Rosmalinda Nurhubaini's. Literally a nous of my random thought.
Posts // About
// Twitter // Tumblr

November 06, 2016

A Sweet Goodbye?

"Kalau sudah nyaman, kenapa pindah?"
Raditya Dika, Manusia Setengah Salmon

Maybe that piece of Manusia Setengah Salmon dialog is the best part to represent the situation. So through this post i want to say that i'm no longer on this blogspot. By some of consideration, i finally decided to move my site to wordpress. It kinda sad that i couldn't continue my write here which has been with me for 7 years. I still remember it well when the first time i made this account, i named it sepotongcokelat then write some unmature post again and again. Even now, 7 years has passed, my friends still remember the address and this blog become so and sooo meaningful for me. 

You already know how much i love this sepotongcokelat.blogspot.com. When some of my friends move to wordpress (they told me that wordpress is more genuine one) but i stay here. I couldn't make a reason why i should leave my blogspot after hundred posts, hundred lovely comments. I ever exaggerate my write to express my happy feeling to have this site that always be my pain and stress healer sometimes. However, i should move, blogspot is no more being comfortable to write and to read site (for me literally), too much ads and no layout improvement since i used to be a user for the first time. Oh, why blogspot? But i'm gonna make it simple, I'm not moving all the archieves here to the new one. I'll keep everything here as this site should to be.

So since 2 days ago, i already made an wordpress account. I wish it gonna be my last forever and being my all time favourite archieves. For everyone who already know this address, i'm not longer continue my write here. Please visit my official address in wordpress below and enjoy another blogwalking experience.


Thank you so much blogspot for archieving my wonderful journey for these 7 years. 

Best regards,
Caca xoxo

October 30, 2016

In the middle of self-demotivation

Meskipun harus mengetik panjang ditengah banyaknya tugas, namun saya memutuskan harus menulis post ini. Post ini sangat berharga bagi saya karena saya akan menceritakan pengalaman berharga yang sangat sayang jika hanya disimpan di otak dengan kapasitas sinapsis antar neuron yang suatu hari bisa saja berkurang. 

Hari Sabtu kemarin saya pergi ke salah satu sekolah menengah atas di daerah Parompong, Kabupaten Bandung Barat. Perginya saya ke sekolah itu karena tugas salah satu mata kuliah untuk mengobservasi pembelajaran berbasis STEM menggunakan local material. Tugas ini adalah tugas mandiri jadi saya harus pergi ke SMAN 1 Parompong sendirian dan menyiapkan instrumen sendiri. Kenapa saya pilih SMAN 1 Parompong yang sebenarnya jauh dari kosan? Kenapa enggak ke SMAN 3 Bandung saja? Hmmm ini sudah saya pertimbangkan. Saya memilih sekolah SMAN 1 Parompong karena saya kenal dengan salah satu guru biologi disana, beliau sangat menginspirasi saya. Namanya Pak Cece. Awalnya saya kenal beliau saat masih kerja praktik di SMAN 3 Bandung, lalu saat saya masuk Daniel ternyata Pak Cece juga guru biologi disana. Jadi yaa cukup kenal dekat lah dengan beliau. Dari awal kenal beliau, beliau sudah sangat menginspirasi (padahal dulu cuma dengar dari cerita-cerita orang-orang aja, dari siswa dan guru SMAN 3 dan Daniel, bahkan dari dosen kampus tempat saya dan Pak Cece kuliah). Pak Cece yang nilai UKG (Uji Kompetensi Guru) nya selalu tertinggi, Pak Cece yang juara guru berprestasi, Pak Cece yang jago ngajarnya, Pak Cece yang kreatif, Pak Cece yang gak pernah pelit untuk berbagi materi biologi dan semua cerita tentang kebaikan dan prestasinya. Bahkan sekarang Pak Cece sedang kuliah S2 dengan beasiswa LPDP namun tetap bisa all out di semua pekerjaan dan tanggungjawabnya sebagai guru, mahasiswa, dan tanggungjawab di keluarganya.

Beberapa minggu sebelumnya saya sempat mengobrol dengan Pak Cece tentang pembelajaran STEM yang dilakukan di sekolahnya tentang pewarnaan bunga sebagai aplikasi dari konsep transportasi zat. Pak Cece bilang juga bahwa STEM yang dilakukannya tersebut menggunakan local material karena daerah Parompong terkenal dengan daerah penghasil bunga-bunga yang beragam. Saat itu saya mendapat ide untuk mengobservasi pembelajaran yang dilakukan Pak Cece di sekolahnya. Meskipun awalnya saya sebenarnya lebih penasaran dengan bagaimana cara beliau mengajar. Sejak saya kenal beliau saya belum pernah melihat beliau mengajar! Hehe. Pak Cece pun tidak keberatan saat saya bilang ingin mengobservasi pembelajarannya. Akhirnya saya putuskan untuk pergi ke SMAN 1 Parompong. Butuh waktu 30 menit untuk sampai ke sekolah itu dari kosan saya (karena saya pakai gojek). Sekolahnya termasuk di pedesaan namun mengasyikan! Banyak pemandangan yang indah, bunga-bunga yang ditemukan sepanjang perjalanan, gurung-gunung, hutan pinus, yang enggak akan ditemukan oleh guru-guru yang mengajar di kota.

Saat pergi ke SMAN 1 Parompong itu saya mendapatkan banyak sekali pelajaran, bukan hanya sekadar tau bagaimana pembelajaran STEM berlangsung, tapi lebih dari itu. Saat pertama kali saya masuk ke sekolah itu, siswa langsung menyalami saya, dengan sopannya mereka memanggil "Bu" lalu mencium tangan saya padahal mereka tidak tau siapa saya, saya pun tidak kenal mereka. Impressed! Di sekolah kota jarang ada yang siswa yang seperti ini. Lalu akhirnya saya pun masuk kelas dan mengobservasi kelas Pak Cece. Saya perhatikan caranya mengajar, respon siswa di kelas, bahkan respon siswa diluar kelas saat Pak Cece lewat. Para siswa sangat menghormati beliau. Saat beliau lewat, para siswa semangat menanyakan tugas. Di kelas pun begitu, saat diberikan tugas, siswa langsung mengerjakan tanpa mengeluh, tanpa minta syarat seperti layaknya anak-anak kota yang cukup manja. Saat siswa sedang mengerjakan tugas saya dan Pak Cece berkeliling sekolah untuk melihat laboratorium. Untuk sekolah di desa, laboratorium sudah sangat terurus dan dimanfaatkan dengan baik untuk pembelajaran biologi, banyak hasil pembelajaran biologi yang dipajang dan ditempel di lab tersebut semakin membuat saya mengacungi jempol. Second time being impressed!

Sekitar pukul 09.30 pembelajaran pun selesai. Pembelajaran di kelas hari itu terlaksana dengan sangat baik. Tujuan dan seluruh langkah pembelajaran seperti yang tertulis di RPP tercapai. Di akhir pembelajaran pun siswa masih terlihat masih bersemangat. Pak Cece memang luar biasa! Setelah observasi tersebut, akhirnya saya kembali ke ruang guru bersama Pak Cece, mengobrol sebentar mengenai curiousity saya hehe. Saya diperlihatkan foto kegiatan-kegiatan Pak Cece selama mengajar menggunakan pendekatan STEM yang mengasyikan dan kreatif tanpa lepas dari hakikat pembelajaran biologi, tanpa membebani siswa. Tanpa ragu, Pak Cece memberikan saya RPP pembelajarannya, memberikan contoh LKS dan soal. Pak..... the third i'm was being impressed!

Sebelum saya izin pulang (karena saya harus pergi ngajar juga), saya sempat menanyakan kesulitan mengajar pembelajaran dengan STEM, creative learning karena siswa di kelas yang tidak sedikit dan siswa yang tidak biasa dengan sistem student centre
Pak Cece bilang, "Ngajar itu gampang, Bu, saya mah enggak ngerasa ada kesulitan apa-apa. Asal tau polanya. Pelajari pola yang baik untuk mengajar anak-anak. Pada dasarnya kan anak-anak itu kan sama aja. Kalau sudah tau polanya, ngajar juga jadi enak. Siswa dan kelas terkendali, kita enggak terlalu capek. Sama halnya dengan orang sukses kan, setiap orang yang sukses pasti udah punya pola hidupnya sendiri, pola baik yang selalu dia lakukan makanya dia bisa sukses."
Lalu Pak Cece menambahkan, "Makanya saya senang kalau dapat jadwal kelas X, saya bisa latih pola pembelajaran saya, karena anak-anak masih baru jadi mudah menyesuaikan. Kalau anak-anak sudah kenal dengan pola mengajar kita, sesananya akan mudah. Coba semua metode dan model pembelajaran, Bu. Harus kreatif karena kita tau siswa itu butuh apa, inginnya apa, supaya pembelajaran jadi seru. Jangan lupa foto setiap kegiatan pembelajaran biar nanti gampang ikut lomba ini itu, jadi gampang naik pangkat." Pak Cece dan saya ketawa.
Banyak hal yang bisa saya pelajari di hari itu. Pak Cece yang selalu baik dan menghormati siapapun tanpa melihat siapapun orangnya. Beliau bahkan menyiapkan makanan dan minuman untuk saya, memberikan RPP hari sebelum diminta padahal saya sudah sangat merepotkan di pagi itu. Pak Cece enggak pelit dengan apa yang dimilikinya, semua hasil RPP pembelajaran kreatifnya dibagikan di grup guru biologi. Saya belajar bahwa dengan berbagi ilmu, informasi, rezeki, enggak akan membuat kita miskin, enggak usah takut ide kita diambil, enggak usah takut orang lain yang justru mendapatkan keuntungan dari informasi yang kita berikan. Polanya: dengan berbagi kita akan semakin kaya. 

