Rosmalinda Nurhubaini's. Literally a nous of my random thought.
Posts // About
// Twitter // Tumblr

July 23, 2015

#DAY16 Something you always think “What if...” about

Maybe it’s not something i always think about, but to think about it i used to be grateful all the time, for the time i spent, for the sacrifice i had, and for everything i have till now. Something be like....”Gimana kalau dulu gue sekolah di sekolah negeri biasa, enggak sekolah di islamic boarding school?

Pikiran itu tiba-tiba keluar saat saya menjadi pre-service teacher di salah satu SMA favorit di Kota Bandung. Saat itu saya melihat murid-murid saya sangat ceria bermain dan belajar di depan kelas mereka, di koridor sekolah, atau kantin, pulang sekolah berjalan bersama dengan teman laki-laki dan perempuan, tertawa-tawa saling mengejek, pergi bimbel bersama dan membuat janji setelahnya untuk pergi ke cafe ternama. Pemandangan yang sangat natural dilakukan bagi anak seusia mereka di sekolah. Beberapa ada pula yang memadu cinta berjalan berpegangan tangan sepulang sekolah atau sekadar makan siang bersama. Saat itu saya hanya bisa tersenyum. Begitu indah ya masa SMA mereka, bebas melakukan apapun. Saat itu timbul pikiran meracau, coba dulu saya pun bersekolah di sekolah negeri biasa... Pasti punya lebih banyak teman (you know, i only have 60 friends in my batch), bisa bermain selepas sekolah tanpa harus kembali ke kelas untuk kelas asrama, bisa mengeceng siapapun tanpa ada rasa takut ketahuan, atau mungkin bisa lebih menikmati masa SMA yang kata banyak orang masa yang paling menyenangkan (?)

Tapi ternyata dibalik apa yang tidak saya dapatkan, masih banyak nilai-nilai lain yang justru tidak akan saya dapatkan jika saya bersekolah di sekolah reguler. Kalau saya tidak bersekolah di boarding school entahlah bagaimana kemampuan membaca Al Quran saya, hafalan suratnya, ilmu-ilmu agama saya sekarang. Mungkin tidak akan ada peningkatkan dari level anak SMP. Lalu beranjak pada semua pengalaman tak terlupakan di sepanjang 3 tahun bersekolah di sekolah yang sangat menjunjung tinggi kedisiplinan, terbiasa dengan kerasnya kehidupan sehari-hari yang jauh dari rumah dan orangtua, self of belonging akan segala sesuatu yang dimiliki sendiri maupun yang dimiliki bersama, respecting to an old (secara dulu satu kamar dengan kakak kelas) and how to be a role model for juniors, menjadi mandiri, hemat, caring to others, being a multitasker, and have a passion of life. Belum lagi kewajiban berbahasa inggris dan arab untuk daily conversation di sekolah itu yang berhasil membuat saya kini tidak punya kesulitan berarti ketika berhadapan dengan bahasa-bahasa itu. Semuanya mengajarkan saya akan miniatur kehidupan yang sesungguhnya dan bagaimana seharusnya menjadi manusia yang seimbang antara intelektual, emosional, dan spiritual yang mungkin jika dijelaskan satu per satu disini tidak akan cukup.

