Rosmalinda Nurhubaini's. Literally a nous of my random thought.
Posts // About
// Twitter // Tumblr

June 29, 2015

#DAY11 Your Family

Jadi sebetulnya harusnya kemarin nih buat postingan day 11 tapi berhubung ragu untuk tetap melanjutkan tema ini atau menggantinya (sama seperti challenge day 8) jadinya baru nulisnya hari ini. Kenapa harus ada pertimbangan, karena menurut saya challenge day 11 ini agak privasi sedangkan saya kurang biasa menceritakan kehidupan privasi --terutama keluarga. Tapi setelah dipikir, "Asal jangan yang terlalu privasi kayanya boleh deh, dibikin seru aja, kapan lagi nulis tentang keluarga sendiri." akhirnya saya menutuskan untuk take the challenge. Enjoy reading!

Keluarga saya itu keluarga Sunda tulen, benar-benar nyunda sejak beberapa keturuan di atas kakek dan nenek baik dari mama maupun bapak. Tapi semenjak bapak dipindahtugaskan ke Rangkasbitung lambat laun kebiasaan berbicara bahasa sunda sedikit hilang, faktor lingkungan rumah dan lingkungan kerja orangtua pun cukup berpengaruh. Meskipun kadang mama, bapak, dan kakak masih sering menggunakannya di rumah tapi tidak begitu dengan saya dan adik. Alhasil di umur yang sekarang ini saya masih sangat enggak pede untuk bicara bahasa sunda, bisanya hanya mengerti orang bicara tapi kikuk ketika membalasnya. Faktor saya dan adik yang sudah full dibesarkan di Rangkasbitung bisa jadi alasan kenapa bahasa sunda agak asing bagi kami. Sedih sih kok malah enggak bisa menjaga budaya ya, malah asyik terbawa lingkungan padahal medianya ada.

Selain sunda tulen, kedua orangtua saya berkarir di bidang pendidikan. Sejak awal dipindahtugaskan ke Rangkasbitung saat itu memang bapak adalah seorang guru. Dulu guru masih sangat pas-pasan. Makanya saat itu mama pun terpaksa putar otak untuk bisa membantu ekonomi keluarga, dari mulai ikut mengajar juga, hingga jualan kue-kue basah yang nantinya dititipkan di kantin sekolah bapak. Tapi sejak anak-anaknya pergi satu persatu dari rumah, kakak kuliah, dan saya harus tinggal di sekolah boarding akhirnya mama berhenti mengembangkan bisnis kecil-kecilannya. Mama fokus mengajar SMP sambil membangun yayasan madrasah diniyah untuk siswa sekolah dasar dan taman pendidikan Al Quran untuk siswa taman kanan-kanak. Karena terlalu capek dan ingin lebih fokus di pengembangan yayasan akhirnya mama memutuskan untuk keluar dari mengajar SMP dan hingga kini lebih memilih untuk mengembangkan yayasan. 

Sementara karir bapak pun alhamdulillah meningkat, yang tadinya guru kini bapak sudah jadi kepala sekolah. Satu hal yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya oleh saya, mungkin ini ya yang namanya berkah jadi guru, yang tanpa pamrih membagikan ilmu pada murid, rela mendidik anak orang lain. Gaji guru sebenarnya berapa sih? Jauh di bawah karyawan bank sekalipun tapi alhamdulillah 2 dari 3 anak bapak dan mama sudah sarjana tanpa ada kesulitan yang berarti. Saya sadari pula selama ini saya, kakak, dan adik benar-benar dimudahkan oleh fasilitas yang orang tua berikan meski tidak bergelimang. Disitulah saya bisa ambil pelajaran bahwa rezeki itu tidak harus banyak, yang penting berkah jadi kita merasa tercukupi lahir dan batin. Rezeki yang berkah itu tidak lain karena berasal dari usaha yang halal. Masih ingat saat bapak bicara seperti ini, 
Gak apa-apa kita hidupnya pas-pasan juga yang penting dihadapan Allah gak pas-pasan. Emang susah cari rezeki yang halal itu tapi harus diingat bahwa rezeki yang kita dapatkan itu untuk anak dan keluarga. Sedangkan anak dan keluarga itu aset masa depan dunia akhirat yang jadi tanggung jawab bapak.
Saat bapak bilang itu seketika saya ingin sekali punya suami seperti bapak yang tahu akan tanggung jawabnya sebagai imam keluarga, juga tanggung jawabnya sebagai laki-laki muslim yang harus senantiasa solat berjamaah di masjid. Salut untuk bapak yang enggak pernah skip solat subuh, magrib, dan isya di masjid dan berhasil jadi cambukan bagi saya untuk no excuse perihal solat tepat waktu di rumah. 

Bapak juga mengajarkan banyak hal, kerja keras salah satunya. Bisa terlihat oleh saya bahwa ada banyak sekali peningkatan kualitas hidup yang kami sekeluarga dapatkan yang semata-mata karena kerja keras bapak. Bapak juga yang selalu menasehati bahwa kita harus selalu melakukan kebaikan dan jadi orang yang baik pada siapapun. Karena semua kebaikan itu akan kembali pada kita, kalau yang kita tanam kebaikan maka kebaikan itu yang akan datang pada kita, berlaku juga sebaliknya. Ya bapak, bapak yang dibesarkan dari keluarga sederhana di sebuah desa ternyata sekarang bisa jadi imam keluarga yang begitu diidamkan oleh saya, yang membuat saya berpikir bahwa nanti ingin sekali rasanya memiliki suami yang punya kepemimpinan di keluarganya seperti bapak. Bapak yang selalu mengingatkan kita untuk jangan mudah menyerah, tidak perlu iri dengan rezeki yang orang lain terima karena semuanya sudah punya bagiannya masing-masing, harus mau usaha karena rezeki itu enggak ada yang datang tiba-tiba, dan yang terpenting harus banyak-banyak bersyukur agar kita selalu dicukupkan oleh Allah.

Mama pun seperti itu, banyak sekali yang sering jadi renungan kalau melihat keseharian mama. Mama termasuk orang yang kuat karena dulu mau untuk mendampingi bapak dari mulai masa sulit hingga sekarang, padahal saat itu pertama kalinya mama rela ikut bapak yang bertugas di Rangkasbitung (yang bahkan mama sendiri enggak tau tepatnya dimana) tempat dimana tidak ada sanak saudara satu orangpun. Otomatis yang hanya mama bisa lakukan ya stay strong. Itulah yang akhirnya membuat mama punya banyak keahlian, masak, buat kue, menjahit, bahkan membetulkan listrik pun mama bisa. Hingga akhirnya sekarang karena perjuangan mama juga alhamdulillah yayasan mama sudah sangat berkembang dengan ratusan murid dan beberapa guru, saya mengikuti bagaimana mama dulu berusaha untuk bisa memasukkan proposal ke departemen agama, cari dana kesana kemari, hingga mensosialisasikan yayasan yang ternyata tetap ada pro dan kontranya. Dan mama melakukannya sendiri. Mama sering bilang, "Jadi perempuan itu harus kuat, jangan cengeng biar anak-anaknya juga kuat. Dulu mama kalau bukan karena ingin mendidik anak-anak mama untuk kuat, mama pasti akan pulang lagi ke Bandung daripada harus tinggal pas-pasan di kota yang sama sekali gak mama kenal." Dari perjalanan hidupnya, mama  pun dengan tegas sering bilang, 
Jadi perempuan itu harus segala bisa, harus pinter, harus kreatif, jangan ketergantungan sama suami jadi meskipun nanti ditinggal (meninggal) duluan kita tetap bisa mandiri.