Pelajaran selanjutnya, Pak Cece bilang kalau beliau nyaman dengan sekolahnya yang sekarang (sebelumnya Pak Cece mengajar juga di SMAN 3 Bandung tapi akhirnya resign karena harus kuliah S2), guru-guru enggak ada acara 'menyenggol kanan kiri', semuanya mendukung apapun ide-ide guru untuk kebaikan sekolah, siswa dan orangtua murid pun enggak banyak protes dengan sekolah, "Enggak kaya di sekolah kota kan, Bu hahaha." Pak Cece dan saya ketawa-tawa karena kita merasakan bagaimana persaingan antar guru di sekolah yang bagus favorit itu. Intinya, enggak ada siswa yang bodoh, enggak ada sekolah yang jelek, enggak ada sekolah yang bagus, yang ada hanya guru yang semangat dan guru yang malas. Dimanapun kita mengajar, siapapun muridnya, seburuk apapun fasilitas sekolah, yang terpenting adalah bagaimana kita mengajar. Integritas mengajar kita yang akan mengubah segalanya. Belajarlah untuk jadi pribadi terbaik, guru yang terbaik dimanapun kita berada. 

Hal ini benar-benar menampar saya. Beberapa minggu kebelakang saya sedang jenuh dengan rutinitas mengajar dan kuliah. Tapi ternyata di hari Sabtu ini saya mendapat renungan yang sangat banyak. Selama ini saya berpikir hanya di tempat atau sekolah baguslah saya bisa mengembangkan kemampuan saya, namun ternyata dimanapun itu semuanya ada pada diri kita sendiri. Faktanya lingkungan sekitar hanya jadi faktor sekunder yang akan mempengaruhi. 

Untuk Pak Cece, terimakasih banyak ya Pa sudah mau berbagi semuanya. Terimakasih untuk kebaikan bapak selama ini. Semoga suatu hari nanti saya bisa membalasnya. Semoga Pak Cece selalu sehat, tetap menginspirasi, dan berprestasi. 

SMAN 1 Parompong. Literally a place for developing your self!

Creative and fun learning

Pak Cece with his lovely student. So nice to meet you all!

Student' excitement after finishing their work. Good job, kiddos!

Thank you so much, Pak Cece! ^^
(Maafin aku nya yang pendek bgt dan Pak Cece nya yang tinggi banget)

October 02, 2016

It's A Boy!

I almost forgot to introduce you that my family got a new member. Yeayyyyyy! I'm sooo teared up yet excited to know the baby. He was born officially on August 31. That day, my whole family was given such a bunch of blessing. He comes to the world. Hizam Ismail Rasyad really does. Alhamdulillahirabbilalamin....I'm now an aunty and my brother officially become a dad. It just beyond blessing, beyond happines all the time when i met him for the first time. I saw he was slept peacefully, then crying out when i have to go, back to Bandung. Kakak Izam, are you still miss me? hehehe. Now, even i can't stop looking to every picts of him that my bro send via whatsapp. Seeing him, even only a pict of his sleeping just makes me happy. Wondering how it can be like in the future when he could talk to me and call me "Ateu Cacaaaaa." 

So here's the A Aris junior. My beloved nephew, my current sweetness of life. 

Isn't he lovely?

Dear Kaka Izam, 
Within this post, in the first day of 1438 H, i'm sending you my best prayer for your future life. Kakak Izam harus jadi anak sholeh yaa, anak yang cerdas, anak yang membanggakan ayah bunda. I really can't wait to know you more hehe. Please grow up healthily, my love. Aunty will help you to see the goods of this world.

Sayang Kakak Izam,
Ateu Caca

Your job shapes you

Bandung, 02 Oktober 2016
12.53
Hujan cukup deras.

Tidak terasa genap di bulan Oktober ini, satu sudah satu tahun menjalani pekerjaan sebagai guru. Dengan segala perjuangan di dalamnya yang memaksa saya menjalani pekerjaan yang ternyata sangat tidak mudah. Beberapa kali saya menangis (serius) karena suatu kejadian di kelas yang benar-benar membuat saya sempat berpikir bahwa saya tidak berbakat untuk memiliki karir seperti sekarang. Kejadian tersebut membuat percaya diri saya langsung drop. Namun akhirnya, berkat 2 orang teman terdekat saya yang selalu mendorong dan mewajarkan atas kesalahan yang saya buat, saya pun mencoba tenang. Memaafkan diri sendiri. 

Salah itu biasa, Ca. Guru yang sekarang udah senior juga pasti pernah salah. 

Iya. Kalau enggak pernah salah, kita enggak akan pernah belajar kan? SNSD aja pernah jatuh pas lagi nyanyi di atas panggung 

Ya seperti itu, sejak kejadian itu saya selalu berhati-hati dalam apapun yang saya ucapkan di kelas. Salah sedikit bisa jadi miskonsepsi dan mispersepsi untuk siswa yang akan lebih sulit diperbaiki. Apalagi mata pelajaran yang saya ajarkan adalah mata pelajaran dengan teori yang sangat luas dan sangat berkaitan antara satu materi dengan materi lainnya. Sejak saat itu, saya berusaha untuk mempersiapkan segala materi sebaik mungkin sebelum saya mengajar, saya membaca buku lebih dari 1 sumber lalu saya buat rangkumannya. Ada pepatah yang bilang, the more you sweat in training, the less you bleed in battle. Setidaknya saya ingin mengurangi kemungkinan berdarah (lagi).

Pekerjaan ini memang tidak mudah. Apalagi yang saya lakukan ini sebenarnya adalah sebuah jasa untuk mengubah dan menjadikan seseorang menjadi lebih baik lagi, baik dari segi pengetahuannya maupun dari segi karakternya. Meskipun saya akui sampai saat ini saya belum bisa menjadi guru yang mampu mengubah karakter seorang siswa (Saya rasa, saya masih jauh untuk sampai pada target tersebut). Let's say, pekerjaan ini adalah sebuah jasa. Jasa yang memfasilitasi siswa untuk belajar, salah satunya belajar mengenai kehidupan. Dari dulu saya tahu bahwa pekerjaan pelayanan jasa adalah pekerjaan yang luar biasa. Begitu pun yang saya rasakan sekarang. Jasa yang saya tawarkan ini sangat mempengaruhi kehidupan banyak orang, terutama kehidupan masa depannya.

Meskipun tidak mudah untuk menjalani pekerjaan mulia ini, namun saya memilih untuk tidak lagi melihat segala tuntutan dan kesulitannya. Saya mencoba untuk melihat pekerjaan saat ini adalah pekerjaan yang memiliki kekuatan untuk mengubah saya menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Dengan pekerjaan yang dapat dibilang selalu dinamis dan sensitif ini, saya banyak belajar. Terutama belajar bagaimana bersikap. Bersikap sepositif mungkin di depan puluhan siswa di kelas bagaimanapun kondisi saya diluar kelas. Siswa tidak perlu tahu kalau saya sedang banyak tugas kuliah, siswa tidak perlu tahu kalau saya sedang stres karena masalah tertentu, yang harus siswa tahu adalah kesan pembelajaran yang saya berikan hari itu. Itu yang akan siswa ingat seumur hidupnya. Saya belajar bagaimana untuk menjadi orang seceria mungkin di depan siswa, mencoba untuk masuk ke kehidupan mereka yang 'sudah bukan zaman saya lagi', mencoba untuk memahami mereka, dan mencoba untuk menjadi teman dan orangtua mereka. Menjadi teman sekaligus orangtua berhasil membuat saya memberanikan diri untuk menjadi orang ekstrovert, seceria mungkin, tersenyum sebanyak mungkin, yang sangat berlainan dengan saya versi sebelum mengajar. Yang menjadikan kesulitan tersendiri di awal-awal mengajar bagi saya. 

Saya bersyukur dengan pekerjaan ini. Pekerjaan yang membentuk saya versi yang memang saya inginkan, yang seharusnya. Pekerjaan yang membuat hari-hari saya penuh dengan semua hal positif, siswa dengan segala impiannya, siswa dengan semangat belajarnya, siswa dengan candaan garingnya, siswa dengan hati penuh cinta, dan siswa yang selalu optimis. Literally, membuat saya bahagia.