Kalau saja saya tidak bersekolah di sekolah boarding school itu saya tidak menjamin saya akan menjadi saya yang sekarang, yang alhamdulillah menjadi seseorang yang memang saya inginkan meski masih jauh dari kata sempurna. Gemblengan selama 3 tahun di sekolah itu membuat saya membuka pikiran bahwa menjadi orang pintar dan prestasi gemilang saya sia-sia tanpa akhlaqul karimah. Betapa kuantitas teman itu menjadi sangat tidak penting ketika justru teman seperjuangan dulu yang sedikit itulah yang paling berkesan dan memberikan banyak kenyamanan hingga sekarang. Dan hingga akhirnya sekarang berhasil membuat saya memiliki cita-cita, “Nanti kalau punya anak, laki-laki ataupun perempuan harus disekolahkan di sekolah islamic based, boarding atau hanya full day school.” Bukan untuk apa-apa tapi demi membekali tidak hanya ilmu dunia saja tapi juga ilmu akhirat untuk anak-anak saya. Saya sudah membuktikan bahwa sekolah islamic boarding itu banyak berperan tidak hanya untuk membentuk kecerdasan tapi juga membentuk karakter. Itu yang saya lihat dan rasakan sendiri. Melihat betapa teman-teman saat saya SMA sangat berbeda dengan teman-teman saya yang lainnya, mereka yang sangat mencintai dan menghormati orangtuanya, selalu berusaha sekuat tenaga untuk apapun yang sedang mereka jalani, selalu menjalin silaturahmi dengan cara yang sangat menyenangkan sejauh apapun tempatnya sesempit apapun waktunya, selalu membuat saya terkagum-kagum dengan pola pikir dan cita-cita besar mereka, dan yang selalu mengajarkan bahwa bagaimanapun hebatnya kita yang terpenting adalah sikap sederhananya. 

Lalu adakah alasan lain yang bisa membuat saya tidak bersyukur atas segala yang telah saya jalani selama ini? Memiliki masa SMA yang penuh perjuangan dan teman-teman yang lovable cukup membuat saya berpikir “Bagaimana jika seandainya saya tidak bersekolah di sekolah boarding school?” All the answer maybe were not that interesting and precious.

Tiba-tiba ingin attach foto Gunung Karang. Di sekolah mana coba gunung jadi background pemandangan dan ilalang bisa dilihat setiap harinya? Cuma di Cahaya Madani Banten Boarding School

July 06, 2015

#Day15 Your zodiac/horoscope and if you think it fits your personality

Well yeah,
Fortunately, i don't have any faith on zodiac or horoscope. So it couldn't ever been reasonable if it fits my personality or not. Do i need to elaborate more?
#hahahaha #cacabingungdengantopik #maugantitopiktapigakjadi #jadinyateteppaketopikhoroskop #dantulisannyajadisupersingkat #sakingbingungnya #padahaliniblog #bukanaskfm #jugabukantwitter #abaikanhashtag #semakinrandom #mendinglangsungkeday16 #let'sgo

July 04, 2015

#DAY14 What You (wear) Wore Today

Kayanya sih ya topik ini sebenarnya minta foto ala-ala ootd (outfit of the day) atau setidaknya mention what i wore today. Tapi karena hari ini saya tidak berencana pergi kemana-mana jadi enggak ada yang pantas untuk dijadikan outfit of the day. Jadi saya coba untuk mengembangkan topik ini kearah yang saya-sambung-sambungin-sendiri-yang-penting-nyambung hahaha tadinya sih mau ganti topik tapi ya masa mau ganti topik mulu (padahal karena ada niatan ganti topik untuk topik selanjutnya jadi masa topik ini mau diganti juga hihi)

What i actually want to say through this topic is....