Noted that mam!
Mama memang inspirasi saya untuk mau belajar ini dan itu, bahkan untuk sekadar belajar menjahit. Mama pernah bilang gini, "Masa nanti masang logo osis anak harus ke tukang jahit sih kan gak lucu. Apa yang bisa dilakuin sendiri, lakuin sendiri." Mama juga yang selalu mengingatkan saya untuk berpakaian sopan sebagai muslimah yang bawa jati diri agama Islam, enggak ketat, biasakan pakai rok, meskipun pakai celana pun bajunya harus melebihi pantat, pakai kaos kaki. Mama jugalah yang menginspirasi saya untuk bisa dan bahkan jago masak, yang bikin saya rela menghabiskan waktu di dapur saat bulan Ramadhan tahun ini untuk belajar resep-resep masakan mama, "Nanti kamu harus bisa ngerasain gimana bahagianya saat anak kamu bilang, Kangen masakan mama, bahagianya tak terkira banget". Duh semoga bisa. Amin.  

Banyak sekali yang mama sudah dan sedang ajarkan, nasihat bahwa jangan pernah takut untuk membela agama Allah, untuk berjuang di jalan kebaikan, mama pernah cerita bagaimana dulu mama usaha mati-matian untuk mendirikan yayasan itu tanpa uang sepeserpun tapi ternyata ada Allah yang justru selalu memudahkan, jangan pernah ragu untuk menolong siapapun karena disitulah nanti Allah lah yang akan menolong kita, dan yang paling saya ingat dan terpatri dalam hati adalah bahwa hidup ini harus selalu dekat dengan Allah agar hidup kita dipermudah dunia dan akhirat. 

Selain orangtua, kakak laki-laki dan adik perempuan saya pun banyak juga mengajari banyak hal, kakak yang cenderung introvert mengajarkan bahwa the less you reveal, the more people can wonder (prinsipnya kakak sama kaya Emma Watson), hidup itu emang gak boleh sederhana yang sederhana itu harusnya sikap dan omongan kita. Gak usah banyak bacot hidup mah, orang juga bakal tau entarnya, gitu kata kakak. Kakak juga yang mengajarkan saya untuk tidak mengganggu privasi seseorang meskipun itu sama keluarga atau teman dekat kecuali dengan izin mereka masing-masing. Yang paling seru, kakak juga yang berhasil bikin saya sangat tertarik pada buku, menulis, musik, gitar, dan seni lukis hingga sekarang.

Meskipun kebersamaan saya dengan adik perempuan saya belum selama dengan ketiga orang yang sudah banyak mengajarkan sesuatu tapi kenyataannya, adik perempuan saya pun bisa menginspirasi. Opi yang punya teman sangaaaaaaat banyak, Opi yang enggak pernah ambil pusing apa kata orang kalau memang hal itu enggak berguna, dan Opi yang selalu bisa menahan rasa kesalnya agar tetap terlihat elegan di depan orang-orang (salut), dan Opi yang selalu bilang, "Jangan cepet baper teh..." selalu jadi jurus jitu untuk mengakhiri curhatan saya yang sangat enggak berguna. 

Seperti itulah yang saya bisa deskripsikan tentang sebagian kecil dari keluarga saya, tentang pelajaran berharga yang saya dapatkan dari setiap orang di dalamnya yang justru lebih berharga dibandingkan materi apapun.

June 27, 2015

#DAY10 Put your music player on shuffle and write the first ten songs that play

Eventhough soooo many fave songs listed on my smartphone and i really love them but the challenge just pushed me to write only 10 songs.... then here you go, the first 10 songs played on shuffle out of 66 songs on my mobile playlist!

Travis - Selfish Jean
Kings of Convenience - Mrs.Cold
Bunglon - Cerita Lalu (however an old song still have a special space inside my soul)
Justin Timberlake - Not A Bad Thing (my current most played song)
Frankie J - Don't Wanna Try
Bruno Mars - Treasure
Ohashi Trio - Natural Girl
The 1975 - Girls
Demi Lovato - Nightingale
Keira Knightley - A Step You Can't Take Back (OST.Begin Again)

#DAY9 How Important You Think Education is

Penting banget. Enggak kok bukan karena saya adalah sarjana pendidikan dan insya Allah akan berkarir di bidang pendidikan tapi memang seiring bertambahnya usia, saya jadi yakin bahwa being educated person itu penting banget. Banyak yang bilang belajar itu enggak harus di sekolah, bisa dimanapun. Iya saya pun setuju. Tapi kenyataannya pendidikan (disini konteksnya sekolah formal ya) itu bukan hanya mengajarkan ilmu saja tapi justru diluar itu semua yang membuat kenapa saya mengatakan bahwa pendidikan itu sangat penting. Seiring bertambahnya pengalaman bertemu dengan beratus-ratus orang, disitu saya membuat suatu kesimpulan bahwa ternyata ada perbedaan pola pikir antara orang yang memang bersekolah dengan yang tidak. Setidaknya dengan bersekolah, manusia akan bisa mengontrol kata-katanya dan memiliki tujuan dalam hidupnya. Tidak begitu saja mengikuti arus. Dengan bersekolah juga setidaknya tidak hanya ilmu dan pengetahuan yang didapat, tapi kita pun belajar bagaimana untuk bersosialisasi dengan berbagai macam sifat dan sikap manusia, bagaimana untuk menghadapi suatu masalah dengan melihat hal tersebut dari sisi yang lebih positif, bagaimana menghormati pendapat orang lain, bagaimana mengembangkan pemikiran yang kritis terhadap suatu hal yang masih diragukan, dan kemampuan lain yang mungkin tidak bisa kita dapatkan selain di sekolah.

Simpelnya, dengan bersekolah kita belajar bahwa dunia itu luas, dengan sekolah kita mengenal buku, mengenal teman-teman, yang membuat kita mengenal dunia di luar kehidupan kita sehari-hari. Hal ini yang bisa mengaktifkan energi potensial yang dimiliki setiap orang untuk memiliki suatu ambisi untuk mendapatkan sesuatu, mencapai sesuatu, memiliki cita dan harapan dalam hidup. Bukankah ini yang dinamakan memanusiakan manusia sesuai dengan tujuan pendidikan itu sendiri? Bagaimanapun itu, tidak pernah ada yang salah dengan konsep pendidikan itu sendiri. Jika pun memang selama ini ternyata pendidikan tidak menimbulkan banyak perubahan, yang salah adalah pada pihak yang memberikan atau mendapatkan pendidikan tersebut. Hakikatnya pendidikan itu untuk menjadikan kehidupan menjadi lebih baik.

Intinya saya termasuk orang yang akan menjunjung tinggi pendidikan seseorang, jangan pernah puas untuk belajar, dengan gelar yang pas-pasan, selagi masih bisa dikejar kenapa tidak. Meskipun memang tidak ada korelasinya sama sekali antara gelar dan kesuksesan seseorang, namun kalau orang berpendidikan saja masih banyak yang tidak sukses, tidak bermoral, lalu bagaimana dengan yang tidak berpendidikan sama sekali?

June 23, 2015

#DAY8 Your Opinion about Being Perfect and Being Better

And say hello to my 30dayschallenge! Hahahaha maaf nih ya sempet off main challenge kemarin-kemarin karena lagi memperbaiki pola ibadah di awal-awal puasa *pret* enggak sih sebenernya karena lagi enggak mood nulis dengan tema tertentu gitu (ya gini sih kalau anaknya bosenan) (padahal baru day 8). Tapi karena udah take a challenge ya mau gak mau harus diselesaikan. Oh ya sebenernya, day 8 itu challenge-nya What you ate today tapi menurutku agak kurang nantang. Jadi beberapa hari ke belakang itu aku bikin tweet untuk menyilakan teman-teman yang punya ide untuk mengganti challenge menulis day 8, yang mau nantang aku untuk nulis sesuatu. Dan akhirnya teman SMA-ku Esthi yang (the one and only) ngasih tantangan ini. Agak berat sih ya tantangannya –nantangin sih haha tapi ya akan kucoba.