"The happiest persons, don't have the best of everything. They just make the best of everything"

June 29, 2016

When you could learn from everything, even from KPOP ㅋㅋㅋㅋㅋㅋ

Yah mungkin postingan ini enggak seberapa penting, aku menulis ini pun hanya ingin berbagi beberapa sudut pandang yang ternyata bisa juga dijadikan pegangan hidup. Hidup yang pada dasarnya akan selalu dipenuhi oleh perjuangan dan kesabaran. Jadi begini, sejak tahun 2012 aku mulai tertarik dengan dunia Korean Pop dan Korean Drama. Dulu berawal dari teman-teman kampus dan teman-teman kosan yang mulai banyak bercerita tentang idol-idol Korea (sebutan untuk member boyband and girlband), drama, dan variety show. Saking banyaknya obrolan mengenai kpop dan kdrama maka ya mau enggak mau akhirnya saya juga ikut-ikutan. Dulu masih enggak ngeh kalo kpop itu maksudnya apa, girlband dan boybandnya apa aja, dulu tau sih ada Super Junior dan SNSD tapi enggak apal orang-orangnya karena kalo dilihat mereka mirip semua. Tapi ternyata enggak butuh lama, akhirnya kecemplung juga sama kpop. Kdrama sih enggak udah ditanya ya. Dari jaman Full House udah ngikutin dan enggak pernah dibikin bosan dengan drama-drama Korea lainnya. Sekarang sampe hafal nama boyband, girlband, band, agencynya, sebutan fansnya, setiap membernya karena selalu ngikutin mereka dengan pantengin portal berita khusus kpop, nonton variety show, atau sekedar buffering showcast dan comeback mereka di youtube.

Dan akhirnya sekarang sudah 2016, aku merasa kalau kpop dan kdrama akan bertahan lama di industri musik dan film karena mereka sudah punya kualitas dan segmen fansnya sendiri. Aku pun merasa belum bosan dengan semua hal yang berbau kpop dan kdrama. Sampai sekarang aku masih dengar lagu-lagu kpop, menonton setiap comeback mereka, menonton dramanya, hingga ke variety show-nya. Kadang kalau lagi gabut sengaja cari-cari info setiap idol yang jadi favoritku yah let’s say it a lil bit alay tapi ternyata dari beberapa fakta yang aku dapat dari hasil stalking kehidupan pribadi artis-artis Korea, semuanya memang berisi perjuangan, yang pada artinya membawaku pada suatu pernyataan: “Sesuatu yang besar akan butuh perjuangan yang besar juga.”

Kalau sedang menonton video SNSD kadang suka ngerasa iri ya. Ko mulus-mulus banget, cantik banget, pada ramping, kakinya jenjang sempurna, jago nari, jago nyanyi, terkenal di seluruh dunia. Tapi ternyata percaya enggak kalau mereka tuh mencapai semua itu enggak gampang. Katanya, di Korea kalau ingin jadi artis, which means harus masuk ke salah satu agency, itu harus melalui audisi dulu. Kalau udah lulus audisi pun enggak langsung jadi artis, tapi mereka harus ngelakuin training atau pre-debut yang enggak bisa ditentukan waktunya sekitar 2-7 tahun. Makanya enggak heran kalau para idol Korea tuh pada profesional, badan bagus, suara bagus, koreografi bagus, dan yang bikin herannya mereka semua multitalent. Misalnya aja Yook Sungjae (sengaja ambil contoh idol favorit yang sangat multitalent hehe), Sungjae tuh salah satu member dari boyband BTOB. Tapi diluar kegiatan BTOB dia juga aktor di drama-drama hits (Plus9Boys dan School 2015), jadi MC acara musik, dan cast dari variety show. Enggak sedikit juga beberapa aktris atau aktor selalu nyanyi original soundtrack dari drama atau film yang mereka perankan dengan suara yang enggak bisa dibilang biasa. Itu artinya memang setiap agency selalu menyaring trainee-trainee yang berkualitas. Inputnya aja berkualitas, setelah di training wajar kan kalau orang-orang itu punya output yang luar biasa. Despite katanya saat training itu, si calon-calon idol bener-bener mengalami kesulitan, harus operasi plastik, menjaga makanan, latihan setiap hari tanpa keluarga, gak boleh ini gak boleh itu, dan segala bentuk tuntutan dalam waktu bertahun-tahun tapi hey setelah masa training selesai dan akhirnya mereka debut (sebutan untuk idol yang selesai melaksanakan trainingnya) mereka benar-benar menjadi artis yang sangat profesional.

Yang bisa kuambil pelajaran disini emang kita harus fokus dan mau susah kalau mau mengejar sesuatu yang besar. Kenapa idol Korea itu longlasting, berkualitas, banyak fans karena mereka pun sudah membekali kualitas diri mereka dengan semaksimal mungkin. Mereka rela di karantina bertahun-tahun, melepaskan masa sekolah, atau untuk beberapa idol yang sudah bercita-cita ingin jadi idol memang sudah bersekolah di sekolah seni. Perjuangan yang tentunya sangat enggak gampang.

Setelah mereka jadi idol ternyata perjuangannya enggak berhenti. Kerja keras harus selalu dilakukan. Aku sering lihat penampilan para idol yang failed saat di panggung. Collapse, jatuh enggak sengaja, lupa lirik, lupa mic, lupa koregrafi masih bisa ditemukan. Tapi mereka dengan hebatnya bisa mengcover itu semua very smooth, setelah penampilan biasanya mereka minta maaf ke fansnya, dan selalu bilang, “We’ll continue our hardwork.” See? Kerja keras! Dari kejadian-kejadian unlucky di panggung para idol itu memperlihatkan kalau mereka pun yang udah dilatih secara profesional masih bisa salah masih bisa malu-maluin, jadi intinya salah itu sangat manusiawi, gak bisa dihindari tapi bisa dikurangi salah satunya dengan kerja keras dan lebih banyak latihan.

Di Korea sendiri, idol jadi pusat perhatian. Terlebih karena fans-fans Korea lebih fanatik. Hal ini bikin para idol harus sangat hati-hati untuk bersikap. Kesalahan di panggung, dating issue, every words they said in some interview, akan jadi bahan perhatian fans. Masih ingat rasanya saat member SNSD satu persatu konfirmasi status datingnya dengan beberapa idol lain. Mereka sebisa mungkin bersikap fair. Enggak terlalu memperlihatkan romantisme di media sosial, enggak pernah aku lihat ada pasangan idol yang mengupload foto di medsos even both are dating confirmed karena mereka tahu bahwa hal itu bisa menjadi pro dan kontra untuk fans. This is one of considerating for being an idol. Mereka bahkan harus menahan kehidupannya pribadinya demi orang lain, padahal siapa yang enggak mau punya kehidupan percintaan layaknya pasangan lain, bebas bermain kemanapun, bebas upload kemesraan.

Terakhir, pernah lihat drama korea? Atau variety shownya? Semuanya diatur semaksimal mungkin kalau kulihat. Drama yang enggak pernah bosen dengan plot cerita yang beranekaragam. Setting-setting tempat diatur sebagaimana semestinya, senatural mungkin, sehingga selalu bikin baper kalau nonton drama Korea. Misalnya drama tentang dokter, mereka bener-bener ambil tempat di rumah sakit, ruangan operasi sungguhan, bahkan setiap tindakan dokter diatur seakan sungguhana. Pernah nonton Running Man? Daebak!!! Ini salah satu variety show yang harus diacungi jempol. Udah lebih dari 300 episode tapi game di setiap episodenya selalu beda, kebayang kan gimana kreatifnya tim-tim yang bekerja di Running Man. Aku lihat kenapa setiap program TV Korea emang diminati karena memang tim-timnya pun selalu maksimal untuk bisa menampilkan yang terbaik dari programnya hingga bikin penonton baper atau bahkan sampai enggak bisa berhenti tertawa. LOL

Intinya, belajar dari bagian terkecil dari entertainment di Korea bahwa semuanya berawal dari kerja keras, disiplin, fokus, dan selalu lakukan yang terbaik. Emang semua itu enggak gampang tapi sesuatu yang besar memang harus dicapai dengan langkah yang besar dan enggak gampang juga.

So Fighting! *Korean cheering up’s line
Kalau mereka aja bisa, kita pun harus bisa

June 23, 2016

Ramadhan 1437 H

Huah akhirnya bisa menulis lagi. Kemarin-kemarin berasa enggak punya sense untuk menulis, bawaannya malas karena terlalu lama skipnya kali ya. Padahal banyak sekali yang ingin diceritakan, padahal lagi jobless karena libur kuliah plus ngajar 1 bulan full. Dan akhirnya hari ini berhasil keluar dari kemageran untuk kembali menulis di blog.

Terhitung dari hari Jumat kemarin saya pun pulang ke rumah karena kuliah sudah libur dan masuk sekolah untuk ngajar mulai 18 Juli. Itu artinya lumayan lama nih irisan waktu libur kuliah sama ngajarnya, kurang lebih 1 bulan lah ya. Alhamdulillah akhirnya bisa pulang ke rumah. Enggak seperti libur semester kemarin yang cuma bisa pulang ke rumah 4 hari karena waktu libur kuliah dan ngajar enggak beririsan.

Sebenarnya libur satu bulan itu berlebihan sih. Ujung-ujungnya nanti malah bikin mager balik ke Bandung, mager untuk ngajar lagi. Tapi yaudah dinikmati aja sebagai reward dari hecticnya hari-hari 3 bulan ke belakang.  Dan jadinya sekarang akan full 1 bulan di rumah. Awalnya berpikir males juga ya lama-lama di rumah, ngerasa enggak produktif, bakal bosan karena internet enggak unlimited (gak macam di kosan). Tapi kemudian berpikir lagi apa yang harus dibuat malas? Cuma pulang ke rumah, ngajar dan internet unlimited enggak bisa diganti sama kebersamaan 1 bulan bersama orang tua kan?