Ada yang salah dengan pola pikir saya selama ini tentang what kind of ‘dress’ i have to wear everyday, in kinda woman dressing up rules. Dressing up disini bukan sebatas apa pakaian yang saya pakai, bagaimana saya berpenampilan tapi lebih kepada nilai apa yang harus saya pakai, harus saya junjung sebagai wanita sehingga menunjukkan bahwa we have our own crown and values to live the life independently. Saya ingat sekali saat ulangtahun Shani yang ke 22 tahun kemarin, (Shan, gue minjem cerita dan nama lo ya hehe), saat itu kami menghabiskan waktu bersama di angkringan malam depan kampus ITB (kampusnya Shani). As i told you, sejak SMA saya mengenal Shani adalah sosok perempuan yang kuat, dulu jarang lihat Shani berkelompok dengan cewek-cewek untuk sekadar bercanda-canda tidak penting. Dengan percaya diri Shani lakukan apapun sendiri, independently, dan cenderung acuh dengan apa kata orang lain. At that time, Shani was so popular as a fierce-forward-looking person hingga saya sempat berpikiran dia sangat apatis dengan lingkungannya, cuek, sebodo amat. Tapi saya berpikir lagi, setiap orang selalu punya alasannya masing-masing mengapa bersikap seperti itu. Dan (mungkin) alasannya, karena dengan bersikap seperti itu, Shani bisa membentuk dirinya menjadi seorang yang kuat, cerdas, punya idealisme dan keinginan yang kuat soal apapun, tidak mudah terpengaruh, open-minded, dan sangat mandiri. Tapi yang saya lihat justru adalah sosok Shani yang sangat mengintimidasi bahkan untuk saya sebagai teman perempuannya. Bagaimana pada teman-teman laki-lakinya? Padahal kodrat laki-laki itu tidak ingin terkalahkan dalam apapun. How does she overcomes this gender issue? Dan malam itu, dengan bodohnya saya bilang pada Shani,
Gue liat lo udah keren banget, Shan. Sebagai cewek, lo mandiri, cerdas, kuat, punya pikiran yang luas, tapi harus inget juga kodrat lo sebagai perempuan bahwa lo juga butuh laki-laki, jangan pernah mengintimidasi laki-laki dengan itu semua. Laki-laki gak terlalu suka dengan sifat perempuan yang mengintimidasinya.”
Saat itu Shani jawab dengan bijaksana, 
Karena sekarang gue cuma lagi membiasakan untuk menjadikan diri gue mandiri. Gue gak tau kan nanti kedepannya kehidupan rumah tangga gue bakal gimana. Kalo suami gue meninggal duluan, seenggaknya gue tetep bisa jadi perempuan yang kuat, meski sendirian.”
((kurang lebihnya seperti itu lah inti obrolan kita, tepatnya sudah lupa juga))

Setahun berlalu dari obrolan itu, tidak ada yang merubah pemikiran saya pada apa yang dimaksud oleh Shani. Dan hingga saatnya sekarang, saya baru tersadar akan apa yang Shani maksud adalah sesuatu yang justru jauh lebih berharga dan betapa omongan saya saat itu was soooooo petty-minded, so shallow. Dengan bodohnya saya bilang bahwa she has to lower her fiercely-strong-indepedent personalities just in case the man will feel much intimidated and (perhaps) afraid to approach her. But, those are the big mistake i’ve ever thought, i’ve ever said! Dulu saya berpikir bahwa tidak etis rasanya bagi perempuan untuk memiliki apa yang seharusnya lebih layak dimiliki laki-laki, kalau kita terlalu kuat, terlalu kaya, terlalu cerdas, terlalu mandiri nanti mana ada laki-laki yang mau. Tapi semuanya salah. Salah besar. Anggapan bahwa laki-laki senang dengan perempuan manja dan should dependent to them itu ternyata suatu kesalahan. Dan akhirnya yang saya pelajari sendiri adalah sudah saatnya perempuan itu punya value yang lebih dari sekadar penampilan, punya value yang sama besarnya dengan apa yang dimiliki para laki-laki. Perempuan itu harus cerdas, kuat, mandiri (finansial maupun mental), punya passion, tidak serta merta hanya parasit dan meminta seorang laki-laki kaya dan tampan untuk jadi suaminya kelak.

