membuat kita jadi supermandiri tapi kenyatannya yang saya rasakan kemandirian itu hanya berlaku jika kita tinggal sendiri, belum seutuhnya berlaku untuk serving pada orang-orang sekitar. So i'm just trying to enjoy my daily activities lately. Mumpung belum sibuk dengan tugas, mumpung belum sibuk cari uang, sekarang sibuk dulu aja melayani keluarga, bercerita sama mama, belajar apapun dari mama, sibuk membekali diri untuk jadi perempuan calon ibu dan istri seseorang. Berharga bukan dari sekadar cari uang lalu senang-senang? Hehe

Being at home doesn't mean you don't have anything to do, doesn't mean it's a nonsense. Being at home is totally so cool. Disaat yang lain mungkin bangga dengan pencapaian di bidang karirnya namun bagaimana dengan belajar untuk mencapai fitrah yang seutuhnya? Just be happy. And to be happy is to enjoy everything you do, isn't it?

May 09, 2015

Rencana S2

Well sebenarnya sudah ingin menulis tentang rencana S2 (Insha Allah, amin), tapi skip terus karena alasan kemalasan merangkai kata-kata. Tapi kebetulan beberapa hari yang lalu ada anonim di ask.fm yang bertanya tentang alasanku kenapa ambil S2 langsung setelah wisuda sarjana. Ya ngerti sih maksudnya. Kenapa gak kerja? Atau emang gak mau kerja dulu gitu dan nyoba cari uang sendiri? Atau emang gak akan nikah dulu? Yahaha. I got your point! 

Awalnya akan dijawab langsung di answer box ask.fm nya tapi ternyata error terus (karena jawabannya kepanjangan kali ya). Karena gagal publish terus akhirnya dipost disini aja deh. Sekalian menambah postingan di blog juga hehe. Untuk siapapun anon yang bertanya hehe itu pertanyaan terserius yang kujawab superserius juga. Semoga terbantu deh ya dengan alasanku ini. Alasannya banyak, tapi kira-kita yang cukup masuk akal untuk akhirnya jadi dasar mengambil keputusan ambil S2 langsung pasca wisuda sarjana tuh beginilah. 
  1. Alasan paling utama: Ini cuma masalah waktu aja, toh emang dari dulu aku udah berniat dan mewajibkan diri untuk ambil S2 mau gimanapun. Jadi cepat atau lambat ya pasti akan S2, nah daripada ditunda-tunda mending langsung aja kan. Ya alhamdulillah ini juga dapet kesempatan bisa ikut tes pasca wisuda sarjana.
  2. Sebenernya aku gak ada niatan jadi dosen (untuk sekarang), ngajar di sekolah apalagi ngajar anak SMA tuh lebih seru. Lah terus kenapa ambil S2? Yhaa emang kuliah S2 tuh buat jadi dosen? Enggak kan. Ya terserah entar mau ambil path yang mana. Cuma seenggaknya kalau S2, peluang karir pathnya jadi lebih banyak, lebih banyak pilihan. 
  3. Kuliah S2 cuma dua hari/minggu. Jadi masih bisa sambil part time ngajar dimana gitu pake ijazah S1. Seenggaknya masih bisa nyobain kerja bergelar S1 kan hehe plus dapet pengalaman kerja sebelum bergelar S2 juga. 
  4. Otak masih fresh untuk belajar. Selagi masih semangat untuk kuliah, ya dipake aja semangatnya. Hehe. Gak ada yang jamin entar semangatnya masih sama kalau udah kenal duit (kerja) atau ngurus keluarga kecil.
  5. Aku berencana bakal berkarir di dunia pendidikan which means gelar dan pendidikan seseorang itu bakal dipertimbangkan. Beda kalo kamu kerja di perusahaan asing atau BUMN atau wirausaha kan yang dilihat lebih ke skills bukan background pendidikan. Temen-temenku banyak yang bahkan belum S1 terus kerja di perusahaan konsultan asing tapi gajinya tetap sama dengan fresh graduate asalkan punya kinerja yang bagus (bisa disetarakan dengan fresh graduate). Nah kalo di dunia pendidikan kan gak gitu, mau jadi guru SD aja wajib S1. Kalo mau naik pangkat di suatu lembaga pendidikan, gelar dan masa kerja itu sangat dipertimbangkan. Intinya gelar di dunia pendidikan tuh sama dengan aset masa depan. Gak akan ribet entarnya kalo emang berencana akan berkarir di dunia pendidikan. 
  6. Mama bilang gini, "Dulu S1 tuh udah pencapaian paling oke. Eh sekarang S1 udah biasa aja, karena udah jadi suatu keharusan. Nah di masa depan S1 mungkin akan lebih sangat biasa karena orang-orang udah mulai melirik S2 sebagai keharusan juga. Nah gimana bisa anak-anak kalian termotivasi kuliah S2 dan S3 kalau kaliannya juga gak bermodal S2 dan punya pola pikir bahwa S2 dan S3 itu penting? Era persaingan di masa depan pasti lebih sadis." 
  7. Anak-anakku nanti berhak bangga sama Ibunya yang semangat sekolah. Bisa jadi motivasi lagi untuk mereka untuk gak males belajar amin. Hehe. Ini terinspirasi dari buku Sabtu Bersama Bapak. 
  8. Bakal jadi cambukan buatku untuk terus belajar. S2 gak main-main, banyak yang dikorbankan, apalagi kalo pakai biaya sendiri. Gelar sih S2 tapi gak punya manner, gak bisa ngomong depan public, english masih jadi suatu hal yang ditakuti, ditanya materi bio atau pengetahuan umum masih nganga2. Kan malu. Ya mungkin dengan cara ini bisa bikin aku tambah termotivasi untuk terus belajar dan manner dengan siapapun. 
  9. Gak usahlah ada pikiran kalau S2 gak menjamin kita sukses atau sebaliknya (S2 aja gak jamin sukses apalagi S1 hehe :p dude sukses enggaknya seseorang tuh cuma dirinya sendiri yg nilai, bukan oranglain. S1 atau S2 atau kerja gak ada korelasinya sama kesuksesan seseorang toh yg bisa ngukur kan cuma dirinya sendiri). Liat deh Dian Sastro, ya ngapain juga kan kuliah S2 cape-cape, dia udah cantik, tenar, punya keluarga juga. Terbukti S2 tuh bukan hanya sekadar pencapaian untuk gerbang kesuksesan. Terus ngapain S2? Mending kerja, dapet duit, bahagiain orangtua bakal terlihat lebih realisistis. Lah emang membahagiakan orangtua cuma pakai duit aja? Yang penting kita tanggung jawab sama keputusan apapun yang kita ambil orangtua pasti bahagia. Seenggaknya dengan S2 aku udah menggunakan kesempatan formal untuk belajar dan itu diakui pula. 
  10. (Alasan tergaringnya sudah dihapus. Macem apa pula why reason untuk S2 seperti itu).
Waah panjang deh kan. Padahal baru daftar aja dan tesnya belum. Ya gak apa-apa deh untuk motivasi. Salah sih nanya yang beginian sama aku, jadinya kan dibalesnya juga serius dan super panjang. Intinya, apapun yang diambil setelah wisuda sarjana, mau itu S2, spesialis, kerja, nikah, semuanya gak ada yang salah, gak ada yang lebih baik. Semuanya Insha Allah baik kalau dinikmati dan ditekuni. Perbaiki lagi niatnya. Jangan pernah melakukan sesuatu hanya karena gengsi dan udah langsung mikir enaknya aja. Manusia tuh cuma tinggal usaha, kalo emang hasilnya enak ya alhamdulillah dapet bonus dari Allah.

