Rosmalinda Nurhubaini's. Literally a nous of my random thought.
Posts // About
// Twitter // Tumblr

June 29, 2016

When you could learn from everything, even from KPOP ㅋㅋㅋㅋㅋㅋ

Yah mungkin postingan ini enggak seberapa penting, aku menulis ini pun hanya ingin berbagi beberapa sudut pandang yang ternyata bisa juga dijadikan pegangan hidup. Hidup yang pada dasarnya akan selalu dipenuhi oleh perjuangan dan kesabaran. Jadi begini, sejak tahun 2012 aku mulai tertarik dengan dunia Korean Pop dan Korean Drama. Dulu berawal dari teman-teman kampus dan teman-teman kosan yang mulai banyak bercerita tentang idol-idol Korea (sebutan untuk member boyband and girlband), drama, dan variety show. Saking banyaknya obrolan mengenai kpop dan kdrama maka ya mau enggak mau akhirnya saya juga ikut-ikutan. Dulu masih enggak ngeh kalo kpop itu maksudnya apa, girlband dan boybandnya apa aja, dulu tau sih ada Super Junior dan SNSD tapi enggak apal orang-orangnya karena kalo dilihat mereka mirip semua. Tapi ternyata enggak butuh lama, akhirnya kecemplung juga sama kpop. Kdrama sih enggak udah ditanya ya. Dari jaman Full House udah ngikutin dan enggak pernah dibikin bosan dengan drama-drama Korea lainnya. Sekarang sampe hafal nama boyband, girlband, band, agencynya, sebutan fansnya, setiap membernya karena selalu ngikutin mereka dengan pantengin portal berita khusus kpop, nonton variety show, atau sekedar buffering showcast dan comeback mereka di youtube.

Dan akhirnya sekarang sudah 2016, aku merasa kalau kpop dan kdrama akan bertahan lama di industri musik dan film karena mereka sudah punya kualitas dan segmen fansnya sendiri. Aku pun merasa belum bosan dengan semua hal yang berbau kpop dan kdrama. Sampai sekarang aku masih dengar lagu-lagu kpop, menonton setiap comeback mereka, menonton dramanya, hingga ke variety show-nya. Kadang kalau lagi gabut sengaja cari-cari info setiap idol yang jadi favoritku yah let’s say it a lil bit alay tapi ternyata dari beberapa fakta yang aku dapat dari hasil stalking kehidupan pribadi artis-artis Korea, semuanya memang berisi perjuangan, yang pada artinya membawaku pada suatu pernyataan: “Sesuatu yang besar akan butuh perjuangan yang besar juga.”

Kalau sedang menonton video SNSD kadang suka ngerasa iri ya. Ko mulus-mulus banget, cantik banget, pada ramping, kakinya jenjang sempurna, jago nari, jago nyanyi, terkenal di seluruh dunia. Tapi ternyata percaya enggak kalau mereka tuh mencapai semua itu enggak gampang. Katanya, di Korea kalau ingin jadi artis, which means harus masuk ke salah satu agency, itu harus melalui audisi dulu. Kalau udah lulus audisi pun enggak langsung jadi artis, tapi mereka harus ngelakuin training atau pre-debut yang enggak bisa ditentukan waktunya sekitar 2-7 tahun. Makanya enggak heran kalau para idol Korea tuh pada profesional, badan bagus, suara bagus, koreografi bagus, dan yang bikin herannya mereka semua multitalent. Misalnya aja Yook Sungjae (sengaja ambil contoh idol favorit yang sangat multitalent hehe), Sungjae tuh salah satu member dari boyband BTOB. Tapi diluar kegiatan BTOB dia juga aktor di drama-drama hits (Plus9Boys dan School 2015), jadi MC acara musik, dan cast dari variety show. Enggak sedikit juga beberapa aktris atau aktor selalu nyanyi original soundtrack dari drama atau film yang mereka perankan dengan suara yang enggak bisa dibilang biasa. Itu artinya memang setiap agency selalu menyaring trainee-trainee yang berkualitas. Inputnya aja berkualitas, setelah di training wajar kan kalau orang-orang itu punya output yang luar biasa. Despite katanya saat training itu, si calon-calon idol bener-bener mengalami kesulitan, harus operasi plastik, menjaga makanan, latihan setiap hari tanpa keluarga, gak boleh ini gak boleh itu, dan segala bentuk tuntutan dalam waktu bertahun-tahun tapi hey setelah masa training selesai dan akhirnya mereka debut (sebutan untuk idol yang selesai melaksanakan trainingnya) mereka benar-benar menjadi artis yang sangat profesional.

