Literally a nous of my random thought.
Posts // About
// Twitter

January 21, 2016

#DAY20 Your Fear

Masih ingat rasanya saat Hafdzy mengupdate status line-nya (Jong, izin share ya) karena bapaknya baru saja memiliki akun BBM. And he just saw her dad display pict then said “I just realized that my biggest fear has appeared, my parents are getting old.” Persis sama dengan apa yang saya rasakan. Sejak mama dan bapak punya akun whatsapp, komunikasi kita jadi tidak pernah berhenti bahkan hanya sekadar say hi, bertukar kabar, atau mama yang dengan randomnya mengirim foto selfie. Sama halnya dengan malam ini, mama mengirim foto selfienya, sama dengan yang Hafdzy alami. Saya perhatikan wajah mama di foto itu, sudah penuh kerutan, sudah jauh dari kata kencang. Wajah mama semakin menua. Rasa sedih pun langsung meluap. Dan ya, Hafdzy benar, ketakutan itu muncul. 

Seiring berjalannya waktu, seiring kita pun bertambah dewasa, bertambah usia, satu hal yang juga mengikuti adalah orangtua kita pun bertambah usianya. Seketika pikiran teraduk, sedih dan ketakutan menyeruak. Tersadar bahwa semuanya ini cepat akan terjadi. Keegoisan diri sendiri yang menutupi sebuah kenyataan bahwa orangtua kita tidak sama seperti sebelumnya. Daya ingat, kesehatan, tenaga yang mulai menurun sudah pasti terjadi. Lalu apa yang kita lakukan? Kita sibuk dengan diri kita sendiri bukan? Kita kadang lupa bahwa waktu kita dengan orangtua semakin sedikit padahal di usia tuanya, orangtua mungkin sangat merasa kesepian. Itu yang saya lihat saat mama dan bapak sudah tinggal berdua di rumah. Kakak yang sudah menikah, saya dan Opi yang kuliah di Bandung, kami bertiga mulai jarang bisa pulang ke rumah. Meskipun orangtua tidak pernah mengeluh dengan semua keadaan ini karena kembali pada satu prinsip, “Kebahagiaan dan kesuksesan anak adalah segalanya.” membuat orangtua selalu mendukung apapun yang anak-anaknya lakukan, mendukung kesuksesan anak-anaknya, hingga mengenyampingkan keiinginan mereka untuk ditemani di rumah. 

Saya sadar hal ini sungguh dilematis. Di sisi lain sebagai anak, semuanya ingin membuat orangtua bangga untuk tidak lagi bergantung, memiliki penghasilan sendiri yang bahkan bisa membantu keuangan keluarga. Orangtua pun pasti bangga dengan anaknya yang sudah bisa mandiri, sukses karena kerja keras mereka. Namun, timbul pertanyaan apakah itu yang benar-benar diinginkan oleh orangtua kita? Sibuknya waktu bekerja kadang membuat kita lupa untuk menyapa dan menanyakan kabar mereka, untuk meluangkan waktu mengobrol dengan mereka, atau untuk menyisipkan doa setelah solat-solat kita. Inilah yang menjadi ketakutan yang sebenarnya. Saat kita mulai lupa bahwa ada orangtua yang akan selalu merindukan kita. Mereka yang sangat membutuhkan doa-doa kita selayaknya kita yang selalu menginginkan doa-doa mereka.

Saat orangtua semakin tua, saya sendiri harus sadar semuanya tidak seperti dulu lagi. Saat saya sibuk untuk diri saya sendiri. Meskipun sedang meniti karir dan pendidikan setidaknya jangan sibuk sendiri. Luangkan waktu untuk mengobrol dengan orangtua, menyapa mereka, luangkan untuk pulang ke rumah sesering yang kita bisa lakukan. Ingat bahwa kerja keras kita untuk orangtua, kita harus (setidaknya) dapat menjamin kehidupan hari tua mereka selayaknya mereka selalu menjamin kehidupan kita hingga kita bisa menjadi seperti sekarang. Seperti yang pernah saya baca di salah satu blog seseorang, your family is in your hand. Daddy needs a rest and mommy deserves a good life. Ya, memang seperti itu seharusnya. 

Ketakutan akan bertambah tuanya orangtua yang kita rasakan mari kita direnungkan, jadikan hal tersebut sebagai motivasi untuk selalu bekerja keras dan. Jangan pernah menyia-nyiakan waktu bersama mereka. Luangkan lebih banyak waktu untuk mereka selagi kita masih bisa. Dan semoga kita bisa menjadi anak-anak sholeh dan sholehah yang bisa mengantarkan orangtua kita pada kebahagiaan dunia dan akhirat. Aamiin ya robbal alamin.

Mah, Pak, as you're getting older, sudah seharusnya aku tidak menuntut apapun dari kalian lagi. Aku janji enggak akan membiarkan masa tua mama dan bapak kesepian dan kesusahan. Tetap sehat ya, Mah, Pak. Iringi selalu hari-hariku untuk mencapai mimpi-mimpi dengan doa kalian. Semoga aku bisa mengantarkan Mama dan Bapak pada surga-Nya, menghadiahkan seseorang yang kelak menjadi suamiku yang bisa menghormati dan menyayangi kalian sebagaimana aku menyayangi Mama dan Bapak, seseorang yang bertanggung jawab untuk membuat Mama dan Bapak percaya untuk melepas anak perempuannya. Aamiin.

Doaku akan selalu menyertai kehidupan Mama dan Bapak. 

No comments:

Post a Comment