Being perfect menurut saya adalah hal yang enggak mungkin terjadi pada siapapun karena kesempurnaan itu ya hanya Allah swt yang punya. Tapi mungkin being perfect disini lebih kepada tendensi setiap orang untuk menjadi perfect. Ya siapa sih yang enggak mau orang yang perfect? Tapi maaf aja nih saya sih termasuk yang enggak mau jadi orang perfect. Seperti yang pernah saya baca di salah satu artikel bahwa being perfect is an enemy of being good. Namanya manusia, kalau sudah sempurna pasti ada kecenderungan untuk enggak akan lagi mau usaha, enggak mau lagi mencoba, enggak mau lagi dengar apa kata orang lain, enggak mau berbuat baik lagi. Makanya disini Allah enggak mau menciptakan manusia yang sempurna. Toh Rasulallah juga punya kekurangan meski kekurangan itu selalu bisa Allah jaga. Egosentris yang mungkin akan dimiliki oleh being perfect inilah yang akhirnya membuat orang yang perfeksionis lebih dipandang negatif. Orang perfeksionis dianggap enggak fleksibel dan kadang menimbulkan ancaman pada suatu team. Untuk being perfectionist sendiri saya punya pendapat tersendiri, menjadi seorang perfeksionis sendiri bisa jadi hal yang baik dan buruk. Baiknya karena hampir semua urusannya akan dia kerjakan semaksimal mungkin, namun sedihnya jika hal terbaik yang ingin dia capai itu ternyata meleset dari rencana maka yang berbahaya, orang perfeksionis akan mengalami kesedihan yang cukup dalam. Belum lagi anggapan orang sekitar yang mengganggap orang perfeksionis itu adalah orang yang berlebihan. Padahal konteksnya, sudah jadi keharusan bagi siapapun untuk berusaha melakukan yang terbaik untuk apapun itu. Namun berusaha melakukan yang terbaik disini harus juga diikuti oleh tawakal atau berserah pada Sang Perencana. Do the best and let Allah do the rest, seperti yang sering kita dengar. Jadi intinya, benar seperti artikel yang saya baca bahwa being perfect is the enemy of being good. Proses untuk menjadi yang baik justru tidak dinikmati karena terlalu fokus pada pencapaian how to be a perfect one, padahal hakikatnya tidak ada manusia yang sempurna kan?

Jika memang enggak ada manusia yang sempurna maka yang bisa kita lakukan hanya being a better of ourselves. Being a better menunjukan bahwa kita mau berubah untuk jadi pribadi yang lebih baik, bisa belajar dari kesalahan sebelumnya, belajar dari apa yang sudah kita alami sebelumnya, take a lesson of everything and moving forward through life. Jika hal ini jadi pegangan hidup maka sudah selayaknya kehidupan kita akan terus menjadi baik dan lebih baik tidak hanya untuk memimpikan bagaimana untuk menjadi yang sempurna. Dari sini, maka terlihat bahwa being a better person is more reasonable to live in. Hanya saja yang harus jadi penekanan disini, being better itu patokannya ya diri kita sendiri, bukan diri orang lain. Karena jika patokannya itu orang lain, bukan kehidupan yang lebih baik yang didapat tapi justru bisa sebaliknya. 

Then, yawning. Already 12AM by the way

Haha oke deh itu aja mungkin pendapatku. Semoga kita bisa menjadi orang terus memperbaiki diri, dalam urusan apapun. Amin.

June 19, 2015

Dear Friend...

Chan, bagaimana disana? Semoga selalu dilapangkan, dilindungi, dan diterangi oleh Allah ya. Ini cuma masalah waktu aja, aku, teman-teman yang lain, siapa pun akan merasakan hal yang sama suatu saat nanti. Enggak kerasa banget udah 7 tahun, tapi aku baru sekali ke pusara kamu, tahun kemarin sama teman-teman der CG, saat mau Idul Fitri. Tapi meskipun gitu, insha Allah doa aku dan teman-teman akan selalu untukmu. Dan kamu enggak akan pernah kami lupakan sampai kapanpun.
Teruntuk: Alm. Ahmad Chandra Tri Nugraha (13 Januari 1993 - 19 Juni 2008)

....

Pertama kali kenal deket sama Chandra itu kelas 2 SMP karena kita sekelas di kelas 2A. Sebelumnya cuma tahu nama dan wajah aja karena dia anak pinter dan sering ikut lomba sana sini. Pas di kelas 2A, kebetulan Chandra duduk sama Obe yang emang udah kenal deket dari sejak SD denganku. Singkat cerita namanya juga anak SMP jadi deket juga deh sama Chandra. Ditambah lagi gara-gara Obe sering cerita masalah kecengannya, Didit (sebut nama haha), eh Chandra juga jadi ikut-ikutan ceritain gebetannya anak SMP sebelah bahkan sering juga ceritain cewek-cewek yang ngejar-ngejar dia. You absolutely have your own charm, Chan! Tapi tetep kesan pertama kenal Chandra tuh, gilaaaaaa nih anak gak ada urat malunya, ancuuur, sarap, edan. Di kelas enggak ada Chandra sepi banget jadinya. Dia tuh lucu banget sumpah. Apalagi kan dia punya muka cina gitu, nambah lagi lucunya. Tapi dibalik kegilaannya dia, dia sungguh pinter banget, wawasannya luas. Lo nanya apa aja sama dia pasti dia tau, nyambung. Asik banget jadinya diajak ngobrol. Paket komplit, diajak ngobrol serius bisa, diajak becanda apalagi. Bahasa inggrisnya juga jago. Dulu inget banget jadi termotivasi belajar english karena Chandra (gak mau kalah gitu ceritanya), padahal kalo ditanya dia belajar english cuma karena sering main game. Terus dia anak band juga, jago gitar, gimana enggak nambah multitalented nya tuh anak kan? Super. Pokoknya dulu Chandra jadi sosok i used to adore, kagum-kagum temen gimana gitu. Kok ada gitu ya sosok anak Rangkasbitung yang pinter, lucu, jago musik, baik sama semua orang, tapi tetep sederhana, percaya apa enggak dulu Chandra ke sekolah jalan kaki meskipun aku tau dia sangat bisa naik angkot atau bahkan bawa kendaraan sendiri kaya anak sok gaul lainnya. Singkat cerita meski baru kenal kita jadi cepet deket, karena sering ngobrol, sering sekelompok, sering contek-contekan bahasa inggris, the fact ternyata Chandra kenal Aa karena pernah sekamar bareng pas mereka sama-sama ikut lomba siswa berprestasi SMP dan SMA tingkat provinsi sebagai perwakilan Lebak. Dan ditambah ternyata gebetannya Chandra (si anak SMP sebelah itu) adalah sahabatnya sahabatku, Lovita. Tambah deh kita sering ngobrol, Chandra sering kepo soal gebetannya itu, dan beberapa kali aku dijadiin tumbal pergi ke SMP sebelah atau rumah gebetannya cuma untuk nemenin dia ngeceng-ngeceng alay ala anak SMP.

Sedihnya ternyata pas kelas 3 kita pisah kelas, Chandra tetap sekelas sama Obe sama Faizal juga di 3A, sementara aku di 3H. Dari situ agak enggak begitu deket sama Chandra. Cuma, karena enggak-tau-kenapa antara 3A dan 3H itu punya chemistry tersendiri jadinya beda kelas berasa enggak kepisah. Enggak canggung kalo anak H main ke kelas A atau sebaliknya (faktor karena sebenernya orang di kelas 3H dan 3A itu ya itu-itu aja dari kelas 1. Cuma diputer-puter aja, biar enggak bosen), enggak canggung juga kalau teriak-teriak manggil namaku kalo ketemu di kantin atau di jalan pulang sekolah (kerjaannya Chandra sama Obe dulu nih). Sejak kelas 3 itu, Obe, Chandra, Faizal kemana-mana bertiga, ke WC aja bertiga. Udah jadi trio. Mana punya charmnya masing-masing tuh orang bertiga. Uyuhan ya enggak bikin melting dan naksir hahahaha. Sampai akhirnya kita berjuang bareng-bareng tuh untuk bisa masuk CMBBS. Inget banget dulu Chandra yang punya inisiatif ikut tes CM. Terus dia ngajakin kita-kita, dia nantangin gitu. Semangat banget. Pas pengumuman tes akademik aja, dia sama Obe dan Faizal beli koran pagi-pagi abis kelas mereka olahraga dan loncat-loncat di depan kelasku cuma untuk ngasih tau kalau beberapa nama anak kelas 3H tercantum lulus. Hingga akhirnya aku dan 3 orang itu bisa masuk CM tapi dengan kelas yang beda.