Iya dulu sih pas lulus S1 berpikir gak mau jauh-jauh dari orangtua, kasian aja gitu mereka kesepian di rumah di usia yang sedang butuh-butuhnya teman berbincang untuk menghilangkan kejenuhan di rumah. Tapi saat udah punya kesibukan sendiri di Bandung, ngerasa bisa ngelakuin apapun ko jadi lupa sama kondisi orangtua. Disadarkan banget untuk hal ini. Padahal jauh sebelum bisa pulang ke rumah, ketika masih harus UAS, rekap nilai siswa, pelatihan juga, mama udah sering chat nanya kapan pulang. Mama bilang Ramadhan tahun ini pertama kalinya di rumah cuma ada mama dan bapak. Saat itu sadar kalau mama rindu keadaan dulu saat Ramadhan masih ada anak-anak lengkap. Enggak seperti sekarang, aa di Bogor, saya dan adik di Bandung. Akhirnya segera setelah semua urusan di Bandung selesai langsung pesan tiket kereta untuk pulang. Jangan ditunda-tunda. Meskipun malas tapi ternyata orangtua begitu menantikan kehadiran kita.

Saya bisa merasakan kenapa banyak orang-orang yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya lalu lupa untuk menanyakan kabar dan menjenguk orangtuanya di rumah. Jawabannya ya seperti saya itu, merasa bisa hidup meski tanpa orangtua, terlebih ada yang lebih menjadi prioritas yaitu tugas bekerja. Tapi sadarkah bahwa orangtua ternyata begitu selalu merindukan kehadiran kita di rumah.

Terlepas dari produktif atau tidaknya kita di rumah percayalah hal itu enggak bisa digantikan oleh apapun itu. Kehadiran kita di rumah enggak bisa digantikan dengan berjuta-juta uang yang berhasil kita dapatkan dari bekerja. Jadi luangkan waktu untuk keluarga, rayakan dengan kebahagiaan saat punya waktu lebih untuk bersama dengan orangtua. Orangtua kita semakin hari akan semakin tua, kemampuan mengingat, tenaganya lambat laun akan menurun, jika sudah demikian suatu saat mereka butuh kita untuk selalu di sekeliling mereka, untuk membantu dan menemani mereka seperti adanya mereka saat kita selalu membutuhkan dan ditemani mereka di waktu kecil.


Selagi masih ada orangtua di rumah, saya harusnya bersyukur masih bisa menghabiskan waktu dengan mereka. Saya masak untuk menu berbuka puasa, belajar masakan mama yang sudah banyak lupa karena di kosan jangan dipakai, jadi asisten bapak membuat laporan keuangan sekolah dan nilai mahasiswa-mahasiswanya, menonton televisi bersama, dan mengobrol hingga malam hari dengan mama jadi kegiatan yang sebenarnya sederhana tapi mungkin sangat berarti untuk saya dan orangtua. Kegiatan ini enggak akan bisa saya lakukan kalau saya di Bandung, juga enggak akan fleksibel saya lakukan jika sudah punya suami. Jadi untuk tahun ini saya sudah kufur nikmat, lupa bersyukur kalau keberadaan orangtua adalah nikmat. Lupa kalau orangtua harus dipenuhi hak-haknya oleh saya, orangtua masih butuh saya, dan saya pun masih butuh mereka. Selagi orangtua masih ada lakukan semaksimal mungkin yang dapat saya lakukan dan berikan untuk mereka. 

Selamat menebar kebaikan di Ramadhan 1437 H!

May 21, 2016

Life's Update

Dan alhamdulillah weekend ini bisa di kosan, menyelesaikan semua hutang-hutang tugas kuliah dan pekerjaan. Lalu teringat beberapa bulan ini begitu menyita tenaga, waktu, dan pikiran. Berangkat pagi pulang ke kosan malam hari. Sebelum tidur, menyempatkan untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah dan soal-soal ulangan siswa. Setiap hari dilewati dengan tantangannya masing-masing. Capek? Banget. Full of pressure yet pleasure.

Sejak 2 bulan ini hari-hari saya dipenuhi oleh mengajar dan kuliah. Dan saya beritahu ini enggak gampang. Inginnya sih fokus mengajar aja, atau fokus kuliah aja. Tapi ternyata saya diberi kesempatan dan kesehatan untuk melakukan keduanya. Terlebih lagi terhitung April 2016 saya mendapat kesempatan untuk mengajar di salah satu SMA terbaik di hmmm Jawa Barat (mungkin). Tempat saya dulu melaksanakan PPL untuk menyelesaikan S1 saya. Ketika ditawari untuk mengajar di sekolah itu sebenarnya saya sempat ragu karena saat itu saya sedang sibuk-sibuknya dengan tugas kuliah, program intensif SBMPTN di bimbel tempat saya bekerja juga, dan sudah ada kontrak untuk privat SBMPTN dengan siswa. Jika saya ambil kesempatan mengajar di sekolah maka dari Senin-Jumat akan full dari pagi hingga malam dan otomatis weekend pun terpaksa digunakan untuk mengerjakan tugas-tugas. 

Tapi akhirnya, saya berpikir lagi kesempatan yang sangat jarang untuk bisa mengajar di SMA terbaik. Gak apa apa capek sekarang tapi saya bisa mendapat pengalaman yang tidak semua orang bisa dapatkan. Akhirnya saya pun mulai mengajar di sekolah. New days come! Kembali mengajar di kelas, bertemu dengan ratusan siswa setiap hari, berinteraksi dengan guru lainnya, berkutat dengan soal-soal, evaluasi, dan administrasi sekolah. What a challenging!

Banyak teman yang bilang, "Keren banget sih Caaa ngajar disana." Tapi mereka tidak tau dibalik kata keren saya harus jungkir balik penuh perjuangan. Saya tahu sekolah itu bukan main-main, mengajar siswa-siswa terbaik, dan harus bergaul dengan guru-guru 'gaul' tentu bukan hal yang mudah. Setiap hari saya harus bangun jam 4 subuh dan setengah 6 pagi sudah berangkat. Selesai dari sekolah, saya harus pergi mengajar lagi ke tempat bimbel hingga jam 6 sore dan akhirnya baru tiba di kosan kembali pukul 7 malam. You know what the feeling of having 12 hours in teaching? Kaki dan pita suara seperti ditarik. Capek? Ngantuk? Iya Banget, bahkan saya sering tertidur di angkot saking capeknya. Setelah tiba di kosan, jangankan untuk bisa langsung istirahat, saya justru harus kembali bekerja di depan laptop demi tugas-tugas kuliah. Dan list kegiatan itu terus berulang setiap harinya. Kalau tidak ada jadwal mengajar di sekolah, itu artinya saya kuliah dan tetap menyita waktu seharian di kampus. 

See? Saya sadar betapa dibalik 'kekerenan' seseorang itu pasti ada perjuangan lebih dari yang biasa dilakukannya. Saya sering melihat kehidupan orang lain yang begitu perfectly arranged, a luckiest life, i said. Tapi saya sekarang yakin bahwa a lucky life yang dimiliki oleh mereka mereka itu tidak secara gratis mereka dapatkan, mungkin dibalik ketidaktauan saya, ada banyak pengorbanan yang mereka sudah lakukan dan ada tangis yang sudah dikeluarkan. Sama halnya dengan yang saya lakukan sekarang. Sempat terpikir oleh saya, saya capek melakukan ini semua, atau semuanya tidak akan berjalan baik. Tapi teringat pada pesan Bapak, bahwa hidup itu memang perjuangan. Kalau mau santai-santai mau jadi apa? 

Iya dan saya sadar bahwa begitu banyak yang harus saya syukuri. Bekerja itu capek. Sempat berpikir kenapa dulu sering semena-mena dengan uang diberikan orangtua, malas-malasan belajar padahal untuk mendapatkan kenikmatan itu orangtua harus berjuang jiwa dan raga. Saya juga bersyukur diberi kesempatan untuk dapat mengetahui 3 situasi lingkungan belajar yang amat berbeda, sekolah reguler, privat, dan kelas bimbel di waktu yang bersamaan, yang tentunya akan sangat membantu meningkatkan skill mengajar saya. Meskipun waktu untuk istirahat berkurang, waktu bermain berkurang, tapi selagi saya masih bisa bertemu murid-murid semuanya recharge. This is why many people say that teaching is the most affectionate and happiest job to have.

Intinya, kehidupan saya lately benar-benar terupgrade. Saya mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman. Thanks to my self which already believe the power of self confident to finish it well, to take those good opportunity, and to be a patient one

Let's take another good opportunity, dear self. 

February 13, 2016

#DAY21. How You Hope Your Future Will Be Like

Hari ini saya diminta untuk mengisi jam tutor tambahan, hari Sabtu yang biasanya saya gunakan untuk mengerjakan tugas kuliah mau tidak mau harus dihabiskan di tempat mengajar. Awalnya saya pikir, gak akan siswa yang mau tambahan di hari Sabtu. Tapi ternyata hari itu ada Naya dan Haris (murid kelas XI SMAN 3 Bandung) yang datang ke saya lalu minta dijelaskan materi sistem respirasi. Mereka bilang belum mengerti mekanisme pertukaran gas yang memang melibatkan pemahaman materi mata pelajaran lainnya, seperti fisika dan kimia. 