Konsep perempuan kuat yang Shani ajarkan itu berhasil membuat saya terhentak. Tidak perlu bertingkah layaknya perempuan manja, showing them our aegyo to attract the men. Gak perlu ngerasa takut mengintimidasi para lelaki ketika kita ingin mengembangkan potensi diri untuk menjadi superwoman. Toh segala kelebihan yang kita punya bukan untuk membuat laki-laki takluk tapi untuk membuat kita mandiri. Percayalah hanya laki-laki rendah yang merasa terintimidasi oleh perempuan yang matang segala-galanya. And you know, the real man obviously will always search for our kindness, our intelligence, and will never ever be intimidated by our strong-independent personality. So it doesn’t need lowering our personality just to attract the men, just be ourselves, sesungguhnya hanya laki-laki yang juga sama-sama memiliki those precious personalities yang tidak akan merasa terintimidasi dan justru akan berusaha untuk tinggal di dalam hati kita, dalam kehidupan kita karena semata-mata mereka sangat membutuhkan eksistensi kita untuk bisa berjalan beriringan dengan kehidupannya yang juga sama-sama kuat. 

Jadi wahai perempuan-perempuan muda, menjadi cantik itu memang keharusan (harus dijaga, harus dirawat, harus juga diperhatikan) karena percayalah laki-laki itu makhluk visual yang sangat mengagungkan kecantikan paras dan tubuhmu, penampilanmu, apa yang kamu pakai. Tapi untuk bisa bertahan denganmu pun, the real man needs more than that. Terlebih lagi kita enggak selamanya bakal jadi perempuan single. Akan tiba saatnya kita berhenti mencari dan bertahan. Ketika fase bertahan itu dijalani maka kekuatan fisik akan luntur perlahan dan terkalahkan eksistensinya dengan kekuatan lainnya. Kita akan jadi ibu, akan jadi istri. Banyak hal yang harus dikembangkan untuk menjadi 2 sosok luar biasa itu, harus cerdas agar gak bosen diajak diskusi dan jadi madrasah pertama untuk anak-anaknya, harus mandiri juga secara finansial dan mental agar enggak ketergantungan pada suami, harus kuat agar mampu melahirkan keturunan yang kuat juga disamping cukup mempercantik diri untuk memuaskan suami. Kalau kata Riri sih, percuma jadi cewek cantik kalau gak punya kelebihan selain jadi cantik.

Itulah kenapa mulai sekarang tidak usah ragu untuk menjadi superwoman bukan untuk membuat laki-laki takluk tapi untuk eksistensi wanita kita kedepannya, keep it as your pride, your value. As my friend posted in her instagram,

Dear woman,
Sometimes, you will just be too much woman
Too smart, too beautiful, too strong, too independent. Too much of something
that makes a man feel like less of a man which will start making you feel like
you have to be less of woman.
And the biggest mistake you can make is removing jewels from your crown,
to make it easier for a man to carry. When it happens, i need you to understand.
You don’t need a smaller crown,
You just need a man with bigger hands.
"What you (always wear) wore today, it’s not about how to dress up beautifuly nor to spruce up oftenly. It should be more than that. It’s about how you feel confident for the value of being superwoman you had have and keep expanding and maintaining your great personalities."

#DAY13 Your opinion about your body and how comfortable you are with it

I just don't need to make any opinion about my body, because undoubtedly Allah will always had a good reasons behind every detail of His creating. So as long as i'm comfortable and being healthy, there's nothing i can do except i enjoy everything happens and learn that the cells has been created in the best way to form each part of our body so it works simultanously to fulfill our body needs. I could feel how the fresh air was passing by my nose then i could take a deep breath, feeling relieved. I could see every colours mixing in some beautiful painting and magnificent scenery. I could think rightly and do everything creatively based on my brain hemisphere ability. I could feel lots of emotion through the help of the brain and secreted hormones. Or simply having my joints and bones work together to walk in the small park and realized that our body is take an important role to make us feel that life can be randomly beautiful.
So actually, Allah doesn't need more. He only need us to keep being grateful, keep those healthy and stay fresh inside and outside as a solid gratitude for sort of kindness package from Him instead of looking for to another perfection. As He said, so which of the favors of your Lord would you deny? that taught us to stop being so pathetic and less of confident towards our body, we exactly have more stuffs to be grateful of.