Di SMA karena kelasnya beda, ngerasa jadi enggak deket banget. Tapi tetep aura ngocolnya dia selalu terdengar sampai kelasku, gayanya yang sok cool sempat jadi maskot angkatan di acara SDC. Hingga akhirnya sampai di suatu hari di semester 2, Chandra mulai jarang keliatan di sekolah. Katanya sakit. Tapi saat itu, aku sekadar cukup tau. Saat teman-teman sekelasnya punya rencana menjenguk saya pun sekadar cukup tau. 2 bulan lamanya enggak pernah bertemu Chandra di sekolah. Tapi suatu hari, malam hari pekan persiapan UAS kita bertemu di perpustakaan. Dia sedang pilih-pilih buku di rak yang sama denganku. Ragu banget untuk nyapa, apalagi saat itu lagi Arabic week dan masih enggak pede ngomong arab. Tapi ternyata Chandra yang nyapa duluan dan pake bahasa Indonesia hahaha “Cari buku apa, Ca?” Itu seingetku yang Chandra tanyain. Aku malah enggak jawab dan malah bilang “Chan, kamu apa kabar? Kemana aja. Sok sibuk banget sih.” sambil bisik-bisik takut kedengeran kakak tingkat kalau kita ngomong Indonesia. Chandra cuma senyum. Pucet banget sumpah pas itu. Bodohnya aku malah nyapa begitu, enggak nanya gimana kondisinya dia, sakit apa, udah sembuh apa belum, atau minta maaf karena enggak jenguk dia pas sakit kemarin-kemarin. Terus malah nanya balik dia cari buku apa. Chandra pun nunjukin bukunya, judulnya Rahasia Alam Kubur. Enggak ada firasat apapun saat itu, karena aku tahu dia anaknya emang suka penasaran akan sesuatu gitu. Saat itu aku malah becandain dia, “Ih Chan apaan sih bacanya begituan. Orang lain baca buku pelajaran buat ulangan ini malah baca gituan.” Chandra enggak bicara apa-apa lagi dan langsung pergi gitu aja.

Beberapa hari dari itu enggak ketemu Chandra lagi, apalagi saat itu katanya Chandra emang makin sering pulang pergi ke rumahnya karena alasan sakit. Sampai akhirnya suatu hari di hari Jumat (kita pakai baju pramuka soalnya), sebelum aku masuk kelas untuk ulangan sosiologi, aku lihat Chandra lari-lari dari asrama putra sambil baca buku sosiologi menuju Hall A. Percaya apa enggak itu terakhir kalinya aku ngeliat Chandra hingga saat UAS berakhir kami semua dapat kabar bahwa Chandra meninggal, pergi selama-lamanya dari sekeliling kita. Barulah tersadar kalau mungkin saat dia nunjukin buku tentang alam kubur beberapa hari sebelumnya itu sebenernya tanda-tanda menjelang kepergiannya? Wallahualam.
Dibalik misteri sakitnya Chandra, dibalik banyak cerita pilu dari Obe, Faizal, Rizal dan teman-teman yang saat itu satu kamar tentang kondisi Chandra di hari-hari terakhirnya di asrama, dibalik segala penyesalan perlakuan kami pada Chandra sebagai teman di saat-saat terakhir kebersamaan. Takdirnya memang sudah seperti ini, Chandra harus pergi. Meski Chandra enggak akan mungkin bisa baca tulisanku ini tapi satu hal yang pasti ada pelajaran dari cerita kepergian Chandra, jangan pernah menyepelekan kesempatan bertemu, menyapa, atau menolong selagi kita bisa pada siapapun itu karena kita enggak pernah tau umur kita maupun umur mereka bertahan sampai kapan.

Chan...baik-baik ya disana! Terimakasih sudah mewarnai masa SMP dan SMA-ku dengan segala tawa dan pelajaran akan persahabatan.

June 14, 2015

75 months

Hari ini resmi mengganti my blogspot header title from Senandung Bisu to Hello Caca!. Saya lakukan juga penambahan page About serta (terpaksa) meremove link tumblr karena alasan tertentu. Hahaha sebenarnya enggak ada maksud apa-apa sih hanya ingin sesuatu yang fresh saja supaya visual blog saya ini enggak monoton. Akhirnya karena mengganti beberapa elemen layout di blog ini, mau tidak mau mereset previous customize-nya. Terus iseng-iseng baca draft yang (akhirnya) tidak jadi dipost karena dirasa tidak layak dibaca khalayak ramai. Saya pun memutuskan untuk menghapusnya saja daripada memenuhi draft tanpa ada yang membacanya. Lalu mengintip archives box dari Maret 2009. Semuanya 518 post. Banyak juga ya hihihi hobi banget sih ca ngegalau di blog? Tersadarlah berarti sudah hampir 7 tahun punya blog dan alhamdulillah enggak pernah berhenti nulis dan enggak pernah ada yang dihapus apapun bentuk postingannya (kecuali yang akhirnya direverse jadi draft lagi dan kali ini ujung-ujungnya dihapus juga). Sejak 2009 itu, bisa terlihat sekali bagaimana perjalanan hidup saya dari sejak SMA, kuliah, hingga sekarang. Dari mulai galau akademik, galau cinta, hingga sekarang galau karir dan rumah tangga.

Spesial di edisi 75 bulan ini (berasa pacaran), saya ingin bercerita tentang blog ini ya hehe ini karena lagi gabut nih malam-malam. Challenge udah dipost, tapi ternyata belum mengantuk. Oke jadi begini, awal saya membuat blog ini itu sekitar Maret 2009. Saat saya kelas XI SMA. Kenapa bikin blog? Pada dasarnya saya memang suka menulis (ya i mean ngetik yang menghasilkan suatu bacaan gitu), terus dulu sering merasa kesepian di asrama sementara enggak punya waktu untuk nulis-nulis diary. Alhasil karena termotivasi oleh teman-teman di Bandung dimana mereka punya blog pribadi akhirnya punya inisiatif bikin juga deh. Bodo amat saat itu enggak ada temen sekolah yang sama-sama punya blog juga. Yang penting punya media untuk curhat kehidupan super menyesakkan di sekolah asrama. 

Seiring berjalannya waktu, lama-lama akhirnya teman-teman sekolah tau kalau saya punya blog, dan entah ilham darimana beberapa teman-teman saya itupun akhirnya ikut-ikutan bikin blog. Alhasil blog jadi sesuatu yang tren di sekolah hahaha hampir semuanya bikin akun blogspot, rajin blogwalking, saling follow, hingga sempat-sempatnya meninggalkan komen gak jelas di post seseorang. Lucunya dulu ada apps di blog yang namanya Cbox. Jadi itu tuh apps chat yang bisa dipakai kalau kita malas leave comment sehabis blogwalking. Lucunya lagi kadang kita suka sok-sokan anonim untuk ngasih apresiasi atau kritik yang jadinya bikin user blog penasaran sendiri. Sadly, ketenaran blogspot enggak lama. Sejak kelas XII, dimana kesibukan bertambah, sibuk persiapan UN dan tes PTN pun akhirnya membuat hanya beberapa orang dari teman saja yang masih aktif blogging. Blog lama-kelamaan jadi enggak seru. Ditambah lagi dengan adanya twitter dan facebook dan keseruan didalamnya, membuat blogspot makin enggak dilirik dan ditinggalkan. Saat itu, saya pun merasa agak bosan dengan blogspot dan cukup teralihkan pada facebook, twitter, juga tumblr. Namun saat itu, saya tetap mempertahankan untuk aktif blogging karena memang suka dan tau kalau ada teman-teman yang ternyata masih menjadi jadi silent reader blog saya (smirk).