Saya pun mulai menjelaskan pada mereka sedikit demi sedikit. Saya coba integrasikan ketiga mata pelajaran tersebut untuk menjelaskan mekanisme pertukaran gas sesederhana mungkin agar Naya dan Haris benar-benar mengerti. Sesekali saya bertanya pada mereka agar mereka mampu menghubungkan konsep-konsep lalu menarik kesimpulan sendiri, memahaminya sendiri. Hingga akhirnya mereka tercengang sendiri bahwa sebegitu rapinya Allah menciptakan suatu mekanisme tubuh, tidak ada yang tanpa alasan, mengapa sesuatu harus begini mengapa sesuatu harus begitu ternyata mampu dijelaskan scientifically. Ada kepuasan tersendiri saat melihat Naya dan Haris berdecak kagum lalu memanjatkan puji pada Allah swt begitu mereka memahami bagaimana mekanisme gas yang tak tampak mata mampu menghidupkan seluruh sel tubuh. 

Naya pun tiba-tiba bertanya pada saya,
Bu hebat banget sih jelasinnya. Kenapa gak jadi dokter aja, Bu? Kan gak jauh jauh dari biologi.” 

Saya hanya bisa tersenyum. Luka lama kembali terbuka (you know what i mean, huh?). Tapi kemudian saya coba menjelaskan pada mereka.

“Ibu juga awalnya ingin jadi dokter ko. Dokter gigi. Tapi ternyata Allah gak mengizinkan meskipun sebelumnya Ibu udah berusaha semaksimal mungkin....”

Naya dan Haris memperhatikan saya bercerita.

Dari sekian tes PTN yang Ibu ikut ternyata hanya lulus di jurusan biologi ini, jadi guru. Tapi gak apa apa ko, sekarang Ibu seneng-seneng aja. Jadi bisa ketemu kalian, ngajarin kalian.

Naya dan Haris senyum, lalu Haris bilang, 

“Tapi Ibu cocok banget lho jadi guru, bisa banget gitu ngejelasin materi yang abstrak, padahal Ibu gak ngejelasin semuanya. Ibu kan daritadi nanya kita, nyuruh kita mikir yang bikin kita jadi ngerti sendiri.”

“Iya, Bu. Aku juga jadi ngerti banget.” Naya ikut-ikutan bicara.

Speechless saat dengar mereka bicara seperti itu. Lalu saya hanya bisa berkata, 

“Kalian kan mau jadi dokter juga kan?” 

Naya dan Haris mengangguk.

Berjuang dari sekarang ya. Segala sesuatu yang berharga itu enggak ada yang gampang. Harus mau capek, harus mau usaha lebih. Ibu percaya kalian pasti bisa masuk FK kalau memang kalian berjuang untuk itu.”

Naya dan Haris pun senyum, “Doakan ya, Bu...” Saya pun mengangguk. Lalu tersenyum.

Beyond happiness sekali saat dengar Haris dan Naya bicara seperti itu. Seperti ada kekuatan kalau saya juga harus berusaha untuk mampu memberikan yang terbaik demi masa depan mereka. Jangan malas belajar untuk menambah pengetahuan, jangan pernah menyerah untuk apapun tantangan mengajar yang sedang dijalani. Semuanya harus dinikmati agar hasilnya maksimal dan berkah di dunia maupun di akhirat. 

Haris dan Naya menegaskan bahwa memang inilah yang saya butuhkan untuk masa depan saya. Masa depan sudah seharusnya akan menjadi inspirasi bagi siswa, menjadi motivasi untuk mereka mencapai mimpinya, mengajarkan mereka betapa besar keagungan Allah dalam penciptaan makhluk-makhluknya, dan masa depan untuk bisa menebar manfaat. Masa depan sudah tidak boleh diragukan lagi, bukan?

Terimakasih ya untuk Naya dan Haris sudah memotivasi. Ibu doakan semoga FK-nya tercapai aamiin

January 28, 2016

Sabtu Bersama Vivi

Hari Sabtu kemarin berhasil jalan-jalan sama si anak super sibuk Siti Vivi Octaviany. Kita berdua udah 5 tahun di Bandung tapi baru 3 kali bertemu (di luar pertemuan di Rangkasbitung tentunya). Pertama saat Vivi wisuda di Sabuga, kedua saat saya stress skripsi lalu kabur main dengan Vivi sambil nonton bioskop hingga tengah malam lalu  menginap di kosan Vivi, dan yang kemarin akhirnya kita bisa main lagi. 

Sebenarnya rencana main ini sudah dari bulan November direncanakan, apalagi saat itu Vivi habis ulangtahun dan saya belum kasih kado. Tapi waktunya enggak pas terus. Akhirnya pending dan baru bisa minggu lalu. Excited sekali sih. Akhirnya bisa bertemu dan main sama Vivi lagi. Tanpa tujuan main yang jelas (niatnya sih ya ketemu, ngobrol sambil makan aja cukup). Tapi saya punya ide untuk main ke Taman Balai Kota lalu makan di Cingu (udah ngidam sejak lama). Vivi mengiyakan. Akhirnya karena tujuan awalnya Taman Balai Kota, kita janjian di Jogya Express Jalan Merdeka, jam 10 pagi. Dan seperti biasa kalau janjian di suatu tempat selalu saya yang datang lebih awal. Untungnya, Vivi datang gak lama setelah saya sampai di Jogya Express. Seneng luar biasa bisa melihat Vivi lagi, dia datang sambil senyum hingga mata sipitnya gak kelihatan dan memohon maaf dengan lebaynya. “Tenang aja,Vi. Udah nyiapin mental ko kalau-kalau harus nunggu Vivi.” Vivi ketawa lagi. Matanya lagi-lagi hilang. 

Lalu kami pun berjalan kaki ke Taman Balai Kota. Sebenarnya ide ke Taman Balai Kota ini hanya terlintas aja sih karena merasa enggak ada spesial, hanya ingin tahu aja dan kebetulan kita pun belum pernah kesana. Sesampainya di Taman Balai Kota sedikit amazed sih karena gak nyangka tamannya cukup oke untuk menghabiskan waktu weekend, terbuka untuk umum, dan free. Pak Ridwan Kamil emang the best! Pantas saja Happiness Index warga Bandung meningkat drastis. Kita disuguhi hiburan dan kenyamanan cuma-cuma. Di taman itu kita jalan-jalan lalu duduk di bangku taman sambil mengobrol. Masih seputar kerjaan saya, aktivitas Vivi dengan thesis-nya, hingga ke masalah make up karena tiba-tiba ada SPG dari Oriflame yang menawarkan barangnya. Terus saya bilang, “Sebenernya udah lama pengen ke taman ini, Vi. Tapi males kan kalo sendirian sementara ngajak temen kayanya gak akan ada yang mau main ke taman ginian doang. Ya mumpung ada Vivi akhirnya ngajak kesini.” Kata saya. Vivi pun setuju dengan alasan yang sama. Karena udah lama sahabatan (dari SMP) berasa gak malu meski beralay-alay main ke Taman Balkot haha yang penting  saya dan Vivi nyaman. Ah Vi, thats why i always looking forward to "beralay alay" with you haha. Gak lama sih di taman itu karena bosan juga, lalu Vivi mengusulkan kegiatan kita hari itu pergi ke taman-taman yang ada di Bandung. Saya setuju dengan cepat.  Tujuan selanjutnya Vivi ngajak ke Taman Cikapundung (taman terbaru yang grand openingnya baru sebulan yang lalu), saya langsung ok. Tapi sebelumnya kita ingin makan dulu ke Chingu (Korean food cafe) sebelum berpetualang ke taman-taman. 

Sampai di Jalan Eykman (tempat Chingu Cafe) ternyata kita gak nemu tempatnya. Terus Vivi nyeletuk, “Bukannya Chingu itu di deket Baltos ya, Ca?” Saya bingung. Setahu saya Chingu Cafe di Jalan Eykman. Tapi emang kenyataannya ternyata udah puter-puter Jalan Eykman gak nemu Chingu. Sampai kita harus searching di internet. Di internet masih ditulis kalau Chingu Cafe itu di Jalan Eykman. “Gimana dong, Vi?” Tanya saya pada Vivi. Terus Vivi dengan polosnya bilang, “Chingu tuh di Jalan Sawunggaling, Ca. Deket Baltos. Vivi udah kesana ko pas Desember kemarin.” Saya langsung ngakak. “VIVI KENAPA GAK BILAAAAAAANG.” Dengan polosnya, Vivi jawab, “Ya dikirain Chingu tuh ada di 2 tempat yaudah Vivi diem aja.” Ckck culun banget sih kita berdua tapi yasudahlah dibawa ketawa aja HAHAHA. Akhirnya kita naik angkot lagi menuju Jalan Sawunggaling. Di angkot kita gak berhenti ketawa-tawa. Ternyata awalnya, Chingu Cafe itu memang di Jalan Eykman terus pindah ke Jalan Sawunggaling. Niat awal langsung ke Chingu dipending dulu karena angkot yang naikin lewat Taman Cikapundung duluan. Meski ragu, tapi kita turun juga di Taman Cikapundung. Eh ternyataaaa, keraguan terbukti. Penonton kecewa. Tamannya belum terbuka untuk umum. Kalaupun mau masuk harus bayar 10ribu rupiah per orang. Hmm not that worth sih sebenarnya apalagi sebenernya kita udah bisa lihat dalam tamannya seperti apa dari luar (posisi taman lebih bawah daripada jalan raya) dan kenyataan kita sudah terlalu lapar. Akhirnya memutuskan untuk enggak masuk Taman Cikapundung (cukup lah bisa diliatin taman dari atas beberapa menit yang biasanya cuma bisa lihat sambil lewat pake motor atau angkot doang) dan langsung menuju Chingu. 