Yang bisa kuambil pelajaran disini emang kita harus fokus dan mau susah kalau mau mengejar sesuatu yang besar. Kenapa idol Korea itu longlasting, berkualitas, banyak fans karena mereka pun sudah membekali kualitas diri mereka dengan semaksimal mungkin. Mereka rela di karantina bertahun-tahun, melepaskan masa sekolah, atau untuk beberapa idol yang sudah bercita-cita ingin jadi idol memang sudah bersekolah di sekolah seni. Perjuangan yang tentunya sangat enggak gampang.

Setelah mereka jadi idol ternyata perjuangannya enggak berhenti. Kerja keras harus selalu dilakukan. Aku sering lihat penampilan para idol yang failed saat di panggung. Collapse, jatuh enggak sengaja, lupa lirik, lupa mic, lupa koregrafi masih bisa ditemukan. Tapi mereka dengan hebatnya bisa mengcover itu semua very smooth, setelah penampilan biasanya mereka minta maaf ke fansnya, dan selalu bilang, “We’ll continue our hardwork.” See? Kerja keras! Dari kejadian-kejadian unlucky di panggung para idol itu memperlihatkan kalau mereka pun yang udah dilatih secara profesional masih bisa salah masih bisa malu-maluin, jadi intinya salah itu sangat manusiawi, gak bisa dihindari tapi bisa dikurangi salah satunya dengan kerja keras dan lebih banyak latihan.

Di Korea sendiri, idol jadi pusat perhatian. Terlebih karena fans-fans Korea lebih fanatik. Hal ini bikin para idol harus sangat hati-hati untuk bersikap. Kesalahan di panggung, dating issue, every words they said in some interview, akan jadi bahan perhatian fans. Masih ingat rasanya saat member SNSD satu persatu konfirmasi status datingnya dengan beberapa idol lain. Mereka sebisa mungkin bersikap fair. Enggak terlalu memperlihatkan romantisme di media sosial, enggak pernah aku lihat ada pasangan idol yang mengupload foto di medsos even both are dating confirmed karena mereka tahu bahwa hal itu bisa menjadi pro dan kontra untuk fans. This is one of considerating for being an idol. Mereka bahkan harus menahan kehidupannya pribadinya demi orang lain, padahal siapa yang enggak mau punya kehidupan percintaan layaknya pasangan lain, bebas bermain kemanapun, bebas upload kemesraan.

Terakhir, pernah lihat drama korea? Atau variety shownya? Semuanya diatur semaksimal mungkin kalau kulihat. Drama yang enggak pernah bosen dengan plot cerita yang beranekaragam. Setting-setting tempat diatur sebagaimana semestinya, senatural mungkin, sehingga selalu bikin baper kalau nonton drama Korea. Misalnya drama tentang dokter, mereka bener-bener ambil tempat di rumah sakit, ruangan operasi sungguhan, bahkan setiap tindakan dokter diatur seakan sungguhana. Pernah nonton Running Man? Daebak!!! Ini salah satu variety show yang harus diacungi jempol. Udah lebih dari 300 episode tapi game di setiap episodenya selalu beda, kebayang kan gimana kreatifnya tim-tim yang bekerja di Running Man. Aku lihat kenapa setiap program TV Korea emang diminati karena memang tim-timnya pun selalu maksimal untuk bisa menampilkan yang terbaik dari programnya hingga bikin penonton baper atau bahkan sampai enggak bisa berhenti tertawa. LOL

Intinya, belajar dari bagian terkecil dari entertainment di Korea bahwa semuanya berawal dari kerja keras, disiplin, fokus, dan selalu lakukan yang terbaik. Emang semua itu enggak gampang tapi sesuatu yang besar memang harus dicapai dengan langkah yang besar dan enggak gampang juga.

So Fighting! *Korean cheering up’s line
Kalau mereka aja bisa, kita pun harus bisa

June 23, 2016

Ramadhan 1437 H

Huah akhirnya bisa menulis lagi. Kemarin-kemarin berasa enggak punya sense untuk menulis, bawaannya malas karena terlalu lama skipnya kali ya. Padahal banyak sekali yang ingin diceritakan, padahal lagi jobless karena libur kuliah plus ngajar 1 bulan full. Dan akhirnya hari ini berhasil keluar dari kemageran untuk kembali menulis di blog.