Memasuki era kuliah, facebook and twitter still in the top of highlighted social media. Tapi bagi saya yang sangat suka curhat, kenyataannya blogspot memang tidak tergantikan. Curhat di tumblr atau fb atau twitter sangat mudah diakses dengan makin bertambahnya follower yang enggak bisa kita cegah. Sementara itu, blogspot (dengan kejadulannya) tetap memiliki daya tarik tersendiri sebagai tempat sebuah cerita yang out of nowhere, out of mainstream. Akhirnya sepanjang kuliah saya tetap menjaga blogspot ini sebagai tempat ternyaman untuk menumpahkan segala rasa, pengalaman hidup, dan ide-ide. 

Dari tahun ke tahun banyak perubahan yang saya lakukan di blog ini, namun satu hal yang tidak pernah berubah sejak 2009 itu adalah alamat url-nya. Tetap sepotongcokelat.blogspot.com, if you search my very first post there was a reason why i used to named it that way. Dibalik beberapa perubahan dari layout, konten, post, alamat url saya pertahankan agar blog ini tetap eksis sejak 2009 hingga tak terhingga, hingga saatnya (mungkin) saya memutuskan untuk deactivation (i wish i would not). Semoga blog ini tetap bisa aktif hingga bisa menjadi suatu dokumentasi perjalanan hidup saya yang mungkin suatu hari nanti bisa bermanfaat untuk siapapun yang membacanya. Kita enggak ada yang pernah tau era digital ini bisa bertahan berapa lama lagi. Namun yang pasti bagaimanapun kondisi era ke depan, semoga dengan adanya bentuk dokumentasi digital seperti ini semua pengalaman hidup seseorang dapat tersimpan dengan rapi dan menjadi hal berharga untuk dikenang. 

Untuk semua orang dan cerita yang sudah, sedang, bahkan akan saya tulis di blog ini, terimakasih atas semuanya ya. Yakin suatu saat nanti cerita kita akan indah untuk dibaca kembali. 

Selamat 75 bulan, sepotongcokelat.blogspot.com-ku!

#DAY7 Five Pet Peeves

Ini ya awalnya gak ngerti maksudnya pet peeves tuh apa. Pet artinya hewan peliharaan, terus peeves tuh menjengkelkan. Kalau disatuin berarti hewan peliharaan yang menjengkelkan. Tapi kok asa teu kudu gitu bikin challenge begitu. Eh pas searching enggak taunya pet peeves tuh idiom yang artinya something annoys you meskipun mungkin bagi orang lain hal itu biasa aja. Intinya annoying sih.
  1. Pelayan kafe, toko, pelayanan administrasi sekolah, kampus, kantor yang jutek. Ini ya sumpah nyebelin banget, misalnya mereka melayani enggak pake senyum, semaunya gitu, terus gak bilang makasih. Maunya apa kan orang begitu? Padahal harusnya tau konsekuensi dong kerjaannya sebagai pelayan publik ya berarti harus bisa melayani dengan baik. Pembeli juga gak akan semena-mena kalo memang pelayanan kafe atau tokonya baik. Kita pun yang butuh jasa mereka akan sopan kalo merekanya pun ramah. Meski mungkin kondis Kenyataanya urusan kerjaan gak bisa dihubungkan dengan mood, pms, atau masalah pribadi lain.
  2. Pelayan toko yang suka ngebuntutin calon pembeli. Awalnya mereka nanya, “Mau cari apa mbak?” Kita jawab, “Mau liat-liat aja dulu mbak.” Abis itu mereka langsung ngikutin kemanapun kaki kita melangkah di toko itu. Oke mungkin ini salah satu tugas mereka untuk siap siaga kalau pembeli sewaktu-waktu butuh bantuan. Tapi menurutku enggak harus seintense itu juga. Jadinya malah gak bebas dan risih. Mending sih kalau mereka ngebuntutinnya sopan dan ramah banget. Nah ini ada lho yang ngebuntutin jutek pula. Bikin gak betah lama-lama di toko kan jadinya atau bahkan gak jadi beli barang apapun.
  3. Smoker! Terus ngerokoknya di angkot. Ah sukses bikin bete. Ya intinya sih smoker siapapun itu dan dimanapun selalu bikin kesel. Merokok tuh bagi saya gak ada bagus-bagusnya, sedikitpun. Buat apa bisa nenangin pikiran tapi justru ngabisin duit, ngerusak kesehatan, dan bikin gak nyaman sekitar? Ya ini emang udah kecanduan, tapi udah tau merokok itu bikin nagih kenapa dicoba? Gak habis pikir sama cowok atau cewek yang perokok. Ko mereka nyaman gitu dengan asap rokok yang justru bagi saya sering bikin kepala pusing.
  4. Pemuda nongkrong pinggir jalan yang suka goda-godain perempuan lewat. Ini ya hari gini pemuda masih nongkrong-nongkrong pinggir jalan? Ya Tuhan mau jadi apa Indonesia ke depannya? Miris banget liatnya. Apalagi sambil ngegoda-godain pejalan kaki. Nyebelin gak sih? Kalo udah kaya gitu kan malah bikin mereka dianggap rendahan aja. Kenyataan mungkin mereka enggak ada tempat untuk berkreasi, gak ada orang yang mengingatkan, atau bahkan simply karena mereka gak punya self-motivating untuk maju karena rendahnya kualitas pendidikan yang mereka terima. Kalau udah bicara kaya gitu, makin kompleks. Gak ada yang mau tanggung jawab dan populasi anak-anak nongkrong gadag pun akhinya makin lama makin bertambah.
  5. Buang sampah sembarangan. Duh ini juga gak kalah nyebelin. Apa susahnya sih ya sampahnya di simpan dulu gitu di tas atau dipegang dulu sampai nemu tempat sampah. Jangan seenaknya dibuang. Oke mungkin kita gak akan kena dampaknya langsung dari sekadar buang 1 atau 2 sampah tapi it will grow up as your habit gitu yang bakal bikin hancur lingkungan ke depannya kalo enggak dibiasakan untuk disiplin. Kalo lingkungan kita udah banjir, atau wabah penyakit dimana-mana baru deh pada protes, padahal kan kita sendiri yang seenaknya sama lingkungan. Ngeselin ya?
Yaa sebenernya masih banyak sih pet peeves lainnya, yang sebenernya sepele tapi sering bikin mood rusak juga. Tapi intinya disini, kalo kita ngerasa annoyed by them jangan pernah ngelakuin hal itu ke orang lain (meskipun mungkin bagi orang itu enggak annoying sama sekali pun) atau jangan pernah ngelakuin hal itu aja. Kalau enggak dimulai dari diri kita sendiri gimana mau mulai untuk orang lain?

June 10, 2015

#DAY6 Your Views on Mainstream Music

--Oke just forget my mellow feeling tonight ya (regarding to my so-fishy-silly in previous post). Better we do Day 6 Challenge. Ini sumpah sebenernya lagi gak mood nulis karena lagi super random dari kemaren, faktor me-on-period juga sih kayanya. Tapi semoga gak ngebosenin ya postingannya. Sengaja dibikin pendek biar tetep in line dan enggak ngecapruk.