Sesampainya di Chingu ternyata waiting list. Luar biasaaaa. Banyak juga yang makan di kafe Korean Food itu. Tapi cuma nunggu sekitar 15 menit sih akhirnya kita bisa dapat tempat duduk. Lucu deh. Tempat duduknya semacam kita sedang di kereta Korea (Korail) terus semua interiornya Korea banget. Rute korail, halte bis, petunjuk jalan-jalan di Korea, poster-poster artis Korea, pohon harapan dan masih banyak lagi. Saya pesan ramyeon (mie khas Korea) dan Vivi pesan sejenis mie putih khas Korea pake tambahan dumpling (lupa namanya). Selain itu Vivi juga ingin pesan kimbap (sushi Korea) dan hotteok (roti Korea) dan saya ingin coba tteokboki (kue beras yang diberi bumbu, mirip cilok kalau di Indonesia). Tapi karena ragu karena ternyata porsi mie yang kita pesan pun cukup besar. Akhirnya kimbab, hotteok, dan tteokboki-nya dibungkus untuk dimakan di taman selanjutnya. “Anggap aja kita mau piknik ya, Ca.” Kata Vivi. Saat makan gak lupa dong makanannya di foto lalu saya kirim ke Lovita (sahabat kita berdua yang lagi di Pare). Lovita malah marah-marah, sebel karena kita pamer disaat dia gak bisa ikut gabung. Misi pamer pun berhasil haha. Komentar tentang makanannya? Gak ada yang mengecewakan, semuanya enak! Mantap. Pas bayar bill ternyata totalnya 130ribuan hahaha ketawa berdua karena kita pesan sebanyak itu. But let me treat Vivi for that day karena dulu saat saya stres skripsi pun Vivi bayarin saya nonton bioskop. Vivi merasa bersalah udah pesan banyak. Padahal saya biasa aja, senang malah akhirnya bisa gantian traktir Vivi. 

the pict that makes Lovita so envy haha second visit to Chingu? For sure! 

Annyeonghaseo!

Selesai dari Chingu kita pun berencana ke Taman Kandaga Puspa. Karena taman itu letaknya di Jalan Citarum diantara Taman Lansia, Pet Park, dan Taman Cibeunying akhirnya sekalian aja kita explore taman-taman yang lainnya juga. Kita pun turun di depan Taman Lansia tapi ternyata tamannya sedang dipugar dan sangat gak nyaman untuk masuk. Kita pun memutuskan untuk ke Taman Kandaga Puspa aja, katanya Taman Kandaga Puspa itu terkenal karena ada bunga Amarilis yang pernah dipost di IG Pak Ridwan Kamil. Tapi ternyata pas masuk ke dalam tamannya jauh dari ekspektasi, bunga Amarilis yang tinggal sedikit, pohon-pohon besar yang kurang terawat, juga rumput-rumput liar yang sangat tidak tertata. Padahal penataan tamannya sudah baik, ada kursi-kursi, ada jembatan, dan banyak bunga anggrek yang tergantung di setiap pohon, semoga kedepannya pengelolaan taman ini semakin baik layaknya taman-taman yang lain. 

Selesai dari Taman Kandaga Puspa, kita terus jalan untuk cari Pet Park. Tapi ternyata enggak nemu dan malah sampai di Taman Cibeunying. Akhirnya karena lumayan capek, dan berhasil tertarik untuk bisa duduk di tempat duduk taman yang lucu, saya dan Vivi pun memutuskan untuk membuka bekal di Taman Cibeunying, di depan sebuah Robot Gundam raksasa. Seru sekali piknik kita kali itu. Vivi pun beli kincir angin yang bikin suasana piknik di taman semakin terasa. Anak-anak kecil yang berlarian, tukang balon, pasangan yang ber-selfie, dan saya dan Vivi yang tenggelam dalam obrolan mengasyikan. Sebelumnya kita pun video call ke Lovita. Niatnya sih pamer lagi karena kita lagi piknik di taman. Tapi sayangnya gak terdengar suara apa-apa, video call pun terpaksa terputus. Akhirnya cuma send pict aja. Kita pun melanjutkan cerita masing-masing, curhat kegalauan perempuan, kegalauan saya kemarin, hingga tujuan hidup kedepannya sambil makan bekal dari Cingu dan selfie sesekali. Saat resolusi 2016 saya ingin move on dari perasaan yang serba gak enak karena suatu hal, Vivi bilang dengan polosnya, “Resolusi Vivi simpel sebenernya, pengen istiqomah solat fardu tepat waktu dan mulai pakai kerudung yang tebel.” Seketika itu saya langsung terhenyak. Pertama kalinya saya dengar resolusi sederhana namun penuh tanggung jawab di dalamnya. Sore yang sejuk itu benar-benar menyegarkan hati dan pikiran saya. Vivi memberikan banyak energi positif.

Vivi, tteokboki, and Gundam Cibeuying lol

Tidak lama dari obrolan itu, tak terasa akhirnya sudah jam 4 sore. Karena belum solat asar akhirnya kita pun beranjak ke Masjid Pusdai untuk solat. Di tengah perjalanan kaki menuju Masjid Pusdai, Vivi bilang “Udah ya, Ca. Gak usah berharap lagi ke manusia. Kalo laki-laki itu belum sampe serius bilang mau main ke rumah ketemu orangtua jangan pernah dianggap serius. Makanya harus dibantu pakai doa. Doanya gini...” Terus langsung saya potong, “Kalau memang jodoh, dekatkanlah. Kalau memang bukan jodoh, jauhkanlah. Gitu?”

Bukan... Ya Allah kalau memang dia jodohku, jadikanlah dia berani bicara, berani mengungkapkan keseriusannya, dan berani untuk datang ke rumah bertemu orangtuaku. Gitu, Ca.” 

Speechless. Vivi yang ku kenal hari itu sungguh sangat berbeda. Vivi ku semakin dewasa. 

Selesai solat, Vivi minta saya untuk mengantarnya ke satu factory outlet di daerah Dago, katanya mau beli baju. Bajunya yang sekarang sudah enggak cocok lagi dipakai. Vivi sudah ingin berpakaian yang lebih dewasa katanya. Lalu saya mengiyakan tapi sebelumnya saya bilang ingin beli es krim McD. Seketika Vivi juga bilang ingin beli juga. Akhirnya kita gak jadi factory outlet dan malah pergi ke BIP hanya untuk beli eskrim McD. Sebelumnya, karena kita turun di Dukomsel dan sisanya jalan kaki menuju BIP, kita mampir dulu ke Super Indo Dago. Gara-gara saya keceplosan bilang ke Vivi belum pernah belanja di Super Indo. Vivi pun ngajak ke Super Indo dulu. Padahal cuma untuk beli air mineral. Hahaha kealayan selanjutnya. Terus sampai di BIP kita langsung ke McD. Penuuuuh banget karena emang malam minggu. Udah ngantrinya lumayan lama, dan kita cuma pesan 2 McFlurry. Kealayan ketiga. Terus ngobrol lagi di McD sambil nunggu adzan magrib. Kali ini Vivi yang lebih banyak cerita, dia cerita kepenatannya mengerjakan tesis, keluarganya, dan rencana masa depannya juga. Dan di akhir ceritanya Vivi bilang, “Ca sadar gak dari tadi Vivi pegang kincir angin ini? Duh malu, Caaa...” Tiba-tiba Vivi baru tersadar eksistensi kincir angin yang dibelinya di Taman Cibeunying. “Hahahaha gak apa apa, Vi. Maklum aja anak AE-Aeronautika (jurusan kuliah Vivi di ITB) namanya juga.” Saya dan Vivi ketawa ngakak. And i know you still have your own childish, Vi

Setelah itu, karena sudah malam. Kita pun pisah untuk pulang ke kosan masing-masing. Vivi ke Dago dan saya ke Setiabudhi. Berbeda arah. “Nanti kita piknik lagi ya, Ca. Enaknya jalan sama sahabat tuh gini deh gak perlu malu mau gimana dan mau ngapain aja.”

Vi, enggak harus diajak lagi pun kedepannya kayanya aku bakal ngajak piknik Vivi lagi. Hehehe terimakasih untuk sehariannya. Terimakasih sudah jadi pendengar yang baik. Terimakasih sudah jadi pengingat. Terimakasih sudah menjadi Vivi yang dewasa hehe

see you in another picnic, Vi!