July 01, 2015

#DAY12 What your thought today

Ini challenge kedua yang akhirnya saya putuskan untuk menggantinya dengan topik lain. Topik yang sebenarnya sih 5 Guys You Find Attractive haha tapi duh enggak dulu deh nulis yang beginian. Meskipun ini cuma tantangan, don't take it seriously gitu sebenernya, ya i mean gak harus juga nulis dengan jujur the real 5 guys i find attractive itu dan sangat bisa diisi tentang biodata dan why these guy -Harry, Zayn, Niall, Louis, dan Liam are attractive misalnya hahaha tapi kan sangat enggak lucu, ini bukan blog anak SMP anyway.

So jadinya berdasarkan hasil ngebajak salah satu topik yang Esthi bikin sendiri (haha belom bilang lagi ke orangnya), day 12 ini diganti dengan topik seperti judul diatas. Kenapa akhirnya milih topik itu karena lately, sejak masuk bulan Ramadhan sebenarnya, saya berpikir ada sesuatu yang salah dengan rutinitas saya kemarin-kemarin yang hingga akhirnya, sekarang, jadi sesuatu yang sedikit demi sedikit dicoba untuk ditinggalkan eh dikurangi kali ya. Sebenarnya the thought of this fucking lifestyle sudah lama jadi sesuatu yang bikin saya khawatir, hingga akhirnya sampai juga di titik jenuhnya.

Di kehidupan sekarang, semua orang sibuk dengan gadgetnya (being an autism), sibuk untuk saling mengabarkan pesan, atau sibuk mengabarkan segala yang terjadi pada dirinya di media sosial. Itu semua memang tidak salah, saya pun pernah mengalami fase seperti itu. Fase dimana chatting dengan teman di kamar lebih seru dibandingkan mengobrol dengan teman kost di ruang tengah kosan, saat dimana ada perasaan senang jika foto instagram dilike oleh puluhan orang, atau status line kita diperhatikan oleh teman-teman. Saat itu saya berpikir ya seru-seruan aja, biar enggak sepi. Tapi ternyata yang namanya dunia tidak nyata itu hanya membawa kesemuan, yang cepat atau lambat akan menampakkan kita pada titik kejenuhan. Dan saya sekarang sepertinya sedang berada di posisi itu. 

Berawal dari media sosial Path yang saya tinggalkan karena isinya hanya keseharian orang lain yang sungguh sangat tidak penting untuk diketahui, yang ujung-ujungnya sering membuat saya berpikir betapa sempurnanya kehidupan mereka dengan check in menyenangkannya. Yang membuat saya jadi kurang bersyukur dengan kehidupan saya sendiri. Setelah path, akhirnya sekarang instagram pun berlaku demikian. Akhirnya saya menguninstal Instagram dari gadget utama saya karena ko makin kesini saya juga berpikir bahwa instagram not gives that much useful stuff, dan sebenarnya hanya buang-buang waktu untuk keep us scrolled the timeline yang isinya, sama dengan Path, yang menunjukkan how socialistic they are! Yahaha iya saya tau kok namanya juga media sosial ya wajar untuk sebebas-bebasnya berekspresi, sebebas-bebasnya membentuk image diri. Maka jika saya tidak suka atau merasa risih, no sense untuk mengubah semuanya dengan cakupan area dengan luas tak terhingga itu, jadi yang bisa dilakukan hanya keluar dari zona. Giving up! Menyerah untuk tidak terlalu berlebihan dalam penggunaan media social, seperlunya saja, biasa aja. Berhenti kepo-kepo akun orang lain karena certainly they just gives you fucking of shit to meaning a life!, berhenti sok eksis dengan ngasih tau kita lagi apa, dengan siapa, dimana karena they totally don't care about it, and the most important stop wasting your time to keep being around your social media. Mending waktunya dipakai baca artikel di portal berita, atau tilawah di app Al Quran, atau nulis blog (hah pencitraan haha), atau kultwit yang bermanfaat, atau setidaknya sharing sesuatu yang memang sangat layak dilihat dan berguna untuk banyak orang. If your update makes no sense, i just say better you don't publish it. Be the genius one!