Mainstream music? Sebenarnya menurut saya gak pernah ada karya seni yang mainstream. Semuanya selalu memiliki keindahan dan kenikmatan tersendiri bagi yang memang menyukainya. Mungkin saat saya bilang bahwa musik band A mainstream namun bagi beberapa orang lain mungkin hal itu tidak mainsteam sama sekali. Bagi saya musik atau lagu itu gak bisa dinilai dengan mainstream tidaknya. Ini cuma masalah selera aja. Kalaupun memang ada musik atau lagu yang mainstream dari segi musikalisasinya, dari lirik atau melodinya maka yang harus dikembangkan disini adalah pengetahuan musik dari si pencipta musik/lagu itu. Contohnya sama aja kaya gini, kita pengen bisa nulis dengan baik, tapi kalo kita enggak membiasakan banyak membaca buku kita gak akan pernah tau bagaimana cara untuk bisa menulis dengan baik. Setelah kita bisa nulis suatu genre, supaya enggak monoton akhirnya mau tidak mau kita harus membaca juga buku dengan genre lainnya. Jadi sebenarnya gak ada yang namanya mainstream music kan? Yang ada itu adalah pencipta musik yang kurang kreativitas aja karena kurangnya pengalaman atau pengetahuan.

Ya intinya disini saya gak akan menyebutkan musik atau lagu yang menurut saya mainstream karena ya balik lagi ke selera dan kualitas pencipta musik itu sendiri. Dalam hal ini gak etis juga kalau sampai menyebutkan suatu nama karena disini posisi saya bukan pekerja di industri musik atau pengamat musik atau lulusan seni yang seenggaknya mengetahui atau punya basic dalam bermusik itu seperti apa. Toh selama ini saya hanya penikmatnya saja, belum bisa menciptakan musik atau lagu apapun. Sekian dan terimakasih. Haha.

Swayed

"How could you always make my dopamine level up so easily?


Damn you, lil brat!"

June 09, 2015

#DAY5 Things you want to say to an ex

Hey you guys, a chuck boy with his violin and orchestra, a guy who so freaking into Juventus, and Mr.Perfect i used to know. A certain guys who ever came once into my heart, stay for a while, and taught me that being loved could be good yet bad at the same time.

Perhaps at some particular time we used to pond each other. We had so much laughter and a great deal of fun to do something knowing-it-so-fishy-then together. As since our last meeting that we decided to seperate, i consciously sure that it will have made us like a stranger. We started calling each other names ungainly, even now we so hardly to start some casual conversation. Things what i can really do now only monitoring you in sort of social media (fortunately, i never block my ex’ social media hehe so it doesn’t named as kepo) just to see that you’re doing well in every path of life you choose.

I absolutely know, the things won’t happen the way we want them Our relationship back then do so. Otherwise, it such a blessing to know you all, to have you all once in my heart. And a faith-shaking as we seperated, changing our life, maybe to give some lesson for both you and me. Things changing our life in the best way has shown that you all have taught me how to appreciate and to love and to care of our partner. You gave me lots of encouragement words. Remind me to be grateful and always stick to my life-plan and principle instead of keep bitching over my life and ignited me for being a tough yet smart-stunning-inspiring women.

So thank you so much for every time and concern of you that perhaps i couldn’t appreciate it as you’ve done. Thank you so much for always being there in a short time when my life getting so fucking plain, for leaning an open mind and open ear, providing the care and comfort I needed. It was bad what i can do often is just let you hear only about unpleasant things of mine. Sorry. But instead of sorry, i wish you’re doing well in your carrier and your love life, be healthier, and be more awesome that i may be adore you (again) lol --just kidding! May you find your very best kind of girl for the rest of your life, she loves you and you love her more, creating a life happily ever after. Amin.
And again, thank you, my unsuccessful-love-story-partner!

Sumpah ini bukan tulisan baper. Untung single jadi masih bisa bikin challenge ini tanpa ragu. Haha.
However, the end of love is not the end of life. It should be the beginning of an understanding that love sometimes leaves for a reason, but never leaves without a lesson.

    - Marc & Angel

June 07, 2015

#DAY4 Bullet Your Whole Day

Agak gak paham sih dengan challenge yang ini. Tapi yeah let me try. Kalaupun ternyata melenceng dari apa yang dimaksud hehe maafkan. Seenggaknya saya sudah berusaha untuk menuliskan apa yang saya tangkap dari challenge hari ke 4 ini ya.
  • Pukul 6. Hari ini kebetulan saya seharian ada di rumah. Mama sengaja minta saya untuk jaga rumah karena mama dan bapak ada keperluan di luar dari pagi hingga sore. Pagi tadi setelah sarapan, seperti hari lainnya dimulai beres-beres rumah dari mulai nyapu, ngepel, ngelap kaca, beres-beres kamar Opi, kamar mama dan bapak, kamar aa. Setelah itu mandi dan have checked some socmed haha. Semuanya selesai sekitar pukul 10.
  • Pukul 10. Akhir-akhir ini saya punya kegiatan seru, baru 3 hari berjalan sih tapi sungguh bikin ketagihan; menjahit. Menjahit bukan hanya menggunakan tangan, jarum, dan benang, tapi ini menggunakan mesin jahit. Satu hal yang harus saya garis bawahi disini adalah menjahit itu enggak gampang. Dulu sih mikirnya ah gampang tinggal gerak-gerakin kaki aja terus jadi deh bajunya. Eh tapi ternyata gak segampang itu. Dari mulai gimana cara pasang mesinnya, set up benang luar dan benang dalam, pasang benang ke jarum mesinnya, dan tahap paling susah adalah bagaimana menggerakan  kaki dan tangan kanan bersamaan tapi berlawanan arah di awal jahitan lalu seterusnya kedua tangan, kaki, dan mata yang harus sama-sama gerak untuk jahitan selanjutnya. Karena baru 3 hari belajar, untuk mulai jahitan aja masih belum rapi. Benangnya masih sering kusut diawal. Ini padahal baru menjahit ringan tipe lurus tapi sangat butuh waktu dan kesabaran. Belum lagi nanti kalau udah masuk teknik jahitan yang belok-belok sesuai bentuk baju. Serius deh menjahit itu butuh dan mengatur kesabaran, ya hampir sama kaya nyetir sih ya. Sabar kalo benangnya kusut dan kita harus ngulang dari awal, sabar saat kita udah pede ngejahit rapi eh ternyata benang dalamnya abis jadi tetep aja harus ngulang dari awal, juga sabar untuk ekstra teliti agar jahitan tetep lurus sesuai pola. -Pelajaran di bullet nomor 2 hari ini tuh jadi ngerasain banget bahwa semua profesi itu gak ada yang rendahan, gak ada yang mudah. Sebelumnya saya berpikir kalau gak ada yang spesial dari seorang tukang jahit tapi ternyata...kerjaan ini juga butuh skill, bahkan butuh lebih dari skill. Menurutku menjahit butuh seni juga supaya jahitannya rapi. Benar-benar gak bisa dianggap remeh. Kadang memang begitu, misalnya seorang karyawan kantor menyepelekan tukang parkir. Tapi coba kalau kita ada diposisi si tukang parkir. Apa kita bisa? Apa kita mau? Jadi mulai sekarang tanamkan dalam hati bahwa semua pekerjaan (selagi itu halal) itu sama saja, gak ada yang lebih keren, gak ada yang lebih menjamin, semuanya saling membutuhkan, semuanya menghasilkan kehidupan. Kalau sudah begini apa yang bisa disombongkan lagi?
  • Pukul 12. Solat zuhur dan lanjut masak untuk sendiri. Kebetulan di kulkas ada kacang merah, dan jagung. Akhirnya kepikiran untuk buat sayur kacang dan perkedel jagung. Bikin perkedel jagung sih udah gak ada masalah (saking seringnya bikin karena kesukaan sendiri). Dan sekarang tinggal menaklukan sayur kacang setelah percobaan pertama kali di posko KKN berhasil bikin temen-temen nyinyir. Tapi akhirnya tetep nekat dicoba. Seperti biasa, pengalaman masak yang masih belum ada apa-apanya ini bikin bingung beberapa menit. Udah dicoba berkali-kali, lidah tetep bilang masih kurang pas tapi bingung harus apa yang ditambah. Ya ternyata masak bukan sesuatu yang bisa kebut dipelajari. Harus dilatih dari sekarang. Kalau enggak, masak buat diri sendiri aja masih susah ya, gimana nanti buat anak dan suami (self-reminding). Alhamdulillah pas dirasa udah agak enak. Saya pun bisa makan.
  • Pukul 2. Tiba-tiba ada anak kecil datang ke rumah bawa bertumpuk-tumpuk cucian piring dan gelas bekas dipakai para tukang yang sedang merenovasi yayasan mama untuk makan siang. Kerjaan baru. Dan akhirnya saya sibuk cuci piring. Pas cuci piring badan cape banget asli, punggung rasanya mau patah. Bayangin dari pagi belum berhenti bekerja. Duduk pun cuma untuk makan dan sambil belajar jahit. Seketika berpikir, jadi ibu rumah tangga itu memang luar biasa. Gak bisa juga disepelekan. Siapa yang kuat mengerjakan pekerjaan rumah, ngurus anak, melayani suami padahal mungkin adakalanya rasa bosan datang. But the only they can do is to keep it as a secret. Wisely. Sekarang masih mau melihat ibu rumah tangga sebelah mata? Kalau kita berencana menjadi ibu karir tapi urusan rumah masih harus dibantu oleh asisten rumah tangga, semuanya jadi sama saja dengan ibu rumah tangga tanpa asisten rumah tangga. Jadi gak usah deh terlalu bangga jadi ibu karir. Kecuali kalau kita bekerja, mengurus rumah tanpa asisten, kenyaman dan hak suami serta anak terpenuhi, dan disaat yang sama seluruh hak kita pun yang terpenuhi tanpa beban itu baru luar biasa. What a super women if you're able to balance both your life and your family life!
  • At around 3-4 pm. Finally having a break, getting ashar and surprisingly getting a call from my bestie, Lovita. Recently she’s being away at Pare for some short english course (that’s why i have to use english to tell Lovita’ part). Yeah so happy that i already miss her so much. By the way, she’s my next-door-best friend. We went to same high school as well so naturally we’re so close enough to each other. Altough we’ve just had some cheesy and shallow conversation but it really made my mood up. We had some laughter when she told me about her crush and i also told her about the-guy-who-i-should-called-him-a-jerk(?) but she always tell me to keep being nice to him instead. (i don’t really know who side is Lovita more care of -___-) Otherwise, i was so happy to talk with her, knowing that she’s in a all good condition. Lop, cepet pulang, di Rangkas ada CFD lho hahaha
  • Pukul 5. Mama dan bapak akhirnya sampai rumah. Alhamdulillah senangnya karena semua urusan rumah selesai. Mama langsung cek apa yang sudah saya lakukan di rumah seharian (seperti biasa, mama akan nyindir-nyindir if i was doing nothing hehe). Seketika mama langsung cek sayur kacang buatanku. Dan...."Enak ko Ca. Cuma kurang gula aja dikit.” Oh so Alhamdulillah. Enggak ada yang lebih menyenangkan dengar mama memuji hasil masakan saya. Langsung joget di tempat. Haha.
  • Sekarang. Pukul 7 malam saya sudah masuk kamar karena berniat untuk nulis challenge hari keempat dan berencana juga untuk tidur kurang dari jam 11. And so this is the way i made my bullet for my whole day. Hoping that tomorrow will be more fun and better! Stttt, it’s gonna be so excited to do Day 5 Challenge! The ex issue hahahaha. See ya!