May 05, 2015

Hello Again, May!

PEEK A BOO!
Uh been so long time!
Unfortunately, I'm (kinda) forget (or lazy?) to visit and update some feed on my sweety blogspot. Even actually my day lately is not that bussy and stressed out but i was not interested enough to write some of my thoughts here. Dunno why, although the idea come from my mind would burst up if i didn't write it down but i feel strange with my self to see what happened lately. I felt so lazyyyyyyy to write! Then i realize, it can't be like this forever. I know, writting is an essential skill of everyone could have. It comes naturally by doing more practice. And the best way to keep writting is to write everything you do (except the privacy one) in your agenda. You know, my kind of agenda is here, right here in my blogspot. So to keep your writting skill mood, instead of doing nothing and sighing, it better to write here while raising your writting skill.

Yesterday, my friend asked me about my blogspot, "Masih suka nulis blog, Ca?" Then i felt so ashamed. "Hahahaha masih. Tapi last updatenya Februari." And now is May. For me who have passion in writting, been 3 month not to update blogspot is kind of shameless. Yeah i mean, you just need to type some of words and publish it, do it like you always do. Why you so lazy? It just the matter of writting everything you want without any regulation, don't care about grammar, don't care about who read it. The important one you keep your mood to write and spread idea to public. And i know, it was so wrong to take so much care to my love-story -yang-bikin-aku-lebih-milih-kepoin-yet-chatting-dengan-doi and enjoying that silly-zone so much without paying attention to what i really want literally (later i'll write about it ya).

And finally! Within my first post since 3 month ago, i'll continue writiing here. Insya Allah. Stop becoming so drama, Ca. You're just too special in the way taking care of his life. Your life need it more. Wake up and be the realistic one.