Terhitung dari hari Jumat kemarin saya pun pulang ke rumah karena kuliah sudah libur dan masuk sekolah untuk ngajar mulai 18 Juli. Itu artinya lumayan lama nih irisan waktu libur kuliah sama ngajarnya, kurang lebih 1 bulan lah ya. Alhamdulillah akhirnya bisa pulang ke rumah. Enggak seperti libur semester kemarin yang cuma bisa pulang ke rumah 4 hari karena waktu libur kuliah dan ngajar enggak beririsan.

Sebenarnya libur satu bulan itu berlebihan sih. Ujung-ujungnya nanti malah bikin mager balik ke Bandung, mager untuk ngajar lagi. Tapi yaudah dinikmati aja sebagai reward dari hecticnya hari-hari 3 bulan ke belakang.  Dan jadinya sekarang akan full 1 bulan di rumah. Awalnya berpikir males juga ya lama-lama di rumah, ngerasa enggak produktif, bakal bosan karena internet enggak unlimited (gak macam di kosan). Tapi kemudian berpikir lagi apa yang harus dibuat malas? Cuma pulang ke rumah, ngajar dan internet unlimited enggak bisa diganti sama kebersamaan 1 bulan bersama orang tua kan?

Iya dulu sih pas lulus S1 berpikir gak mau jauh-jauh dari orangtua, kasian aja gitu mereka kesepian di rumah di usia yang sedang butuh-butuhnya teman berbincang untuk menghilangkan kejenuhan di rumah. Tapi saat udah punya kesibukan sendiri di Bandung, ngerasa bisa ngelakuin apapun ko jadi lupa sama kondisi orangtua. Disadarkan banget untuk hal ini. Padahal jauh sebelum bisa pulang ke rumah, ketika masih harus UAS, rekap nilai siswa, pelatihan juga, mama udah sering chat nanya kapan pulang. Mama bilang Ramadhan tahun ini pertama kalinya di rumah cuma ada mama dan bapak. Saat itu sadar kalau mama rindu keadaan dulu saat Ramadhan masih ada anak-anak lengkap. Enggak seperti sekarang, aa di Bogor, saya dan adik di Bandung. Akhirnya segera setelah semua urusan di Bandung selesai langsung pesan tiket kereta untuk pulang. Jangan ditunda-tunda. Meskipun malas tapi ternyata orangtua begitu menantikan kehadiran kita.

Saya bisa merasakan kenapa banyak orang-orang yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya lalu lupa untuk menanyakan kabar dan menjenguk orangtuanya di rumah. Jawabannya ya seperti saya itu, merasa bisa hidup meski tanpa orangtua, terlebih ada yang lebih menjadi prioritas yaitu tugas bekerja. Tapi sadarkah bahwa orangtua ternyata begitu selalu merindukan kehadiran kita di rumah.

Terlepas dari produktif atau tidaknya kita di rumah percayalah hal itu enggak bisa digantikan oleh apapun itu. Kehadiran kita di rumah enggak bisa digantikan dengan berjuta-juta uang yang berhasil kita dapatkan dari bekerja. Jadi luangkan waktu untuk keluarga, rayakan dengan kebahagiaan saat punya waktu lebih untuk bersama dengan orangtua. Orangtua kita semakin hari akan semakin tua, kemampuan mengingat, tenaganya lambat laun akan menurun, jika sudah demikian suatu saat mereka butuh kita untuk selalu di sekeliling mereka, untuk membantu dan menemani mereka seperti adanya mereka saat kita selalu membutuhkan dan ditemani mereka di waktu kecil.


Selagi masih ada orangtua di rumah, saya harusnya bersyukur masih bisa menghabiskan waktu dengan mereka. Saya masak untuk menu berbuka puasa, belajar masakan mama yang sudah banyak lupa karena di kosan jangan dipakai, jadi asisten bapak membuat laporan keuangan sekolah dan nilai mahasiswa-mahasiswanya, menonton televisi bersama, dan mengobrol hingga malam hari dengan mama jadi kegiatan yang sebenarnya sederhana tapi mungkin sangat berarti untuk saya dan orangtua. Kegiatan ini enggak akan bisa saya lakukan kalau saya di Bandung, juga enggak akan fleksibel saya lakukan jika sudah punya suami. Jadi untuk tahun ini saya sudah kufur nikmat, lupa bersyukur kalau keberadaan orangtua adalah nikmat. Lupa kalau orangtua harus dipenuhi hak-haknya oleh saya, orangtua masih butuh saya, dan saya pun masih butuh mereka. Selagi orangtua masih ada lakukan semaksimal mungkin yang dapat saya lakukan dan berikan untuk mereka. 

Selamat menebar kebaikan di Ramadhan 1437 H!