June 05, 2015

#DAY3 A Book You Love

I'm a person who actually loves to read whatever kind of book. Just called it as my hobby. Through my 19 years for knowing the way of reading, i’ve read many books in all genres. But only some of them may gives me such a good impression. So getting me into some screaming “Ini buku bagus banget.” “Lo harus baca.” “Kece sumpah.” after finishing read. Yea some of them, i'd like to tell you.
  1. Harry Potter. For the first time I read a super thick book, 7 series, and being in a rush to finish it as the limit time that my school library gave. What an exciting struggle for only a fiction book! But the one that I agree for more was J.K. Rowling is a super talented writter. She could put the charm in every character she made. How she created the character, place, name, magic, and the story was beyond our imagination, magically makes me so in love. No doubt, she become a million dollar person after she published her books to the world.
  2. Sabtu Bersama Bapak. For you who already in 20 or more, you should definitely read that book. Implicitly, the book is talking about how we manage a good relationship with our family, vertically between child and parent, or horizontally between husband-wife spouse. We could learn how to express our feeling to others, what we suppose to do when we’re in love, how important to have a planning for every step we're gonna take, and important one is knowing that married is not that simple as we think so far. Vividly, the message from the author was quite good which delivered by a good and funny story.
  3. A Simple Life by Desi Anwar. This book was an amazing things. Reading this book just could direct you to feel deeply about life, a little bit of musing, take a breath for awhile, and feel the sense around you passionately. You may really know Desi Anwar as a news anchor and journalist but in this book you would see another side of Desi Anwar perspectives that literally gives you so much inspiration and makes you realize that life is just a simple. The people who made it into a mess and seems overated.
  4. But, Indonesian old novel and short story also have a special space in my mind and my heart as well. I just feel so enjoy to read kind of Tetralogi Buru, Robohnya Surau Kami, Trilogi Ronggeng Dukuh Paruh, Bekisar Merah etc. Indonesian old novel is magicaly a portable era. For me who live in 20s it such gives me a freshness to feel the natural living of Indonesia past centuries, learn the culture and style then. Incridibly awesome. No doubt that Indonesian old novel will always stay in our heart. Forever timeless.
  5. Recently, i run to finish The Dee Lestari's (KBBJ, Akar, Petir, Partikel, and Gelombang (coming soon)). And so far, i'm enjoying it. Being wondering why Dewi Lestari has a kind of superb talent as she write those kind of story which i even couldn't imagine. I believe that the writting skill is not just a gift but it could develop by reading and maybe observing. And in every her books, Dee shows her best to deliver her story. Jjang!

#DAY2 Something You Feel Strongly About

Jawabannya cuma satu, karakter dan pendidikan yang diberikan orangtuaku. Entah itu pendidikan saat aku masih kecil hingga sekarang. All will always affect my entire life, gives me such a strength to face this bumpy yet amazing life, drive me into the better person i wanna be. Does any else could do better than parent guidance?

Allah is everything. When no one to help and support you, Allah will always.
Dari dulu, orangtuaku selalu mengajarkan bahwa jika kita dekat dengan Allah maka Allah gak akan tinggal diam jika kita dalam kesedihan dan kesulitan. Analoginya, sikap lo ke temen deket sama ke temen yang baru kenal mungkin beda kan. Lo akan tetep baik tapi kadarnya mungkin beda. Alhamdulillah sejak dulu aku memang dididik dengan nilai-nilai islam yang cukup tinggi. Dulu bapa sampe tega marahin kalau misalnya aku skip solat padahal saat itu aku belum akil baligh. Setiap magrib semua televisi wajib off. Kita harus solat magrib berjamaah dan abisnya tilawah. Abis solat isya bahkan mama kadang ngontrol hafalan surat anak-anaknya. Suka disindir-sindir bahkan kalo enggak ada progres. Dulu ngerasanya emang nyebelin banget tapi semuanya ternyata berbuah manis sekarang. Benar-benar kerasa kebiasaan yang diterapkan di rumah bikin aku seenggaknya punya pegangan kebiasaan baik hingga sekarang untuk selalu memaintain habluminallah-ku. Jangan pernah lalai solat, jangan skip baca Al Quran, selalu tebar kebaikan karena dampaknya akan kembali lagi ke kita, selalu jaga hubungan baik dengan Allah karena Allah yang mengatur semuanya. Cukupkan hanya pada Allah. Allah yang membuat kita seperti sekarang ini, pesan orangtua paling ngena dan menyejukkan.