January 22, 2016

January 16

Oh yeah i know that date already passed a week.

Beberapa orang mungkin menyukai hari ulang tahun

The day which you feel you’re not alone when many people, old friends, from whenever they are, showed up greet you a happy birthday and pray for you, even from someone who you didn’t even expect. All really made your day, didn't it? And thats happened on January 16 too. 

Sebenarnya saya tipe orang yang tidak pernah sama sekali merayakan ulang tahun. Ulang tahun bagi saya hanya untuk mengenang bahwa di tanggal itu Mama dengan susah payah dan perjuangannya sudah melahirkan dan menyelamatkan saya, memberikan saya kesempatan untuk bisa merasakan kehidupan di dunia. Seharusnya hari ulang tahun setiap anak itu justru ditujukan untuk Ibu-nya, rasa terimakasih tak terhingga untuk Ibu yang dibarengi dengan rasa syukur pada Allah untuk semua kesempatan yang sudah diberikan hingga detik ini.

Semuanya sudah salah persepsi ya? Mungkin bagi kami ulang tahun adalah momen terbahagia padahal sebaliknya, disaat itu umur kita untuk bisa melakukan kewajiban ibadah di dunia semakin sedikit, semakin berkurang. Jadi tepat di ulang tahun kemarin, saya sudah (mulai) melupakan haha-hihi momen ulang tahun. I didn’t have so much expectation what will happened in my birthday. Saya tahu bukan lagi waktunya mengharapkan surprise dari orangtua atau pun teman dekat. Mereka mengingat hari penting dalam hidup saya pun sudah cukup senang. But then reality told the other way. Ternyata saya masih berharap. Dan ketika harapan itu tidak terjadi, hati lah yang menjadi taruhannya. Sedih, lalu melupakan kebahagiaan yang sebenarnya lebih besar dan lebih tampak dari rasa kecewa itu. Lagi-lagi saya terjebak dalam dangkalnya pikiran manusiawi. Sudah seharusnya saya tidak perlu lagi mempertaruhkan kebahagiaan saya pada harapan terhadap seseorang terhadap apapun yang belum terjadi. 

Beberapa hari setelahnya, seorang teman dekat saya memberi kabar bahwa dia berhasil menyelesaikan studinya dan akan wisuda April 2016. Sungguh senang mendengarkannya, namun ternyata tepat satu hari sebelum dia sidang skripsi itu, ayahnya meninggal dunia, tiba-tiba, karena serangan jantung. Padahal saya tahu Ibu-nya pun sudah tidak ada. Meninggal beberapa tahun yang lalu karena penyakit diabetes. Sehingga tepat di hari ia mendapat gelar sarjana, teman saya itu menjadi yatim piatu. Semua hasil perjuangan kuliahnya tidak bisa dilihat orangtuanya. Bisa dibayangkan betapa sedihnya? Oh man. Malu rasanya. It just slapped back to back. Disaat saya tidak kurang satu apapun, disaat saya masih diberikan kebahagiaan, kesehatan, keluarga dan teman-teman yang masih utuh dan menyayangi saya, saya masih bersedih, meminta sesuatu yang berlebihan. Sedangkan diluar sana, teman saya sendiri sedang merasakan kesedihan yang luar biasa besar.  

Seperti yang pernah Regina tulis di tumblrnya, don’t be so miserable yet so happy untuk apapun yang terjadi pada diri kita. Kenyataanya bahwa di bawah kesedihan ada kesedihan lain, di atas kebahagiaan ada kebahagiaan lain. Jadi dewasalah menyikapi sesuatu, jangan berlebihan mengharapkan sesuatu juga jangan bersikap berlebihan terhadap apapun itu. Itulah kunci kebahagiaan hidup yang sebenarnya. Kita tahu bahwa semua hal terjadi di dunia ini selalu bersifat sementara dan semuanya akan selalu datang silih berganti. Cyclical life, cyclical universe, we say.

Hari itu benar-benar menjadi penyadaran yang luar biasa pada saya. Coba lihat, masih ada Allah, masih ada orangtua yang akan selalu mendoakan, masih ada keluarga yang akan selalu mendukung, masih banyak teman-teman dan sahabat lain yang lebih menghargai, dan masih ada dirimu sendiri yang seharusnya kau bahagiakan, kau cintai. You already know that Allah determines who walks into your life. It’s up to you to decide who you let walk away, who you let stay, and let everything be itselfs and makes happiness to your life. Stop being so pathetic, Ca! Your own happiness that matters.

Again,
Thank you for everything happened on January 16, which opened my eyes that i am so blessed. Truly blessed.

Some of my should-i-say-it-as birthday bash.

So whats favor of your Lord would you deny? Alhamdulillah.

January 21, 2016

#DAY20 Your Fear

Masih ingat rasanya saat Hafdzy mengupdate status line-nya (Jong, izin share ya) karena bapaknya baru saja memiliki akun BBM. And he just saw her dad display pict then said “I just realized that my biggest fear has appeared, my parents are getting old.” Persis sama dengan apa yang saya rasakan. Sejak mama dan bapak punya akun whatsapp, komunikasi kita jadi tidak pernah berhenti bahkan hanya sekadar say hi, bertukar kabar, atau mama yang dengan randomnya mengirim foto selfie. Sama halnya dengan malam ini, mama mengirim foto selfienya, sama dengan yang Hafdzy alami. Saya perhatikan wajah mama di foto itu, sudah penuh kerutan, sudah jauh dari kata kencang. Wajah mama semakin menua. Rasa sedih pun langsung meluap. Dan ya, Hafdzy benar, ketakutan itu muncul. 

Seiring berjalannya waktu, seiring kita pun bertambah dewasa, bertambah usia, satu hal yang juga mengikuti adalah orangtua kita pun bertambah usianya. Seketika pikiran teraduk, sedih dan ketakutan menyeruak. Tersadar bahwa semuanya ini cepat akan terjadi. Keegoisan diri sendiri yang menutupi sebuah kenyataan bahwa orangtua kita tidak sama seperti sebelumnya. Daya ingat, kesehatan, tenaga yang mulai menurun sudah pasti terjadi. Lalu apa yang kita lakukan? Kita sibuk dengan diri kita sendiri bukan? Kita kadang lupa bahwa waktu kita dengan orangtua semakin sedikit padahal di usia tuanya, orangtua mungkin sangat merasa kesepian. Itu yang saya lihat saat mama dan bapak sudah tinggal berdua di rumah. Kakak yang sudah menikah, saya dan Opi yang kuliah di Bandung, kami bertiga mulai jarang bisa pulang ke rumah. Meskipun orangtua tidak pernah mengeluh dengan semua keadaan ini karena kembali pada satu prinsip, “Kebahagiaan dan kesuksesan anak adalah segalanya.” membuat orangtua selalu mendukung apapun yang anak-anaknya lakukan, mendukung kesuksesan anak-anaknya, hingga mengenyampingkan keiinginan mereka untuk ditemani di rumah. 

Saya sadar hal ini sungguh dilematis. Di sisi lain sebagai anak, semuanya ingin membuat orangtua bangga untuk tidak lagi bergantung, memiliki penghasilan sendiri yang bahkan bisa membantu keuangan keluarga. Orangtua pun pasti bangga dengan anaknya yang sudah bisa mandiri, sukses karena kerja keras mereka. Namun, timbul pertanyaan apakah itu yang benar-benar diinginkan oleh orangtua kita? Sibuknya waktu bekerja kadang membuat kita lupa untuk menyapa dan menanyakan kabar mereka, untuk meluangkan waktu mengobrol dengan mereka, atau untuk menyisipkan doa setelah solat-solat kita. Inilah yang menjadi ketakutan yang sebenarnya. Saat kita mulai lupa bahwa ada orangtua yang akan selalu merindukan kita. Mereka yang sangat membutuhkan doa-doa kita selayaknya kita yang selalu menginginkan doa-doa mereka.

Saat orangtua semakin tua, saya sendiri harus sadar semuanya tidak seperti dulu lagi. Saat saya sibuk untuk diri saya sendiri. Meskipun sedang meniti karir dan pendidikan setidaknya jangan sibuk sendiri. Luangkan waktu untuk mengobrol dengan orangtua, menyapa mereka, luangkan untuk pulang ke rumah sesering yang kita bisa lakukan. Ingat bahwa kerja keras kita untuk orangtua, kita harus (setidaknya) dapat menjamin kehidupan hari tua mereka selayaknya mereka selalu menjamin kehidupan kita hingga kita bisa menjadi seperti sekarang. Seperti yang pernah saya baca di salah satu blog seseorang, your family is in your hand. Daddy needs a rest and mommy deserves a good life. Ya, memang seperti itu seharusnya. 

Ketakutan akan bertambah tuanya orangtua yang kita rasakan mari kita direnungkan, jadikan hal tersebut sebagai motivasi untuk selalu bekerja keras dan. Jangan pernah menyia-nyiakan waktu bersama mereka. Luangkan lebih banyak waktu untuk mereka selagi kita masih bisa. Dan semoga kita bisa menjadi anak-anak sholeh dan sholehah yang bisa mengantarkan orangtua kita pada kebahagiaan dunia dan akhirat. Aamiin ya robbal alamin.

