Rosmalinda Nurhubaini's. Literally a nous of my random thought.
Posts // About
// Twitter // Tumblr

May 21, 2016

Life's Update

Dan alhamdulillah weekend ini bisa di kosan, menyelesaikan semua hutang-hutang tugas kuliah dan pekerjaan. Lalu teringat beberapa bulan ini begitu menyita tenaga, waktu, dan pikiran. Berangkat pagi pulang ke kosan malam hari. Sebelum tidur, menyempatkan untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah dan soal-soal ulangan siswa. Setiap hari dilewati dengan tantangannya masing-masing. Capek? Banget. Full of pressure yet pleasure.

Sejak 2 bulan ini hari-hari saya dipenuhi oleh mengajar dan kuliah. Dan saya beritahu ini enggak gampang. Inginnya sih fokus mengajar aja, atau fokus kuliah aja. Tapi ternyata saya diberi kesempatan dan kesehatan untuk melakukan keduanya. Terlebih lagi terhitung April 2016 saya mendapat kesempatan untuk mengajar di salah satu SMA terbaik di hmmm Jawa Barat (mungkin). Tempat saya dulu melaksanakan PPL untuk menyelesaikan S1 saya. Ketika ditawari untuk mengajar di sekolah itu sebenarnya saya sempat ragu karena saat itu saya sedang sibuk-sibuknya dengan tugas kuliah, program intensif SBMPTN di bimbel tempat saya bekerja juga, dan sudah ada kontrak untuk privat SBMPTN dengan siswa. Jika saya ambil kesempatan mengajar di sekolah maka dari Senin-Jumat akan full dari pagi hingga malam dan otomatis weekend pun terpaksa digunakan untuk mengerjakan tugas-tugas. 

Tapi akhirnya, saya berpikir lagi kesempatan yang sangat jarang untuk bisa mengajar di SMA terbaik. Gak apa apa capek sekarang tapi saya bisa mendapat pengalaman yang tidak semua orang bisa dapatkan. Akhirnya saya pun mulai mengajar di sekolah. New days come! Kembali mengajar di kelas, bertemu dengan ratusan siswa setiap hari, berinteraksi dengan guru lainnya, berkutat dengan soal-soal, evaluasi, dan administrasi sekolah. What a challenging!

Banyak teman yang bilang, "Keren banget sih Caaa ngajar disana." Tapi mereka tidak tau dibalik kata keren saya harus jungkir balik penuh perjuangan. Saya tahu sekolah itu bukan main-main, mengajar siswa-siswa terbaik, dan harus bergaul dengan guru-guru 'gaul' tentu bukan hal yang mudah. Setiap hari saya harus bangun jam 4 subuh dan setengah 6 pagi sudah berangkat. Selesai dari sekolah, saya harus pergi mengajar lagi ke tempat bimbel hingga jam 6 sore dan akhirnya baru tiba di kosan kembali pukul 7 malam. You know what the feeling of having 12 hours in teaching? Kaki dan pita suara seperti ditarik. Capek? Ngantuk? Iya Banget, bahkan saya sering tertidur di angkot saking capeknya. Setelah tiba di kosan, jangankan untuk bisa langsung istirahat, saya justru harus kembali bekerja di depan laptop demi tugas-tugas kuliah. Dan list kegiatan itu terus berulang setiap harinya. Kalau tidak ada jadwal mengajar di sekolah, itu artinya saya kuliah dan tetap menyita waktu seharian di kampus. 

See? Saya sadar betapa dibalik 'kekerenan' seseorang itu pasti ada perjuangan lebih dari yang biasa dilakukannya. Saya sering melihat kehidupan orang lain yang begitu perfectly arranged, a luckiest life, i said. Tapi saya sekarang yakin bahwa a lucky life yang dimiliki oleh mereka mereka itu tidak secara gratis mereka dapatkan, mungkin dibalik ketidaktauan saya, ada banyak pengorbanan yang mereka sudah lakukan dan ada tangis yang sudah dikeluarkan. Sama halnya dengan yang saya lakukan sekarang. Sempat terpikir oleh saya, saya capek melakukan ini semua, atau semuanya tidak akan berjalan baik. Tapi teringat pada pesan Bapak, bahwa hidup itu memang perjuangan. Kalau mau santai-santai mau jadi apa? 

Iya dan saya sadar bahwa begitu banyak yang harus saya syukuri. Bekerja itu capek. Sempat berpikir kenapa dulu sering semena-mena dengan uang diberikan orangtua, malas-malasan belajar padahal untuk mendapatkan kenikmatan itu orangtua harus berjuang jiwa dan raga. Saya juga bersyukur diberi kesempatan untuk dapat mengetahui 3 situasi lingkungan belajar yang amat berbeda, sekolah reguler, privat, dan kelas bimbel di waktu yang bersamaan, yang tentunya akan sangat membantu meningkatkan skill mengajar saya. Meskipun waktu untuk istirahat berkurang, waktu bermain berkurang, tapi selagi saya masih bisa bertemu murid-murid semuanya recharge. This is why many people say that teaching is the most affectionate and happiest job to have.

Intinya, kehidupan saya lately benar-benar terupgrade. Saya mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman. Thanks to my self which already believe the power of self confident to finish it well, to take those good opportunity, and to be a patient one

Let's take another good opportunity, dear self. 

No comments:

Post a Comment