Saya bicara seperti ini hanya ingin berbagi, sudah saya katakan sebelumnya kan bahwa saya pun pernah di posisi kelebayan di media sosial tapi semuanya toh proses, meskipun sudah uninstall instagram di ponsel utama, saya masih nge-keep aplikasi ig dan path kok di tab, untuk kebutuhan info sekali-kali, enggak secara tiba-tiba bisa lepas gitu aja. Tapi satu hal yang pasti,, hingga suatu saat nanti, di suatu turning point yang sama, kalian semua akan juga merasakan apa yang saya rasakan. Bahwa media sosial akan lebih baik jika diperlakukan dengan tidak berlebihan dan diperuntukan untuk hal yang bermanfaat untuk banyak orang.

Bicara soal media sosial lainnya, dulu saya pun sangat asyik berchatting ria dengan teman-teman di whatsapp, atau line, atau bbm. Asyik membentuk atmosfer obrolan yang jika dipikir-pikir banyak tidak pentingnya. Padahal berapa jam yang kita habiskan untuk itu padahal mungkin saja di jam itu saya bisa mengerjakan hal yang lebih bermanfaat, berapa banyak orang yang kita abaikan hanya demi obrolan bayangan itu. Hahaha maaf ya untuk teman-teman yang banyak saya anggurin beberapa hari ini, balas chat yang super lama, karena lagi di tahap malas untuk sesuatu yang enggak penting. Saya sarankan kalau memang urusannya urgent dan penting, awali dengan text yang to the point, enggak usah sok-sok ngecek kita on enggaknya dengan cuma manggil nama atau ucapan salam, karena sesungguhnya yang serius akan serius juga untuk mengawali pembicaraan. Recipient pun akan tau apa yang harus dilakukan untuk merespon chat penting dan tidak penting, sesibuk atau sekosong apapun waktunya. Ya saya tau sih ini cuma lagi jenuh aja dengan segala chat group yang masuk tidak hentinya dan keisengan orang-orang, saya tidak menyalahkan siapapun disini. Seperti yang saya katakan sebelumnya, itu hak tiap individu untuk bertindak apapun, selama tidak merugikan orang lain, fine fine aja kok. Sekali lagi ini hanya pendapat saya aja. Saya yang sedang jenuh dan malas dengan semua hal di media sosial yang 'gitu-gitu' aja. Sah-sah aja aja kok sebagai social media user biar tahu perkembangan teknologi juga, yang penting kita bisa mengontrol segala feeds yang masuk aja agar semua hal yang berniat baik tidak disalahgunakan dan yang berniat buruk dijauhkan. Be a wise user intinya, gak usah berlebihan.

Sekarang saya paham kenapa orang dewasa itu sangat mengurangi aktivitasnya di social media (kecuali untuk orang-orang yang memang berkarir di bidang digital), karena orang yang dewasa sudah bisa berpikir apa hal tidak bermanfaat untuknya, dan meninggalkan apa membuat waktunya terbuang sia-sia, bertindak secukupnya. Saya juga paham kenapa orang dewasa jarang mengumbar kehidupannya di media sosial, karena saya pun mulai merasakan betapa berharganya setiap momen itu jika hanya kita dan partner kita yang tau, yang menghargai. It's more sweeter when it comes more personal, isn't it?

Semoga kita bisa belajar untuk menjadi orang-orang yang selalu bermanfaat dengan apapun yang kita lakukan, bisa menjadi orang-orang yang efektif dalam memanfaatkan waktu, dan menjadi orang-orang yang tidak berlebihan terhadap sesuatu. Amin.