Mah, Pak, as you're getting older, sudah seharusnya aku tidak menuntut apapun dari kalian lagi. Aku janji enggak akan membiarkan masa tua mama dan bapak kesepian dan kesusahan. Tetap sehat ya, Mah, Pak. Iringi selalu hari-hariku untuk mencapai mimpi-mimpi dengan doa kalian. Semoga aku bisa mengantarkan Mama dan Bapak pada surga-Nya, menghadiahkan seseorang yang kelak menjadi suamiku yang bisa menghormati dan menyayangi kalian sebagaimana aku menyayangi Mama dan Bapak, seseorang yang bertanggung jawab untuk membuat Mama dan Bapak percaya untuk melepas anak perempuannya. Aamiin.

Doaku akan selalu menyertai kehidupan Mama dan Bapak. 

January 08, 2016

2016

Kadang kalau baca lagi post yang sebelumnya ingin tertawa. Bisa ya seseorang jadi semelow itu. Jadi pertanyaan besar berarti para pujangga itu kebanyakan galau kali ya makanya tulisannya oke-oke? Haha pertanyaan apa banget. Ya intinya jadi semacam rindu menulis random lagi. Lately susah sekali cari waktu luang untuk menulis disini, giliran ada waktu luang malah dipakai istirahat. Padahal kemarin-kemarin minat dan kesempatan baca lagi tinggi-tingginya, banyak buku yang berhasil selesai dibaca, dan sebanyak itu pula memberikan kontribusi kebaperan saya (maaf saya emang gampang baper kalau sudah baca buku). Seharusnya kalau sering baca buku, ide-ide berkeliaran untuk bisa dibagi tapi ini kok enggak. Banyak sih idenya tapi ujung-ujungnya malah tidak tertuliskan.

Lihat saja arsip 2015 blog ini hanya 30an, menurun drastis dari arsip-arsip tahun sebelumnya. Saya sadar sekali minat menulis saya sedang menurun. Padahal begitu banyak kejadian dan pengalaman 2015 yang sangat bisa saya bagikan, saya tulis dalam bentuk apapun itu agar bisa dikenang kembali. Tapi yasudahlah. Mungkin saya terlalu terlena dengan perjalanan 2015 hingga saya tak sempat untuk berhenti sambil menikmati (re:menulis). Belum lagi #30DaysChallenge yang kemarin stuck di DAY19 (10 days to go!), cuma bisa nyengir kuda. Tapi saya janji, saya akan tetap melanjutkan tantangannya.

Gak tau kenapa ingin mengisi 2016 dengan menekuni hobi menulis dan gambar, entah itu belajar melukis pakai watercolor, belajar doodling lagi, atau bahkan belajar typography. Terus ingin juga belajar fingering gitar, minimal lagunya Keane yang Everybody' Changing bisa lah (cupu). Terus ingin juga bikin place should be visit' list juga biar sering piknik dan enggak mudah galau haha. Terus harus bisa mempertahankan kebiasaan baik jogging 2 kali seminggu dan baca 3 buku per bulan juga (Bismillah!) Intinya banyak banyak sekali yang ingin dicapai di 2016 terutama masalah perbaikan dan eksplorasi diri. Semoga di 2016 ini, ibadah saya bisa ada perbaikan bahkan peningkatan, semakin banyak bermanfaat untuk siapapun itu, perbaiki niat kuliah dan bekerja supaya semuanya dilalui dengan bahagia, minat menulis saya juga semakin meningkat, semakin lebih bermanfaat dalam pemilihan kata-kata maupun kontennya. Semoga bisa konsisten dan disiplin untuk semua kebaikan ya dan juga selalu mensyukuri apapun yang terjadi. Aamiin.


Gila men tahun ini officially 24. Masa mau gini gini aja nih hidup?

My butterfly flies

Friends of mine just texted me after they read my previous post (my so-not-kinda-23yo-woman'-post) 

"Ca...are you ok?" 

"Lo drama abis sih, Ca. Kata-katanya kaya dialog sinetron labil tau gak."

Smiled bitterly. I pretend to be okay. I told them that i could make everything goes so well, i feel so fine, nothing makes me swayed, and sure i'll move forward, run, and leave all behind. But huh, are you sure? Well actually i worry to myself too, i really sure that i'm not okey at all. Pathetic. I showed them that i'm okey but deeply in my heart wasn't going on that way. Those feeling of being safe and warm was replaced by a guilty feeling. Sad enough, is it?

But now, i'm in the middle of thinking about all of them. Let me make everything clear now. I know those kind of circumstance will happen to everyone life, including to my life. The circumstance of being dissapointed and so much regret after some of your worse experiences. Somehow in a melancholic thought, i blame myself for being an unconsistent person that i can't even hold this feeling out. But then, in the egde of my thought, i realize (after a long call duration and chatting with someone-i-believe including my mom) that what i've done just such a dumb, shallow in many ways. Yeah my life is too precious to think about him about love over over and over. 

As my bestfriend said, "Urusin hidupmu dulu sendiri lah," really slapped my face while i realized what kind of woman i would be if i still in this kind of super annoying feeling that i can't even bear for it. My friend was right. Forget about what' makes my life more complicated. Just focus to my self. I were alive before i met him, yes? 

Now i already know what i've to do. I let my butterfly flies and makes myself stop waiting so many things to be told for what and how. If something are meant to be that's going to find a way. I tried to, i try, and i'm trying to understand the situation, to understand myself better, and even to understand my butterfly. Knows that my butterfly is going to fly somewhere, it may never come back. But the things i know as well, if the butterfly really wants beside me, it will come back no matter what or... it changes with another butterfly who knows that there's something of mine that worth to have. 

Till someday, i able to feel the butterfly flies inside my tummy (again). How much? Million of it :)

So let's move to another story, a brand new day, a new you and me!

Just got this super dialog anyway. Yes this is just feelings.

January 02, 2016

Favorite Mistake

Sudah tiba di 2016 ya. Benar-benar waktu selalu bisa membunuh setiap penggunanya dengan perlahan, hingga tidak pernah ada yang tersadar. Apalagi mereka selalu memberikan kebebasan untuk kita. Kebebasan untuk memilih dengan siapa dan untuk apa kita menghabiskannya, menikmatinya.

Saya tahu bahwa konsepsi waktu itu hanya dibuat oleh manusia. Tidak ada teori Tuhan yang bicara soal waktu berakhir dan dimulai, kapan waktu berganti. Dalam hitungan-Nya hanya ada waktu lahir dan waktu meninggalkan dunia saja bukan? Namun tidak demikian dengan manusia, perpindahan hari, bulan, tahun, dan umur selalu memiliki esensinya tersendiri. Pemaknaan yang didasari berdasarkan semua hal yang sudah dilakukan. Begitupun dengan perjalanan 366 hari ke belakang. Saat tahun berganti 2015 menjadi 2016.

Kalau saya diminta untuk mengungkapkan kesan 2015, maka saya akan mengatakan 2015 adalah kamu. Banyak sekali yang sudah saya lalui di 2015, rasa syukur untuk semua pencapaian, kesehatan, nikmat iman, dan rezeki yang tidak henti-hentinya diberikan semuanya beriringan dengan munculnya satu kesalahan. Kesalahan yang bahkan tidak saya sadari. Kesalahan perasaan yang sudah terlalu memuncak lalu enggan untuk turun. Kesalahan itu akhirnya berkumpul di posisi yang sama, sepanjang tahun, hingga akhirnya terasa jenuh, dan mau tidak mau memaksa untuk diperbaiki. Dari situlah kesadaran bermula, saat tidak ada lagi yang bisa dilakukan kecuali mengakui kesalahan lalu berdamai dengan diri sendiri. 

Butuh waktu yang tidak sebentar untuk dapat berdamai dan meyakinkan hati bahwa kesalahan tersebut adalah kesalahan yang seharusnya tidak pernah terjadi. Itulah cara Allah mengajari hamba-Nya, penuh dengan ketegasan dan keromantisan yang dibalut dengan a meaningful discovery way. Semuanya karena Allah ingin kita belajar, Allah ingin kita menyadarinya sendiri. 

Saya tidak menyalahkan siapapun dalam kesalahan ini, tidak menyalahkannya, tidak juga menjadikan kesalahan ini menjadi kesimpulan untuk tahun 2015. Saya bersyukur, dengan saya mengenalnya, melalui semuanya, saya menjadi tahu akan kesalahan ini. Hingga akhirnya saya mengakui bahwa semua ini terjadi karena adanya perasaan naif untuk mengakuinya sebagai kesalahan. Saya terlalu nyaman dengan semua perasaan bias ini.  

Namun begitulah, semua yang sudah terjadi ini begitu berharga untuk dilupakan. Ini akan menjadi pengalaman dan pelajaran istimewa bukan? Maka dari itu, terimakasih untuk semua yang sudah terjadi. Tak terhingga. Hingga saya hanya bisa menyelipkan kata maaf di setiap ruang yang kau biarkan tersisa saja. Dibalik semua hitam putihnya kesalahan, semuanya sungguh sangat berkesan untuk menjadi anagram kehidupan dalam proses menuju pendewasaan ini. 

and for you,
you might've been my favorite mistake

thank you, 

love.