Being educated is the best and precious gift. Be responsible!
Keluargaku memang bukan keluarga yang banyak uang, sangat biasa sebenarnya. Tapi alhamdulillah kita selalu merasa cukup dan rasa tercukupi itu membuat keberkahan tersendiri yang ternyata justru semua nikmat akan semakin ditambah. Tapi dengan keadaan seperti itu orangtuaku selalu mengusahakan pendidikan kita (anak-anaknya). Bahkan mama mewajibkan kita semua untuk S2 sebelum umur 30, “Kalian harus lebih baik segala-galanya dibanding kita.” Begitu kata mama. “Mungkin mama dan bapa gak bisa kasih warisan beratus-ratus juta tapi semoga dengan warisan ilmu dan karakter yang kita berikan justru akan lebih menyelamatkan kalian.” The one that i feel so lucky to be born in this family. Alhamdulillah orangtuaku adalah orang-orang yang paham bahwa pendidikan itu penting dan anak-anaknya berhak untuk dapat pendidikan yang baik. Mama dan bapak selalu dukung dimanapun kita bersekolah yang penting kita paham akan tanggung jawab dan enggak mengeluh. Gak ada kekangan sama sekali. Bahkan orangtua sangat mendukung kita untuk bisa kuliah di luar negeri (asal beasiswa katanya, yeah i know it’s gonna be that way haha). Bapak yang selalu menomorsatukan kebutuhan sekolah kita, mama yang selalu mengusahakan kenyamanan kosanku untuk belajar di Bandung. Mama pun dukung segala aktivitas kuliahku bahkan aktivitas diluar kuliah. Mama punya prinsip, semua aktivitas positif apapun itu pasti ada manfaatnya, bisa nambah ilmu dan suatu saat ilmu itu cepat atau lambat pasti akan terpakai. Satu hal yang aku pegang hingga sekarang, as long as you can learn, don’t stop learning. Invest masa muda dengan belajar apapun itu, banyak berteman, banyak baca buku, yang diimbangi ibadah juga. Punya banyak pengetahuan dan skill itu suatu keharusan, jangan kalah sama keadaan karena bahwasanya 
“Punya elmu jeung kabisa mah teu beurat mamawa.” Seorang yang dituakan.
Dua hal yang diajarkan kedua orangtuaku itu benar-benar jadi pegangan hidup. As those words want to tell you, my parent also try to teach me that i should stay fill up my time with matters that will benefit me religiously and worldly. And i feel so strongly about it. Couldn't be more blessed to have kinda those support system. Alhamdulillah. Semoga nanti akupun bisa menerapkan ini ke anak dan cucuku kelak.

June 03, 2015

in the middle of 2015 #DAY1

Hello June, the middle of 2015. And i’m so happy and blessed for the time i’ve spent. Alhamdulillah. This month maybe is (not) my favourite one, but i know that i’ve been waiting the month to come and (also) have some expectation for it. This month will be more blessed as i guess. The beginning of Ramadhan 1436 H, my brother birthday, and also the announcement for my master degree (i wish those all will become a good news amin).

As you know, i’m now staying at home. It’s been almost a month. Been trying to enjoy my daily routine such spending my time with my family, cooking some dish and (trying) cookies, reading some books, lmao-mostly is about me time. And now, it’s my another-lovely-hobby a.k.a blogging turn. Actually i have a special mind for my blog. It should be a challenge! YHAHA! I know 30 Days Challenge is kinda out of date things but since i never doing it for my blog then just make it fun and do it. I think June is the right time to take the challenge. In case because i'm being homed and in the mood to start a daily blogging.

#DAY 1 FIVE WAYS TO WIN YOUR HEART.
Well i just start laughing. What a silly question at the first! But maybe it’s the time to let you know the secret how to win my heart kekekekeke ((Caca sudah dewasa)). No, it’s not talking about as a man who want to win my heart. I will write it generally instead. As my 16personalities (you should try yours, it's gonna be so fun) result said, i'm a type of ESFJ who at my hearts is literally social creatures, and thrive on staying up to date with what my friends are doing. I'm a kind of enjoying my self to be around with friends, seeking large circles of friends, proving my self more than willing to spend the time and energy necessary to maintain the relationships (LOL), loyal and warm, known for standing by friends no matter what, and providing a constant source of emotional support and encouragement.

Yeah 16personalities really could tell me what kind of person i'm and i agree with those statements. Based on the statements, you perhaps could see what actually i do when it comes to talk about friendship. I'm enjoying the time i spent with my friends. But let me say that it doesn't mean i could fit in to all of my friends. As same as what a common relationship had done for being choosing and choosen, the friendship as well. Not to being a rasist, but i believe that we're going to be what we spent the most of time with. Eventhough i'm seeking large circle of friends but i'm also trying to be picky in order to create a comfortable and meaningful chemistry among us. And how to be a comfortable friend yet partner for life in version of me? Well yeah, actually it’s not such taking a hard time to win my heart, dude! (let me explain you in bahasa yhahaha)
  1. Just be yourself. Just be who you are and who you are going to be. Really. I hate people who act differently in front me. Kita kan sebenarnya ingin membangun sebuah hubungan (pertemanan atau apalah itu) kenapa harus ada sifat yang disembunyikan. Toh nanti kita pun punya kebebasan untuk merasa tidak nyaman ataupun nyaman. Jujur, aku akan lebih menghargai orang-orang yang apa adanya, dibandingkan orang yang pura-pura. Gini deh, dirinya sendiri aja berani dibohongin apalagi ke orang lain hehe
  2. Open minded. Gak harus ko berpendidikan tinggi semua, yang penting punya pikiran terbuka untuk menerima masukan dan obrolan. Jadi ketika kita hanging out, gak ada diem-dieman atau malah marah saat dikritik. Toh sebenernya akan lebih asyik kan kalo timbal balik. Enggak cuma kitanya aja yang terus-terusan jadi subjek.
  3. Have a good taste of music. I've no idea why i should write that statement. But i bold it again, I ADORE SOMEONE WHO COULD PLAY MUSIC INSTRUMENT WELL. Ya enggak harus well sih seenggaknya bisa main beberapa kunci atau beberapa lagu atau kalaupun enggak bisa main alat musik seenggaknya dia punya a good taste for their favourite songs gitu. Oke ini emang mainnya selera, tapi seenggaknya orang-orang dengan kemampuan arts yang baik cenderung orang-orang yang asyik dan fleksibel.
  4. A good listener. Sebenarnya aku pun sedang belajar how to be a good listener. Emang enggak enak kan ya sebenernya jadi pendengar itu, apalagi kalau diminta saran dan pendapatnya, yang enak tuh ya cerita, ngomong sana-sini. Tapi justru menurutku orang yang bisa jadi pendengar yang baik itu udah pasti jadi pencerita yang baik juga. And it cooler when you keep being a good listener! You win my heart! Everyone heart!
  5. Be humble and polite. Yang penting lainnya juga adalah gimana agar kita terlihat sesederhana mungkin dan being polite even friend to friend. Pertemanan atau hubungan percintaan dalam kesederhanaan itu sudah terbukti akan langgeng karena keduanya enggak ada yang berlebihan dalam berekspektasi. Aku suka aja sama orang yang sederhana, as Emma Watson said, the less their reveal, the more i wonder. Jadinya kan malah bikin penasaran dan it'll come more blessed naturally. Be polite ya seenggaknya harus punya batasan juga. Jangan baru kenal udah berani tanya-tanya privasi. Maksudnya semua juga ada waktunya, biarkan semuanya terjadi senatural mungkin. Inget kita kan tadinya enggak saling kenal, seharusnya sikap sopan harus tetap dibawa meskipun kadarnya mungkin bisa dikurangi seiring berjalan waktu.